Latest Post

PILIH KASIH

(Perlakuan Diskriminatif dalam Keluarga)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean M.Th.

 

                Hari ini kita akan mendengarkan firman yang berkaitan dengan satu perilaku yang berbeda, yang diterima oleh seorang anak dari orang tuanya. Kita akan membahas mengenai ‘pilih kasih’. Mari kita melihat dari Kejadian 20:28 “Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub.” Ishak sayang kepada Esau karena satu alasan yaitu karena dia suka memakan daging. Kita melihat Esau adalah seorang pemburu yang ulung, bermodalkan panah dan selalu mendapatkan hewan buruannya, dan seluruh dari hewan buruannya itu dia dapat mengelolanya dengan baik dan ayahnya sangat suka dengan daging yang berbeda-beda itu. Namun Ribka menyukai Yakub karena dia suka bercocok tanam, penuh dengan keteraturan. Mengapa semua ini terjadi? Apakah ada dampak negatif? Tuhan mencatat satu ayat ini dan dampaknya akan kita lihat di pasal ke-27. Dalam pasal ke-28 kita akan melihat bagaimana semuanya perlahan-lahan akan ditata ulang dalam program nilai Tuhan.

 

Pendahuluan

                        Di dalam bagian yang pertama kita harus mengerti bahwa panggilan orang tua adalah menjalankan fungsi imam, nabi, dan raja dalam mendidik anak-anaknya. Ini sama seperti yang dijalankan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memiliki jabatan imam, nabi, dan raja. Orang tua bukan berarti mempunyai identitas imam, nabi, dan raja, tetapi setidaknya orang tua harus menjalankan fungsi seorang imam sehingga anak-anak kita senantiasa kita ajak untuk bersekutu dengan Tuhan, anak-anak kita senantiasa melihat kebesaran Tuhan, bukan melihat diri mereka yang besar, bukan melihat orang tua yang besar, dan bukan melihat dunia yang besar. Pada waktu kita sebagai orang tua menjalankan fungsi imam, kita selalu menjadi perantara untuk anak-anak terus beribadah kepada Tuhan. Di sini berarti orang tua harus memiliki fungsi pendidikan iman. Jikalau orang tua hanya memberikan pendidikan pengetahuan, semua orang tua di dunia juga bisa melakukan itu. Keunikan kita sebagai orang tua Kristen adalah kita harus memberikan pendidikan iman dan pendidikan karakter sesuai dengan Kristus. Kita harus memberikan nilai pengetahuan yang sejati yang berdasarkan firman untuk mengerti wahyu umum dari seluruh pengetahuan yang ada di dunia ini. Kita juga harus memikirkan bagaimana orang tua dapat mengembangkan setiap talenta, karunia anak untuk dikembalikan kepada Tuhan dan bagaimana kita bisa mengembangkan nilai relasi sosial anak sehingga hidup mereka efektif dalam mempengaruhi orang lain sebagai garam dan terang dunia. Inilah fungsi yang pertama.

                        Fungsi yang kedua adalah sebagai nabi. Anak kita terlahir sebagai orang yang berdosa. Dari masa kecilnya dia adalah orang yang berdosa. Maka orang tua harus bisa menegur dosa anak, harus bisa memperbaiki dosa anak, harus bisa memberikan hati kepada anak, hati yang takut akan Tuhan. Jikalau kita sebagai anak tidak pernah ditegur oleh orang tua, maka kita akan menjadi anak yang manja. Jikalau kita menjadi orang tua yang terlalu banyak menegur anak dalam hal yang tidak penting, kita adalah nabi yang sedikit salah. Tegurlah kesalahan anak yang memang bersifat substansi. Ajaklah anak untuk mengakui dosanya jikalau kita tahu bahwa perilaku mereka sudah mengandung dosa dan menyakiti hati Tuhan. Jadi, peran nabi adalah peran untuk kita menegakkan satu kesucian di rumah.

