Raja Hizkia – Reformasi Keagamaan (2 Tawarikh 29-31 dan 2 Raja-Raja 18)

Raja Hizkia – Reformasi Keagamaan (2 Tawarikh 29-31 dan 2 Raja-Raja 18)

Categories:

Khotbah Minggu 2 Mei 2021

Raja Hizkia – Reformasi Keagamaan

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan membahas tentang Hizkia bagian yang pertama. Orang benar bukanlah orang yang tidak mengalami masalah dalam hidupnya. Justru Tuhan mengizinkan ujian untuk kebaikan umat-Nya. Kita akan melihat 2 Tawarikh 29-31 dan 2 Raja-Raja 18.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Pernahkah kita salah di dalam memilih jalan hidup atau keputusan hidup? Jika pernah, maka di sana kita belajar bahwa kita adalah orang berdosa. Kita sangat membutuhkan hikmat dan pertolongan Tuhan di saat apapun juga. Seberapa penting peran iman memimpin keputusan kita? Sangat penting. Rasio kita sudah menjadi pelacur dan tidak lagi mengerti kehendak Tuhan. Emosi kita tidak lagi memuliakan Tuhan. Akhirnya segala keputusan kita berpusat pada diri. Di sana kita membutuhkan iman. Mengapa Hizkia memutuskan mengadakan reformasi rohani di Yehuda dan Israel? Mengapa ia tidak mengadakannya di Yehuda saja? Mengapa ia mengajak suku-suku yang lain? Kesulitan dan tantangan pasti ada. Mengapa reformasi iman dan ketaatan sangat penting? Mengapa beberapa suku tidak melihat ini penting? Akhirnya ketika mereka ikut menyembah Tuhan, mereka tidak sungguh-sungguh menyiapkan diri. Sebenarnya mereka seharusnya mendapatkan hukuman mati, namun Hizkia berdoa meminta belas kasihan. Adakah tantangan yang dihadapi Hizkia dalam proses ini? Ada, baik dari dalam maupun luar. Dari dalam oleh suku-suku yang kurang serius menyembah Tuhan dan dari luar oleh Sanherib, raja Asyur, yang menyerangnya.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Menentukan pengharapan benar dalam situasi yang sulit

            Ini bukanlah hal yang mudah. Dalam konteks Amerika, banyak dari hukum-hukumnya bersifat jelas. Namun dalam negara-negara tertentu hukum itu bersifat abu-abu. Ketika pilihan itu jelas, kita bisa memilih lebih cepat dan tegas. Namun di tempat-tempat tertentu pilihan yang benar bisa mendatangkan konsekuensi yang buruk. Maka dari itu hukum bisa dipermainkan dan dimanipulasi. Akhirnya hukum dipakai untuk kepentingan kuasa dan uang. Kita harus tetap memilih yang benar meskipun itu membuat kita dibenci orang lain. Kita harus sungguh-sungguh percaya dan mengandalkan Tuhan. Terkadang kita tergoda untuk kompromi dengan dosa karena kita takut kepada manusia.

 

            Ahas, ayah Hizkia, tidak meninggalkan warisan iman yang benar. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Ahas meninggalkan warisan iman dan moral yang bobrok. Ahas tidak peduli kepada suara nabi, imam, dan orang Lewi. Dalam masa pemerintahan Ahas, bangsa Israel membelakangi Tuhan. Mereka lebih memilih untuk menyembah Nehustan. Nehustan adalah simbol ular tembaga yang melingkari satu tongkat. Itu pertama kali dibuat oleh Musa sesuai dengan perintah Tuhan (Bilangan 21:4-9). Orang-orang yang dipagut oleh ular akan hidup ketika melihat ular tembaga itu. Nehustan sebenarnya adalah tipologi Kristus yang disalib. Orang yang melihat kepada Kristus dan percaya akan diselamatkan. Namun kemudian ternyata Nehustan dijadikan berhala. Maknanya sudah berubah. Ahas mengizinkan hal ini terjadi dan ia juga menyembah dewa-dewa lain. Dalam bangsa Yunani ada dewa Asklepios yaitu dewa pengobatan yang memegang tongkat yang dililit oleh ular. Mengapa orang Yehuda meminta kesembuhan dari ular tembaga? Mengapa mereka tidak kembali kepada Tuhan? Ahas tidak pernah mengajarkan tentang Allah secara benar kepada bangsa Yehuda. Ia tidak mementingkan kesucian Tuhan dan ibadah kepada Tuhan. Imannya sudah bergeser. Inilah warisan yang diberikan dari Ahas kepada Hizkia. Namun Hizkia tidak menjadi seperti ayahnya karena ada peran Yesaya dalam pembentukan iman Hizkia dan Yehuda. Jadi Hizkia memiliki pengenalan yang benar dan jelas tentang Allah. Maka dari itu dikatakan bahwa tidak ada raja yang seperti Hizkia, baik sebelum atau setelahnya (2 Raja-Raja 18:5). Hizkia memiliki kesempurnaan iman. Arti namanya adalah ‘Tuhan adalah kekuatanku’. Ini berarti ia tidak boleh kalah oleh situasi tetapi harus selalu menang di hadapan Tuhan. Ketika Hizkia akan mati, ia berdoa dan Tuhan menjawab dengan memberikan kehidupan sampai 15 tahun lagi. Jika masih ada pekerjaan Tuhan yang belum kita selesaikan, maka kita bisa berdoa meminta umur lebih panjang.

