FINALITAS KARYA YESUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT: Tinjauan Kritis terhadap Teologi Religionum (2)

oleh: Pdt. Tumpal H. Hutahean

BAB III : FINALITAS KRISTUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT

(Tinjauan Kritis Terhadap Kristologi Religionum)

A. Yesus Kristus adalah Pusat dari Kekristenan

Kekristenan adalah Kristus dan Kristus adalah pusat dari kekristenan. Mengapa demikian? Karena segala sesuatu tentang kekristenan ditentukan oleh pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bahkan seluruh kehidupan dan sifat kekristenan sampai hal-hal yang sederhana juga ditentukan oleh Yesus Kristus. Kristuslah asal mula adanya  kekristenan dan yang akan menggenapkan seluruh rencana keselamatan bagi umat manusia.

Finalitas Kristus ada pada diri-Nya sendiri dan tidak tergantung pada apapun juga, seperti teologi Kristen, Pengakuan Iman Gereja, dan Apologetika Kristen. Walaupun hal itu penting, namun finalitas Kristus melampui semuanya itu karena Dia Allah yang Omniprence, Omnipotence, Omniscience dan Immutability. Maksudnya Finalitas Kristus tidak tercipta di dalam proses waktu karena Ia adalah yang awal (Alfa) dan yang akhir (Omega).

Jati diri Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat ada karena Ia sendiri yang menyatakan-Nya. Yesus berkata :

“Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?“ Maka jawab Simon Petrus: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!“ Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.“[36]

Jika kita mengaku sebagai seorang Kristen, tetapi salah di dalam pengenalan kita akan Yesus, maka hal ini akan berakibat fatal dalam keseluruhan hidup kita. Kefatalan ini akan tersingkap di dalam hal bersikap, berpikir, berbicara dan bertingkah laku yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang Yesus ajaran. Demikianpun dengan penganut teologi religionum yang menolak finalitas Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat satu-satunya. Walaupun Alkitab sudah jelas-jelas menyaksikan bahwa Yesus Tuhan dan Juruselamat satu-satunya.  Yesus berkata,

“Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup, tidak seorangpun datang kepada Bapa kecuali melalui Aku.”[37]

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain. Yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”[38]

Kaum Universalisme, Inklusivisme, Relativisme dan Pluralisme, tetap saja menolak perkataan Yesus dan kesaksian dari Lukas ini tentang keselamatan di dalam Yesus.

Penolakan kaum Teologi Religionum terhadap finalitas karya Yesus ini nyata, seperti apa yang dikatakan oleh Stanley Samartha (Teolog India),

“All Christian approaches to other religions based on a theory of anonymous Christianity or cosmic Christology.”[39]

Dan juga apa yang dikatakan oleh Ioanes Rakhmat, yang memegang konsep sub-ordinasionisme dan menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat,

“Dengan adanya sub-ordinasionisme fungsional di dalam Injil Yohanes, penulis Injil ini (Yohanes) memandang figur “Anak Manusia” sebagai suatu “oknum” atau “hakikat” adikodrati yang lebih rendah kedudukan-Nya dari Allah, yang dalam ketaklukan-Nya kepada Allah menerima tugas pengutusan untuk turun ke dalam dunia. Kedudukan Anak Manusia yang “lebih rendah“ ini menyiratkan bahwa oknum “Anak Manusia“ itu adalah oknum atau suatu hakikat adikodrati yang terpisah dari Allah.“[40]

Apa yang tercatat di di dalam Injil Yohanes justru tidak sama dengan apa yang dipaparkan oleh Ioanes. Jadi mana yang salah, yach sudah jelas adalah Ioanes dan Alkitab itu tidak salah di dalam penyataannya. Seluruh isi dari Injil Yohanes yang mempunyai  tujuan yaitu:

“Supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.“[41]

Jadi apa yang di duga oleh Ioanes dan juga Hick bahwa Yesus Kristus bukan Tuhan dan Juruselamat menurut Injil Yohanes adalah salah dan tidak sesuai dengan maksud atau tujuan dari Yohanes sendiri sebagai penulis.

Jika kita membaca Injil Yohanes justru kita akan menemukan konsep tentang ke Allahan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Misalnya apa yang tercatat di dalam:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.“[42]

“Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.“[43]

Dan lebih jauh lagi penyataan ajaran Yohanes tentang “Ego Emi“ yang diikuti predikat:

“Akulah Roti Hidup“[44]

“Akulah Terang Dunia“[45]

“Akulah Pintu“[46]

“Akulah Gembala yang baik“[47]

“Akulah kebangkitan dan hidup“[48]

“Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup“[49]

“Akulah Pokok Anggur yang benar“[50]

Setelah kita melihat tujuh predikat “Ego Emi“ diatas, Injil Yohanes mencatat ada lagi  “Ego Emi“ yang tidak diikuti predikat, misalnya:

“Sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.“[51]

“Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa ’Akulah Dia’“[52]

Perkataan di atas menjelaskan bahwa Yesus sungguh-sungguh Tuhan dan Juruselamat. Jadi Yohanes tidak pernah bermaksud mengajarkan supaya orang Kristen bersikap Universalisme, Relativisme, Inklusive dan Pluralisme. Justru sebaliknya melalui Injil Yohanes kita di ajar untuk Eksklusive di dalam mempertahan kebenaran Kristus yang bersifat absolut,[53] mutlak dan Final.

