We Will Do dan Be Obedient (Keluaran 24:3-8)

We Will Do dan Be Obedient (Keluaran 24:3-8)

Categories:

Khotbah Minggu 6 Juni 2021 (Pagi)

We Will Do dan Be Obedient (Keluaran 24:3-8)

Vik. Tonny Sutrisno, M. Th.

 

 

Kita akan belajar dari Keluaran 24:3-8. Empat pasal sebelumnya Allah memberikan hukum-hukum dan aturan kepada bangsa Israel sebagai dasar untuk mengadakan perjanjian. Allah memberikan pelajaran sejarah tentang bagaimana bangsa Israel dibebaskan dari Mesir. Mereka berhutang segala sesuatu kepada Allah. Lewat kondisi ini, bangsa Israel seharusnya menyerahkan seluruh hidup mereka kepada Allah. Allah memiliki hak untuk mengatur hidup mereka. Inilah yang Tuhan mau sampaikan kepada mereka. Allah mau menyatakan bahwa Ia-lah Penyelamat Israel, bukan hanya Pemberi hukum. Injil dalam Perjanjian Lama selalu diberitakan dalam format: anugerah-hukum. Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Pembebas Israel lalu kemudian menyatakan hukum-hukum-Nya (Keluaran 20:2-17). Ada berkat dan hukum yang harus ditaati. Tuhan juga menyatakan berkat atau kutuk bagi mereka yang taat atau tidak taat. Keluaran 24 mau menyatakan tentang relasi yang sakral atau kudus di mana Allah mau menyatakan bahwa Ia adalah Allah mereka dan mereka adalah umat Allah. Ini adalah inti dari seluruh perjanjian, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Di Perjanjian Lama Allah menyatakan hal ini melalui Musa. Dalam Perjanjian Baru ini digenapkan dalam Kristus sehingga melalui Kristus kita bisa memanggil Allah sebagai Bapa kita dan Allah bisa memanggil kita sebagai anak-anak-Nya.

 

Semua hal yang dinyatakan oleh Tuhan harus dijalankan oleh Israel. Keluaran 24:9 Dan naiklah Musa dengan Harun, Nadab dan Abihu dan tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel. Bagian ini menyatakan suatu ibadah untuk menyembah dan memuliakan Allah. Hanya Musa sendiri yang boleh mendekat kepada Tuhan. Ia mewakili seluruh umat Israel di hadapan Allah seperti nanti digenapkan oleh Kristus. Keluaran 24 ini menyatakan tentang ibadah yang pertama kali secara penuh dicatat dalam Alkitab. Bagian ini mengandung seluruh elemen dalam ibadah. Bagian pertama adalah panggilan untuk beribadah. Dalam ibadah kita ada votum. Kemudian ada pembacaan Firman Tuhan, pengakuan iman, dan Perjamuan Kudus. Ibadah sebenarnya adalah pertemuan dengan Allah. Kita datang ke hadapan-Nya dengan seluruh umat. Ini harus menjadi kerinduan kita. Kita rindu gedung Gereja kita menjadi penuh. Ini bukan berarti kita meremehkan pandemi, tetapi kita percaya bahwa kemampuan Tuhan untuk memelihara kita jauh lebih besar daripada segala kekhawatiran kita. Ibadah yang kita lakukan sesungguhnya adalah perayaan suatu perjanjian, peringatan, dan peneguhannya. Ibadah bukan hanya untuk setor muka. Hari Sabat harus menjadi hari yang khusus. Ketika kita bisa beribadah di pagi hari, maka kita harus beribadah di pagi hari. Waktu yang kita berikan kepada Tuhan tidak boleh merupakan waktu sisa. Tuhan sendiri tidak pernah memberikan anugerah sisa kepada kita. Kasih yang Ia berikan adalah kasih yang mengikat Allah Tritunggal. Allah bahkan memberikan Anak-Nya yang tunggal kepada kita. Jadi kita pun harus memberikan yang terbaik kepada Tuhan.