 

            Pada masa pemerintahan Hizkia, kerajaan Asyur berjaya di atas Israel. Hizkia pada saat itu juga mendapatkan warisan geopolitik yang lemah. Jadi situasi kerajaan Yehuda saat itu begitu lemah, baik secara internal maupun eksternal. Ini pasti menjadi pergumulan bagi Hizkia, namun ia tidak mundur. Ia tidak mencari berhala atau bantuan negara lain tetapi Hizkia berharap kepada Tuhan (2 Raja-Raja 18:3-5). Ia tahu bahwa Tuhan-lah yang berdaulat atas segala sesuatu. Keputusan Hizkia untuk beriman dan percaya kepada Tuhan berasal dari pengenalan yang benar akan Tuhan. Hizkia berharap kepada Tuhan yang tidak terlihat namun pasti bertindak untuk Yehuda.

 

2) Melakukan pembaruan iman dan ketaatan baik bagi Yehuda dan Israel

            Kita pasti berharap keluarga kita menjadi rohani, namun mengapa seringkali ini tidak menjadi kenyataan? Ini karena kita tidak mengambil langkah rohani. Pengharapan Hizkia tidak berhenti pada pikiran tetapi ia menjalankan semuanya dengan tuntas. Hizkia melakukan reformasi keagamaan dengan kembali kepada Alkitab. Pertama ia menguduskan rumah Tuhan (2 Tawarikh 29:6-8). 2 Tawarikh 29:15-16 Mereka mengumpulkan saudara-saudaranya dan menguduskan dirinya. Kemudian mereka datang menurut perintah raja, sesuai dengan firman TUHAN, lalu mentahirkan rumah TUHAN. Sesudah itu masuklah para imam ke bagian dalam rumah TUHAN untuk mentahirkannya. Semua yang najis, yang didapati mereka di dalam bait TUHAN, dibawa ke pelataran rumah TUHAN; orang-orang Lewi menerimanya untuk diangkut ke luar, ke lembah Kidron. Tidak ada imam atau Lewi yang menolak untuk mengerjakan hal ini. Semua dengan sukacita bekerja melayani rumah Tuhan saat itu. Rumah Tuhan adalah sarana untuk melayani Tuhan (2 Tawarikh 29:11) pada saat itu. Hizkia mengingatkan akan janji penyertaan dan pemulihan Tuhan. Ia juga memerintahkan agar berhala-berhala dan semua tempat penyembahan berhala dihancurkan. Mungkin ada orang-orang penyembah berhala yang tidak suka akan hal ini, namun mereka semua mengikuti langkah Hizkia sehingga tidak ada pemberontakan. Gerakan Hizkia tidak terduga namun membuat Yehuda bersukacita. Reformasi rohani adalah pembaruan dari atas ke bawah. Ini mendatangkan sukacita dan damai ilahi. Reformasi dari bawah ke atas bisa salah, namun yang dari atas itu selalu benar dan suci.

 

            Kesatuan iman itu jauh lebih kuat daripada kesatuan fisik. Kesatuan fisik seperti kesatuan karena hobi mendatangkan sukacita yang sifatnya hanya situasional, namun kesatuan iman itu mendatangkan sukacita yang sejati. Jadi pada saat itu Yehuda sedang mengalami kekeringan sukacita. Mereka punya kesenangan fisik, namun mereka tidak memiliki sukacita rohani. Setelah terjadi pembaruan iman dan ketaatan, mereka mengalami sukacita rohani. Pemimpin yang benar adalah pemimpin yang mengarahkan semua orang kepada Tuhan. Apa yang Hizkia lakukan sungguh luar biasa. Mungkin saat itu Hizkia tidak tahu bahwa hal itu mendatangkan sukacita ilahi. Ketika bangsa Israel bisa mempersembahkan ternak mereka yang terbaik, justru mereka mengalami sukacita. Inilah hasil pembaruan keagamaan yang benar. Kita bisa mengalami sukacita ini ketika kita mau sungguh-sungguh hidup bagi Tuhan. Ketika kita menjalankan ketaatan kita, kita akan mendapatkan sukacita itu. Kita bersukacita melihat kepada Tuhan yang menebus kita dan memanggil kita untuk melayani-Nya. Tuhan mau memakai kita yang lemah dan kecil ini dan hal itu membuat kita bersukacita. Inilah hasil reformasi keagamaan yang benar. Pembaruan iman membuat kita tidak hitung-hitungan untuk Tuhan.

