Raja Hizkia – Ujian Orang Benar (2 Tawarikh 32 dan 2 Raja-Raja 19-20)

Raja Hizkia – Ujian Orang Benar (2 Tawarikh 32 dan 2 Raja-Raja 19-20)

Categories:

Khotbah Minggu

Raja Hizkia – Ujian Orang Benar (2 Tawarikh 32 dan 2 Raja-Raja 19-20)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan melanjutkan pembahasan tentang Hizkia yaitu ujian orang benar. Bagian Alkitab yang kita akan bahas adalah 2 Tawarikh 32 dan 2 Raja-Raja 19-20.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Apa tanda bahwa kita orang benar di mata Tuhan (bandingkan dengan Mazmur 1)? Orang benar selalu dipelihara oleh Tuhan dan pekerjaannya selalu disertai Tuhan. Apapun yang dilakukannya berhasil. Ia senantiasa merenungkan Firman Tuhan siang dan malam. Jadi orang benar itu sangat dekat dengan Tuhan. Ia selalu menghidupi Firman. Namun kita melihat hal yang berbeda dalam hidup Hizkia. Imannya dan kerohaniannya diuji senantiasa. Ini adalah dimensi yang berbeda. Pernahkah kita mengalami ujian dari Tuhan yang berat ketika hidup kita sungguh-sungguh mau melayani Dia? Teologi kesuksesan menyatakan bahwa orang yang beriman pasti kaya, sukses, dan selalu sehat, namun ini adalah teologi yang salah. Para murid yang dekat dengan Tuhan Yesus pun harus mengalami banyak ujian. Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, para rasul juga mengalami banyak kesulitan sampai sebagian dari mereka mati martir. Apakah orang Kristen yang mengalami malapetaka bisa dikatakan sebagai orang yang sedang dikutuk oleh Tuhan? Kita akan mempelajari bagian ini. Pernahkah kita bertanya kepada Tuhan mengapa ada orang Kristen yang hidupnya benar justru mengalami musibah, kesedihan, dan lainnya? Jika Allah itu baik, mengapa ada orang-orang benar yang hidupnya begitu malang? Ayub itu saleh dan benar namun ia kehilangan banyak hal yang baik. Mengapa Allah selalu mengizinkan orang benar diuji kualitas iman, kerohanian, dan lainnya? Semakin kita dekat dengan Tuhan, ujian itu akan menjadi semakin kuat. Selama kita hidup, ujian itu akan terus ada.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Ujian orang benar yang pertama

            Bagian Alkitab yang kita baca menyatakan bahwa Hizkia harus menghadapi kepungan Sanherib, raja Asyur (2 Tawarikh 32:1). Sanherib ingin merampas semua harta Yehuda pada saat itu. Sebelumnya Hizkia sebenarnya sudah mengalah. Ia membayar upeti kepada Sanherib. Ternyata Sanherib tidak puas dengan semua upeti itu. Ia ingin memiliki seluruh kerajaan Hizkia. Untuk menghancurkan kepercayaan rakyat Yehuda, Sanherib mengirim para penghasut untuk menyatakan bahwa Allah dan Hizkia tidak dapat menyelamatkan mereka. Mereka menyatakan bahwa dewa yang mereka sembah lebih kuat daripada Allah Yehuda. Jadi orang benar juga bisa mengalami ujian. Orang yang kurang mengerti tentang kedaulatan Allah bisa bertanya: mengapa Tuhan mengizinkan hal ini? Banyak peristiwa bisa membuat kita mempertanyakan kebaikan Tuhan, belas kasihan Tuhan, dan pertolongan Tuhan. Namun Hizkia tidak mempertanyakan hal ini di hadapan Tuhan. Sebaliknya, ia berdoa dan mengerjakan semua tanggung jawab yang bisa ia kerjakan sebagai raja. Jadi Hizkia tidak pesimis.

 

            Tuhan mengizinkan hal ini supaya rakyat Yehuda memiliki pengalaman rohani yang baru: berdoa dan lainnya. Pengalaman rohani yang baru itu sangat penting karena kerohanian perlu diisi dan tidak menjadi kering. Banyak orang yang rajin belajar teologi tidak mengalami Tuhan dan tidak bisa bersaksi tentang Tuhan. Namun di sisi lain ada orang-orang yang sangat lancar bersaksi namun tidak mengerti teologi sehingga mereka salah mengerti Allah. Ada pengajar sesat yang menyatakan bahwa adanya air di suatu tempat itu menandakan kehadiran Allah Roh Kudus. Ini berarti, menurut ajaran itu, di padang gurun tidak ada Allah Roh Kudus. Kita seharusnya belajar agar kita mengerti dan menghidupi apa yang sudah dipelajari. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang kita alami dan katakan. Ketidakseimbangan dalam kerohanian itu berbahaya. Maka dari itu Tuhan mengizinkan hal ini supaya mereka memiliki pengalaman rohani yang baru. Tuhan mau mereka belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam situasi yang mengancam itu.