B. Yesus Kristus adalah Pencipta

Firman Tuhan berkata bahwa Yesus Kristus adalah Pencipta, Pemelihara dan Penopang alam semesta ini. Untuk lebih jelasnya mari kita memperhatikan ayat-ayat yang menyatakannya:

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari   segala yang telah dijadikan.“[54]

“Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan Firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tertinggi.“[55]

Ayat-ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Yesus sungguh-sungguh Tuhan Pecipta. Jika Yesus bukan Tuhan mengapa ia mau menerima sembah dari manusia, dimana sembah ini layak ditujukan kepada Tuhan. Yesus menerima pujian dari Tomas dan bukannya Ia menegur Tomas yang bimbang imannya. Dengan rasa hormat Tomas menyembah Yesus dan berkata:

“Ya Tuhanku dan Allahku! Kata Yesus kepadanya: Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.“[56]

Yesus yang sama pula yang menolak ketika Iblis menyuruh Dia untuk menyembahnya. Yesus mengusir Iblis itu dan berkata:

“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!“[57]

Jadi jika Yesus bukan Allah tidak mungkin ia mau menerima penyembahan dari manusia dan dapat menghardik Iblis agar tunduk kepada prinsip penyembahan yang benar.

Tokoh Pluralisme Asia yaitu Choan Seng Song sangat tidak menyetujui jika orang Kristen menyembah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Karena bagi dia tindakan itu adalah penyembahan kepada berhala.[58] Bagi Song Yesus sendiri bukan Tuhan dan Yesus tidak pernah menyatakan diri-Nya Tuhan. Saya kira Song dan tokoh-tokoh Inklusive-Relativisme (Paul F. Knitter, Lesslie Newbigin & Raimundo Pannikar, dll) yang lainnya tidak mempercayai penyataan Alkitab yang bersifat absolute (mutlak), khusus dan tidak ada salahnya dalam isinya (Infallibility). Karena sudah jelas-jelas ayat-ayat yang kita bahas di atas menunjukan Yesus Kristus itu Tuhan dan Juruselamat.

Para tokoh-tokoh teologi Religionum ini selalu mempunyai presuposisi bahwa semua sejarah dalam dunia ini adalah penyataan  Allah dan kebenaran Allah, termasuk di dalamnya aspek keselamatan. Dengan pandangan yang seperti ini mereka menganggap Yesus hanya manusia biasa yang ada dalam sejarah dan tidak unik. Karena bagi mereka Yesus sama dengan tokoh-tokoh dari pendiri agama yang lain.  Mereka lupa bahwa Yesus Kristus itu adalah Allah Pencipta.

Kita percaya bahwa Allah ada di dalam sejarah dan diatas sejarah. Yang mengontrol sejarah dan yang melampaui sejarah. Tokoh-tokoh teologi religionum tidak memisahkan antara sejarah dunia sebagai bentuk Kronos dan sejarah kebenaran sebagai penyataan Allah yang bersifat khusus sebagai bentuk Kairos.  Jadi bagi mereka semua sejarah di dalam proses waktu keberadaannya sama dan tidak ada yang unik. Dengan demikian mereka juga tidak dapat membedakan mana tindakan Iblis dan juga tindakan Allah, bagi mereka semuanya ini dapat campur aduk.

Yesus Kristus sudah ada sebelum dunia dijadikan dan sebelum Ia turun ke dunia menjadi serupa dengan manusia. Kristus tidak pernah “menjadi” Anak Allah, pada saat kelahiran-Nya di dunia dan pada saat Ia hidup di dunia ini (Inkarnasi). Pada mulanya “Dahulu” sampai “Sekarang” Yesus Kristus tetap adalah Anak Kekal Allah, yang ada dan kekal bersama-sama dengan Allah Bapa. Yesus Kristus berani berkata bahwa:

“Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada”[59]

Perkataan Yesus ini tidak mungkin bohong, karena apa yang dilakukan Yesus di dalam karya-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat dapat membuktikan bahwa ia bukan penipu (pembohong) dan juga bukan orang yang berkata-kata seperti orang gila saja.

C.   Yesus Kristus adalah Allah

Menurut John Hick dan Paul F. Knitter Yesus bukanlah Anak Allah dan Mesias. Karena menurut mereka Yesus tidak mengatakan hal itu secara langsung. Jika ada orang-orang Kristen yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Kristus, dan oknum ke dua dari Allah Tritunggal. Hal ini dikarenakan kesalahan para penulis Injil yang telah menambahkannya menurut iman dan pemikiran mereka sendiri tentang Yesus. Jadi bagi mereka semuanya itu hanya mitos dari para penulis Injil. [60] Pandangan mereka ini sangat tidak sesuai dengan apa yang Yesus katakan sendiri, siapa Dia (Yesus) sesungguhnya.

Di dalam Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah, hal itu disampaikannya dengan jelas dan tuntas. Yesus berkata:

“Aku dan Bapa adalah satu”[61]

Perkataan Yesus ini merupakan perkataan yang revolusioner pada saat itu karena tidak pernah mereka mendengar perkataan yang seperti itu. Sehingga pada waktu para pemimpin agama mendengar perkataan ini. Yesus dianggap menghujat karena Ia menganggap diri-Nya Anak Allah.[62] Ketika persidangan berlangsung Imam besar  bertanya kepada Yesus,

“Katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak“

Jawab Yesus, “Engkau telah mengatakannya.“[63]

Yesus berkata dengan benar bahwa Ia adalah Allah, tetapi penyataan Yesus ini tidak dapat diterima oleh para pemimpin agama pada saat itu. Dan berdasarkan kalimat Yesus ini mereka sepakat untuk menyalibkan Yesus. Ketika Yesus dipersalahkan, Ia tetap menghadapinya dengan keanggunan dan kesabaran. Tindakan Yesus ini menunjukan  bahwa Ia merupakan pribadi yang agung dan memiliki mutual hidup yang berbeda dari manusia biasa. Jikalau Yesus bukan Allah bagaimana Ia dapat melalui semuanya itu dengan baik dan mendoakan orang-orang yang menyalibkan diri-Nya di kayu salib.

