Visi Pemimpin yang Bijaksana (1 Raja-Raja 3:2-5)

Visi Pemimpin yang Bijaksana (1 Raja-Raja 3:2-5)

Categories:

Khotbah Minggu 18 Oktober 2020

Visi Pemimpin yang Bijaksana

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

 

 

            Kita akan melanjutkan pembahasan tentang kepemimpinan Salomo. Kita sudah mempelajari tentang keadilan dan ketegasannya. Pada saat ini kita akan membahas tentang visi pemimpin yang bijaksana. Ayat yang kita kutip adalah 1 Raja-Raja 3:2-5 dan Amsal 29:18. Kata ‘wahyu’ dalam ESV adalah ‘prophetic vision’. Jadi tanpa penggenapan visi, rakyat menjadi liar. Orang yang berpegang pada hukum Tuhan itu berbahagia.

 

 

PENDAHULUAN

 

            Dari mana datangnya visi Tuhan? Mengapa visi sangat penting? Visi memimpin kehidupan kita ke depan. Visi itu penting dalam usaha, pekerjaan, dan keluarga kita. Apa bedanya visi yang dari Tuhan dan yang bukan dari Tuhan? Ada orang-orang yang sering mengaku mendapatkan visi dari Tuhan. Ada yang menyatakan bahwa dirinya mendapatkan penglihatan, gambar, mimpi, dan lainnya dari Tuhan. Ada teologi yang menyamakan visi dengan penglihatan. Bagaimana kita mengerti apakah itu visi yang benar dari Tuhan atau bukan? Mengapa Salomo meminta petunjuk Tuhan untuk apa yang harus ia lakukan bagi kerajaan Israel (kerajaan Tuhan)? Ia bisa saja mengandalkan setiap konsultan dan menterinya untuk menyusun rencana bagi kerajaannya, namun ia sadar bahwa manusia hanyalah alat di tangan Tuhan untuk menggenapkan visi Tuhan. Manusia di dalam keberdosaan pikirannya bisa bersalah. Pengalaman manusia pun juga bisa bersalah. Guru yang paling agung adalah Kristus itu sendiri dalam Firman-Nya. Itulah mengapa ia meminta petunjuk Tuhan. Di sini kita melihat kualitas iman dan kerohanian Salomo seperti Daud, ayahnya. Mengapa Salomo tidak meminta kekayaan, kemakmuran, kemasyhuran, dan umur yang panjang dari Tuhan? Kebanyakan orang meminta hal-hal materi, namun Salomo tidak demikian. Kekayaan tidak menentukan kebahagiaan dan keharmonisan. Semua itu dilihat Salomo sebagai berkat kelas dua (second blessing). Berkat yang paling utama adalah penggenapan Kerajaan Allah. Di dalam bekerja kita seharusnya meminta pimpinan Tuhan dan bijaksana dari-Nya. Kita seharusnya menggenapkan keinginan Tuhan dan bukan keinginan pribadi kita. Kerohanian seseorang bisa dinilai dari apa yang ia minta dan targetkan.

 

 

PEMBAHASAN

 

