Latest Post

                                          Panggilan Hidup Sebagai Pembela Iman (2)

                                                  Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E., M.Th

 

2 Korintus 10:4-5Karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.

Ada empat kata yang perlu kita hafal yaitu: 1. Mematahkan, 2. Merubuhkan, 3. Menawan, & 4. Menaklukkan. Dalam konteks saat itu istilah mematahkan sering dipakai bagaimana kayu harus dipatahkan. Istilah merubuhkan bagaimana mereka memahami tembok yang harus dirubuhkan. Istilah menawan, sering diumpamakan seperti tali yang mengikat dan menawan musuh. Dan istilah menaklukkan sering dipakai untuk menunjukkan ada satu binatang liar/binatang yang sulit untuk dijinakkan maka perlu ditaklukkan berdasarkan otoritas dan kebaikan. 1 Korintus 1:22-26 menyatakan orang-orang Yahudi memerlukan satu tanda untuk melihat suatu kebenaran bahwa Allah yang benar bekerja dalam kehidupan mereka. Karena orang Yahudi adalah orang-orang yang lebih mementingkan aspek nilai rasa keagamaan dan mengarah kepada satu nilai emosi yang bisa dibuktikan. Sedangkan orang Yunani lebih mengandalkan rasio dan selalu mengkaitkan antara kebenaran dengan keadilan Tuhan dengan kepuasan cara berpikir mereka. Tetapi di sini Rasul Paulus mengatakan “Aku memberitakan Kristus yang disalibkan bagi orang Yahudi.” Ini merupakan satu batu sandungan karena Kristus datang ternyata tidak memberikan kepada mereka kemerdekaan secara fisik. Dan bagi orang-orang Yunani berita ini dipandang sebagai suatu satu kebodohan dimana percaya kepada manusia yang diciptakan yang dianggap sebagai kemutlakan untuk keselamatan.

Maka ketika kita membaca 2 Korintus 10:5 ternyata Rasul Paulus membuktikan kualitas hidupnya dengan kekuatan dari Allah. Dia tidak memakai kekuatan manusia. Terbukti dengan kuasa penyertaan Tuhan Allah, dia bisa penginjilan ke Asia kecil dan membangun tujuh jemaat Asia kecil yang semuanya adalah berlatar belakang adalah orang-orang kafir. Ini membukitkan kepada orang-orang di Yerusalem saat itu dan kita sekarang bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang bisa menyelamatkan bagi setiap orang (Roma 1:16). Mengapa Paulus dengan tim bisa dipakai efektif untuk memberitakan Injil? Berdasarkan kekuatan apa dia bisa mematahkan, merubuhkan, menawan, dan menaklukkan segala kepercayaan dan pemikiran manusia yang melawan Allah? Yaitu berdasarkan kekuatan Injil yang menyelamatkan. Yang menjadi pertanyaan bagi kita sekarang adalah: Mengapa bagi kita dalam hidup ini tidak pernah punya kekuatan untuk mematahkan, merubuhkan, menawan, dan menaklukkan pikiran-pikiran yang liar yang tidak tunduk kepada Firman, dan membawa jiwa-jiwa itu kembali kepada Tuhan? Karena itu kita perlu memperjelas beberapa hal: A. Bagaimana kita tahu kalau Injil adalah kekuatan Allah sungguh sudah menyelamatkan diri kita? B. Bagaimana kita tahu bahwa Injil yang disebut kekuatan Allah telah merubah kita? Tanpa dua dasar pengertian dan epistemologi ini maka kita tidak mungkin bisa dipakai Tuhan memiliki hidup yang bisa mematahkan, merubuhkan, menawan dan menaklukkan.

