Problematika Gereja (1 Korintus 1:1-9)

Problematika Gereja (1 Korintus 1:1-9)

Categories:

            Dalam 1 Korintus 1:1-9 terdapat salam dan penegasan dari Paulus kepada jemaat di Korintus 1 Korintus 1:2 kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. Bahwa bukan hanya mereka dipanggil dalam Kristus Yesus tetapi mereka juga dipanggil menjadi orang-orang kudus.

 

            Jika kita mau melihat dari konteks ayat Korintus dan melihat masalah gereja saat ini. Kita bisa membayangkan masalah-masalah apa yang hadir di dalam gereja. Di antaranya ada jemaat yang terpecah, contohnya ada jemaat yang mempunyai Hamba Tuhan kesukaannya sendiri. Tidak ada yang salah dari mengagumi Hamba Tuhan, yang menjadi salah adalah ketika kekaguman itu berubah menjadi memberhalakan. Contoh lainnya adalah perzinahan, perselingkuhan, bahkan sampai pada pelacuran. Tidak hanya dari isu moralitas, tapi juga ada isu dari doktrin; Ketika seseorang salah kaprah dalam mengenali doktrin anugerah. Ketika seseorang berpandangan bahwa sekali selamat maka selamanya akan selamat, bahwa didalam Yesus kita telah bebas, akhirnya kita terlalu bebas dalam kehidupan, penyimpangan apapun yang kita lakukan, kita beranggapan tetap bebas dari dosa. 1 Korintus 6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun. Ekstrem lainnya adalah mengasingkan diri dari dunia atau selibat karena kecewa dengan dunia yang penuh dosa. 1 Korintus 7:1 Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin. Contoh perpecahan gereja lainnya adalah ketika adanya bentrokan antar jemaat, dan pengurus dan saling tuntut dalam pengadilan. Selain itu ada pertobat-pertobat baru, yang masih percaya Yesus, tetapi masih percaya pada ritual-ritual di keagamaan mereka yang lama. 1 Korintus 15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu –kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Hal yang lebih parah lagi, ketika gereja Tuhan tidak percaya pada kebangkitan.

 

            Mungkin kita tidak asing pada isu-isu realita gereja tersebut. Pertanyaannya adalah bagaimana jika satu gereja mempunyai bukan hanya satu atau dua masalah, tetapi semua masalah yang sudah disebutkan di atas? Surat yang Paulus tulis ini, ditulis sekitar tiga puluhan tahun setelah Yesus naik ke surga, ini berarti bahwa bahkan gereja mula-mula pun sudah seburuk ini. Mari kita merefleksikan masalah ini, apa yang membuat semua ini terjadi? Lalu apa yang menjadi solusi Paulus? Atau masih relevankah solusi yang ditawarkan oleh Paulus? Dan bagaimana menerapkannya?

 

            Mari kita berkaca terlebih dahulu, bahwa pola masalah ini sering kali terjadi sampai pada gereja masa kini. Sering kali kita mau menerima Firman Tuhan hanya ketika Firman tersebut cocok dengan kondisi kita. Kita bukan orang-orang orang yang tidak mau menerima Firman Tuhan, kita mau menerima firman Tuhan namun kita hanya mengambil ayat-ayat yang menurut kita baik untuk kita. Karena pemilah-milahan ayat Alkitab ini, maka terjadilah perpecahan golongan. Seperti golongan Apolos, dan golongan Kefas. Memecahkan diri untuk ikut satu golongan yang menurut kita cocok untuk kita seperti jemaat di Korintus, menikmati Tuhan namun berdasarkan apa yang kita mau. Apakah itu yang disebut sebagai gereja?

 

            Kiranya kita dengan segala kerendahan hati benar-benar mau menggumulkan, benar-benar mau belajar Firman Tuhan untuk membuka apa yang Tuhan mau, bukan yang kita mau. Dan dengan rela hati kita mau diselidiki oleh Tuhan, bukan kita yang menjadi penyelidik Firman Tuhan. Di dalam konsep ekspositori kita bisa menggali Firman Tuhan untuk membiarkan Firman Tuhan menggali hati kita, untuk kita mau dibentuk dan dikoreksi oleh Tuhan. Jadi Firman Tuhan Tuhan bukan hanya sekedar pemuasan atas rasa penasaran kita didalam memperlajari Firman Tuhan, tetapi menjadikan suatu keberadaan Tuhan untuk membuka hati kita, membuat kita mengerti apa yang Tuhan mau atas kita.

