Latest Post

Kerendahan Hati Paulus (4)

Pdt. Tumpal Hutahaean

2 Korintus 12:11-21

Berapa pentingkah kerendahan (humility) hati berkaitan dengan nilai hidup kita untuk memuliakan nama Tuhan? Di sini kita harus mengerti betapa pentingnya kita punya aspek jiwa yang rendah hati. Supaya kita tidak menonjolkan seluruh potensi kita yang hanya bersifat menunjukkan kesombongan kita yang lebih daripada orang lain. Aspek humility juga menyadarkan diri kita bahwa kita tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Orang yang memiliki aspek humility pasti memiliki spiritualitas yang sungguh-sungguh mengandalkan kuasa Tuhan bukan kekuatan manusia dalam kesombongannya. Tuhan Yesus menceritakan doa orang Farisi dan pemungut cukai yang berbeda sekali. Doa orang Farisi tidak diperkenankan Tuhan karena dia menyampaikan satu doa syukur untuk nilai ketaatan dia dibandingkan dengan orang lain dan melihat diri lebih daripada orang lain. Pemungut cukai berdoa dengan memukul diri dan Alkitab berkata justru pemungut cukai yang dianggap oleh masyarakat adalah orang berdosa ternyata di hadapan Tuhan dipandang sebagai orang benar. Di sini kita mengerti sekali mengapakah Rasul Paulus harus sungguh-sungguh mematikan seluruh sifat kedagingannya ketika dia membangun diri di dalam Tuhan. Rasul Paulus mematikan nilai diri untuk membangun satu Kerajaan Allah. Berarti pada waktu kita masih membangunkan sifat kedagingan kita, maka tidak mungkin membangun satu Kerajaan Allah. Setiap orang Kristen akan mengalami pertumbuhan yang sama seperti Rasul Paulus. Mungkinkah orang Kristen sampai mati tidak memiliki kerendahan hati yang sungguh-sungguh di hadapan Tuhan? Roh Kudus akan menggarap seluruh hidup kita termasuk nilai hati kita artinya setiap orang Kristen yang sejati akan menjadi orang yang rendah hati di hadapan Tuhan. Orang yang rendah hati nyata melalui sikapnya, kata-kata, dan respon afeksinya pada waktu menghadapi tekanan, godaan, dan kesulitan. Paulus tidak pernah mengasihi diri melebihi dia mengasihi Tuhan dan melebihi jiwa-jiwa. Paulus membiarkan Allah dan kebenaran terungkap dalam waktu Tuhan. Dan dalam waktu Paulus terus menyatakan hidup yang suci, benar, dan tidak perlu membela diri atau suka mencari satu celah supaya orang lain disalahkan.

2 Korintus 12:11-13 adalah plot pertama dimana dimana Paulus menyatakan dirinya sebagai Rasul yang sejati melalui seluruh hidup dan pelayanannya. Pada saat itu ada tiga rasul yang dianggap luar biasa yaitu Yohanes, Yakobus, dan Petrus. Dan terakhir kita mengerti bagaimana Rasul Paulus dalam seluruh pelayanannya melebihi tiga Rasul tersebut. Ini bukan kesombongan tetapi ini adalah fakta dimana mereka tidak pernah menerobos melewati Yerusalem sampai dengan Galilea sedangkan Rasul Paulus melakukan misi sampai ke Asia kecil, Afrika dan Eropa. Ketika Rasul Paulus memperlihatkan kemuliaan Tuhan di daerah-daerah lain maka barulah rasul-rasul yang lain menerobos dan mengikuti cara pelayanan Paulus. Kita mengerti tujuh jemaat di Asia kecil yang dibangun oleh Rasul Paulus akhirnya digembalakan oleh Yohanes.