 

            Dalam keluarga, kita sebagai orang tua harus terus mengandalkan Tuhan dalam mendidik anak. Doa orang benar besar kuasanya (Yakobus 5:16). Doa membuat kita melihat diri kita sebagai bukan apa-apa dan Tuhan sebagai yang segala-galanya. Kita harus menundukkan kehendak kita di bawah kehendak Tuhan. Tuhan memuridkan bangsa Yehuda dengan cara mengirimkan bangsa Asyur kepada mereka. Sebagai orang tua, kita harus menciptakan pengalaman rohani yang baru untuk anak-anak kita. Ketika kerohanian bertumbuh, kesalehan juga akan memiliki muatan. Kerohanian tidak bisa dipisahkan dari kesalehan. Semuanya terikat dalam hati yang takut akan Tuhan. Khotbah di Bukit mengajarkan tentang kerohanian dan kesalehan. Jadi ketika Tuhan memberikan kesulitan dalam hidup kita, kita tidak boleh langsung mempertanyakan kebaikan Tuhan. Tuhan mau kita mengalami pertumbuhan rohani. Tuhan melatih Hizkia sebagai pemimpin bangsa Yehuda secara rohani.

 

            Tuhan mengizinkan bangsa Asyur menyerang bangsa Yehuda karena itu merupakan ujian kesetiaan kepada Tuhan di saat-saat sulit. Dalam ujian itu, mereka tidak lari kepada para dewa tetapi belajar bersandar pada penyertaan Tuhan. Mereka tetap melakukan apa yang mereka bisa lakukan, tetapi di balik itu mereka terus mengandalkan Tuhan. Mereka juga belajar bersatu secara rohani. Hizkia tampil bukan hanya sebagai raja tetapi juga sebagai pemimpin rohani. 2 Tawarikh 32:7-8 “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya, karena yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia. Yang menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah TUHAN, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.” Oleh kata-kata Hizkia, raja Yehuda itu, rakyat mendapat kepercayaannya kembali. Hizkia yang diberitakan Firman Tuhan oleh nabi Yesaya memberikan respons yang tepat dalam ujian iman ini. Ujian iman ini melatih iman dan kerohanian Yehuda. Mereka menang melewati semua itu. 2 Raja-Raja 19:35 Maka pada malam itu keluarlah Malaikat TUHAN, lalu dibunuh-Nyalah seratus delapan puluh lima ribu orang di dalam perkemahan Asyur. Keesokan harinya pagi-pagi tampaklah, semuanya bangkai orang-orang mati belaka! Raja Sanherib pulang sebagai orang yang kalah. 2 Raja-Raja 19:37 Pada suatu kali ketika ia sujud menyembah di dalam kuil Nisrokh, allahnya, maka Adramelekh dan Sarezer, anak-anaknya, membunuh dia dengan pedang, dan mereka meloloskan diri ke tanah Ararat. Kemudian Esarhadon, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. Semua ini terjadi dalam pengaturan Tuhan karena Sanherib menghina Tuhan dan merasa dirinya lebih kuat. Ketika kita mengalami ujian iman, maka kita harus belajar seperti Hizkia. Kita harus tetap melakukan apa yang kita bisa lakukan dan terus bergantung pada Tuhan. Jika kita setia, maka kita akan muncul sebagai pemenang.

 

2) Ujian orang benar yang kedua

            Ujian yang kedua adalah Hizkia menghadapi sakit yang parah (2 Tawarikh 32:24). Ia sakit sampai hampir mati. Yesaya datang kepadanya untuk menyatakan bahwa ia akan mati, namun kemudian Hizkia berdoa memohon belas kasihan Tuhan dengan menangis. Setelah itu 2 Raja-Raja 20:4-6 Tetapi Yesaya belum lagi keluar dari pelataran tengah, tiba-tiba datanglah firman TUHAN kepadanya: “Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umat-Ku: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN. Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi dan Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur; Aku akan memagari kota ini oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku”. Hizkia tidak langsung percaya tetapi meminta tanda. 2 Raja-Raja 20:9-11 Yesaya menjawab: “Inilah yang akan menjadi tanda bagimu dari TUHAN, bahwa TUHAN akan melakukan apa yang telah dijanjikan-Nya: Akan majukah bayang-bayang itu sepuluh tapak atau akan mundur sepuluh tapak?” Hizkia berkata: “Itu perkara ringan bagi bayang-bayang itu untuk memanjang sepuluh tapak! Sebaliknya, biarlah bayang-bayang itu mundur ke belakang sepuluh tapak.” Lalu berserulah nabi Yesaya kepada TUHAN, maka dibuat-Nyalah bayang-bayang itu mundur ke belakang sepuluh tapak, yang sudah dijalani bayang-bayang itu pada penunjuk matahari buatan Ahas.