 

            Latar belakang dari 1 Korintuns 1:1-9 adalah kota Korintus merupakan kota yang sangat terkenal dalam zaman pemerintahan Yunani, sebelum pemerintahan Romawi. Yunani adalah pemerintahan yang Tuhan pakai untuk membuka jalan internasional, dari Mesir sampai ke India, baik jalur darat maupun jalur laut. Lalu adanya bahasa pemersatu yaitu bahasa Yunani. Setelah semua itu tercapai, Tuhan membangkitakan Romawi untuk berkuasa. Saat Romawi berkuasa, Romawi tidak menggati bahasa pemersatu sebelumnya yaitu Yunani untuk tetap dijadikan bahasa internasional. Kaisar Romawi hanya mau menunjukkan kekuasanya dengan menghancurkan kota Korintus, kota yang begitu agung pada tahun 146 sebelum Masehi. Kemudian empat puluh empat tahun sebelum Tuhan Yesus datang-atau seratus tahun kemudian setelah kota Korintus dihancurkan, barulah Romawi membangun kembali kota Korintus, oleh Kaisar Romawi yang baru yaitu Kaisar Julius. Kota Korintus dibangun kembali sebagai kota “wisata” dan juga kota perdagangan karena ada laut di kota tersebut, banyak kapal berlabuh di kota Korintus dan merupakan salah satu kota terkaya. Tempat orang-orang kaya, pedagang-pedagang besar atau pejabat Romawi seperti jendral-jendral Romawi tinggal di Korintus. Bukan hanya kekayaan yang dipamerkan oleh kota Korintus, tetapi kekayaan filsafat dan seni sangat luas biasa tinggi di kota Korintus yang adalah masih sebagai peninggalan Yunani. Juga karena banyak orang Yahudi diaspora juga masih banyak tinggal di Korintus. Bukan hanya banyak kultur tetapi kota Korintus juga mempunyai banyak agama yang dianut, terlihat dari banyaknya kuil-kuil yang ada di kota Korintus. “Kehebatan” dari pemerintahan Romawi adalah, ia tidak melarang untuk rakyatnya mempunyai agamanya masing-masing, yang penting mereka tidak mencari raja baru. Maka dari itu isu yang dipakai untuk menyalibkan Yesus bukan dari isu agama, tetapi isu bahwa Yesus akan menjadi raja baru yang ingin menggulingkan kerajaan Romawi.

 

            Paulus melayani kota Korintus dalam perjalanan misinya yang kedua. Mulanya Paulus melayani dari sinagok-sinagok di kota-kota yang dikunjunginya, atau kepada orang-orang Yahudi diaspora, namun Paulus banyak ditolak oleh orang Yahudi. Maka Paulus memulai penginjilannya kepada orang-orang  yang bukan Yahudi. Di kota Korintus Paulus sangat diterima oleh bukan orang Yahudi. Mayoritas orang percaya di kota Korintus yang bukan dari golongan Yahudi, awalnya bukan berasal dari golongan atas, mereka berasal dari golongan yang menengah. 1 Korintus 1:26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Menariknya adalah, walaupun mereka bukanlah orang-orang  kaya, tetapi mereka cukup ternama dalam kekristenan pada zaman itu karena mereka adalah salah satu golongan yang paling banyak menyumbang untuk kehidupan jemaat di Yerusalem, yang pada saat itu kehidupan jemaat di Yerusalem sangat susah.

 

            Jemaat di Korintus dalam keadaan ini merupakan orang-orang  yang terus bertumbuh dan sangat suka belajar-juga karena terpengaruh oleh filsafat Yunani. Namun karena kesukaannya pada filsafat, jemaat di Korintus akhirnya mencoba menerapkan filsafat dan politik Romawi ke dalam gereja. Inilah yang membuat perpecahan dan peselihan kedalam jemaat di Korintus. Kurang lebih satu setengah tahun Paulus ada di Korintus melayani jemaat dari rumah ke rumah. Setelah pergi dari kota Korintus, Paulus akhirnya mengirim surat yang kedua kepada jemaat di Korintus karena mendengar adanya masalah. Dalam tiga tahun sepeninggalan Paulus, terjadi banyak isu-isu di kota Korintus, seperti isu moralitas dan isu-isu teologi.