 

Musa adalah pemimpin ibadah. Ia membacakan 10 perintah dan segala aturan yang mengatur seluruh kehidupan Israel yang juga mencakup hukum tentang budak. Di dalamnya ada prinsip keadilan sosial. Semuanya itu disebut sebagai “segala Firman yang diucapkan oleh Tuhan”. Jadi ini adalah ucapan Tuhan, bukan Musa. Mereka harus menaati semua itu. Keluaran 24:4a Lalu Musa menuliskan segala firman TUHAN itu. Para ahli melihat bahwa ayat ini menyatakan tentang tulisan pertama dalam seluruh Alkitab. Musa memberikan nama ‘kitab perjanjian’ pada tulisan itu. Jadi ini semua ditulis sebagai satu perjanjian antara Allah dengan umat-Nya. Semua anugerah yang Tuhan berikan kepada kita harus kita pertanggungjawabkan. Konsep ini ada dalam Keluaran 24. Mengapa dalam ayat ke-3 dan ke-7 bangsa Israel berbicara: “Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan” dan “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan”? Segala Firman Tuhan itu harus ada dalam peneguhan perjanjian. Maka dalam ibadah kita tidak hanya membaca Firman Tuhan tetapi juga mendengar Firman Tuhan itu. Lagu pujian juga merupakan bagian di mana kita mendengarkan Firman Tuhan. Ketika bangsa Israel mendengar tentang sejarah bangsa mereka, mereka seharusnya mengingat bahwa Allah dengan setia memelihara mereka.

 

Ayat 4-8 adalah upacara pengikatan perjanjian. Mereka mengucapkan janji mereka di hadapan Tuhan. Ketika kita beribadah, kita seharusnya mengingat kondisi bangsa Israel dalam Keluaran 24. Kita dipanggil untuk menanggapi setiap Firman Tuhan yang dinyatakan. Allah menuntut kita untuk melakukan segala Firman Tuhan yang kita dengar atau baca dengan ketaatan yang sempurna. Tuhan menyatakan bahwa perjanjian itu begitu serius melalui darah yang dicurahkan. Orang yang tidak menaati perjanjian itu layak mendapatkan hukuman mati. Istilah ‘darah perjanjian’ menyatakan bahwa perjanjian tersebut adalah perjanjian hidup dan mati. Darah itu menjadi lambang apa yang akan terjadi ketika kita tidak mau mengikuti perjanjian itu. ‘Darah’ juga menyatakan bahwa relasi antara Allah dengan umat-Nya dipelihara berdasarkan korban atau darah yang dicurahkan. Dalam Perjanjian Baru kita tahu bahwa darah itu adalah darah Kristus. Kedua belah pihak tidak mungkin membatalkan. Allah adalah pihak yang menggenapkan perjanjian ini 100% dan kita adalah pihak yang harus menanggapi 100%. Darah itu pertama dicurahkan di mezbah, kemudian darah itu dipercikkan kepada umat Israel. Ini mau menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang berinisiatif dan menggerakkan seluruh perjanjian ini. Bahkan Allah memberikan Anak-Nya agar perjanjian ini bisa berjalan dengan sempurna. Hal yang perlu dilakukan oleh bangsa Israel adalah setuju dan melakukan semua yang Allah perintahkan. Pemercikan darah adalah tanda perjanjian.

 

Nilai utama dari perjanjian yang diberikan dalam Keluaran 24 adalah bagaimana manusia berdosa dapat berelasi dengan benar dengan Allah. Musa hadir sebagai wakil umat di hadapan Allah. Wakil kita adalah Kristus. Jadi Musa adalah tipologi Kristus. Bangsa Israel diajarkan bahwa keselamatan itu bisa terjadi melalui darah korban untuk menebus dosa. Ini menjadi simbol dari apa yang Kristus lakukan di Perjanjian Baru. Roma 3:25a Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Efesus 1:7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya. Kita bisa masuk ke dalam perjanjian dengan Allah hanya oleh darah Kristus. Janji ini bukanlah hanya janji kepada pribadi. Maka dari itu kita harus sadar mengapa kita harus hadir di hadapan Tuhan. Ibadah online itu boleh saja, namun ketika kita bisa hadir maka kita harus hadir secara fisik. Mengapa kita berani bertemu dengan orang-orang di luar dan di tempat kerja namun kita tidak berani bertemu di Gereja untuk beribadah? Kondisi saat ini memang tidak normal, namun itu bukan berarti kita boleh tidak menghadap Tuhan. Keluaran 24 merupakan suatu misteri bagaimana Allah bisa mengadakan jalan bagi kita sehingga bisa berdamai dengan Allah. Kita bisa kembali berelasi dengan Tuhan melalui darah.