Keunikan[64] Yesus Kristus sebagai Tuhan, juga Ia nyatakan melalui hak istimewa dan wewenang Allah yang Ia miliki, yaitu:

1.      Yesus mengatakan bahwa Ia mempunyai wewenang untuk mengampuni dosa.[65]

2.      Yesus juga berkata, bahwa Ia akan datang ditengah-tengah awan-awan di langit, duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa.[66]

3.      Yesus juga berkata bahwa “Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak.“[67]

4.      Yesus juga memiliki wewenang dan kuasa untuk membangkitkan orang mati.[68]

Yesus juga memiliki sifat-sifat yang hanya Allah miliki sendiri. Misalnya, Yesus menyatakan bahwa Ia itu Mahakuasa dan memiliki segala kuasa.[69] Sebagai contoh:

1.      Di dalam kehidupan-Nya, Yesus mendemonstrasikan kuasa-Nya atas alam dan meneduhkan angin rebut.[70]

2.      Mengubah air menjadi anggur.[71]

3.      Berkuasa atas penyakit tubuh.[72]

4.      Berkuasa atas dunia roh jahat.[73]

5.      Berkuasa atas kematian dengan membangkitkan Lazarus dari kubur.[74]

6.      Mempunyai kuasa atas segala penguasa di udara.[75]

7.      Yesus Mahatahu dengan mengetahui segala sesuatu, apa yang ada di dalam pikiran manusia sebelum mereka mengucapkannya.[76]

8.      Yesus Mahahadir dan berjanji untuk menyertai semua murid-Nya sampai akhir jaman.[77]

D.   Yesus Kristus adalah Manusia

Yesus bukan saja sungguh-sungguh Allah (100%) tetapi juga sungguh-sungguh manusia (100%). Pemahaman tentang pribadi Kristus yang utuh ini (Kristologi) akan membuat kita sadar dan bangga punya Allah seperti Yesus. Jika Yesus bukan manusia yang sungguh-sungguh, bagaimana Ia dapat menebus dosa-dosa kita melalui diri-Nya sebagai pengganti (Redemtion by substitutions) di kayu Salib. Dan bagaimana Yesus dapat menjadi Imam Besar yang dapat menghibur dan menguatkan kita. Karena Ia sudah pernah mengalami apa yang kita alami sebagai manusia dan oleh karena itu Ia sangat mengerti setiap pergumulan kita dan berempati kepada kita, sebagai anak-anak-Nya. Firman Tuhan berkata:

“Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.“[78]

“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”[79]

Walaupun keberadaan Yesus di dalam kandungan Maria hadir secara supranatural, tetapi proses persalinannya normal sebagaimana seorang anak lahir dari rahim ibunya.[80] Yesus sebagai anak yang tumbuh dengan normal juga mengalami pertumbuhan secara jasmani dan mental. Firman Tuhan berkata:

“Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat…Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”[81]

Yesus juga memiliki tubuh dan jiwa, sama seperti layaknya manusia. Yesus dapat merasakan lapar[82] dan haus.[83] Yesus dapat mengalami kelelahan karena perjalanan yang jauh,[84] Ia memerlukan tidur.[85] Yesus memiliki belas kasihan dan kasih.[86] Yesus dapat marah kepada orang-orang yang menajiskan rumah Bapa-Nya[87] dan kepada mereka yang menolak kebenaran Allah.[88] Yesus dapat menangis dan bersedih. Puncaknya pada waktu Ia mengalami penderitaan dan jiwanya mengalami kesusahkan yang luar biasa ketika di kayu Salib.[89]

Alkitab mencatat 72 kali di dalam empat Injil Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Allah. Pada waktu Yesus menyebut dirinya Anak Allah, saat yang bersamaan Ia juga menyatakan diri-Nya sebagai Allah, kepada kita sebagai anak-anak-Nya. Kemanusian dan keallahan Yesus tidak saling bercampur, walaupun ada di dalam keberadaannya. Oleh karena itulah kemanusiaan Yesus itu sangat unik dan sempurna. Mengapa saya katakan demikian, karena sebagai manusia,

“Yesus tidak mempunyai dosa keturunan dan juga tidak pernah berbuat dosa“

“Yesus tidak pernah memberikan persembahan korban dan

meminta pengampunan dosa bagi diri-Nya sendiri“

“Yesus mengajarkan supaya setiap orang bertobat dan perlu mengalami kelahiran kembali,

kecuali diri-Nya tidak“

“Yesus menantang orang-orang untuk menunjukan dosa sekecil apapun yang pernah Ia lakukan,

jika memang ada“

Jadi kemanusia Yesus itu sungguh-sungguh (100%), demikian juga dengan keallahan-Nya (100%). Ke dua esensi ini harus kita percayai dan kita pertahankan dari serang-serangan “Defective Theology“ termasuk juga teologi religionum. Dan kita juga tidak perlu memperdebatkan manakah dari ke dua tabiat Yesus ini yang lebih besar atau lebih super dan akhirnya mengorbankan keunikan jati diri Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.[90]