 

            Akar masalah jemaat di Korintus yang pertama adalah masalah teologi. Oleh sebab itu kita patut mempertanyakan teologi atau doktrin apa yang dianut oleh sebuah gereja, karena itulah yang menyetir bagaimana gereja itu akan dipimpin Tuhan. Jemaat di Korintus dengan senang hati menerima jaminan keselamatan kekal di dalam Kristus, namum mereka melupakan atau menyepelekan apa yang menjadi panggilan dan tuntutan dari Injil yang menyelamatkan itu. Ini sama dengan kita yang hanya mau menerima anugerah keselamatan kekal, namun tidak mau menerima konsekuensi dari menerima Yesus.

 

            Masalah yang kedua adalah adanya kesombongan dengan kekayaan, budaya dan ras. Meletakkan Kristus sebagai pilihan nomor dua, yang pertama bisa dari kekayaan, kultur, ataupun suku. Membuat jemaat di Korintus berlomba-lomba untuk menjadi lebih superior dari yang lain. Karena dalam filsafat yang mereka hidupi, siapa yang memiliki pemikiran paling agung adalah orang yang paling dikagumi, maka mereka berusaha untuk mempraktekkan filsafat kedalam gereja untuk mencari nilai yang lebih tinggi daripada orang lain

 

            Lalu masalah ketiga adalah isu filsafat platonik yang mempengaruhi gereja di sana. Mereka memisahkan antara roh dan materi. Mereka mengatakan bahwa hanya roh yang akan ditebus. Maka implementasi teologisnya dari konsep pemikiran seperti ini adalah dengan adanya jemaat yang tidak percaya dengan kebangkitan tubuh. Jemaat di Korintus berpikiran bahwa agama hanya urusan spiritual atau urusan roh, dan materi tidak ditebus atau tidak penting, ini pengaruh daru filsafat platonik. Menurut filsafat platonik, bahwa tubuh adalah penjara jiwa, jika seseorang itu mengalami kematian, makan jiwanya akan keluar dari “penjaranya” atau dari tubuhnya. Maka dari itu ketika Injil diberitakan kepada orang Yunani, mereka bisa menerima dan mendengarkan Paulus karena mereka senang dengan ilmu baru. Namun saat Injil diberitakan sampai kepada ketika Paulus menceritakan tentang Tuhan Yesus yang bangkit kembali bersama dengan tubuh fisiknya, orang-orang Yunani menganggap bahwa Paulus adalah orang yang bodoh. Maka dari itu, bagi orang Yunani, Injil adalah berita kebodohan, sedangkan untuk orang Yahudi, Injil adalah hanya sebagai batu sandungan.

 

            Akhirnya muncul dua ekstrim; yang pertama adalah jemaat di Korintus mendikotomikan antara tubuh dengan jiwa. Mereka tetap melakukan kenikmatan indrawi, karena mereka berpikir bahwa selama jiwa atau roh mereka percaya kepada Kristus, maka jiwa mereka akan tetap diselamatkan. Maka dari itu, mereka tetap melakukan percabulan, mabuk dalam perjamuan, dan menikmati makanan yang dari ritual penyembahan berhala. Lalu yang kedua adalah “yang lebih rohani”, fokus mereka hanya kepada praktek-praktek karunia. Dari kedua ekstrim ini tidak ada yang lebih baik, karena akar dari kedua ekstrim ini adalah mereka menyangkal potensi kebangkitan tubuh yang diciptakan oleh Tuhan.

 

            Beberapa teolog menyimpulan bahwa isu teologis terbesar yang ada di jemaat Korintus  adalah kesalahan pemahaman eskatologi. Karena bagi jemaat di Korintus, akhir zaman sudah terjadi sekarang. Menurut mereka bahwa didalam Kristus kita telah bebas, dan ini memang benar. Namun mereka berpikir mereka berhak mendapat segala nikmat sukacita juga pada saat sekarang, maka inilah yang melenceng. Inilah pemahaman eskatologi atau pemahaman akhir zaman yang salah. Mereka tidak mempersiapkan untuk kedatangan Kristus, namun mereka sudah menikmati segala sesuatunya, mereka merasa mereka memiliki dunia ini. Mereka memegahkan gereja di tengah dunia menggunakan cara-cara dunia. Ajaran filsafat Yunani mereka tolak, tetapi pola hidupnya mereka praktekan dalam gereja.

