Sikap yang Benar Sebagai Orang Yang Berhutang Kasih. (Lukas 7:36-50)

Sikap yang Benar Sebagai Orang Yang Berhutang Kasih. (Lukas 7:36-50)

Categories:

Apakah kita orang berdosa? Jawabannya adalah iya. Apakah kita orang yang berhutang pada Tuhan? Tentu kita semua adalah orang yang berhutang kepada Tuhan. Lalu hutang apa yang boleh kita sadari secara iman? Salah satunya adalah hutang kasih, Injil dan jiwa kepada Tuhan. Karena Kristus telah mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Ini mengajarkan kepada kita, tentang betapa pentingnya kita melihat siapa diri kita di hadapan Tuhan. Mungkinkan kita memiliki sikap yang salah kepada Tuhan, saat kita merespons anugerah Tuhan, atau saat kita merespons pergumulan kita terhadap Tuhan? Bagaimana agar kita bisa memiliki cara pandang yang tepat dalam melihat anugerah dan izin dalam kedaulatan waktu Tuhan?

 

Simon orang Farisi yang terhormat pada saat itu, merasa mempunyai segalanya; nama baik, jabatan, fasilitas, dan harta. Ketika Simon mengundang Tuhan Yesus untuk makan di rumahnya, ada seorang perempuan berdosa yang mencuci kaki Tuhan Yesus dengan air mata, menyekanya dengan rambutnya, lalu meminyaki kaki Tuhan Yesus dengan minyak wangi. Ketika Simon meragukan kenabian Tuhan Yesus, Ia berkata Lukas 7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih. Simon melihat figur Kristus bukan sebagai Juru Selamat, bukan sebagai Tuhan, melainkan Simon dan teman-temannya hanya melihat Tuhan Yesus sebagai nabi. Tetapi perempuan berdosa yang membasuh kaki Tuhan Yesus bisa melihat figur Kristus bukan hanya sekedar nabi, atau hanya sekedar guru namun perempuan itu memandang Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

 

Pelajaran yang bisa kita dapat dari kisah ini adalah, Tuhan Yesus selalu mau dekat dengan orang berdosa. Kristus tahu orang Farisi memiliki pandangan teologi yang benar tentang taurat, namun tidak menghidupi teologi yang mereka pelajari untuk menjadi nilai rohani sebagai wakil Tuhan dipemerintahan. Kemunafikan orang Farisi banyak diungkap di dalam Injil. Dalam kisah ini Tuhan Yesus tetap mau menghargai ajakan makan Simon orang Farisi, dan juga tetap mau menerima kedatangan perempuan  berdosa itu. Kita bisa melihat bahwa Tuhan Yesus tidak menghakimi dan malah dekat dengan pendosa, supaya orang berdosa kembali kepada Allah. Ini adalah nilai yang diajarkan Tuhan Yesus, agar kita mau dekat dengan orang yang masyarakat anggap sebagai orang berdosa, untuk mengingatkan mereka agar mereka mau bertobat dan kembali kepada Tuhan.

 

Berbeda dengan pandangan Tuhan Yesus terhadap perempuan berdosa itu, Simon orang Farisi justru malah mencemooh perempuan itu dan Tuhan Yesus yang sudah mau menerimanya. Bahkan Tuhan Yesus mau diminyaki kakinya oleh perempuan berdosa itu. Simon beranggapan apa yang dilakukan perempuan berdosa itu sangatlah hina. Sebagai orang Yahudi, memperlihatkan rambutnya terurai adalah tindakan yang hina. Menurut Simon, apa yang dilakukan perempuan berdosa itu tidak sopan terhadap Tuhan Yesus. Apa yang Simon pikirkan adalah buah dari salah menyikapi anugerah Tuhan, salah menyikapi siapakah Tuhan Yesus yang dia undang. Simon menganggap Tuhan Yesus yang dia undang adalah nabi, dan bukan Tuhan sang Juru Selamat. Simon hanya mengundang Kristus untuk makan, namun tidak menghargai Kristus. Lukas 7:44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.

 

Alkitab dengan jelas mengatakan untuk melihat kebaikan seseorang dan tidak boleh melihat keburukan seseorang tersebut. Demikian juga Kristus, tidak mempertanyakan darimana perempuan berdosa itu mendapatkan minyak wangi yang dipakainya untuk membasuh kaki Kristus. Kristus tidak mempermalukan perempuan itu dan Kristus juga tidak mempermalukan Simon yang terhormat pada saat itu. Kristus menceritakan perumpaan tentang dua orang yang berhutang, yang satu lebih besar hutangnya. Lukas 7:42-43 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.” Perumpamaan yang Tuhan Yesus berikan ini adalah untuk membuat Simon mengerti bagaimana bersikap sebagai manusia yang berhutang jiwa. Simon hanya mengundang Kristus untuk makan di rumahnya, tetapi Simon lupa menyipakan air untuk Kristus membasuh kakinya. Simon juga tidak mencium tangan bahkan kaki Kristus, karena Simon beranggapan dia adalah orang yang terhomat. Berbeda dengan perempuan berdosa itu, ia datang dengan hati yang penuh kehancuran, air matanya mengalir tersedu-sedu untuk membasuh kaki Kristus. Akhirnya perempuan berdosa itu pulang sebagai orang yang sudah dibenarkan dan diampuni dosanya oleh Tuhan Yesus. Orang Farisi, meninggikan dirinya sendiri hanya berdasarkan adat istiadat, berdasarkan hal-hal spiritual yang mereka anggap adalah nilai kelebihannya dimata Tuhan. Namun kesombongan hati itulah yang justru menjatuhkan Simon orang Farisi itu kedalam dosa.