1) Visi dan mata rohani

            Yesus berkata “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu” (Matius 6:22-23, bandingkan dengan Yeremia 4:4-12 dan Yesaya 6). Sebagai pribadi yang hidup, kita memiliki rasio dan standar untuk membedakan apa yang baik dan yang jahat. Kita juga bisa mengerti standar kesucian Tuhan. Jadi kita adalah makhluk rohani yang bisa mengerti kehendak serta pimpinan Tuhan. Namun ciptaan yang lain tidak bisa mengerti. Dosa merusak semua ini. namun di dalam Kristus kita mengalami pemulihan total. Di sana kita kembali mengerti standar kesucian Tuhan. Kita memiliki kehausan untuk beribadah. Dalam konteks inilah Tuhan berbicara mengenai karakter rohani. Ketika mata kita baik, cara berpikir kita akan menjadi terang. Kita akan memberikan yang terbaik dan termulia kepada Tuhan. Prioritas kita dikembalikan untuk mengutamakan Tuhan. Perjanjian Lama menyatakan bahwa anak sulung itu harus diberikan kepada Tuhan. Jadi bagian yang terbaik itu diberikan kepada Tuhan. Salomo menggerakkan ratusan ribu orang serta memberikan barang-barang berkualitas yang terbaik kepada Tuhan. Kita harus memiliki mata rohani. Di sana kita mengerti bagaimana Tuhan melihat dan kita mengerti bagaimana melangkah di dalam hidup kita. Namun jika paham-paham dunia menutupi mata dan cara berpikir kita, maka kita akan berfokus pada hal-hal yang salah. Orang-orang materialistik terus memikirkan uang. Orang hedonistik terus mencari kenikmatan. Akhirnya hidup mereka menjadi manja, instan, dan ingin terus dipermudah. Ilah zaman itu sungguh berbahaya. Mata dan pikiran kita bisa ditutupi sehingga hidup kita tidak memuliakan Tuhan.

 

            Visi yang berkaitan dengan mata rohani itu bersumber pada Firman Tuhan. Visi yang tidak kembali kepada dan diuji oleh Firman Tuhan bukanlah visi yang berasal dari Tuhan. Visi itu akan bersifat antroposentris dan tidak mungkin memuliakan Tuhan. Ketika Yeremia dipanggil oleh Tuhan, Allah menyatakan bahwa Yeremia sudah dikenal oleh-Nya bahkan dari sebelum kelahirannya. Ini pasti membuat Yeremia kaget. Allah sudah memilih Yeremia dari sebelumnya untuk memberitakan Firman Tuhan kepada bangsa yang keras hati. Mereka tidak mau mengerti dan sudah buta. Yeremia menjawab “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda” (Yeremia 4:6). Kemudian Tuhan menjawab “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman Tuhan” (Yeremia 1:7-8). Saat Yeremia rela untuk diutus oleh Tuhan, ia dimampukan oleh Tuhan. Jadi kita bisa melihat diri dalam kelemahan, namun kita harus lebih melihat kepada Tuhan dalam kekuatan-Nya yang sanggup mengerjakan perkara besar melalui hidup kita. Ketika Yeremia menjadikan visi Tuhan sebagai visi hidupnya, dirinya mengalami perubahan.

 

            Dalam bagian lain, Allah bertanya “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (Yesaya 6:8). Yesaya menjawab “Ini aku, utuslah aku!”. Di mana ada kerelaan, di situ ada penyucian dan penggenapan visi Tuhan. Visi akan diberikan oleh Tuhan kepada kita kalau kita adalah sungguh-sungguh umat pilihan Tuhan dan dikuduskan oleh Tuhan. Tanpa semua itu, kita hanya akan mendapatkan kesulitan dan kegagalan. Tuhan menciptakan mata agar kita bisa melihat. Namun mata lahiriah itu terbatas. Ia tidak bisa melihat melampaui waktu dan ruang. Dalam pembahasan Amsal, kita diajarkan untuk tidak menjauh dari mata rohani kita. Mata rohani itu berada di atas dan harus melihat semua keputusan kita. Dengan mata rohani kita melihat apakah keputusan kita itu untuk Tuhan atau diri sendiri. Simson mudah jatuh karena mata fisiknya. Ketika ia melihat perempuan cantik, ia langsung jatuh cinta. Namun setelah matanya dicungkil, ia berdoa kepada Tuhan agar kekuatannya dipulihkan untuk membunuh orang-orang Filistin (Hakim-Hakim 16:28-30). Mengapa ia bisa tahu bahwa doanya itu adalah penggenapan kehendak Tuhan? Karena ia sudah bertobat. Mata rohaninya terbuka dan bisa melihat kehendak Tuhan. Simson bisa melakukan pengorbanan yang mulia ketika mata rohaninya bekerja melampaui mata fisiknya. Jadi kita yang hidup dengan mata rohani itu berbahagia. Dosa bisa menipu mata fisik kita. Mata kita bisa melihat bunga yang indah, namun bunga itu belum tentu harum. Setelah kita mendekatinya kita baru mengetahui bahwa bunga itu berbau busuk. Bunga mawar itu baik untuk dilihat, namun durinya bisa melukai tangan kita. Manusia bisa menipu dengan penampilan. Jadi mata fisiknya dipuaskan namun tertipu. Jika kita hanya ingin memuaskan mata fisik kita, maka itu adalah kepuasan yang tidak suci. Mata kita menjadi terang jika kita memakai mata rohani yang dipimpin oleh Firman Tuhan. Mata kita harus mengandung visi Tuhan. Namun mata kita bisa melihat hal-hal yang jahat jika hati kita tidak benar. Jadi mata kita harus disucikan berdasarkan visi Tuhan untuk tujuan Tuhan. Orang-orang non Kristen bisa menggenapkan visi manusia, namun kita sebagai orang Kristen harus menggenapkan visi Kerajaan Allah. Hidup kita harus menyatakan keindahan karakter Kristus.