Bagaimana kita tahu kalau Injil adalah kekuatan Allah sungguh sudah menyelamatkan diri kita? Kita mengaminkan apa yang dikatakan Yohanes 1:12, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Jikalau kita percaya dengan berita Injil yang Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita dan kita percaya seluruh keberdosaan kita bisa diselesaikan hanya melalui Kristus maka kita disebut anak Allah. Siapa yang disebut anak Allah akan hidup dalam kuasa anak-anak Allah. Artinya kita mempunyai kualitas terang. Firman-Nya adalah terang yang senantiasa akan menerangi hati kita. Kalau Firman menerangi hati kita berarti kita akan semakin suci dan semakin belajar akan Firman. Kita pun akan diubahkan. Karakter kita yang buruk diubahkan menjadi karakter baru berdasarkan terang dari Firman. Di sini kita melihat hidup kita akan mengalami satu hidup yang sungguh-sungguh baru dalam kualitas menjadi manusia yang baru. Ketika Injil ada kekuatan Allah, dia juga akan mematahkan, merubuhkan menawan dan menaklukkan seluruh keangkuhan kita. Hal ini akan terbukti dengan hidup kita yang semakin hari sesuai dengan 2 Timotius 3:16. Artinya adalah kita haus kebenaran dan kita rindu kebenaran dan kebenaran itu akan nyata melalui kehidupan kita. Maka Firman yang disebut Injil kekuatan Allah bukan hanya secara pengetahuan saja tetapi nyata melalui kehidupan. Maka kekristenan bukan berbicara tentang satu nilai panggilan lahiriah, kekristenan bukan berbicara tentang satu nilai pilihan hidupmu memang cocok jadi orang Kristen tetapi Kekristenan berbicara tentang iman. Pada waktu kita membahas bagian ini dengan lebih rinci maka kita akan mengerti akan hidup kita sebagai anak Tuhan akan memiliki kuasa. Hidup kita sebagai anak Tuhan akan memiliki satu nilai kualitas perbuhan yang dipimpin oleh Firman Tuhan sehingga kita sungguh-sungguh hidup dalam terang dan kita tidak akan menyukai kegelapan. Maka siapa yang anak Tuhan masih menyukai kegelapan maka kekuatan Injil di dalam Allah yang menaklukkan kita perlu dipertanyakan. Orang Kristen yang sungguh-sungguh sejati di mana seluruh hidupnya sudah ditaklukkan oleh Kristus tidak mungkin memiliki satu aspek kemunafikan. Kita percaya sekali sebagai orang Kristen kita tidak akan menikmati dariapada rasa bersalah dan kita adalah orang yang mencintai satu nilai damai.

Bagaimana kita tahu bahwa Injil yang disebut kekuatan Allah telah merubah kita? 1. Perubahan itu nyata dalam aspek desire. Manusia hidup dalam keinginan yang begitu banyak. Kita harus menjadi manusia yang bukan hidup berdasarkan keinginan tetapi kita hidup berdasarkan satu nilai pembukitan dan perjuangan kalau kita adalah manusia yang bermartabat. Bisakah perubahan hidup kita karena kondisi? Bisa. Perubahan kita bisa saja bukan satu perubahan yang sungguh-sungguh berdasarkan program Tuhan, firman Tuhan dan nilai ketaatan kita, tetapi perubahan hidup kita memang karena budaya. Perubahan yang sejati dari Tuhan itu nyata dalam hal desire. Misalnya dalam hal keinginan untuk mengasihi dan berbuat baik. Bagaimana kita tahu kasih kita berasal dari Tuhan? Setiap tokoh agama mengajarkan untuk melakukan perbuatan baik berdasarkan kasih tetapi bagaimana kita tahu bahwa kasih kita ini bersumber daripada Tuhan? Bisa saja ada seseorang yang berbuat baik tujuannya supaya orang itu kembali berbuat baik. Ada juga yang berbuat baik agar orang lain menghormati dirinya dan menyebut dia orang baik. Alkitab ternyata berkata ketika kita menyatakan satu nilai kasih yang bersumber daripada Tuhan dikatakan: (a) Berasal dari hati yang murni. Artinya menegakkan kesucian Tuhan dan dengan pimpinan Roh Kudus kita melakukan kebaikan. (b) Dilakukan berdasarkan hati nurani yang benar. Perbuatan baik kita berpusat pada Tuhan yang adalah Benar. (c) Dipimpin oleh iman dalam ketulusan dan keikhlasan. Jadi kasih kita bisa membangun iman orang itu. Perubahan yang sejati dari Tuhan itu nyata dalam hal desire. Ketika kita diubahkan oleh Injil keinginan kita diubah menjadi sesuatu yang pusatnya adalah Tuhan bukan lagi diri.

  1. Nilai tujuan hidup kita yang utama adalah punya kualitas perubahan ke arah karakter Kristus. Ketika kita sungguh mengalami perubahan nilai tujuan akhirnya berubah ke arah Kristus itu membuat kita tidak pernah fokus pada diri kita. Firman adalah pembaca hidup kita yang paling jujur dan tepat. Tujuan hidup akan nyata melalui gaya hidup kita. Di sini kita melihat ketika disebut bagaimana kita tahu kalau kita sudah berespon benar terhadap Kristus sebagai Tuhan dan Jurus Selamat maka kita akan selalu punya kerinduan untuk bersaksi bagi Kristus karena memang tujuan kita yang paling akhir adalah untuk memuliakan nama Tuhan.