                        Fungsi yang ketiga adalah sebagai raja. Orang tua harus bisa memimpin dan mengarahkan anak berusia satu sampai lima tahun dan memikirkan mau dibawa kemana anak kita dalam pendidikan iman, pendidikan karakter, pendidikan pengetahuan, pendidikan talenta, dan pendidikan sosial mereka. Juga ketika mereka berusia lima sampai sepuluh, sepuluh sampai lima belas, lima belas sampai dua puluh, dua puluh sampai dua puluh lima, kita harus memikirkan mau dibawa kemana anak-anak kita. Orang tua harus mempunyai otoritas yang dikaitkan dengan hikmat Tuhan sehingga anak dapat menjadi seorang pemimpin dalam rumah tangga, menjadi pemimpin dalam nilai keteladanan dan nilai hikmat. Orang tua harus mengerti dalam kehendak Tuhan, bahwa anak-anak harus menjadi penerobos zaman, menjadi generasi yang baru untuk mereka meneruskan generasi berikutnya dalam rumah tangga, dalam gereja, dan dalam pelayanan yang lain.

                        Bagaimana jika orang tua bersalah dalam mendidik anak? Kita bisa melihat salah satu contohnya yaitu perilaku pilih kasih terhadap anak. Apakah itu diizinkan Tuhan? Tidak. Mungkinkah itu menjadi sesuatu yang dibiarkan Tuhan? Ya. Mengapa Ishak lebih sayang kepada Esau? Alasannya hanyalah makanan. Kita bisa melihat saat Ishak mempunyai anak umurnya adalah 60 tahun. Dia menikah saat berumur 40 tahun. Dia ingin mempunyai anak dengan menunggu waktu selama 20 tahun. Dari segi umur bisa dikatakan ia sudah lebih dewasa, tetapi cara mengelolah afeksi, respon emosi, Ishak masih kekanak-kanakan karena kita bisa melihat dia hanya menyukai Esau dengan alasan menyukai makanan olahannya. Ini menunjukkan bahwa kita harus berhati-hati dengan diri kita. Mungkin dari segi umur kita adalah orang yang dewasa tetapi ternyata nilai afeksi kita masih kekanak-kanakan. Banyak hal dalam nilai hidup kita bisa kita ketahui ketika ada pergumulan lepas pergumulan. Mungkinkah kita terjebak dalam hal ini? Mungkinkah anak kita menjadi korban dari perilaku “pilih kasih”? Kita akan belajar akan hal ini. Mengapa terjadi pilih kasih terhadap anak? Pasti ada faktor pencetus secara pribadi. Adakah dampak negatif akibat perilaku pilih kasih (diskriminatif) terhadap anak? Kita akan belajar hal ini bersama-sama.

 

Mengapa Terjadi Perilaku Pilih Kasih?

  1. Anak yang paling kecil (bungsu) biasanya lebih disayang oleh orang tuanya. Mungkin si bungsu adalah anak ketiga atau anak keempat. Orang tua lebih menyayangi si bungsu bisa karena mau menebus dosa salah didik anak pertama, kedua, dan ketiga. Orang tua, seiring bertambahnya umur, menjadi semakin matang dan semakin pintar dalam mendidik anak. Mungkin saat anak pertama mereka lahir, mereka masih dalam pergumulan ekonomi. Saat keadaan sudah stabil maka lahirlah si bungsu dan ternyata dalam bagian ini si kecil bisa dimanja. Mereka ingin menebus dosa kesalahan mendidik anak pertama, kedua, ataupun ketiga.
  2. Anak yang paling banyak menuntut. Ada anak yang banyak menuntut orang tuanya untuk apa yang ingin dia capai berkaitan dengan pendidikannya, hal-hal keilmuan. Ada anak yang menuntut ingin les untuk sesuatu yang berkaitan dengan talentanya. Ada anak yang menuntut hal yang dia inginkan berkaitan dengan hobinya. Anak yang banyak menuntut orang tuanya seperti ini ternyata secara diam-diam mempunyai ikatan batin. Namun jika anak terus menangis meminta sesuatu, itu hal yang paling tidak disukai oleh orang tuanya, tetapi jika anak menuntut hal yang positif, anak dan orang tua akan mempunyai ikatan batin. Jika engkau adalah anak yang tidak pernah menuntut orang tua berarti sebaliknya engkau akan banyak dituntut. Di situlah engkau tahu bahwa hidupmu adalah hidup yang pasif. Tetapi jika pribadimu aktif, engkau akan bisa mendapatkan kasih sayang yang lebih dari orang tua.
  3. Anak yang paling banyak mengingatkan masa lalu orang tuanya. Terkadang hal–hal yang dialami anak mengingatkan pada masa lalu orang tuanya, maka dari situlah terjadi pilih kasih.
  4. Anak yang paling menyayangi orang tua. Anak yang sangat mudah mengambil hati orang tuanya adalah anak yang paling disayang oleh orang tuanya. Akan ada timbal balik yang didapatkan anak dari orang tuanya.
  5. Anak yang menyenangkan orang tua. Anak yang sangat ceria dan mudah menciptakan situasi yang menyenangkan untuk orang tuanya akan mudah mengambil hati orang tuanya. Maka dia tahu apa yang dia minta akan diberikan oleh orang tuanya.
  6. Anak yang membanggakan orang tuanya. Anak yang di sekolah disebut pintar, berprestasi, dalam segala hal bisa diandalkan, dalam poin inilah para orang tua terjebak untuk memanjakan anaknya.