 

a. Visi dari Tuhan

            Visi dari Tuhan adalah untuk menangkap keinginan hati Allah untuk menggenapkan kerajaan-Nya dan kehendak-Nya bagi pribadi lepas pribadi. Salomo menyadari bahwa tugasnya sungguh besar. Daud sudah menaklukkan musuh-musuhnya sehingga ada kedamaian dalam pemerintahan Salomo. Salomo sebagai pemimpin membawa seluruh pemimpin di Israel ke Gibeon dan membawa ribuan korban persembahan untuk Tuhan. Ia pergi ke sana untuk meminta petunjuk Tuhan. Hidupnya sama seperti Daud yaitu dalam kesalehan dan kerohanian. Ia menyadari bahwa kesuksesannya sebagai raja bergantung pada pimpinan Tuhan. Namun jika ia tidak saleh dan rohani maka ia akan meminta petunjuk orang lain. Manusia bisa memberikan pertimbangan berdasarkan logika namun itu belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan. Ketika Daud ingin memindahkan tabut perjanjian, ia tidak meminta petunjuk Allah sehingga Uza mati. Jadi Salomo tahu bahwa manusia itu bisa salah. Maka dari itu ia mengajak semua pemimpin di bawahnya untuk beribadah. Yusuf secara langsung menerima visi dari Tuhan. Yeremia juga demikian. Yesaya pun sama. Salomo pun dalam bagian ini juga mendapatkan visi dari Tuhan. Jadi visi itu tidak perlu dicari. Tuhan-lah yang aktif memberikan visi kepada umat-Nya. Namun pada saat ini kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa semua mimpi dan penglihatan itu pasti berasal dari Tuhan. Kita harus menguji semua itu berdasarkan Firman Tuhan. Seluruh nubuatan dalam Perjanjian Lama berpuncak pada kedatangan Kristus serta karya penebusan-Nya. Jadi setelah itu tidak ada lagi mimpi yang menjadi wahyu baru karena semua telah genap dan selesai di dalam Kristus. Semua itu sudah tercatat dalam Alkitab. Visi kita adalah menggenapkan seluruh perintah Tuhan melalui pekerjaan, keluarga, peran kita di masyarakat, dan lainnya. Jadi visi itu tidak perlu kita cari lagi. Visi itu diberikan oleh Tuhan.

