Latest Post

Satu Nilai Pembaharuan

Pdt. Tumpal Hutahaean

 

Kita akan melihat bagaimana kekuatan berpikir ternyata itu memiliki satu pengaruh yang kuat untuk hidup kita bagaimana dibangun dalam pikiran Kristus. Kita sering mendengar melalui mimbar atau dalam percakapan bahwa setiap manusia membutuhkan keselamatan di dalam Kristus dan hidup bagi Kristus. Tetapi dalam kenyataannya kita melihat bahwa manusia paling sering mengabaikan persoalan-persoalan kerohanian dan cenderung hanya memikirkan hal-hal yang berkenaan dengan materi dan kesenangan daging. Di dalam bagian ini terkadang dalam kehidupan kita terjadi keitdakselarasan hidup. Kalau kita sakit  dan mau meninggal maka kita membutuhkan satu kepastian keselamatan untuk mati dalam Tuhan. Jadi manusia terkadang di dalam kesulitan baru merasa membutuhkan jaminan keselamatan. Di sini kita perhatikan bahwa hidup kita yang sungguh-sungguh sudah selamat seharusnya tidak boleh sembarangan untuk mengabaikan persoalan-persoalan kerohanian. Di sini bukan berarti kita menjadi orang dalam Kristus kita tidak boleh memikirkan satu hidup secara materi. Tetapi mari kita memikirkan bagaimana pikiran kita yang rohani berkaitan dengan nilai kerja kita, nilai studi kita, dan nilai keluarga kita. Maka pada waktu orang Kristen mencampurkan sesuatu yang spiritual dan dengan yang material maka orang itu terkadang memilliki satu kacamata yang tidak jelas ketika dia melayani. Tidak jelas menempatkan mana yang lebih penting. Maka kalau pikiran kita yang rohani memperbaharui dan mengisi daripada nilai kerja kita maka pada waktu kita bekerja kita tidak akan sembarangan.

Mungkinkah ada orang Kristen yang tidak bisa membedakan sifat material dan yang rohani sehingga ketika di gereja maka yang bersifat material ini dicampur? Banyak orang Kristen seperti ini. Di dalam dunia kerja, studi, dan lingkungan kita itu Tuhan menguji iman kita melalui orang-orang dunia. Maka di sinilah kita harus mengembalikan bagaimana kekuatan berpikir kita di dalam Kristus menjadi satu nilai kekuatan yang harus bisa memperbaharui seluruh nilai hidup kita di dalam Dia. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kebutuhan mutlak manusia itu justru ditandai dengan tidak adanya rasa bahwa manusia membutuhkan keselamatan dan hidup berpusat kepada Kristus. Artinya kita merasa bahwa keselamatan itu bukan sesuatu yang harus kita kerjakan. Maka orang-orang yang mengabaikan nilai spiritual dalam hidupnya justru membuktikan hidup dia tidak ada dalam nilai buah keselamatan. Di sini kita baru tahu bagaimana seharusnya kita berpikir sedemikian rupa dimana iman mengontrol seperti yang tertulis dalam Roma 12:3, Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Kita tidak boleh berpikir dalam kebebasan tanpa nilai iman. Artinya adalah pikiran merupakan satu kebebasan yang melampaui waktu, tempat, materi. Jadi walaupun kita berada di gereja mungkinkah pikiran kita di tempat lain? Jadi pikiran adalah satu nilai kekuatan yang bisa menerobos eksistensi kita. Orang-orang penganut filsafat eksistensialis tidak mau bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat materi yang diikat dengan panca indra. Orang-orang eksistensialis biasanya menikmati nilai rasa melampaui daripada nilai materi dan kalau kita bisa berpikir demikian itu adalah hal yang baik tetapi kalau semuanya dimutlakkan dan kita takut menghadapi satu realita maka orang itu mejadi pengecut dalam menghadapi satu kenyataan hidup. Kita belajar ternyata di dalam struktur berpikir seseorang itu mempengaruhi sikap.

Dalam bagian ini kita melihat ada satu proses pembaharuan hidup. Dikatakan dalam 2 Timotius 1:9, “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman.” Allah menyelamatkan kita  yang melampaui kondisi kita. Di sini dikatakan bahwa Dialah yang menyelamatkan kita dan memilih kita dengan panggilan kudus bukan berdasarkan perbuatan kita melainkan berdasarkan anugerah. Di sini kita tahu sekali Allah yang melampaui daripada seluruh eksistensi kita dan seluruh keberadaan kita. Dia sudah dalam kasih karuniaNya memprogram kita untuk diselamatkan. Maka di dalam kalimat ini kita melihat pada saat kita menerima Kristus sebagai juruselamat kita maka kita dilepaskan dari dosa dan akibatnya satu kali sampai selamanya kita langsung dijamin untuk selamat tidak perlu lagi bertobat berkali-kali. Satu nilai pertobatan kita dengan jelas dijamin oleh kuasa Allah yang akan menimpa kita.