 

Keluaran 24:7b Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan. NIV: We will do everything the LORD has said; we will obey. ESV: All that the LORD has spoken we will do, and we will be obedient. ISV: We will put into practice and obey everything that the LORD has decreed. Apa yang aneh dalam bagian ini? Kita sudah terbiasa dengan urutan: mendengar-melakukan. Namun itu bukanlah yang Tuhan mau. Kita terbiasa berpikir dengan cara yang dunia pakai. Orang Ibrani memiliki cara berpikir yang berbeda. Cara berpikir ini pun membedakan mereka dari bangsa-bangsa di sekitar mereka. Cara berpikir ini menandakan bahwa mereka mengenal Tuhan yang membawa mereka keluar dari Mesir. Cara berpikir ini sangat penting. Orang Ibrani tidak pernah membangun konsep dari hal yang abstrak atau filosofis. Segala sesuatu harus berhubungan dengan kehidupan yang mereka alami. Mereka tidak berkata “Allah adalah kasih” tetapi berkata “Allah mengasihi saya”. Ada relasi yang nyata antara Allah dan mereka di dalam kalimat itu. ‘Penyayang’ (merciful) juga bukanlah hal yang abstrak. Kata ini memiliki akar kata yang berarti ‘kandungan’. Ini menyatakan sifat seorang ibu yang mengandung dan merawat anaknya. Kata ‘ayah’ (Ibrani: av) bukan berbicara tentang seorang laki-laki dewasa yang sudah menikah. Ini berbicara tentang seseorang yang memberikan kekuatan kepada keluarga. ‘Ibu’ dalam konsep Ibrani bukanlah seseorang yang sudah menikah dan memiliki anak tetapi seseorang yang mengikat keluarga menjadi kesatuan. Inilah cara mereka berpikir.

 

Berkaitan dengan Keluaran 24:7b, orang Ibrani melakukan terlebih dahulu sehingga mereka bisa memiliki pengetahuan dan mengenal. Pengenalan akan Allah tidak dibangun di atas dasar pengetahuan doktrin semata. Itu adalah ‘mengenal tentang Allah’, bukan ‘mengenal Allah’ itu sendiri. Seseorang bisa mengenal Allah melalui kehidupan. Inilah yang orang Ibrani mau ajarkan kepada kita. Jika kita mau mengenal Allah, maka kita harus berjalan, bergaul, dan hidup bersama dengan Allah. Setelah itu kita akan mengerti. Jadi kita harus taat terlebih dahulu. Keselamatan bagi Israel bukanlah tentang konsep pembenaran atau konsep-konsep lain tetapi bagaimana Allah, dengan tangan yang teracung, membawa mereka keluar dari Mesir dan memelihara mereka di padang gurun. Mereka melihat hal itu sehingga mereka bisa tahu siapa diri Allah. Spiritualitas bagi bangsa Israel bukan hanya soal mendengar. Mereka membangun pengertian dari melakukan. Spiritualitas kita dibangun dengan melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Bagi orang Israel, memiliki pengetahuan doktrin tidak berarti memiliki kerohanian yang baik. Bagi mereka, orang yang melakukan-lah yang berpengetahuan. Henokh bergaul dengan Allah. Ketika Adam dan Hawa sudah jatuh ke dalam dosa dan Tuhan bertanya di mana mereka, Adam berkata ‘Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi’ (Kejadian 3:10). Bagi orang Israel, mendengar berarti taat. Namun Adam mendengar dan menjadi takut. Ini berarti konsep itu sudah menjadi terbalik.

