Latest Post

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. (Amsal 1:7)

Menurut NIV-SB (New International Version Study Bible), ayat ini merupakan tema kitab Amsal. Hikmat atau pengetahuan dikaitkan dengan takut akan Tuhan. Permulaan pengetahuan atau hikmat, bagi Alkitab, bukanlah otak yang cerdas (IQ yang tinggi), kebiasaan belajar, tingkat pendidikan yang bisa dicapai, atau kualitas guru dan buku yang dimiliki. Permulaan pengetahuan atau hikmat, bagi Alkitab, bergantung pada hati manusia. Hanya mereka yang takut akan Allah-lah yang bisa meraih pengetahuan atau hikmat yang sejati.

Apa yang dimaksud dengan takut akan Allah? NIV-SB menjelaskan “reliance on the Lord in all circumstances and humble submission to his lordship” (terjemahan bebas: kebergantungan pada Tuhan dalam segala situasi dan penundukan diri yang rendah hati kepada ketuhanan-Nya).

Apa yang dimaksud dengan orang bodoh? Kata Ibrani-nya bisa berarti ‘orang yang defisien dalam hal moral’. Jadi ini bukan berbicara mengenai IQ atau kecerdasaran orang itu. Ini juga berbicara mengenai hati.

Melihat dari ayat ini sendiri, pembaca bisa menyimpulkan bahwa orang yang takut akan Tuhan itu berlawanan dengan orang yang bodoh. Jadi orang yang takut akan Tuhan itu memiliki ciri menghargai hikmat dan didikan. Ia mau berubah atau diubah jika perubahan itu sesuai dengan hikmat atau didikan yang benar.

Jadi, takut akan Tuhan itu tidak hanya diperlukan di awal, atau pada “permulaan pengetahuan” saja. Takut akan Tuhan itu harus terus menerus dimiliki oleh seseorang yang mencari hikmat. Ketika seseorang berhenti takut akan Tuhan, sebenarnya ia sudah menjadi orang bodoh.

Apakah saat ini kita masih takut akan Tuhan?