Terjadi perubahan dalam hidup kita dimana kita dilepaskan dari kuasa dosa berarti pikiran kita tidak diikat dengan pikiran-pikiran cabul, pikiran kita tidak akan lagi diikat dengan pikiran yang hanya bersifat material saja. Dan pikiran kita tidak akan diikat dengan pikiran-pikiran yang mengandung kecemaran iri, dendam dan lain-lain. Mengapa demikian? karena pada waktu kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat, satu paket seluruh hidup kita akan diputuskan dengan kekuatan-kekuatan yang tidak produktif yang sampai bisa mempengaruhi seluruh kehidupan kita. Di situlah kita baru mengerti betapa pentingnya kita harus mengisi seluruh pikiran dan hati kita dalam terang Firman. Berpikir “mengerti” merupakan taraf yang paling bawah. Sesudah itu kita harus belajar berpikir yang bersifat “komprehensif”. Maka kita harus berpikir level kita sampai dimana menjadi orang Kristen, ketika kita menjadi orang Kristen kita diberikan satu hasrat dan satu gairah dan passion yang baru maka berarti pikiran kita akan dirombak oleh Tuhan. Paling tidak kita memiliki kerinduan membaca Alkitab. Maka siapa yang membaca Alkitab dan imannya bertumbuh dan orang itu akan memiliki satu hidup yang diperbaharui . Inilah yang dikatakan dalam 2 Timotius 3:16-17. Bagaimana Firman Tuhan itu baik untuk menyatakan kesalahan kita, memperbaharui kita, mendidik kita, memipin kita masuk dalam kebenaran.

Di sini setiap kita harus mengerti bagaimana mengisi hidup ini dan kita sadar ada keterangan rohani, kita harus belajar bagaimana seharusnya hidup kita sungguh-sungguh memiliki kualitas dalam produktifitas berpikir. Maka kita menerima pemeliharaan Allah dan masuk dalam hubungan yang baru sehingga diberi hak menjadi anak-anak Allah. Anak-anak Allah akan nyata melalui pikiran-pikiran yang terang dan benar. Pikiran yang menyatakan kemenangan iman. Dikatang dalam Yakobus 1:21, “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu” artinya harus ada perjuangan iman. Pikiran kita harus di dalam satu nilai pikiran bahwa kita sedang masuk dalam satu proses perjuangan iman. Kita harus berani di dalam Kristus melupakan apa yang ada di belakang kita yang tidak produktif. Di dalam Kristus kita harus bisa melupakan yang ada di belakang dan mengarah kepada panggilan kudus dalam kehidupan kita. Di sinilah saudara kita harus percaya sekali kekuatan berpikir adalah kekuatan untuk nilai focus hidup. Maka siapa yang tidak punya focus hidup berarti dia tidak pernah memanfaatkan kekuatan berpikir untuk hidup bagi Tuhan. Kalau setiap orang tidak memiliki focus hidup berarti pikirannya belum dipusatkan dalam nilai Kristus.

  1. Secara terus-menerus kita akan bertumbuh dalam kekudusan, artinya orang Kristen yang sejati semakin hari semakin suci, semakin mengalami kemerdekaan iman, tidak boleh semakin hari terikat dengan dosa.
  2. Bertumbuh dalam segala hal yang baik, artinya kita akan bertumbuh berkaitan dengan pelayanan Tuhan, berkaitan dengan satu nilai kekal Tuhan, pekerjaan Tuhan. Dimana pun kita berada kita harus bertumbuh dalam melayani Dia sebagai Raja daripada Segala Raja.
  3. Bertumbuh semakin serupa dengan Kristus, artinya ada perubahan hidup dan pertumbuhan karakter dalam Kristus.

Inilah yang menjadi tiga program kita. Mari kita pikirkan satu nilai yang tepat bagaimana kita harus membaca diri dengan tepat. Tiga hal yang harus kita pikirkan: “Apakah aku sudah bertumbuh dalam kekudusanku? Apakah aku sudah bertumbuh dalam pekerjaan yang baik yang Tuhan percayakan? apakah aku sudah bertumbuh dalam karakterku?” Kita harus punya progress hidup dalam Tuhan. Bahkan kita juga boleh merasakan berkat-berkat, karunia-karunia daripada surga, semua itu dikaruniakan dalam kita yang sudah ada dalam kerjaan Allah, dan kita akan menghasilkan hidup yang berarti dalam Kristus. Di dalam hidup dalam Tuhan, kita akan menikmati hidup yang benar, damai dan penuh sukacita. Inilah yang menjadi karunia surgawi atas hidup kita.