John Hick sebagai tokoh teologi religionum menolak konsep inkarnasi Yesus datang ke dunia sebagai manusia. Di dalam bukunya “The Myth of God Incarnate“[91] ia percaya bahwa peristiwa inkarnasi Yesus adalah “mitos”. Setelah tidak puas dengan pemikirannya ini, lalu ia mengeluarkan buku baru yaitu “The Metaphor of God Incarnate”.[92] Di dalam buku ini Hick berubah konsepnya tentang “inkarnasi sebagai mitos dan ke inkarnasi sebagai metaphor”. Semua ini dilakukan untuk mengkritik kaum eksklusif yang percaya peristiwa inkarnasi Yesus adalah sebagai peristiwa supranatural. Bagi Hick keselamatan manusia tidak memerlukan perantara seperti Yesus dan juga tidak perlu pengampunan dari Yesus. Karena Yesus hanya manusia biasa yang mau membawa manusia untuk memohon pengampunan kepada Bapa. Pendapat Hick ini didukung oleh pandangannya tentang Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus dimana kita diminta untuk meminta pengampunan kepada Bapa dan juga tentang perumpamaan anak yang hilang, dimana pengampunan tidak memerlukan perantara.[93] Bagi Hick semuanya menjelaskan bahwa pusat dari kekristen dan keselamatan adalah Bapa dan bukan Kristus.

Hick tidak melihat teks dalam konteks yang tepat di dalam keseluruhan Alkitab, sehingga bangunan Kristologinya berantakan dan bersifat partsial. Hick tidak melihat Alkitab secara menyeluruh tentang Kristologi.  Sebagai contoh Alkitab berkata:

“Hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”[94]

“Hai anakKu, dosamu sudah diampuni…..Supaya kamu tahu , bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”[95]

Ayat-ayat di atas dengan jelas mengatakan bahwa konsep pengampunan harus melalui darah dan Yesus telah mencurahkan darah-Nya di kayu salib. Dan Yesus pada waktu ia hidup juga memiliki hak prerogative Allah Bapa untuk mengampuni dan menyelamatkan.

Jadi dalam bagian ini baik Hick dan tokoh-tokoh teologi religionum yang lain tidak konsisten di dalam membaca dan memahami teks secara keseluruhan. Mereka berani mengambil teks sebagian-sebagian demi mendukung pendapat mereka yang sesat dan ini sangat tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hermeneutika.

E.   Yesus Kristus adalah Juruselamat

Jikalau Yesus bukan sepenuhnya Allah, bagaimana mungkin Ia dapat menjadi Juruselamat bagi kita semua. Dan jika Ia adalah Allah tetapi tidak melakukan sesuatu untuk menebus dosa-dosa kita, maka Ia juga bukan Juruselamat bagi kita. Alkitab menyaksikan bahwa Yesus menjadi Juruselamat karena Ia melakukan pekerjaan penebusan bagi dosa-dosa kita dan Yesus dapat memenuhi syarat untuk menjadi Juruselamat kita semua. Perlu saya ingatkan Yesus bukan hanya dapat menyelamatkan manusia berdosa, tetapi Ia sudah menyelamatkan manusia berdosa.

Kesempurnaan hidup Yesus merupakan suatu keharusan yang mutlak sebagai pra-syarat sebagai Tuhan dan Juruselamat:

1.      Kesucian hidup yang sempurna. Yesus berkata “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?”[96] dan musuh-musuh-Nya tidak membuktikan. Hal ini menunjukkan Yesus sungguh-sungguh manusia yang sempurna. Di dalam PL semua korban yang dipersembahkan harus baik dan tak bercacat cela. Ini sebagai syarat mutlak di dalam pengampunan. Jika demikian Yesus memenuhi syarat sebagai korban penghapus dosa-dosa umat manusia.

2.      Ketaatan yang sempurna. Setelah Adam pertama gagal di dalam menjalankan ketaatannya, maka Yesus sebagai Adam kedua dapat membuktikan bahwa Ia sempurna di dalam menjalankan ke taatanya kepda Allah.[97]

3.      Pengantara dan Imam Besar yang sempurna. Keterhilangan dan keterjualan manusia ke  dalam dosa, membuat manusia terbelenggu dengan dosa. Hanya Yesus yang dapat meyelesaikan problema keberdosaan manusia ini, dengan jalan Ia sendiri menjadi penebus dan pengantara antara manusia yang berdosa kepada Allah yang suci. Yesus adalah Allah yang mengerti pergumulan dan penderitaan dari anak-anak-Nya dan Yesus merindukan supaya anak-anak-Nya ini selalu hidup berkenan kepada Allah dan memuliakan Allah dalam keseluruhan hidupnya.[98]

Dinamika hidup berkemenangan di dalam kekristenan karena Yesus yang telah mati dan bangkit pada hari yang ketiga. Yesus sendiri yang menubuatkan tentang kematian-Nya dan kebangkitan-Nya.[99] Kematian Yesus yang pro-aktif dan kebangkitan-Nya yang nyata membuktikan bahwa Ia sungguh Allah yang layak menjadi Juruselamat. Tidak ada pemimpin agama atau pendiri-pendiri agama yang seperti Yesus, dimana Ia tetap hidup menyertai pengikut-Nya.

Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa apa yang tercatat di dalam Injil dan keseluruhan  Alkitab tentang Kristus itu bukan “mitos dan metaphor” seperti apa yang dipercayai oleh tokoh-tokoh teologi religionum. Kebangkitan Yesus memberi kepastian bahwa yang kita percayai tentang Yesus di dalam sejarah Alkitab, sungguh-sungguh benar dan bukan rekayasa dari para penulis Alkitab, tetapi sungguh-sungguh inspirasi dari Allah. Paulus berkata,

“Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.”[100]

Kepastian keselamatan dan pengampunan yang di dasarkan pada kubur yang kosong dan Kristus yang telah bangkit dari kematian. Membuktikan apa yang Yesus katakan mengenai seluruh hidup dan karya-Nya adalah sungguh-sungguh benar, bukan mitos dan hal itu menyatakan Yesus adalah Tuhan.

Tuhan Yesus bukan saja menubuatkan kematian-Nya dan kebangkitan-Nya saja, tetapi juga mengenai kenaikan-Nya ke sorga dan pemuliaan-Nya.[101] Para murid Yesus dapat melihat peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke sorga.[102] Setelah naik ke sorga, Allah Bapa memberikan kepada-Nya tempat yang mulia di sorga. Allah telah,

“mendudukkan Dia disebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut.”[103]

Kristus mempunyai kedudukan yang berkuasa dan mulia di sorga. Kenaikkan-Nya ke sorga dan pemuliaan-Nya sangat mendukung seluruh karya penebusan-Nya sebagai Juruselamat satu-satunya. Kita percaya bahwa Kristus sudah pergi untuk menyiapkan tempat bagi kita di sorga.[104]

BAB VI : KESIMPULAN

1.  Gereja secara umum dan jemaat tidak menyadari tentang bahayanya ajaran teologi religionum ini. Mengapa sangat berbahaya karena teologi ini dapat melahirkan bentuk agama yang baru dan termasuk membuang segala keunikan iman Kristiani yang kita percayai.

2.  Gereja tidak berani mengkritiskan ajaran teologi ini, sebagai bentuk ajaran yang salah dan menyesatkan (Defective Theology). Hal ini dapat terjadi karena banyak gereja yang sudah tidak memiliki spirit lagi di dalam menegakan kebenaran Firman Tuhan dan akhirnya gereja menjadi gereja yang kompromi dan toleransi dengan semua ajaran agama-agama lain. Dengan kata lain gereja sudah kehilangan jati dirinya dan fungsinya sebagai alat Tuhan. Hal ini bukan berarti semua gereja telah sakit, saya percaya masih ada gereja-gereja  yang sehat di dalam keberadaan dan pertumbuhannya.

3.  Saya percaya gerakan ini tidak akan berhasil karena teologi religionum adalah filsafat agama yang dilahirkan oleh orang-orang yang mengaku beragama, tetapi pada dasarnya mereka tidak menghormati keunikan agama mereka sendiri (khususnya dari kaum theology Liberal). Gerakan ini akan gagal karena tidak ada dasar Alkitab yang mendukungnya dan sudah pasti Allah tidak akan turut campur.

4.   Kesulitan kita di dalam menghadapi kaum “Teologi Religionum” secara umum adalah:

A.   Secara Antropologis mereka menyakini bahwa setiap manusia adalah sebagai insan yang beragama dan mereka berhak untuk membangun dimensi religiositas yang unik secara sendiri-sendiri.

B.   Secara Theologis semua system agama di dunia ini, besar atau kecil, yang amat primitif, sederhana maupun yang telah berkembang, maju dan komplek, semuanya mengakui adanya keselamatan menurut jalan mereka masing-masing.

Dan setiap agama yang sudah mapan umumnya mempunyai Kitab Sucinya masing-masing sebagai perwujudan baku dari wahyu yang mereka terima dari “Realitas Ilahi”. Orang Muslim mempunyai Al Quran dan orang Hindu memiliki Kitab Weda dan orang Budha memiliki Kitab Tripitaka, dll.

C.   Secara Filosofi setiap para penganut agama-agama tertentu secara umum pandangannya sudah dipengaruhi oleh konsep nilai-nilai keimanan yang mereka yakini itu benar. Sehingga hal ini mempengaruhi pandangan hidupnya dan perilakunya sehari-hari. Terkadang phenomena ini dapat menjadi lapisan kebudayaan yang menutupi lapisan yang lebih dalam lagi, yaitu persoalan agama itu sendiri.

Perbandingan Teologi Liberal, Teologi Religionum dan Teologi Reformed

No. Pembahasan Teologi Liberal Teologi Religionum Teologi Reformed
1. Alkitab      
a. Alkitab (Penyataan) Bukan Wahyu Allah secara full (Limited) Bukan Wahyu Umum & juga Wahyu Khusus Sebagai Wahyu Allah secara khusus
b. Sumber Dari Allah, Manusia & Setan Produk sejarah secara umum (keselamatan) 100% dari Allah (Inspirasi Allah melalui para penulis Alkitab)
c. Sifat Dapat salah (Mitos) Interpretasi para penulis saja (Methapore-rekaan) Unik, Final
2. Allah      
a. Hakekat-Nya Umum: bagi semua orang (Universal) Umum: ada dalam semua agama Khusus & tidak pernah berubah
b. Sifat-Nya: Kasih & Keadilan Kasih yang lebih menonjol Kasih bagi semua orang Kasih & keadilan-Nya seimbang
c. Penyataan-Nya Ada di dalam sejarah Pusat Sejarah (keselamatan) Progresif di dalam Trinitas
3. Kristus      
b. Juruselamat Bukan Juruselamat melainkan Bapa Salah satu Juruselamat Satu-satunya Juruselamat
c. Pengampunan Bukan sumber pengampunan Bukan sumber pengampunan Sumber pengampunan dosa
4. Penginjilan      
a. Pusat Manusia Manusia Kristus
b. Berita Sosial Gospel Freedom of Dehumanisation Keberdosaan manusia, Pengampunan melalui Kristus dan Keselamatan di dalam Kristus
5. Theologi      
a. Pusat Allah Bapa Allah Bapa Kristus
b. Berita Toleransi Agama Teologi Agama-agama Allah Tritunggal di dalam fungsi & hakekat-Nya, dll.