 

            Hal berikutnya yang dikerjakan Hizkia adalah misi perayaan Paskah (2 Tawarikh 30:1). Ia memikirkan bagaimana menggabungkan Israel dan Yehuda supaya tidak ada lagi perpecahan. Jadi Hizkia memikirkan kesatuan iman secara menyeluruh. Inilah kebesaran hati Hizkia. Ia mengajak suku-suku lain untuk kembali kepada Tuhan. 2 Tawarikh 30:5-6a Mereka memutuskan untuk menyiarkan maklumat di seluruh Israel, dari Bersyeba sampai Dan, supaya masing-masing datang ke Yerusalem merayakan Paskah bagi TUHAN, Allah Israel, karena mereka belum merayakannya secara umum seperti yang ada tertulis. Maka berangkatlah pesuruh-pesuruh cepat ke seluruh Israel dan Yehuda membawa surat dari raja dan para pemimpin. Tidak semua suku menanggapi dengan baik. 2 Tawarikh 30:10-11 Ketika pesuruh-pesuruh cepat itu pergi dari kota ke kota, melintasi tanah Efraim dan Manasye sampai ke Zebulon, mereka ditertawakan dan diolok-olok. Namun beberapa orang dari Asyer, Manasye dan Zebulon merendahkan diri, dan datang ke Yerusalem. Namun ternyata tidak semua orang menyiapkan diri dengan baik. 2 Tawarikh 30:17-18a Sebab ada banyak di antara jemaah yang tidak menguduskan dirinya, sehingga menjadi tugas orang Lewi untuk menyembelih domba-domba Paskah bagi setiap orang yang tidak dapat menguduskannya bagi TUHAN karena ia tidak tahir. Sebab sebagian besar dari rakyat–terutama dari Efraim, Manasye, Isakhar dan Zebulon–tidak mentahirkan diri. Namun mereka memakan Paskah, walaupun tidak sesuai dengan apa yang ada tertulis.

 

            Hizkia bisa saja marah, namun ia berdoa untuk mereka dan meminta belas kasihan Tuhan. Ini karena Hizkia melihat bahwa suku-suku itu sudah lama tidak hidup untuk Tuhan dan mereka tidak tahu bagaimana menyiapkan diri untuk beribadah kepada Tuhan. Jadi Hizkia melihat bahwa mereka perlu edukasi. TUHAN mendengar Hizkia dan membiarkan bangsa itu selamat (2 Tawarikh 30:20). Semua perayaan itu dijalankan dengan baik. 2 Tawarikh 30:27 Sesudah itu para imam Lewi bangun berdiri dan memberkati rakyat. Suara mereka didengar TUHAN dan doa mereka sampai ke tempat kediaman-Nya yang kudus di sorga. Doa mereka didengar oleh Tuhan dan Tuhan memulihkan mereka. Selama bertahun-tahun mereka berdoa kepada Nehustan dan para berhala namun tidak mendapatkan jawaban dan sukacita. Ketika mereka akhirnya berdoa kepada Tuhan, Tuhan mau mendengar mereka dan memberikan kepada mereka pemulihan. Sebelum pergi, Yesus berdoa untuk para pengikut-Nya agar ada kesatuan iman (Yohanes 17:21). Kesatuan itu indah ketika kita sungguh-sungguh tunduk di bawah otoritas Tuhan dan mau mengerjakan apa yang Tuhan perintahkan. Doa kita tidak dijawab mungkin karena keluarga kita kurang bersatu dan sungguh-sungguh untuk Tuhan. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita dan keluarga kita. Maka dari itu keluarga kita harus bersatu dalam iman dan mencari pemulihan dari Tuhan dengan tunduk di bawah otoritas Tuhan. Jika kita sudah bersatu hati namun belum mendapatkan jawaban Tuhan juga, maka kita harus berpikir bahwa rencana Tuhan itu pasti indah dan belum kita bisa mengerti sepenuhnya. Kita harus terus bersatu hati, bergumul bersama-sama, dan terus berharap kepada Tuhan. Di sana Tuhan pasti akan memberikan sukacita rohani itu kepada kita semua.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).