 

            Mengapa Tuhan mengizinkan hal ini? Bukankah Hizkia terus setia kepada Tuhan? Mengapa orang-orang yang setia bisa diizinkan mengalami kesulitan dan penyakit? Kita bisa menjadi lebih dekat dengan Tuhan ketika kita dekat dengan kematian. Pengkhotbah 7:2 Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Kematian bisa mengingatkan kita akan pentingnya mati di dalam Kristus yang sudah menyelamatkan kita. Jadi masa sakit Hizkia adalah masa retret pribadinya dengan Tuhan. Ini membuatnya semakin sadar akan anugerah Tuhan. Tuhan menjawab doa Hizkia melalui Yesaya dan Tuhan memberikan belas kasihan-Nya dan menambah umur Hizkia 15 tahun lagi (2 Raja-Raja 20:5-6). Hizkia tidak menyalahkan siapapun karena sakitnya tetapi ia justru berdoa. Hizkia lulus dalam ujian ini karena ia bersandar pada Tuhan.

 

3) Ujian orang benar yang ketiga

            Ujian yang ketiga adalah keberhasilan (kebanggaan) diri – angkuh (2 Tawarikh 32:25-26). Orang benar pun bisa bangga akan dirinya dan menjadi angkuh. Tuhan akan membentuk kita dan membuat kita melewati pengalaman-pengalaman yang membuat kita bergantung pada Tuhan. Tuhan-lah yang paling tahu apa yang harus kita lewati dan Tuhan-lah yang paling tahu batas kekuatan kita. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dan membiarkan kita. Dalam semua hal selalu ada campur tangan Tuhan. Apakah salah jika Hizkia membanggakan keberhasilannya? Salah. Ia tidak memuliakan Tuhan tetapi memuliakan diri sendiri. Ia seharusnya bersyukur dan bersaksi tentang kebesaran Tuhan. Kita seharusnya menceritakan kehebatan Tuhan, bukan diri kita. Tuhan murka pada Hizkia (Yehuda) karena ia tidak berterima kasih pada Tuhan dan menjadi angkuh. Alkitab tidak mencatat apa yang terjadi pada Yehuda ketika Tuhan murka. Mereka bukannya bersyukur kepada Tuhan tetapi malah menjadi sombong. Namun Hizkia memiliki sensitivitas kerohanian sehingga ia tahu bahwa ada hal yang tidak beres dalam hidupnya. Akhirnya Hizkia bersama dengan penduduk Yerusalem merendahkan diri. Mereka mengaku dosa-dosa mereka dan bertobat. Terkadang kita perlu mengalami hal-hal yang besar dari Tuhan sampai kita sadar akan anugerah Tuhan. Murka Tuhan pasti mengambil damai dan sukacita Hizkia. Di sana ia sadar dan merendahkan diri. Setelah itu Tuhan memberikan pemulihan dan memberikannya kekayaan serta kemuliaan yang sangat besar.

 

            Dalam ketiga ujian ini Hizkia memberikan respons yang benar. Setelah itu utusan dari Babel datang untuk mengunjungi Hizkia. Ia langsung percaya kepada mereka dan menunjukkan seluruh hartanya kepada mereka. Tuhan kemudian mengirim Yesaya untuk menegurnya. 2 Raja-Raja 20:16-19 Lalu Yesaya berkata kepada Hizkia: “Dengarkanlah firman TUHAN! Sesungguhnya, suatu masa akan datang, bahwa segala yang ada dalam istanamu dan yang disimpan oleh nenek moyangmu sampai hari ini akan diangkut ke Babel. Tidak ada barang yang akan ditinggalkan, demikianlah firman TUHAN. Dan dari keturunanmu yang akan kauperoleh, akan diambil orang untuk menjadi sida-sida di istana raja Babel.” Hizkia menjawab kepada Yesaya: “Sungguh baik firman TUHAN yang engkau ucapkan itu!” Tetapi pikirnya: “Asal ada damai dan keamanan seumur hidupku!” Sejarah kemudian menyatakan bahwa Babel menjajah Yehuda setelah itu.

 

 

KESIMPULAN

 

            Dalam setiap ujian iman yang kita alami, kita harus terus bersandar pada Tuhan. Ujian iman dari Tuhan bertujuan agar kita naik kelas iman. Setan pasti mau menjatuhkan kita, namun Tuhan pasti mau kita bertumbuh dalam kerohanian. Orang Kristen yang tidak lulus ujian iman akan stagnan dalam kerohanian. Di masa pandemi ini banyak orang Kristen mengalami hal ini. Kita harus memberikan respons dengan benar ketika ujian iman itu datang dan kita harus terus mengandalkan Tuhan agar kita menang.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).