Di dalam Konteks Rasul Paulus, dia berhadapan dengan orang-orang yang bermacam-macam: orang-orang Kristen, orang-orang yang kristen palsu dan juga orang-orang ateis. Dan dia berusaha dengan kekuatan Allah untuk mematahkan, merobohkan, menawan dan menaklukan segala kepercayaan dan argumen mereka kepada pikiran Kristus. Bagaimana kita bisa mengenal orang-orang yang semacam ini? Alkitab memberikan kepada kita lima macam tipe manusia yang perlu kita patahkan, rubuhkan, tawan dan taklukkan kepada pikiran Kristus:

  1. Orang yang tidak pernah mau tahu tentang kebenaran, tentang Tuhan dan tidak pernah peduli dengan hal-hal kerohanian tetapi yang dia pedulikan adalah dirinya saja. Hal ini dicatat dalam Lukas 12:13-21. Alkitab mencatat kita akan bertemu dengan orang-orang seperti ini. Orang seperti ini mungkin saja adalah orang-orang yang dahulu pernah mengenal kekristenan karena aspek lahiriah. Mungkin saja orang dahulu pernah mengenal kekristenan secara budaya tetapi karena dia bisa membukitan dirinya bisa sukses tanpa nilai rohani, akhirnya dia berkata bahwa hidup itu tidak bergantung kepada Tuhan tetapi bergantung pada kekuatan perjuangan diri sendiri. Maka kemampuan dirinya itulah yang dia sembah. Inilah yang terjadi pada beberapa negara-negara di Amerika dan Eropa dimana ada negara yang sudah terlalu kaya sampai-sampai pengangguran pun semuanya dibiayai. Sehingga mereka merasa tidak perlu berdoa pada Tuhan. Dan orang-orang seperti ini tidak pernah peduli dengan nilai kekristenan. Ketika kita berhadapan dengan orang-orang seperti ini kita tidak bisa lemah lembut. Kita langsung dan tegas berbicara tentang Firman kepada orang seperti ini tentang manusia yang berdosa, akibat dosa, penghakiman Tuhan dan Kristus yang telah mati mau menebus dosa-dosa kita. Kita harus menyadarkan bahwa nilai hati dalam kepuasannya bukan tergantung berapa banyak harta dan kepopuleran. Dan menyadarkan bahwa kekosongan hati tidak bisa dipenuhi dengan seluruh ambisius. Kekosongan hati hanya bisa diselesaikan jikalau: Pertama, hati sudah dikuduskan oleh Kristus. Kedua, hati dipenuhi oleh Roh Kudus. Ketiga, hati harus dibentuk menjadi hati untuk Tuhan. Kita harus mengingatan bahwa semua manusia akan mati dan kematian akan membuktikan kualitas hidup kita. Dan apa yang kita simpan tidak akan bisa menjamin seluruh keselamatan kita kecuali kita kembali kepada Kristus.
  2. Orang yang menganggap dirinya benar, lebih rohani, dan sempurna di dalam kegiatan rohani. Hal ini terdapat dalam Lukas 18:9. Kepada orang yang seperti ini Tuhan Yesus mengatakan perumpamaan tentang doa pemungut cukai dan orang Farisi. Terbukti orang seperti ini pada waktu beribadah dia pikir bahwa dia akan diperkenan oleh Tuhan, ternyata justru di dalam ibadahnya itu mengandung satu bentuk kesombongan. Maka pada waktu dia berdoa, bukannya memberikan satu nilai doa yang akhirnya meminta dipimpin oleh Tuhan supaya hidupnya sesuai dengan Tuhan justru dia berdoa memberi laporan. Dikatakan di situ ada dua orang yang berdoa yang satu adalah orang Farisi dan yang satu adalah pemungut cukai. Siapa orang Farisi ini? Orang Farisi ini adalah orang yang sangat pandai tentang taurat dan terpanggil masuk di dalam pemerintahan. Mereka adalah orang-orang yang sangat paham bagaimana hidup berkaitan dengan Tuhan tetapi berdoa dalam hatinya: “ya Allah aku mengucap syukur kepadamu karena aku tidak sama seperti semua orang lain” (ayat ke-11). Artinya dia mengucap syukur untuk kesombongannya bukan untuk mengucup syukur untuk pertolongan Tuhan dan kekuatan Tuhan. Tuhan mengatakan orang itu pulang dengan direndahkan. Tetapi di dalam Matius 5:20 dikatakan: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Dengan kata lain Kristus berkata orang Farisi dan ahli Taurat yang begitu pandai dalam seluruh Firman dan melakukan semua perintah Tuhan, tidak akan masuk dalam Kerajaan Sorga. Kita pun akan bisa bertemu dengan orang-orang seperti ini. Rasul Paulus juga bertemu dengan orang-orang kafir yang merasa dirinya benar dan lebih rohani. Tetapi Rasul Paulus terus memberitakan Firman yang bagi orang Yahudi adalah batu sandungan dan bagi orang Yunani merupakan satu kebohodan.