2 Korintus 12:12, Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa. Pada waktu kita menyelidiki 1 dan 2 Korintus, Paulus tidak mau menonjolkan diri apa yang sungguh-sungguh terjadi untuk jemaat Korintus ketika dia berkunjung pada bagian pertama dan kedua. Kita melihat di dalam Roma 15:18-19 Rasul Paulus berkata: “Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan,  oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus.” Berarti di sini masuk akal sekali ketika 2 Korintus mengatakan Paulus itu sudah melakukan tanda-tanda mujizat dan kuasa. Namun Paulus tidak menonjolkan mujizat-mujizat tersebut. Kuncinya di sini yaitu Rasul Paulus tidak mau menonjolkan diri karena pengalaman. Dan di dalam Firman dikatakan dengan jelas bahwa Yesus pun pada waktu sudah melakukan mujizat kadang-kadang memperingati orang-orang yang mengetahuinya: “jangan beritahu kepada orang lain.” Mengapa demikian? Karena kita tahu sekali iman dibangun bukan atas dasar mujizat dan pengalaman tapi atas dasar Firman Tuhan. Demikian Rasul Paulus belajar meneladani Kristus. Kristus memiliki satu kuasa tetapi kuasanya tidak pernah diobral karena kita tahu kuasa Kristus tidak murahan atau diatur berdasarkan kebutuhan manusia. Rasul Paulus pun sakit bagian mata dan pinggang sepeti cancer sudah tiga kali berdoa kepada Tuhan Yesus minta disembuhkan tetapi tidak disembuhkan. Apakah itu tandanya Rasul Paulus tidak dipenuhi Roh Kudus? Tidak, justru dia dipenuhi Roh Kudus. Justru itu menandakan dia ada pimpinan Tuhan karena dia mengalahkan sakit penyakit itu dengan terus melayani Tuhan walaupun sedang sakit. Karena dalam Roma 15:18-19, Rasul Paulus menyatakan untuk tidak berkata-kata tentang sesuatu yang lain kecuali Injil Yesus Kristus untuk memimpin jemaat kepada ketaatan oleh karena Firman yang diberitakan dan oleh karena hidupnya.

2 Korintus 12:13, Sebab dalam hal manakah kamu dikebelakangkan dibandingkan dengan jemaat-jemaat lain, selain dari pada dalam hal ini, yaitu bahwa aku sendiri tidak menjadi suatu beban kepada kamu? Maafkanlah ketidakadilanku ini! Menjelaskan bahwa Rasul  Paulus membuktikan kesejatian kerasulannya melalui nilai integritas hidupnya sebagai seorang rasul. Rasul Paulus membuktikan dia disertai Tuhan maka dia tidak perlu banyak berbicara tetapi banyak berkarya. Di sinilah kita mengerti bagaimana Rasul Paulus membangun satu jati dirinya berdasarkan karya bukti produktif berkaitan dengan nilai pekerjaan Tuhan untuk membungkam seluruh guru palsu dan para pengikutnya di korintus. Rasul Paulus mengatakan tidak pernah membedakan dan menyepelekan jemaat Korintus karena menganggap jemaat di sana begitu penting. Karena Rasul Paulus menanggap dirinya sebagai bapa dan jemaat Korintus adalah anaknya. Paulus tidak pernah memanfaatkan jemaat Korintus untuk bagaimana uangnya itu terus diminta supaya memperkaya diri: kenyamanan dan kepuasan diri. Berdasarkan ini maka teologia sukses adalah teologia yang menghancurkan nilai jati diri hamba Tuhan yang sesungguhnya. Yang mengajarkan bahwa hidup kaya dan sukses adalah tanda penyertaan Tuhan. Pdt. Dr. Stephen Tong di tengah-tengah sakitnya tetap mengatakan hari ini dia tetap akan melayani di lima Negara. Menjadi hamba Tuhan tidak boleh motivasi untuk memperkaya diri karena begitu banyak hamba-hamba Tuhan yang rusak. Rasul Paulus mendemonstrasikan bahwa dia sungguh tidak pernah membebani jemaat Korintus memaksa untuk uang dan fasilitas.