 

b. Visi dari belajar

            Apa perbedaan antara visi dan membagikan pengetahuan? Visi dari belajar itu bersifat insight atau rasio yang dicerahkan. Namun itu bukanlah visi dari Tuhan. Visi dari belajar itu bisa datang dari pengajar, pakar, atau orang lain. Banyak orang mau bergaul dengan orang-orang sukses untuk mempelajari rahasia kesuksesan mereka meskipun harga yang harus dibayar itu begitu mahal. Banyak orang juga mau membayar tiket yang begitu mahal agar bisa duduk di kursi terdepan dalam konser penyanyi kesukaan mereka. Jadi setiap orang memiliki ambisi. Dalam memuaskan ambisi itu mereka berani membayar harga. Visi dari belajar itu baik, namun visi dari Tuhan untuk hidup kita itulah yang terpenting. Di sana Tuhan mengarahkan hidup kita untuk kemuliaan-Nya.

 

c. Visi dari pengalaman hidup

            Visi juga bisa didapatkan dari pengalaman hidup. Visi dari pengalaman itu bisa memberikan semangat hati nurani untuk hidup harus berbeda. Kita bisa mendengar kesaksian-kesaksian hidup orang-orang sukses yang di masa lalunya mereka bekerja begitu keras sampai mereka memikirkan cara dan berjuang untuk menjadi sukses. Jadi hidup mereka dimulai dari pengalaman yang menyesakkan. Pengalaman hidup yang sulit itu mendorong mereka untuk bekerja lebih baik. Jadi daya tahan seseorang di tengah kesulitan itu bisa menentukan keberhasilan orang itu. orang-orang yang tidak kuat mentalnya akan dimakan oleh arus dunia dan lenyap.

 

            Kita tidak boleh bergantung pada rasio, perasaan, atau pengalaman semata tetapi kita harus kembali kepada Firman Tuhan dengan penafsiran yang benar. Gereja harus memberikan pengaruh kepada dunia dan bukan sebaliknya. Namun hal yang terjadi adalah banyak Gereja telah dipengaruhi oleh dunia. Akhirnya nilai kehormatan dan kekudusan Tuhan tidak dinyatakan.  Banyak Gereja gagal mengerti makna ibadah yang benar sehingga banyak macam kesenangan diperbolehkan masuk ke dalam ibadah. Ini karena mereka tidak mengerti teologi ibadah yang sesungguhnya. Pusat ibadah adalah iman yang berdasarkan Firman Tuhan untuk kemuliaan Tuhan. Tanpa ini, ibadah menjadi kosong. Ketika pengaruh dunia masuk ke dalam Gereja, Gereja sudah kehilangan identitas. Gerakan Reformed Injili didirikan oleh Pdt. Stephen Tong untuk mengembalikan kekristenan kepada pengertian yang benar berdasarkan Firman Tuhan. Gerakan ini juga mengobarkan api penginjilan serta mengembangkan pelayanan mandat budaya. Visi itu mulia ketika berkaitan dengan visi Kerajaan Allah. visi ambisi pribadi bukanlah visi Tuhan. Mata kita harus mengandung visi Tuhan. Apa yang kita lihat harus dikaitkan dengan mata rohani. Kita mau setia untuk menggenapkan setiap visi dari Tuhan.

 

2) Visi mendahului keberhasilan

            Bukankah uang atau kepintaran yang seharusnya mendahului keberhasilan? Banyak orang kaya menjadi bangkrut karena tidak mengubah gaya hidupnya atau karena hartanya dihabiskan oleh anak-anaknya. Visi itu sungguh mendahului keberhasilan. Kita bisa melihat dalam 2 Tawarikh 1:1. Allah menyertai Salomo. Kesuksesan Salomo bukanlah karena kekayaan, kehebatan Daud, kekuatan prajurit, atau ketenarannya. Ia begitu ditakuti karena Tuhan menyertainya. Salomo memiliki nama lain yaitu Yedija yang berarti ‘dikasihi oleh Tuhan’. Melalui mimpi Tuhan bertanya kepada Salomo “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” (1 Raja-Raja 3:5). Salomo tidak terburu-buru meminta. Ia menyatakan kasih setia Tuhan terlebih dahulu (1 Raja-Raja 3:6-8). Jadi Salomo memulai dengan menyembah Tuhan. Inilah orang bijaksana. Salomo tahu bahwa kerajaan yang dipimpinnya dan tantangan itu sangat besar. Pada perjumpaan pertamanya dengan Tuhan, ia meminta petunjuk Tuhan (2 Tawarikh 1:5b dan 1 Raja-Raja 3:5). Tuhan memberikan hikmat kepadanya sesuai permintaannya. Jadi hikmat Tuhan itu datang dari atas ke bawah. Hikmat dunia datang dari bawah ke atas. Hikmat Tuhan selalu punya nilai penggenapan Kerajaan Allah. Ketika visi Tuhan menjadi kehidupan Salomo, hidupnya diarahkan untuk membangun Bait Allah. Di sini kita mengerti bahwa visi memimpin misi dalam mencapai tujuan dan visi mengarahkan fokus misi dalam mencapai tujuan.