Ketika menghadapi orang-orang seperti ini, maka kita harus memimpin dan menyadarkan kepada nilai kesucian hati berkaitan dengan kerendahan hati. Maka kita harus terus memberikan cermin hidup yaitu Firman Tuhan supaya bisa mempertegas bahwa dia adalah orang yang sombong dan ternyata tidak rohani. Di sini kita diingatkan supaya jangan seperti semangat Farisi yang hanya bersemangat untuk membenarkan diri dan membangun diri dalam kesombongan. Tetapi biarlah semua yang kita kerjakan berkaitan dengan semangat untuk memuliakan Tuhan. Proses hidup kita untuk membuktikan kita punya kualitas perubahan yang akhirnya membuktikan bahwa kita adalah orang yang diselamatkan maka kita layak untuk masuk surga. Bagaimana dengan penjahat yang disebelah Yesus waktu di salib? Perubahan hidupnya jelas dari aspek emosi, mengontrol diri, penyerahan diri kepada Kristus dan bahkan dia bisa membela Kristus.

  1. Orang-orang kristen palsu. Kita bisa melihat di dalam Matius 7:12-23, Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Mengapa Tuhan memakai istilah kejahatan? Karena orang itu memalsukan Firman untuk diri, tidak punya kejujuran dan masuk dalam kelompok orang-orang Kristen yang palsu. Orang seperti ini akan menyangka dirinya sudah dipakai oleh Tuhan bahkan menyangka terus disertai dan dipimpin Tuhan. Tetapi dia tidak punya bukti tentang iman yang menyelamatkan. Dia hanya punya bukti satu fenomenal dari pada iman yang bukan bersifat yang sejati. Ketika berhadapan dengan orang seperti ini kita memakai pendekatan 1 Yohanes tentang kualitas hidup. Dalam 1 Yohanes dijelaskan tentang Allah adalah terang, Kristus adalah perantara bagaimana hidup kita mentaati akan perintah Tuhan dan bagaimana kita hidup harus waspada karena ada anti-christ. Dan bagaimana hidup seharusnya jadi anak Allah dalam membangun segala hal, bagaimana kita selalu punya diri yang benar di hadapan Allah dan bagaimana kita bisa hidup membedakan antara Roh Allah dan roh anti-christ. Di sini juga kita dipimpin bagaimana memiliki kualitas kasih yang benar. 1 Yohanes juga membahas tentang iman yang berkemenangan dalam 1 Yohanes 5 yang mengatakan bagaimana orang Kristen tidak mungkin kembali akan menyukai dosa.

Dalam Yohanes 6:60-66 diceritakan bahwa ada orang yang begitu antusias ikut Tuhan tapi kemudian mengundurkan diri karena ternyata perkataan Kristus terlalu keras. Mereka hanya ingin kenikmatan dan mamanfaatkan Yesus. Pada waktu Yesus menjelaskan siapa dirinya maka orang itu satu persatu mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia. Tuhan membongkar motivasi mereka. Di sini kita juga perlu menyatakan artinya yang sesungguhnya menjadi pengikut Tuhan yang siap menderita bagi Kristus dan hidup berpusat kepada Kristus. Dalam Lukas 14:25-33, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”Bukan berarti kita harus membenci orang lain demi Kristus tetapi kita mengutamakan Kristus di atas semuanya itu. Hal ini ditegaskan dalam Matius 10:38 dan Markus 8:34. Yesus mengatakan “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku,” karena “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Jadi jikalau kita masih diikat dengan segala sesuatu maka kita bukanlah milik Tuhan. Mungkinkah ada orang pengikut Tuhan tetapi motivasinya bukan untuk memikul salib melainkan memanfaatkan salib? Mungkinkah ada orang yang ikut Tuhan motivasinya adalah bukan untuk mengutamakan Tuhan tetapi mengutamakan diri? Mungkin. Alkitab menyatakan bahwa orang seperti ini akan kehilangan dari pengaruhnya sebagai garam. Kita akan bertemu dengan orang-orang seperti ini. Kiranya kita bisa mematahkan, merubuhkan, menawan, dan menaklukkan pikiran dan kepercayaan yang salah untuk tunduk kepada pikiran Kristus.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Panggilan Hidup Sebagai Pembela Iman (2)

Categories: Transkrip

Author: Gracelia Cristanti