2 Korintus 12:14-21 masuk dalam plot yang kedua menyatakan kecintaannya untuk gereja di korintus. Dalam Kisah Para Rasul 18:1-7 dicatat Rasul Paulus pernah pergi ke Korintus untuk penginjilan. Jadi di sini kita tahu sekali bagaimana Rasul Paulus sangat mencintai jiwa-jiwa yang terhilang di Korintus. Korintus adalah kota yang sangat kaya, tempat yang menemukan cermin pertama di seluruh dunia yang terbuat dari tembaga. Ini menjadi suatu komoditi yang paling mahal sekali. Rasul Paulus datang ke Korintus bukan karena uang tetapi dia datang karena jiwa-jiwa yang terikat karena dosa. Dalam 2 Korintus 12:14-15 jelas sekali Rasul Paulus menyatakan nilai kasihnya kepada jemaat Korintus yang dipandangnya sebagai anaknya sendiri. Di sini kita belajar betapa indahnya Rasul Paulus memiliki kematangan kasih sebagai satu nilai hidup yang indah.

Maka dalam 2 Korintus 12:16-18 ini ditujukan untuk guru-guru palsu “Baiklah, aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu, tetapi  —  kamu katakan  —  dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya. Jadi pernahkah aku mengambil untung dari pada kamu oleh seorang dari antara mereka, yang kuutus kepada kamu? Memang aku telah meminta Titus untuk pergi dan bersama-sama dengan dia aku mengutus saudara yang lain itu. Adakah Titus mengambil untung dari pada kamu? Tidakkah kami berdua hidup menurut roh yang sama dan tidakkah kami berlaku menurut cara yang sama?”  Dalam bagian ini Rasul Paulus membicarakan guru-guru palsu dan para pengikutnya yang sudah menuduh Paulus melakukan korupsi uang. Ini hebatnya Rasul Paulus, dia tahu sekali orang Kristen Yahudi Yerusalem mengalami penderitaan dan kesusahan.

2 Korintus 12:19, “Sudah lama agaknya kamu menyangka, bahwa kami hendak membela diri di depan kamu. Di hadapan Allah dan demi Kristus kami berkata: semua ini, saudara-saudaraku yang kekasih, terjadi untuk membangun iman kamu.” Rasul Paulus membiarkan fitnahan itu. Rasul Paulus tidak terpancing emosinya dengan melakukan pembelaan diri. Pada ayat ini Paulus berani berkata saudara-saudaraku yang kekasih. Mengapa? Karena Rasul Paulus memiliki kematangan kasih, maka di mana ada kasih Kristus dalam diri kita, kita tidak pernah menyimpan kebencian dan dendam. Akan ada kesabaran dan pengertian yang saling menopang dan perjuangan yang menjaga nilai kesucian. Kita harus membiarkan Allah Roh Kudus bekerja dulu dan ternyata Rasul Paulus biarkan untuk membangun iman mereka.

2 Korintus 12:20-21, “Sebab aku kuatir, bahwa apabila aku datang aku mendapati kamu tidak seperti yang kuinginkan dan kamu mendapati aku tidak seperti yang kamu inginkan. Aku kuatir akan adanya perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, dan kerusuhan. Aku kuatir, bahwa apabila aku datang lagi, Allahku akan merendahkan aku di depan kamu, dan bahwa aku akan berdukacita terhadap banyak orang yang di masa yang lampau berbuat dosa dan belum lagi bertobat dari kecemaran, percabulan dan ketidaksopanan yang mereka lakukan.” Ada 3 kali kata “aku kuatir” tetapi perlu kita tahu bahwa ini suatu kekuatiran yang positif. Di sini menunjukkan Paulus memiliki satu aspek pengharapan positif supaya jemaat Korintus mengalami perubahan dalam Kristus dan tidak lagi hidup dalam dosa. Ciri-ciri orang berdosa adalah adanya buah dosa: perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, kerusuhan, kecemaran, percabulan dan ketidaksopanan. Tercatat juga dalam Galatia 5:16-21. Artinya Paulus meminta supaya jemaat Korintus bertobat sebelum Paulus tiba untuk ketiga kalinya. Jadi dia meminta kunjungan satu dan kedua menjadi satu nilai daripada sentuhan rohani dan sebagai investasi kebenaran. Mengapa demikian? Dia kuatir dan sedih kalau jemaat Korintus terus hidup dalam dosa dengan menghasilkan buah-buah dosa tersebut. Maka mari kita belajar bagaimana seharusnya kita menjadi pengikut Kristus yang memiliki aspek kerendahan hati.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Kerendahan Hati Paulus (4)

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: Gracelia Cristanti