 

            Salomo memiliki kerinduan untuk menyatakan Kerajaan Allah melalui kerajaan Israel. Bait Allah itu penting karena di sana Allah hadir. Kerajaan Israel akan terus berhasil ketika Tuhan terus menyertai. Ketika visi diturunkan menjadi misi, fokus harus ada. Fokus Salomo adalah membangun Bait Allah selama tujuh tahun. Semuanya direncanakan dengan baik untuk kemuliaan Tuhan. Ia meminta Hiram, raja Tirus, untuk membantunya dalam menebang pohon-pohon aras yang dipakai untuk membangun Bait Allah (1 Raja-Raja 5:2-6). Selain itu Salomo juga meminta “kirimlah kepadaku seorang yang ahli mengerjakan emas, perak, tembaga, besi, kain ungu muda, kain kirmizi, kain ungu tua, dan yang juga pandai membuat ukiran, untuk membantu para ahli yang ada padaku di Yehuda dan di Yerusalem, yang telah ditunjuk ayahku Daud” (2 Tawarikh 2:7). Setelah itu mereka membuat perjanjian untuk kedua kerajaan itu (1 Raja-Raja 5:12). Salomo menggerakkan tiga puluh ribu orang untuk pekerjaan itu (1 Raja-Raja 5:13). Ia menyuruh mereka ke gunung Libanon, sepuluh ribu orang dalam sebulan berganti-ganti: selama sebulan mereka ada di Libanon, selama dua bulan di rumah. Adoniram menjadi kepala rodi (1 Raja-Raja 5:14). Selain itu Salomo juga memiliki tujuh puluh ribu kuli dan delapan puluh ribu tukang pahat di pegunungan (1 Raja-Raja 5:15). Mandor yang mengawasi pekerjaan itu ada sebanyak tiga ribu tiga ratus orang (1 Raja-Raja 5:16). Ini adalah proyek yang besar. Jika tidak ada fokus dan strategi, maka semua ini tidak mungkin tercapai. Semuanya harus diatur dengan baik agar tidak terjadi konflik. Di dalam semua ini harus ada komitmen. Visi menggerakkan komitmen dalam mencapai tujuan. Komitmen membuat hal yang berat menjadi terasa ringan. Namun tanpa komitmen, hal yang ringan pun menjadi terasa berat. Semua ini dikerjakan dengan sempurna selama tujuh tahun. Ini karena Salomo mempersembahkan semua yang terbaik kepada Tuhan. Semangat Reformed adalah semangat untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan.