 

Seluruh Israel gagal karena mereka melupakan peristiwa bersama dengan Allah. Mereka gagal untuk mengenal Allah secara benar. Ketika kita mengaku telah beriman kepada Kristus tetapi kita melupakan bagaimana Allah hadir dalam kehidupan kita, maka kita telah gagal untuk mengenal-Nya. Kita gagal ketika kita mengingat Allah hanya saat kita sedang berada dalam kesulitan. Apakah Tuhan itu segala-galanya bagi kita? Apakah Ia menjadi segala-galanya karena Ia memberikan kita kecukupan? Apakah kita mau membuka hati dan membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan? Tuhan mau kita melakukan semua tanggung jawab kita di hadapan Tuhan. Ketika Tuhan belum memercayakan hal yang lebih besar kepada kita, itu mungkin karena kita belum bertanggung jawab dalam hal-hal yang lebih kecil. Kita harus melakukan terlebih dahulu baru kemudian kita bisa mendapatkan pengertian. Orang Ibrani menghubungkan kepandaian dengan pengalaman bersama dengan Tuhan. Yesaya 50:5 Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Proses ini sangat jelas digambarkan dalam Keluaran 24:7. Kepandaian itu bukan hanya soal apa yang kita tahu tetapi bagaimana kita taat di dalam kehidupan kita.

 

Mazmur 119:125 Hamba-Mu aku ini, buatlah aku mengerti, supaya aku tahu peringatan-peringatan-Mu. ‘Mengerti’ berarti melakukan peringatan-peringatan itu. Mazmur 119:144 Peringatan-peringatan-Mu adil untuk selama-lamanya, buatlah aku mengerti, supaya aku hidup. ‘Mengerti’ dalam ayat ini juga berarti melakukan. Orang Ibrani menggambarkan pengetahuan sebagai kemampuan untuk membedakan apa yang baik dan apa yang jahat. Jadi pengetahuan itu berbicara tentang ‘antara’. 1 Raja-Raja 3:9 Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini? Salomo meminta pengetahuan untuk membedakan apa yang baik dan yang jahat. Jadi iman dan pengetahuan itu tidak boleh terpisah. Ketika perintah Tuhan telah dinyatakan, kita harus langsung melakukan baru kemudian kita bisa mengerti. Kita tidak boleh meragukan dan memikirkan terlalu panjang lalu kemudian tidak melakukan. Bagaimana hati kita ketika kita akan memberikan persembahan dan perpuluhan? Apakah kita mau taat atau membuat banyak alasan?

 

Alkitab menyatakan bahwa iman itu mendahului pengetahuan, bukan sebaliknya. Terlebih lagi kita tahu bahwa yang memberikan perintah adalah Tuhan, maka kita harus percaya. Kita menjadi orang yang berpengetahuan setelah kita berjalan bersama dengan Allah. Kita harus mengenal Allah, bukan sekadar tahu tentang Allah. Agustinus dan Anselmus menyatakan konsep ‘credo ut intelligam’ (aku percaya sehingga aku dapat mengerti). Jadi kita harus melakukan terlebih dahulu baru kemudian kita dapat mengerti. Dunia sering memisahkan iman dari perbuatan, padahal kedua hal itu tidak boleh dipisahkan. Kita diselamatkan karena anugerah melalui iman saja, namun iman itu tidak pernah sendiri. Iman itu mencakup tindakan dalam kehidupan kita. Orang Israel tidak pernah melepaskan perbuatan dari iman. Kita juga harus demikian. Yakobus 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Filipi 2:12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir. Bangsa Israel tahu bahwa mereka sudah dibebaskan dari Mesir, maka mereka harus mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar.

 

Kita harus bisa berkata seperti Keluaran 24:7b. Terlebih lagi ketika kita sudah melihat penggenapan dari segala sesuatu yaitu Tuhan Yesus Kristus. Ia sudah menggenapkan karya keselamatan di atas kayu salib. Kita bukanlah Israel jasmani tetapi Israel rohani yang telah melihat penggenapan janji Allah di dalam Kristus. Orang Israel di padang gurun belum melihat segala sesuatu dengan sempurna, namun mereka bisa menyatakan Keluaran 24:7b. Kita yang sudah mengerti penggenapan itu harus bisa lebih baik daripada mereka.

 

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – TS)