                        Apakah engkau pernah sangat disayangi oleh orang tuamu? Dalam bagian ini mungkinkah kita sebagai orang tua karena berbagai aspek ini, kita menjadi pilih kasih terhadap anak? Mungkin. Poin kelima-lah yang membuat Ishak dan Ribka pilih kasih. Kita melihat Ishak suka memakan daging dan yang menyediakan daging adalah Esau. Ribka sayang kepada Yakub karena hidupnya teratur, bercocok tanam, hatinya lebih lembut. Jika kita sebagai orang tua terjebak di dalam 6 variabel ini, maka kita bersalah di mata Tuhan. Tuhan tidak mengizinkan kita untuk menjalankan satu kasih yang berlebihan, keadilan yang berlebihan terhadap anak. Kasih harus seimbang dan keadilan juga harus seimbang. Jika ini dicapai, anak itu akan sehat dalam menerima satu relasi dari orang tuanya. Mungkinkah kita yang hadir di sini adalah korban pilih kasih orang tua, baik sekarang dan masa lampau? Mungkin engkau telah menjadi korban pilih kasih orang tua yang mengakibatkan engkau tidak berprestasi, mengakibatkan engkau tidak berjuang membanggakan orang tua karena engkau merasa dianak-tirikan oleh orang tuamu, itu justru memperlihatkan perilaku yang salah. Apakah kita adalah orang tua yang sudah melakukan pilih kasih terhadap anak-anak kita? Jikalau engkau melakukan pilih kasih, maka setelah kita mendengarkan khotbah ini, engkau harus bertobat karena ini sangat tidak diinginkan Tuhan. Anak-anak di hadapan Tuhan semuanya sama, baik laki-laki ataupun perempuan. Surga bukan hanya untuk pria dan jangan-jangan di surga yang paling banyak adalah kaum wanita. Indikasinya karena gereja selalu lebih banyak dihadiri oleh kaum wanita, pelayanan selalu lebih banyak dari kaum wanita, dan yang ikut persekutuan doa paling banyak adalah dari kaum wanita.

 

Dampak Negatif Akibat Pilih Kasih

                        Apa yang terjadi pada Esau dan Yakub? Telah terjadi persaingan yang tidak sehat antara Esau dan Yakub (Kej 25:29-31). Ribka mendukung Yakub untuk mengambil berkat dari Esau. Esau tidak pernah diingatkan bahwa hak sulung itu penting. Ketika Esau pulang membawa hasil yang dia dapatkan (Kej 25:29-31), dia sudah sangat lelah dan dia mencium bau sup yang sangat menyegarkan. Dia meminta sup itu dari adiknya, Yakub. Yakub pun meminta Esau untuk menjual hak kesulungannya kepada Yakub. Apakah ini yang dinamakan siasat atau strategi? Apakah hal ini dikondisikan oleh Yakub supaya Esau meminta sesuatu dari Yakub? Siasat bernilai negatif, namun strategi bernilai positif. Siasat bisa menghalalkan banyak cara sedangkan strategi tidak boleh melanggar suatu aturan. Pada waktu Yakub memasak sup kacang merah itu, aroma supnya membuat ruangan menjadi wangi sehingga Esau ingin memakannya. Dalam bagian ini seperti ada siasat dan strategi untuk mengambil hak sulung dari Esau. Ada persaingan di antara mereka. Di sinilah kita sebagai orang tua jangan suka membanding-bandingkan anak. Itu sangat menyakti hati anak. Saya percaya sekali Ishak selalu memuji Esau, sebaliknya Ribka selalu memuji Yakub. Mereka saling bersaing memberikan pujian sehingga terciptalah suatu kompetisi yang tidak sehat.