 

            Mari kita uji, apa realita yang terjadi dalam gereja sekarang ini? Pertama adalah standar kepemimpinan sekuler merusak kepemimpinan gereja. Gereja sekarang ini dipenuhi oleh politik, atau gereja dijalankan dengan kesombongan. Gereja bukan lagi didasari dengan peperangan doa, kebergantungan pada kehendak Allah, dan dinamika pimpinan Roh Kudus, ini semua dinomor duakan, atas dasar politik dan kepentingan pribadi. Kedua adalah kultur yang tidak lagi kita saring atau kita uji, langsung kita tarik masuk ke dalam gereja, yang sebenarnya itu adalah praktek dalam penyembahan berhala. Seperti misalnya musik yang berlebihan, sorot lampu atau gadget. Bukan berarti hal-hal tersebut tidak boleh dilakukan, tetapi apa motif dari melakukan hal tersebut. Atau yang lebih parah lagi adalah praktek panteisme, seperti pengalaman jiwa yang terlepas dari tubuh. Ini adalah pengalaman spiritual individualistik yang tanpa bisa dikonfirmasi kebenarannya, atau pengakuan tunggal. Ini adalah suatu kerohanian yang egoistik yang sibuk kepada diri sendiri, mengejar karunia-karunia personal.

 

            Analisa keempat atau terakhir adalah gereja yang hanya sibuk memikirkan tentang gereja saja tanpa mau melihat realitas dunia luar, tidak mau mengerti bagaimana kesaksian kita di ranah publik, bagaimana pengaruh kita terhadap dunia luar. Padahal panggilan kita adalah untuk diutus keluar, jika kita tidak mau diutus keluar, itu berarti ada sesuatu yang salah terhadap pemahaman teologi kita.

 

            Kita bersyukur bahwa Alkitab bisa dijadikan sebagai sebuah cerminan dari kerohaninan kita. Alkitab tidak bertujuan untuk mempresentasikan masalah-masalah atau isu-isu dalam gereja maupun bermasyarakat. Ataupun Alkitab tidak bermaksud untuk membongkar atau menelanjangi kita, lalu meneror kita dengan penghakiman Allah. Namun agenda Alkitab adalah untuk menghadirkan anugerah Allah melalui Firman Tuhan untuk menjawab, bahkan untuk memimpin kita keluar dari realita gereja saat ini. Sehingga kita boleh bertumbuh untuk membawa kita kepada kebenaran, dan berjalan dalam pimpinan Tuhan sebagai gereja yang ditebus oleh Kristus di tengah dunia.

 

            Kiranya apa yang Roh Kudus sampaikan kepada Paulus dalam 1 Korintus bisa menjadi suatu pelita untuk kita mengerti bagaimana kita melangkah di tengah-tengah dunia. Dalam kitab Korintus, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari Paulus, salah satunya adalah; Paulus tidak putus asa dengan masalah jemaat di Korintus, padahal surat pertama Paulus sudah ditolak oleh jemaat di Korintus, karena jemaat di Korintus sangat mengagungkan Apolos. Ini karena Apolos adalah seorang yang pandai berbicara, retotika dalam berbicaranya bagus. Sedangkan Paulus dikenal sebagai pengajar yang biasa-biasa saja. Namun yang patut dicontoh dari sikap Paulus adalah, ia tidak menjadi marah, dendam ataupun mengkutuk jemaat di Korintus. Paulus diawal suratnya tetap memberi salam, bahkan ia masih tetap menyatakan syukurnya kepada Tuhan atas jemaat di Korintus. 1 Korintus 1:4 Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. Paulus juga tidak berkompromi atas kesalahan jemaat di Korintus dengan cara dunia agar bisa diterima. Paulus tetap berani berdiri tegap, ia tetap berani mengkoreksi dengan segala konsekuensinya. Kiranya ini juga yang bisa menjadi doa kita sebagai panggilan dari umat Tuhan, untuk mengerjakan apa yang Tuhan mau di tengah-tengah zaman ini. Namun bukan berati menjadi merasa diri paling benar, tetapi dengan segala kerendahan hati mau mengikut Tuhan.

 

            Singkatnya, apa yang dilakukan oleh Paulus adalah mengoreksi kehidupan jemaat di Korintus yang salah didasari oleh pengenalan akan Allah yang salah. Maka Paulus berusaha membongkar cara berpikir mereka lalu kembali ditarik pada pengenalan akan Allah yang benar. Dari situ barulah kehidupan jemaat menjadi satu kembali di dalam Tuhan. Karena cara hidup yang benar, cara menggereja yang benar dapat dimulai dengan mengenal Allah yang benar terlebih dahulu. Pola inilah yang dipakai Paulus dalam mengajar di Korintus. Oleh sebab itu, orang yang kelihatannya sibuk menggereja, namun dia sudah berhenti belajar untuk mengenal Tuhan, maka sesungguhnya dia dalam pejalanan menuju celaka. Kita harus berhati-hati ketika melayani Tuhan, tetapi hati kita tidak sunguh-sungguh mau bertekun di dalam Tuhan, bisa jadi Tuhan sedang tidak berkenan terhadap kita. Atau kita malah sedang tidak mengerjakan apa yang sedang menjadi kehendak Tuhan. Maka dari itu, kita harus senantiasa bergumul dengan Tuhan, mencari wajah Tuhan, dan terus mengenal Tuhan.

