Reformasi Rohani Model Yosia (Bagian 2) – 2 Raja-Raja 23:1-30 & 2 Tawarikh 34:33

Reformasi Rohani Model Yosia (Bagian 2) – 2 Raja-Raja 23:1-30 & 2 Tawarikh 34:33

Categories:

Khotbah Minggu 13 Juni 2021

Reformasi Rohani Model Yosia (Bagian 2) – 2 Raja-Raja 23:1-30 & 2 Tawarikh 34:33

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Kita akan melihat 2 Raja-Raja 23:1-30 dan 2 Tawarikh 34:33. Mengapa Yosia menyadari betapa pentingnya penyertaan Tuhan atas kerajaan Yehuda? Bagaimana kita bisa membedakan orang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan dengan mereka yang tidak? Bagaimana kita membedakan orang yang sungguh-sungguh bergantung pada Tuhan dan yang tidak? Di sini kita melihat bahwa Yosia menyadari pentingnya kehadiran Tuhan. Ia melihat dan membandingkan seluruh raja-raja sebelum dia. Ia sadar akan pentingnya raja yang bisa memengaruhi rakyat untuk takut akan Tuhan. Mengapa Yosia mengadakan reformasi rohani bagi Yehuda secara total? Bisakah reformasi itu bersifat parsial? Bisa. Namun apakah itu efektif? Tidak. Reformasi yang dilakukannya harus bersifat total agar efektif dan karena dosa-dosa Yehuda sudah begitu parah dan mereka sudah menyingkirkan Tuhan. Tuhan tidak lagi menjadi pusat dalam kehidupan mereka. Dari mana kuasa dan wibawa Yosia mengadakan reformasi rohani? Pada saat itu ada para imam Baal dan berhala lainnya. Mereka ditunjang oleh pemerintah pada saat itu. Mereka bisa saja melawan reformasi itu, namun ternyata mereka diam dan tidak melawan. Kita percaya ini adalah karena pertolongan Tuhan.

 

            Apa kaitannya reformasi rohani yang dari Tuhan/Roh Kudus dan yang bukan dari Tuhan? Apakah pada zaman ini masih mungkin terjadi reformasi rohani secara total? Mungkin. Apa beda reformasi rohani dengan reformasi moral? Reformasi rohani datang dari atas ke bawah dan dikerjakan oleh Roh Kudus sehingga orang-orang sadar akan dosa dan mengalami pertobatan sejati. Reformasi moral dibangun dari bawah ke atas. Kuasa yang dipakai adalah hukum dan norma. Namun reformasi jenis ini tidak akan konsisten karena rakyat takut kepada hukum, bukan kepada Sang Pencipta. Gerakan reformasi bisa terjadi dalam rumah dan tempat kerja kita. Gerakan ini tidak mungkin dihentikan. Dalam reformasi ada pembaruan terus menerus. Gereja juga harus mengalami pembaruan untuk kembali kepada Alkitab. Ketika kita menjadi pemimpin, panggilan kita itu sama seperti Yosia yaitu panggilan untuk pembaruan agar orang-orang kembali kepada Tuhan. Apakah kematian Yosia terkena panah serdadu Firaun Nekho ada kaitannya dengan kerohaniannya? Pada zaman ini banyak orang meninggal karena Covid-19. Ada orang-orang yang menilai bahwa orang-orang tersebut kurang rohani dan tidak diberkati oleh Tuhan. Kematian seseorang tidak boleh langsung kita kaitkan dengan dosa tetapi harus dikaitkan dengan nilai kedaulatan Tuhan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Anugerah Pemeliharaan Tuhan

            Kita sudah membahas tentang anugerah pemeliharaan Tuhan. Pemeliharaan-Nya terkadang melampaui pikiran kita. Kita mungkin sulit mengerti dari mana iman Yosia dibangun. Selama 57 tahun sebelum Yosia, kebenaran dan hidup rohani tidak diajarkan. Namun ada Hilkia yang mengajarkan iman kepada Yosia. Pada zaman Hizkia ada nabi Yesaya yang mengajarkan iman. Pada umur ke-16 tahun Yosia mencari Tuhan. Ini adalah anugerah Tuhan. Tuhan membentuk setiap orang berbeda-beda. Yosia mengambil komitmen iman untuk selalu mencari Tuhan. Itulah kunci penyertaan Tuhan untuk Yosia. Di sini kita percaya bahwa rancangan Tuhan tidak mungkin bisa gagal karena kegagalan seorang ayah dalam mendidik iman anak. Ini bukan berarti orang tua tidak perlu menjalankan tugas sebagai pemimpin rohani anak. Manasye dan Amon tidak menjalankan peran untuk mendidik dalam iman, namun Yosia bisa memiliki hati yang takut akan Tuhan.