Salam dan Doa

 Pdt. Tumpal H. Hutahaean.

__________________________________________________________

[36]. Matius16:15-17

[37]. Yohanes 14:6

[38]. Kisah Para Rasul 4:12

[39]. Paul F. Knitter, No Other Name? …, hlm 158.

[40]. Ioanes Rakhmat, “Kristologi Anak Manusia,” di dalam Injil Yohanes dan Monotheisme Yahudi, Dalam kumpulan Allah Kumpulan Karangan dalam Rangka Dies Natalis STT Jakarta ke-60, 1990, hlm. 63.  Ioanes juga setuju dengan dengan konsep “Teosentris” dan bukan “Christosentris”. Dalam hal ini ia sama konsepnya dengan John Hick. Hick juga menganggap Yesus di dalam Injil adalah Mitos dan akhirnya berubah menjadi “inkarnasi Metafor“.

[41]. Yohanes 20:30-31

[42]. Yohanes 3:16

[43]. Yohanes 14:6

[44]. Yohanes 6:35,48

[45]. Yohanes 8:12, 9:5

[46]. Yohanes 10:7

[47]. Yohanes 10:11

[48]. Yohanes 11:25

[49]. Yohanes 14:6

[50]. Yohanes 15:1

[51]. Yohanes 8:24

[52]. Yohanes 8:28 band. Yes 43:10

[53]. Kata “Absolute“ itu berasal dari bahasa Latin “Ab-Solvere“ artinya “dibebaskan dari“. Jadi keberadaan Yesus itu tidak bergantung kepada interprestasi  manusia di dalam sejarah dan juga tanggapan-tanggapan agama-agama lain.

[54]. Yohanes 1:3

[55]. Ibrani 1:3

[56]. Yohanes 20:28-29

[57]. Matius 4:10 (band. Ulangan 6:13 “Engkau harus takut akan Tuhan, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah.”)

[58].Choan Seng Song, Jesus and the Reign of God (Minneapolis: Fortress Press, 1993), hlm. 31.

[59]. Yohanes 8:58

[60]. Paul F. Knitter, No Other Name? A Critical Survey of Christian Attitudes Toward the World Religions (Maryknoll: Orbis Books, 1985)

[61]. Yohanes 10:30

[62]. Yohanes 19:7

[63]. Matius 26:63-64

[64]. Kata “Unik” berasal dari kata bahasa Inggris “Unique” yang artinya “berbeda, tidak sama tetapi memiliki kualitas dari yang lainnya.”

[65]. Markus 2:10

[66]. Markus 16:42

[67]. Yohanes 5:22

[68]. Yohanes 6:39,40,54; 10:17,18)

[69]. Matius 28:18

[70]. Markus 4:39

[71]. Yohanes 2:7-11

[72]. Markus 3:10

[73]. Lukas 4:35

[74]. Yohanes 11:43-44

[75]. Efesus 1:20-22

[76]. Markus 2:8 & Yohanes 2:25

[77]. Matius 28:20.

[78]. Ibrani 2:18

[79]. Ibrani 4:15

[80]. Matius 1:18 (band. Kej 3:15 & Ibra 2:16)

[81]. Lukas 2:40,52

[82]. Matius 4:2; 8:2

[83]. Yohanes 19:28

[84]. Yohanes 4:6

[85]. Matius 8:24

[86]. Matius 9:36

[87]. Matius 21:13

[88]. Markus 3:5

[89]. Yohanes 12:27

[90]. Sebelum teologi religionum tampil, di dalam sejarah gereja sudah tercatat ada aliran-aliran teologi yang sesat, seperti:

a.        Kristologi Ebionitisme: Menyangkal ke allahan Yesus. Bagi mereka Yesus hanya seperti manusia biasa, walaupun dikandung secara supranatural. Jadi Yesus hanya mempunyai hubungan yang istimewa saja dengan Allah, secara khusus melalui peristiwa baptisan Yesus. Konsep ini sangat mempengaruhi pemikiran C.S. Song dan Paul F. Knitter, dll.

b.        Kristologi Docetisme: Menyangkal kemanusiaan Yesus yang sungguh-sungguh. Mereka mengatakan bahwa tubuh Yesus itu sifatnya “maya” tetapi nampak seperti manusia. Bagi mereka tubuh ini jahat. Mereka percaya bahwa kehidupan Yesus di dunia ini hanyalah ilusi saja.

c.        Kristologi Arius-Unitarianisme: Yesus itu dicipta oleh Bapa, oleh karena itu kedudukan Yesus lebih rendah dari Bapa. Pengaruh ajaran ini pengaruhi konsepnya Ioanes Rakmat dan John Hick, dll.