 

            1 Korintus 1:1 Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah  dipanggil menjadi rasul  Kristus Yesus, dan dari Sostenes,  saudara kita, Paulus memulai suratnya dengan salam. Ini dilakukan Paulus bukan sekedar basa-basi, tetapi ini adalah sebagai sebuah pertanyaan identitas dan otoritas, karena saat mengirimkan surat ini, jemaat di Korintus sedang mengalami konflik dan sudah sebelumnya menolak Paulus. Ini bukan berarti Paulus menyatakan ketidak sukaannya kepada jemaat di Korintus, tetapi sedang menyatakan tentang pergumulannya dengan Tuhan. Paulus ingin menyatakan otoritasnya sebagai rasul Tuhan, sebagai yang menggenapi kehendak Tuhan. Maka dari itu Paulus memulai suratnya dengan identitas dan otoritasnya sebagai rasul Kristus. Paulus yang sebelumnya adalah seorang farisi dan sering menganiaya pengikut Kristus, dan kemudian ia bertobat menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, dan dipakai Tuhan sebagai pendiri gereja untuk Kristus. Maka dari ini Paulus menyatakan kepada jemaat di Korintus, bahwa dialah salah satu rasul yang dipakai Tuhan untuk mendirikan gereja Tuhan yang bukan Yahudi. Apa yang Paulus katakan diawal suratnya bukan menandakan kebanggan Paulus, atau kesombongannya, tetapi untuk menandakan keseriusan dan tanggung jawab yang dibawa oleh Paulus. Paulus menyatakan bahwa ia diutus secara ilahi, dan bukan dari pengakuan atau klaim orang lain. Itu sebabnya para rasul yang sebelumnya menolak dia, akhirnya menyadari siapakah Paulus yang dipakai oleh Tuhan untuk mendirikan gereja Tuhan.

 

            Paulus ingin menyatakan, bahwa ia berkewajiban untuk menekankan bahwa ia adalah rasul utusan Allah. Karena beberapa orang telah dengan sengaja, mengkritik dan meragukan kerasulannya. Penyataan ini pun bukan pernyataan tunggal belaka, tetapi Tuhan telah menunjuk satu orang untuk menjadi saksi, yaitu Sostenes. Sostenes adalah seorang pemimpin sinagok, dia adalah seorang Yahudi yang akhirnya bertobat mengikut Kristus, dan dikenal oleh jamaat di Korintus. 1 Korintus 4:9 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan  bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Jadi Paulus menyatakan dirinya sebagai rasul Tuhan bukan ingin menyatakan kesombongannya, tetapi ingin menyatakan panggilannya kepada Tuhan. 1 Korintus 15:9  Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul,  bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya  Jemaat Allah.

 

1 Korintus 1:2 kepada jemaat Allah di Korintus,  yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil  menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. Paulus ingin menekankan bahwa pesan ini diberitakan kepada “semua” jemaat di Korintus, bukan hanya dari sebagian golongan saja. Paulus sedang tidak menyerang golongan-golongan tertentu, dia benar-benar memberikan pesannya kepada “semua” jemaat di Korintus dengan tidak terkecuali. Paulus mengingatkan bahwa orang-orang  kristen adalah orang-orang  yang dipanggil menjadi orang kudus. Ini berarti bahwa kita sama dengan jemaat di Korintus dalam segala realita kehidupan kita yang berdosa, tetapi Alkitab menyatakan kita tetap menjadi orang-orang  kudusnya Tuhan, walaupun banyaknya dosa yang kita lakukan sama seperti apa yang dilakukan jemaat di Korintus. Namun apa artinya menjadi orang kudus itu? Bukan berarti kita menjadi orang yang sempurna tanpa dosa, namun berarti bahwa kitalah orang-orang  yang telah ditebus dan dikhususkan menjadi milik kepunyaan Allah. Hobi, keluarga, keuangan, pekerjaan dan seluruh hidup kita telah dikhususkan untuk Allah. Paulus ingin mengingatkan kita bahwa apa yang kita lakukan adalah sebenarnya sedang lari dari kekudusan Allah. Ini adalah undangan Firman Tuhan untuk kita, bagaimana mungkin kita masih berani untuk bermain-main dengan segala realita untuk menunjukan bahwa kita adalah orang yang tidak kudus padahal kita telah dikhususkan menjadi milik kepunyaan Allah. Maka Paulus ingin menyadarkan siapa kita, dan status kita, yang telah ditebus oleh Kristus. Kita telah dipilih oleh Allah bukan karena perbuatan kita tetapi karena anugerah Allah. 1 Korintus 6:11 Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu.  Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan,  kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan  dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh  Allah kita.