 

2) Gerakan Rohani

            Dalam 2 Tawarikh 34:5 kita melihat bahwa Yosia menahirkan Yehuda dan Yerusalem. Ia menyingkirkan semua berhala dan semua hal yang berkaitan dengan penyembahan berhala. Dalam 2 Tawarikh 34:6-7 kita melihat bahwa Yosia menahirkan Manasye, Efraim, Simeon, dan Naftali. Yosia menghancurkan semua tiang berhala. Di sini kita melihat bagaimana Yosia melakukan reformasi rohani secara total. Ia menghancurkan semua hal yang berkaitan dengan berhala bukan karena ada roh-roh dalam semua hal itu tetapi karena ia tidak mau meninggalkan sejarah yang bisa menggoda generasi selanjutnya untuk kembali menyembah berhala. Kita percaya bahwa Setan tidak hadir dalam semua hal itu, namun semua itu tetap perlu dihancurkan demi kemurnian iman generasi selanjutnya. Yosia membawa mereka kembali ke rumah Tuhan. Ini semua terjadi dalam izin Tuhan. Segala hal dalam hidup kita yang membawa kita kepada berhala harus kita tinggalkan. Kita harus membenci dosa. Segala hal yang mistis harus kita tinggalkan. Apa yang Yosia lakukan adalah bukti cintanya kepada Tuhan. Ia ingin memurnikan generasi selanjutnya sehingga mereka belajar menyembah Tuhan dengan segenap hati.

 

            Dalam 2 Tawarikh 34:10 kita melihat bahwa Yosia melakukan pembaruan rumah Tuhan. Rumah Tuhan pada zaman pemerintahan Manasye dan Amon tidak diperhatikan, namun Hilkia dan semua rekannya berusaha untuk menjaganya. Di dalam proses waktu ada kerusakan sehingga banyak bagian menjadi tidak layak pakai. Yosia kemudian ingin melakukan pembaruan untuk rumah Tuhan. Ia ingin rumah Tuhan diperbaiki sehingga bisa menjadi tempat ibadah yang baik untuk seluruh rakyat. Pusat ibadah kita adalah Gereja secara fisik. Keluarga kita adalah Gereja kecil di rumah. Kita sendiri harus bergaul dengan Tuhan secara pribadi. Yosia melihat pentingnya rumah Tuhan sebagai tempat ibadah, maka dari itu itu ia membuat gerakan pembangunan rumah Tuhan secara fisik. Ia mengatur semua dengan baik. Di sini kita melihat cinta Yosia kepada Tuhan dan rumah Tuhan. Gereja adalah orang-orang yang dipanggil keluar dari dunia. Dalam Matius 21:12-27 kita melihat kisah bagaimana Tuhan Yesus menyucikan Bait Allah. Bagi Tuhan Yesus, Bait Suci itu adalah rumah Bapa dan tempat orang-orang kudus berdoa. Mazmur 69:10 sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku. Ketika kita mencintai rumah Tuhan maka kita akan siap berkorban. Dalam bagian ini Yosia melakukan itu secara total. Ia mau setiap pejabat mengambil bagian dalam pembangunan rumah Tuhan.

 

            Gedung Gereja secara fisik itu penting namun bukan yang terpenting. Gereja adalah kita orang-orang yang beriman. Allah hadir dalam hati kita. Gedung Gereja itu penting untuk mendukung Gereja menjalankan fungsinya. Gerakan Gereja tanpa tembok yang dahulu populer sekarang sudah hilang dalam kedaulatan Tuhan. Ini karena konsep mereka tentang Gereja itu salah. Gedung Gereja yang kita akan bangun adalah untuk generasi selanjutnya, yaitu anak-cucu kita. Tuhan Yesus menyingkirkan para penjual di Bait Suci. Ia tidak mau rumah Tuhan dinodai oleh orang-orang yang mencari keuntungan pribadi. Pelayanan mimbar tidak boleh dipakai oleh orang-orang yang sedang mencari kemuliaan diri. Kesucian dalam Gereja harus dijaga. Setiap pelayan harus menyiapkan diri dengan baik. Di sini kita mengerti mengapa Yosia dan Tuhan Yesus melakukan apa yang telah kita bahas. Ketika kita menikmati kehadiran Tuhan dalam Gereja, orang-orang akan bisa melihat hal itu. Gereja harus bersatu hati dengan Tuhan. Inilah yang akan menjadi kesaksian bagi orang-orang di luar Gereja. Inilah yang Yosia ingin lakukan. Ia mau mengajarkan kepada semua orang bahwa Allah yang sejati adalah Allah Yahweh. Yosia berhasil melakukan pembaruan rohani karena ada pertolongan dari Tuhan.

 

            Segala hal yang terbaik harus diberikan kepada Tuhan. Banyak orang berani membayar harga yang mahal demi dirinya sendiri namun hanya ada sedikit orang yang berani untuk memberikan yang terbaik dan yang termahal untuk Tuhan. Apakah selama ini kita membeli barang sesuai dengan fungsi dan kebutuhan kita atau kita berfoya-foya dan menyombongkan diri? Bagaimana dengan Yosia? Yosia menyerahkan semua uang kepada para imam yang mengatur pembangunan rumah Tuhan. Ia sungguh percaya kepada setiap imam. Kesalahan Salomo adalah membangun istananya sendiri lebih indah daripada rumah Tuhan. Kita harus memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Orang yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan tidak akan hitung-hitungan ketika memberi kepada Tuhan. Yosia menyerahkan semua pengaturan keuangan kepada para imam agar mereka bisa langsung memperbaiki rumah Tuhan.