Ada tiga perubahan: kebenaran, kekudusan, dan terang. Ini merupakan tiga hasrat yang baru dan senantiasa akan memenuhi pikiran kita. Kalau pikiran kita akan dipenuhi Firman dalam kebenarannya maka pikiran kita akan menerobos lagi ke satu pikiran yang nilainya kudus. Hal itu terbukti dalam nilai kerja, studi, dan sosial kita. Kita akan berpikir bagaimana menjadi anak-anak terang. Ini yang disebut satu nilai hasrat (desire) agar seluruh kebenaran ini memenuhi seluruh pikiran kita. Kalau ini menjadi satu gaya hidup kita maka kita akan terdorong untuk hidup kudus dalam segala hal. Kita akan menghasilkan kebenaran jikalau bertumbuh imannya sehingga punya buah hidup yang mengalami pembaharuan. Kita akan memiliki karakter yang sungguh-sungguh terbuka dan takut akan Tuhan maka buah yang akan nyata dalam hidup ini yaitu adalah nilai kejujuran: jujur terhadap Tuhan, jujur terhadap diri dan jujur kepada orang lain.

Maka Alkitab dengan jelas mengatakan kita bisa tahu hati orang dari perkataan. Jikalau kita hidup terang dalam Tuhan maka kita akhirnya punya buah keteladanan. Roma 13:11 dikatakan: “Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.” Di dalam ayat ini dikatakan kita tidak boleh lagi tidur dalam nilai kemalasan dan tidak produktif, kita harus bangun karena hidup kita singkat. Keselamatan dan kematian akan tiba tetapi bagaimana mengisi keselamatan yang benar maka jangan tidur. Kalau kita sudah dipaksa tidur dalam sakit penyakit itu berat. Di sini kita harus melihat bagaimana pada masa akan datang kita menerima tubuh kemuliaan. Ada satu hadiah terbesar yang akan kita terima jikalau kita akan sungguh-sungguh mengalami hidup yang terangkat bersama dengan Kristus, kita mendapatkan satu nilai kesempurnaan dan kemuliaan bersama dengan Dia.

Di sini kita mengerti Roma 12:2 yaitu “janganlah engkau menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Artinya biarlah rupamu diubahkan terus, keberadaan kita diubah terus-menerus karena kita tidak boleh merasa letih dan lelah. Rupa di sini berarti hakekat manusia, jadi yang dimaksud adalah perubahan yang nyata dalam hidup seseorang. Kata “akal budi” memakai istilah bahasa Yunani namanya naos. Ini berarti bukan hanya kepada satu nilai berpikir tetapi juga kepada nilai hati dan tingkah laku seseorang. Amsal 4:23 mengatakan kepada kita “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan dari situlah terpancar kehidupan.” Maka karakteristik kita mengenal Allah berkaitan dengan kekuatan kita berpikir maka kita bisa melihat dan membedakan mana yang baik. Istilah kata “yang baik” berkaitan dengan perbuatan yang sederhana dan nyata dalam nilai pekerjaan kekal kita. Jadi suatu perbuatan yang berdampak bagi orang lain, mau mengampuni dan melayani orang supaya kembali kepada Tuhan maka inilah pekerjaan yang baik. Sederhana namun nyata pengaruhnya.

Bagaimana harusnya kita mengerti sesuatu yang sempurna dan yang baik bagi Tuhan? Seperti dalam Markus 12:30, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Kalau ibadah kita secara Vertikal itu akan sempurna, maka di dalam ibadah secara horizontal juga harus sempurna. Salib adalah simbol mengenai relasi vertical dan horizontal bagaimana antara kasih dan keadilan bertemu. Maka pada waktu kita mengaku kita adalah orang yang beribadah, ibadahmu akan hidup dan nyata pada waktu kita mengunjungi yatim piatu, janda-janda miskin, kita mengunjungi orang-orang yang sedang bergumul dengan masalah-masalah berat dan di situlah kita menjadi berkat bagi mereka. Itulah ibadah yang sejati. Maka orang yang sudah sukses, sudah kaya ternyata belum sempurna karena kesempurnaan bukan karena nilai perbuatan kita, orang itu dalam perbuatannya sudah sempurna tetapi dia tidak sempurna dalam kasih. Di dalam iman dan pengharapan mana yang akhirnya tidak akan hilang? Kasih, kasih itu adalah kesempurnaan yang paling sejati (1 Korintus 13). Maka kesempurnaan dalam rumah tangga adalah nilai kasih, kesempurnaan kita dalam nilai Kristus adalah kasih. Cara pandang Alkitab menegaskan kepada kita bahwa setelah kita diperbaharui dalam Kristus tidak otomatis kita akan seperti malaikat. Alkitab tidak menjamin kita memiliki hidup yang romantis, atau meromantiskan kita dengan dunia ini sebaliknya Alkitab memperbaharui kita melalui pikiran suci, bersikap realistis dalam iman dan memiliki buah iman yang sejati. Dalam membangun cara berpikir yang kristiani, Alkitab mengajarkan kepada kita supaya kita berinkarnasi kepada Kristus dalam kehidupan-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya, memperbaharui hidup kita oleh Roh Kudus.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Satu Nilai Pembaharuan

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: Gracelia Cristanti