 

Kesimpulannya adalah, menjadi kristen berarti menjadi orang kudus, bahwa hidup kita ini telah dikhususkan untuk menjadi milik Allah, didedikasikan sepenuhnya untuk menjadi milik kepunyaan Allah. Kita telah dipisahkan dari cara hidup dunia yang berdosa. Seharusnya kita menyadari ini sebagai panggilan hidup kita, sebagai umat Allah, dan mengerti tujuan dari kehidupan kita yang telah ditebus oleh Kristus.

 

Gereja yang kudus berarti gereja milik Allah, yang berarti gereja tersebut bukan gereja perorangan. Maka dari itu gereja tidak bisa diputuskan hanya dari satu orang. Gereja bukanlah milik dari pimpinan gereja, Hamba Tuhan, atau milik jemaat tertentu tanpa mencari kehendak Allah. Tidak ada hak untuk satu orang dalam mengatur rumah Tuhan. Maka kita semua didalamnya harus tunduk, dan mengambil keputusan berdasarkan Firman Allah. Allah adalah pribadi paling benar dalam setiap pengambilan keputusan, maka dari itu kita tidak bisa mengklaim diri kita yang paling benar. Semua yang kita lakukan dalam menggereja bukanlah untuk kepentingan gereja lokal, tetapi hanya demi kerajaan Allah.

 

            1 Korintus 1:3 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. Salam dari Paulus ini menekankan bahwa anugerah dan damai itu bukan hanya berasal dari Allah Bapa, tetapi juga ada di dalam Kristus bagi semua umat Tuhan. Salam yang indah ini diberikan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus yang “rusak”. Berarti Paulus masih melihat satu hal baik pada jemaat di Korintus. Padalah jemaat di Galatia “hanya” mengalami cacat teologis, bukan seperti jemaat di Korintus yang mempunyai cacat teologis dan moral. Paulus begitu marah kepada jemaat di Galatia karena mereka sudah menggantikan berita Kristus dengan berita omong kosong.

 

            Terlihat dari bagaimana Paulus bergumul dengan jemaat di Korintus yang “rusak”, Paulus tidak hanya menegur kesalahan mereka. Paulus ingin menggiring jemaat untuk melihat realita hidup mereka didalam pemahanan Firman Tuhan yang benar. Bagaimana kita sebagai gereja menyadari diri kita, siapa diri kita dihadapan Tuhan, bukan siapa diri kita dihadapan dunia.

 

            Mari kita merenungkan kembali, cara hidup kita didalam Tuhan. siapakah kita dihadapan Allah dengan berpegang kepada janji-Nya, sebagai orang-orang yang telah dikuduskan dan dikhususkan menjadi milik kepunyaan Allah, bahwa kita telah disempurnakan bukan dengan hikmat dunia, bukan dengan kebajikan yang telah kita lakukan tetapi karena apa yang dikerjakan Kristus bagi kita. Bukan hanya melulu menggumuli kerohanian pribadi kita, tetapi juga harus bersama-sama sebagai satu umat Allah, satu tubuh dengan Allah, ikut terlibat dalam kerohanian bersama dalam gereja. Tidak ada persekutuan pribadi dengan Tuhan yang manis, tanpa undangan Tuhan untuk bersekutu dengan Tubuh Kristus. Kalau kita hanya mementingkan spiritualisme pribadi kita, tanpa kita mau ada untuk bersekutu dengan Tubuh Kristus, berarti kita bukan gereja, karena gereja adalah keluarga kerajaan Allah. Kiranya kita mau mengarahkan hati kita, untuk masuk kedalam Tubuh Kristus, dalam satu gereja yang dikuduskan oleh Allah.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – SC)