 

            Dalam 2 Tawarikh 34:27 (bandingkan dengan 2 Raja-Raja 23:25), kita melihat bahwa Yosia merendahkan diri di bawah otoritas Taurat. Di sini kita melihat kesungguhan hati Yosia untuk Tuhan. 2 Raja-Raja 23:25 Sebelum dia tidak ada raja seperti dia yang berbalik kepada TUHAN dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya, sesuai dengan segala Taurat Musa; dan sesudah dia tidak ada bangkit lagi yang seperti dia. Pertobatan tanpa perendahan diri di bawah otoritas Tuhan dan tanpa pembaruan adalah pertobatan yang palsu. Yosia mewakili seluruh rakyat mengakui dosa di hadapan Tuhan bahwa bangsa Yehuda tidak mengutamakan Taurat. Pengakuan dosa itu baik dan memang diperintahkan oleh Alkitab, maka dari itu kita juga harus mengaku dosa kita.

 

            Setelah itu 2 Tawarikh 34:29-33 menyatakan bahwa Yosia mengikat perjanjian dengan Allah. Ia mengajak seluruh Yehuda dan Israel membuat komitmen rohani untuk menaati Tuhan. Maka dari itulah pada zaman pemerintahan Yosia tidak ada rakyat yang menyeleweng imannya. Dalam masa pandemi ini ada penyakit kemalasan. Banyak orang Kristen memilih untuk beribadah di rumah secara online namun rela pergi secara fisik ke tempat kerja. Beberapa orang yang sadar akan penyakit kemalasan ini kemudian bangkit dan memilih untuk beribadah secara fisik di gedung Gereja. Komitmen rohani bisa mendorong kita untuk bangkit dari kemalasan kita. Dalam hidup kita yang sementara ini kita harus menghidupi janji kita kepada Tuhan dalam ketaatan. Allah pasti memelihara kita. Setiap kita yang memiliki kekhawatiran harus sadar bahwa Allah tidak diam dan Allah turut bekerja dalam segala hal. Meskipun kita sakit karena Covid-19, itupun terjadi dalam izin Tuhan. Pasti ada tujuan Tuhan di dalam hal itu. Tuhan melihat iman kita dan kita harus beriman kepada Tuhan. Yosia melihat pentingnya semua orang, dari yang termuda sampai yang paling tua, menyembah Tuhan dan memiliki komitmen rohani yang baru. Ini membuat seluruh rakyat tidak menyimpang dari Tuhan.

 

            Dalam 2 Tawarikh 35:1-19 kita melihat bahwa Yosia mengadakan perayaan ibadah Paskah. Ayat 18 Paskah semacam itu tidak pernah lagi dirayakan di Israel sejak nabi Samuel. Seorangpun di antara raja-raja orang Israel tidak pernah merayakan Paskah seperti yang dirayakan Yosia dengan para imam dan orang-orang Lewi, dengan seluruh orang Yehuda dan Israel yang dapat hadir, dan dengan penduduk Yerusalem. Yosia menyumbang tiga puluh ribu kambing domba dan tiga ribu lembu sebagai korban bakaran Paskah. Ia mengajak semua pejabat untuk memberikan persembahan korban. Para imam pun juga ikut mempersembahkan korban. Jadi ada gerakan rohani yang besar di sini. Inilah reformasi rohani yang bersifat total. Apakah kita sudah mempersembahkan diri kita seluruhnya kepada Tuhan? Apakah kita sudah mempersembahkan anak-anak kita untuk kemuliaan Tuhan? Anak-anak bukanlah alat di tangan kita untuk menyenangkan hati kita. Mereka adalah anugerah Tuhan untuk kemuliaan Tuhan.

 

            Kristus adalah Anak Domba Allah yang sudah menjadi korban penebusan yang sejati. Ini berkaitan juga dengan Perjamuan Kudus. Paskah mengingatkan kita akan hati kita yang harus dipersembahkan kepada Tuhan. Ini juga mengingatkan kita akan komitmen kita yang harus diarahkan kepada Tuhan. Melalui kematian Kristus kita sadar bahwa hidup kita berharga di tangan-Nya. Kita menang ketika kita hidup dalam kehendak Kristus. Reformasi rohani Yosia berpuncak pada Paskah. Puncak reformasi rohani kita adalah pada Kristus. Jadi kita harus mengembalikan semuanya ke dalam tangan Kristus. Kristus harus menjadi yang utama. Dosa memberikan pengaruh yang besar kepada dunia, namun kita harus memberikan pengaruh sehingga orang-orang kembali kepada Tuhan. Dalam masa pandemi ini banyak hal terjadi, namun kita harus tetap mengutamakan dan memberitakan Kristus.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).