d.       Kristologi Appollinarius: Yesus tidak sepenuhnya manusia karena keberadaan tubuh dan jiwa-Nya ditempati oleh wujud Ilahi-Nya. Aliran ini dipengaruhi oleh Helenistik dan sudah dianggap sesat oleh Sidang Konstantinopel pada tahun 381.

e.        Kristologi Nestorius: Mereka menolak persatuan Kristus di dalam dua tabiat Ilahi dan Insani. Bagi mereka persatuannya hanya dari aspek moral saja dan bukan bersifat organis atau pribadi. Mereka percaya di dalam tubuh Yesus ada dua pribadi dan bukan dua tabiat dalam satu tubuh.

f.         Kristologi Eutychus: Mereka percaya persatuan ke dua tabiat Kristus itu bersifat campur antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka percaya bahwa tabiat insani Yesus itu diserap oleh tabiat ilahi-Nya dan mengakibatnya tabiat ilahi-Nya mengalami perubahan. Aliran ini sudah dianggap bidat pada Sidang di Chalcedon pada tahun 451.

[91]. John Hick, ed, The Myth of God Incarnate (London: SCM Press, 1977)

[92]. John Hick, The Metaphor of God Incarnate: Christology in a Pluralistic Age (Louisville: Westminster Press, 1993)

[93]. Ibid., hlm 127.

[94]. Ibrani 9:22

[95]. Markus 2:5,10

[96]. Yohanes 8:46

[97]. Roma 5:19; Ibrani 10:6,7

[98]. Ibrani 2:11-18

[99]. Markus 8:31; 10:32-34

[100]. 1 Korintus 15:17

[101]. Yohanes 6:62; 17:1

[102]. KPR 1:9-11

[103]. Efesus 1:20-21

[104]. Yohanes 14:3-4

FINALITAS KARYA YESUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT: Tinjauan Kritis terhadap Teologi Religionum (1)

oleh: Pdt. Tumpal H. Hutahean

BAB I : PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Pembahasan

Keberadaan agama-agama dan kerukunannya ditengah-tengah kemajemukan dan keunikan agama, sangat didukung oleh undang-undang dan kesadaran akan perlunya toleransi. Keberadaan toleransi antar umat beragama di Indonesia sangat tumbuh subur di Indonesia.

Namun tanpa disadari metode tolerasi (dialog lintas agama) yang dikembangkan oleh Gereja di Indonesia secara khusus dan dunia secara umum telah merubah arti dan hakekat dari iman Kristen itu sendiri. Metode dialog antar umat beragama yang pada mulanya hanya sekedar wadah persekutuan dan sebagai ekspresi saling menghargai dan menghormati. Dalam perkembangannya berubah menjadi usaha dari masing-masing agama dan antar umat beragama yang lainnya untuk saling mempelajari kesamaan-kesamaan kebenaran yang mereka anut, sampai taraf dimana mereka dapat saling menerima keabsahan dan kebenaran semua agama (Pluralisme Agama).[1] Dan dalam perkembangannya  gerakan ini yaitu “Pluralisme Agama” akhirnya melahirkan suatu teologi yang mereka sebut sebagai “Teologi Religionum”.

Jika gerakan “Pluralisme Agama” hanya sekedar menerima dan mengakui ada kebenaran-kebenaran dalam semua agama-agama, tanpa membuang keunikan kebenaran agama-agama yang mereka percayai. Tetapi lain dengan “Teologi Religionum”, gerakan teologi ini lebih maju lagi, yaitu mau menggabungkan semua kebenaran-kebenaran yang ada di dalam agama-agama dan menolak semua kemutlakan yang ada di dalam agama-agama, yang dapat menjadi benteng pemisah di antara mereka. Dalam hal ini termasuk juga “Finalitas Karya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat” di dalam kekristenan. Dengan kata lain mereka menolak semua klaim agama yang bersifat ekslusif, absolute, unik dan final. Karena bagi mereka semua kebenaran dalam agama dan tentang agama itu adalah “relative”. Semboyan dari gerakan “Teologi Religionum” yang sering mereka kumandangkan adalah “Deep down, all religions are the same – different paths leading to the same goal”.[2]

Jadi gerakan pluralisme agama[3] dan Teologi Religionum ini adalah suatu gerakan yang sangat berbahaya di dalam menghancurkan identitas iman Kristen dan juga menjadi tantangan bagi iman Kristen. Teologi Religionum ini bukanlah sekedar suatu konsep sosiologis, antropologis, melainkan konsep filsafat agama yang bukan bertolak dari Alkitab, melainkan dari fakta kemajemukan yang diikuti oleh tuntutan toleransi dan di dukung oleh keberadaan social-politik yang mendukung kemajemukan etnis, budaya dan agama, serta disponsori oleh semangat globalisasi, filsafat relativisme dan filsafat postmodernisme.

B.   Batasan Pembahasan Seminar

Di dalam seminar hari ini pembahasanya hanya memfokuskan pada “Finalitas Karya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat” yang ditolak oleh “Teologi Religionum”. Karena mengingat seminar kita ini waktunya sangat pendek, & pembahasan teologi religionum” sendiri itu sangat luas isinya. Maka kita harus mempersempit  pengulasannya pada pandangan teologi religionum dalam dunia kekristenan yang menolak “Keunikan Yesus Kristus”,  yang menjadi inti pengajaran “Teologi Religionum” di dalam kekristenan.