 

            Pasti ada kendala di dalam mengatur ratusan ribu orang. Mereka pasti merasakan kelelahan, namun visi menyegarkan perjuangan dalam mencapai tujuan. Ketika semua orang memiliki semangat dan perjuangan yang sama, semua tugas yang berat bisa diselesaikan. Kerinduan Salomo menjadi kesaksian yang baik. Ia menyatakan kebesaran Tuhan dan mendirikan Bait Allah dengan bahan-bahan yang terbaik. Salomo tahu bahwa dirinya tidak layak, namun ia mau memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Ia berkata kepada Hiram “Dan rumah yang hendak kudirikan itu harus besar, sebab Allah kami lebih besar dari segala allah” (2 Tawarikh 2:5). Salomo ingin agar bangsa Israel memiliki tempat beribadah yang terbaik. Ini adalah visi yang luar biasa. Pilar Bait Allah itu dibuat besar untuk mengingatkan orang-orang yang datang bahwa mereka begitu kecil dan Allah begitu besar. Visi pemimpin yang bijaksana itu tidak berpusat pada diri. Pemimpin yang bijaksana selalu mau menangkap keinginan Tuhan terlebih dahulu. Keinginan pribadinya ditaklukkan di bawah keinginan Tuhan. Visinya selalu berkaitan dengan penggenapan hati Tuhan dan bukan dirinya sendiri. Kerajaan Allah selalu menjadi fokus visinya.

 

 

KESIMPULAN

 

1) Visi pemimpin yang bijaksana dimulai dengan meminta petunjuk-Nya. Ia bukan memulai dengan meminta petunjuk manusia. Pertama-tama ia bergumul dengan Tuhan.

 

2) Visi dari Tuhan selalu berkaitan dengan solusi untuk masalah pada zaman itu dan setelahnya. Masalah terbesar kerajaan Israel saat itu adalah tidak adanya tempat beribadah. Salomo berhasil menjadi hakim yang bijaksana dan adil sehingga keadilan ditegakkan dalam kerajaannya (1 Raja-Raja 3:16-28). Jadi visi itu selalu memberikan solusi untuk menjawab setiap masalah. Namun orang yang menjalankan visi itu harus selalu mengarahkan segala pujian kepada Tuhan dan bukan dirinya sendiri. Orang-orang dunia yang sukses selalu mengarahkan segala kemuliaan kepada dirinya sendiri, namun orang Kristen harus berbeda.

 

3) Visi dari Tuhan selalu berkaitan dengan penggenapan kerajaan-Nya dan kehendak-Nya dalam panggilan hidup secara pribadi lepas pribadi. Di dalam setiap aspek hidup kita, kita harus memikirkan dan menjalankan visi dari Tuhan. Kita harus mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya (Matius 6:33). Hikmat, pemeliharaan Tuhan, dan penyertaan Tuhan akan diberikan kepada kita yang mengutamakan Tuhan. Pekerjaan kita adalah anugerah Tuhan, maka kita harus mengembalikannya bagi kemuliaan Tuhan. Banyak orang rela membayar harga yang begitu mahal untuk pekerjaannya, namun tidak banyak yang rela membayar harga untuk kemuliaan Tuhan. Di sini harus ada perubahan paradigma. Paradigma kita harus diubah sesuai dengan Firman Tuhan. Visi pemimpin yang bijaksana itu ada dalam diri kita masing-masing. Melalui Kristus diri kita dipulihkan sehingga kita bisa menggenapkan visi Tuhan.

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)

Speaker: Pdt. Tumpal Hutahaean, M.Th.

 

Setelah menamatkan studi Akuntansi dan Perbankan di AKP-LPI pada tahun 1992, Pdt. Tumpal Hutahaean menempuh pendidikan theologia di STT Reformed Indonesia Warung Buncit (S.Th., 1996), Sekolah Tinggi Theologia Reformed Injili International (STTRII) Kemayoran (M.Th., 2012).


Sejak tahun 1996 beliau melayani di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) dan ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Pdt. Tumpal juga menjadi dosen di STTRI Internasional Kemayoran, STRIJ dan SPRI.


Sudah melayani melalui khotbah, seminar dan KKR di lebih dari ratusan kota di Indonesia dan di luar negeri (Amerika, Australia, Jerman, Swiss).
Beliau menikah dengan Maria Evelin dan mereka dikarunia tiga anak: Eirene (1998), Elden (1999), dan Evangelica (2001).