 

Dari sini juga Kristus mengingatkan Simon untuk melihat segala sesuatu bukan dari status, jabatan, ataupun harta, melainkan dengan kacamata rohani. Jangan sampai karena kita mempunyai jabatan, dan harta, lalu serta-merta mengikuti jejak Simon, menyalahkan Kristus, saat Kristus menerima perempuan berdosa itu dan menghakimi perempuan berdosa itu. Namun Kristus hadir untuk memperbaharui Simon. Kita juga harus segera bertobat jika kita mempunyai kecenderungan seperti Simon; merasa diri paling tinggi, merasa lebih pantas di hadapan Tuhan dibanding orang lain.

 

Perumpamaan yang Tuhan Yesus ceritakan, bukanlah cara Tuhan untuk mempermalukan Simon. Tuhan Yesus tidak pernah dengan sengaja mempermalukan hamba-Nya. Tuhan Yesus ingin agar Simon bisa melihat, bahwa perempuan yang dianggap sebagai orang yang berdosa, namun dengan kerendahan hati dan dengan sungguh-sungguh bertobat, akan diampuni oleh Tuhan, seberat apapun dosanya. Seperti perumpamaan yang Tuhan berikan, tentang besar kecilnya hutang, akan tetap Tuhan ampuni. Maka Tuhan juga mengampuni dosa-dosa perempuan itu, dan menerima kelahiran baru dari perempuan itu. Lukas 7:48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.” Karena perempuan berdosa itu telah berbuat, perbuatan kasih. Lukas 7:50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” Hal ini bukan berarti keselamatan terjadi karena perbuatan baik. Semua dosa-dosa kita bisa terhapuskan bukan oleh karena banyaknya perbuatan baik yang kita lakukan, tetapi karena anugerah dari Bapa. Seperti perempuan berdosa yang membawa buli-buli pualam minyak wangi, kita sebagai orang berdosa juga harus menyatakan iman kita dengan memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

 

Lukas 7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih. Sangatlah penting untuk kita mengetahui siapa diri kita. Siapa yang melihat dirinya sebagai pendosa yang kecil maka ia akan melakukan kasih yang kecil juga. Tetapi sebaliknya, siapa yang melihat dirinya sebagai pendosa yang besar, maka dia pun juga akan melakukan kasih yang besar. Kasih yang besar ini kita lakukan karena kita merasa sebagai orang yang telah bedosa besar, kita merasa sebagai orang yang bodoh, bobrok, dan jahat. Semoga kita segera menyadari betapa besar dosa-dosa kita, dan mau segera bertobat, mau untuk lahir baru. Menyadari bahwa hidup kita dulunya adalah milik setan, lalu sekarang hidup kita sudah sepenuhnya milik Kristus. Hidupku yang dulunya adalah pendosa besar, sekarang aku serahkan semuanya hanya untuk Tuhan. Dahulu hidupku, tubuhku, dan juga hartaku, ku serahkan semuanya untuk dosa. Namun sekarang semuanya itu aku serahkan untuk menjadi senjata kemuliaan Tuhan.

 

Bagi perempuan berdosa itu, buli-buli pualam berisi minyak wangi tidak ada harganya dibandingkan dengan kasih karunia yang dia terima dari Tuhan Yesus. Perempuan berdosa itu lebih menganggap penting kasih Tuhan yang sudah menyelamatkannya dari pada minyak wangi untuk membasuh kaki Kristus. Tuhan Yesus pun menerima perempuan berdosa itu untuk menjamah kakinya, karena bagi Kristus, orang dengan duka cita rohanilah yang layak menerima kasih pengampunan. Matius 5:3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kita jika memiliki hati yang benar-benar hancur karena penyesalan akan dosa kita. Perempuan berdosa itu datang dengan hati yang hancur, menyerahkan dirinya, membasuh kaki Kristus dengan minyak wangi tanpa banyak bicara, tanpa banyak meminta. Apa yang perempuan berdosa itu lakukan adalah tulus dan tidak meminta berkat imbalan apapun dari Tuhan Yesus. Kristus benarkan hidupnya, bukan dari perkataannya namun melalui perbuatan perempuan itu sendiri.

 

Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi orang berdosa. Jangan sampai kita seperti Simon, menghakimi perempuan berdosa itu. Simon seharusnya menaikkan pujian bersama dengan teman-temannya, karena Tuhan Yesus yang Simon undang untuk makan di rumahnya, sudah mengampuni dan menyelamatkan jiwa perempuan yang dianggap oleh masyarakat sekitar sebagi orang berdosa. Kita pun juga harus bertindak demikian, ketika melihat orang yang dulunya hidup dalam dosa lalu kembali kepada Tuhan. Kita harus tetap menaikkan syukur karena kembalinya orang berdosa kepada Tuhan.

 

 

Kisah Simon dan perempuan berdosa ini sama seperti perumpamaan anak yang hilang. Dimana Simon adalah seorang kakak yang merasa dirinya sudah berbuat baik, dan selalu patuh, namun tidak diberikan pesta seperti adiknya yang telah membangkang dan pergi dari rumah. Tuhan Yesus menghadiri undangan Simon untuk menyadarkan tentang hutang kasih yang telah Simon dan perempuan berdosa itu punya. Kehadiran Kristus dekat dengan orang berdosa bukan untuk mengembangkan dosa atau kompromi dengan dosa, justru untuk menyelesaikan dosa. Kehadiran Tuhan Yesus untuk menciptakan damai sejahtera, bukan menciptakan kekacauan. Kiranya kita meneladani kehadiran Kristus, dimanapun kita hadir dalam kasih Kristus, damai pun terjadi di tempat itu.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – SC)

 

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).