                        Esau menggampangan sesuatu dan tidak berpikir komprehensif (Kej 25:32-34). Esau menjual hak kesulungannya kepada Yakub demi sup kacang merah. Di sini kita akan melihat Ishak sayang terhadap Esau karena makanan. Hak sulung Esau juga dijual demi makanan. Esau adalah seorang pemburu yang handal dan dia sangat dimanjakan oleh ayahnya. Dia juga sangat dimanjakan oleh alam sehingga dia berpikir segala sesuatu itu mudah, berpikir terlalu sederhana. Karakternya yang selalu dimanjakan oleh alam dan buruan yang dia dapatkan membuat dia menganggap segala sesuatu itu gampang. Kita sebagai orang tua harus menjaga jangan sampai anak-anakmu menganggap segala sesuatu itu gampang, mendapatkan uang gampang, meminta sesuatu gampang, akhirnya dia tidak menghargai segala sesuatu yang dia miliki. Itu terjadi karena kita mendidik anak secara salah. Sebagai orang tua berilah perjuangan kepada anak, jangan mudah memberi kepada anak.

                        Esau mudah untuk jatuh cinta dan tidak menghormati perintah orang tua (Kej 26:34-35). Mengapa dia mudah jatuh cinta? Itu karena dia kekurangan kasih dari Ribka tetapi Yakub lebih mendapatkan kasih sayang dari Ribka. Itu membuat dia tidak mudah jatuh cinta sampai dikondisikan untuk mengerti apa itu cinta. Dalam bagian ini kita melihat Esau membutuhkan cinta kasih dari wanita. Dalam hal ini dia tidak menghormati perintah orang tuanya. Ishak pasti mengerti perintah dari Abraham, bahwa dia harus mempunyai pasangan hidup yang takut akan Tuhan, harus menyembah Tuhan dengan hati yang sungguh-sungguh, jangan menikah dengan orang Kanaan. Di situ pasti Ishak mengerti bagaimana Abraham mendidik dia tentang pasangan hidup yang seiman. Di dalam Kejadian 26:34-35, tertulis sedihlah hati Ishak dan Ribka karena anaknya mengambil orang yang tidak percaya kepada Tuhan.

                        Yakub menipu ayahnya dengan bantuan ibunya (Kej 27:1-29). Ishak memanggil Esau dan menyuruhnya pergi ke padang untuk berburu dan mengelola buruannya dengan baik. Setelah itu Ishak akan memberkati Esau. Percakapan itu didengar oleh Ribka. Maka ketika Esau sedang mengambil anak panah dan pergi ke padang mencari buruan, Ribka segera mencari Yakub untuk memberitakan hal ini. Kemudian Ribka dan Yakub berencana untuk menghidangkan masakan yang dimasak oleh Ribka dan menipu Ishak. Pada waktu masakan dihidangkan oleh Yakub, dia pun menyamar menjadi Esau. Namun Ishak menjadi curiga dan bertanya, “Benarkah engkau ini anakku Esau?” Yakub pun tetap menyatakan bahwa dirinya adalah Esau. Yakub pada akhirnya berhasil mendapatkan berkat. Saat itu juga Ribka dan Yakub merasakan kesenangan. Tidak lama setelah itu Esau pun datang dengan masakannya. Ishak menjadi kaget dan setelah itu Ishak pun tahu bahwa ada permainan yang dilakukan oleh Yakub. Kemudian Esau menjadi sangat marah. Dalam hal ini Yakub lebih pintar daripada Esau karena Yakub menipu Esau dengan cara yang licik. Kita belajar untuk berhati-hati jika ada pilih kasih di dalam keluarga yang menciptakan keluarga menjadi tidak harmonis. Dalam hal ini kita harus sadar bahwa ada hukum tabur tuai. Jikalau hukum tabur tuai itu tidak diselesaikan, itu bisa mengakibatkan dampak yang negatif.

                        Adakah Alkitab mencatat satu peristiwa yang lain dari tokoh Alkitab yang melakukan pilih kasih? Ada. Bagaimana dengan Daud yang terlalu sayang dan sangat melindungi Absalom (2 Sam 13:23-39)? Dia adalah laki-laki yang sangat ganteng. Badannya begitu tinggi tegap dan rambutnya sangat lebat. Dia juga mempunyai adik yang sangat cantik bernama Tamar. Ia terlalu cantik sampai ia diperkosa oleh Amnon. Saat Absalom tahu adiknya diperkosa, dia kemudian membunuh Amnon. Hukum Taurat menyatakan sudah pasti Absalom harus dihukum mati tetapi Daud melindungi Absalom. Akibatnya adalah apa yang dinyatakan oleh Mazmur 3. Kita tahu Absalom itu sangat pintar dalam kelicikannya. Setelah dia diasingkan, dia pura-pura bertobat namun kemudian dia mengambil hati rakyat Israel. Ia mendengar keluh kesah mereka untuk menarik hati mereka dan membangun suatu kekuatan untuk melakukan kudeta melawan Daud. Di sini kita melihat anak yang dimanjakan bisa menjadikan anak tidak tahu diri. Anak yang dimanjakan tidak akan menghormati orang tua. Ada tercatat dalam Alkitab bahwa pada akhirnya Absalom mati terbunuh oleh seorang panglima pasukan Daud.

 

Pertobatan dari Perilaku Pilih Kasih

                        Bagaimana upaya perbaikan dari orang tua yang sudah pilih kasih dan anak yang sudah bersikap salah dalam menghadapi perilaku pilih kasih? Jika kita membaca Kejadian 27:46 dan pasal 28, kita akan tahu bahwa ada pemulihan antara Ishak dengan Ribka. Setelah itu juga ada pemulihan dengan Yakub. Mereka melakukan introspeksi diri. Ini tidak dicatat di dalam Alkitab tetapi kita melihat di dalam Kejadian 27:46 Ribka mengutarakan keluh kesahnya kepada Ishak “Aku telah jemu hidup karena perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang isteri dari antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup lagi?” Teriakan hati Ribka didengar oleh Yakub dan Yakub tahu bahwa Esau juga ingin membunuh Yakub. Ishak juga mengetahui bahwa Yakub tidak memiliki pacar. Di dalam bagian ini mereka saling mengevaluasi diri, ada komunikasi dari hati ke hati, akhirnya dibuatlah satu solusi. Yakub dikirim oleh Ishak untuk pergi ke Mesopotamia, untuk mencari keluarga Abraham yaitu Nahor. Di sini Ishak sadar akan perilaku yang paling baik dari anaknya yaitu Yakub dan Ishak sadar Esau menjadi orang yang geram yang ingin membunuh adiknya. Di sini terjadi pemulihan, terjadi introspeksi diri, terjadi komunikasi yang baik untuk menciptakan satu pola tingkah laku yang baru. Di dalam bagian ini kita sebagai orang tua harus selalu berhati-hati. Jangan ada masalah terlebih dahulu baru kemudian melakukan perbaikan. Kita sebagai manusia mengerti bahwa dunia memiliki tuntutan yang sempura. Tuhan sangat menginginkan kita sebagai orang yang suci, jika kita berdosa dalam bisnis kita, jika kita mempunyai dosa dalam relasi kita dengan pacar dan dengan siapapun juga, dengan pikiran kita dan hati kita segeralah meminta pembaharuan dari Tuhan. Kita belajar bagaimana kita harus peka terhadap dosa. Kita sebagai orang tua jangan cuma berpikir untuk menonton di saat kebersamaan keluarga tetapi ciptakanlah satu ibadah keluarga bersama dengan Tuhan. Di situlah Tuhan akan sayang terhadap keluarga kita. Kiranya firman Tuhan mengingatkan kita supaya kita menjadi orang tua yang tidak salah dalam mendidik anak-anak. Jikalau engkau sebagai anak pernah menjadi korban karena perilaku diskriminatif, janganlah engkau sampai membenci orang tuamu, janganlah engkau merasa tidak perlu menyayangi orang tuamu. Sebaliknya, engkau harus berinisiatif untuk berkomunikasi dari hati ke hati. Jika engkau menjadi anak yang mendapatkan kasih dan keadilan yang tidak jelas, engkau harus mengampuni orang tuamu dan engkau harus mengalami satu pemulihan. Kita percaya waktu Tuhan adalah waktu yang sempurna untuk memperbaharui kita dari waktu ke waktu. Waktu Tuhan adalah waktu yang selalu baik untuk kita terus mengalami pembaharuan demi pembaharuan yang baru. Tuhan Yesus memberkati.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum dikoreksi oleh Pengkhotbah – TS)

PILIH KASIH

Categories: Transkrip

(Perlakuan Diskriminatif dalam Keluarga)

Pdt. Tumpal H. Hutahaean M.Th.

Author: Gracelia Cristanti