Walaupun kita memfokuskan pembahasannya pada “Keunikan Yesus Kristus”. Hal ini bukan berarti kita tidak akan menyinggung bidang-bidang yang lain dari “Teologi Religionum”, misalnya pandangan mereka tentang Alkitab, Manusia & Dosa, Hermeneutika.

Besar harapan saya para peserta seminar ditempat ini dapat mengembangkan studi kritis tentang teologi religionum di depan demi kemuliaan Kristus, sehingga kita tidak membiarkan virus ajaran ini masuk gereja.

BAB II : LATAR BELAKANG & SEJARAH BANGKITNYA TEOLOGI RELIGIONUM

A.   Pengertian Kata: Pluralitas,  Pluralisme dan Teologi Religionum.

Kata “Plural” berasal dari kata bahasa Inggris yang artinya “jamak” dan ketika kata ini ditambah akhirannya menjadi “Pluralitas” ini berarti “kemajemukan”. Dan jika akhir dari kata “plural” ini ditambah dengan kata “isme” ini berarti ada ajaran-ajaran/isme-isme di dalam kemajemukan agama. Jadi arti “Pluralisme Agama” adalah gerakan yang berupaya untuk mempersatukan agama-agama agar kebenaran-kebenaran yang beragam dapat saling mengisi dan melengkapi. Jadi dengan kata lain mereka saling membuka diri untuk saling dapat menerima semua keberadaan agama-agama yang lainnya, dengan tidak membicarakan atau mempertajam keberbedaan pengajaran mereka masing-masing.

Kata “Teologi” berasal dari Yunani “Theos” dan “Logos”. Kata Theos artinya Allah, dan kata logos sendiri artinya Firman/Kebenaran yang dinyatakan.[4] Jadi “Teologi“ artinya suatu peryataan atau interprestasi kebenaran tentang Allah. Jadi “Theology is taught by God, teaches of God, and leads to God.“[5] Sedangkan kata “Religionum“ berasal dari bahasa Inggris “Religions“ yang artinya agama-agama. Jadi pada waktu kata ini digabung menjadi teologi religionum (Theology of Religions) secara umum pengertian  ini oke-oke saja. Tetapi secara khusus saya tidak setuju karena jika ke dua kata ini dilihat dari iman Kristen, ini tidak mungkin dapat digabung, mari kita ulas. Pengertian teologi secara umum dimengerti sebagai bentuk studi tentang Tuhan (Atribut-atribut-Nya dan sifat-sifat-Nya) yang telah Ia nyatakan melalui Alkitab sebagai wahyu khusus. Jika istilah kata “teologi“  digabung dengan kata “religionum“ menjadi “teologi religionum“ ini artinya kita mengakui adanya Tuhan yang benar di dalam agama-agama yang lain, di luar kekristenan. Jika demikian arti teologi religionum adalah suatu gerakan yang berupaya untuk mempersatukan agama-agama yang ada   dengan spirit  menolak semua klaim agama yang bersifat ekslusif, absolute, unik dan final. Mereka memiliki cita-cita untuk melahirkan suatu konsep agama yang baru dan agama ini saya sebut sebagai agama bersama (Together Religion).

Saya percaya gerakan ini tidak akan berhasil karena teologi religionum adalah filsafat agama yang dilahirkan oleh orang-orang yang mengaku beragama, tetapi pada dasarnya mereka tidak menghormati keunikan agama mereka sendiri. Gerakan ini akan gagal karena tidak ada dasar Alkitab yang mendukungnya dan sudah pasti Allah tidak akan turut campur.

Sebagai kesimpulan, jadi gerakan “teologi religionum” di dalam kekristenan adalah suatu gerakan yang berupaya untuk membuang dan menolak “Finalitas Karya Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya”. Teologi Religionum memakai pendekatan “The Christology from Below“ yaitu suatu teologi yang dibangun dari bawah ke atas. Teologi seperti  ini lebih mementingkan kontekstual dari pada teks  dan juga mementing teologi fungsional daripada ontological. [6]

Teologi dari bawah ke atas ini sangat disenangi dikalangan mereka. Seperti juga yang ditekankan oleh Th. Sumartana, bahwa yang diperlukan bukan hanya sekedar Kritologi agama-agama, Inklusif, lebih dalam lagi kita memerlukan teologi religionum.[7]

B.   Sejarah Pluralisme di dalam Alkitab

1.  Perjanjian Lama

 Ketika Tuhan memanggil Abraham sebagai Bapa orang Israel untuk keluar dari Urkasdim. Panggilan Tuhan ini disertai  dengan penyataan khusus (Special Revelation) dari Allah. Panggilan khusus inilah yang menjadi asal-muasal agama orang Israel, yaitu agama yang lahir dari atas (Tuhan) ke bawah (manusia). Sedangkan agama-agama lain di luar Israel adalah agama-agama yang lahir dari manusia sebagai ekspresi terhadap wahyu umum (General Revelation).

Ketika dua sumber agama ini hadir di PL, berarti pada saat itu sudah ada persoalan dalam kemajemukan agama yaitu agama penyataan khusus dan agama penyataan umum. Dimana agama penyataan umum berusaha untuk membuang keunikan iman bangsa Israel, supaya dapat beribadah dengan agama mereka yang menyembah berhala-berhala. Sebagai contoh ketika raja Israel yaitu Ahab menikah dengan Izebel anak raja Tirus, maka akhirnya raja Ahab dipengaruhi istrinya untuk menyembah Baal dari Tirus, agar dijadikan sebagai resmi di Israel. Tetapi upaya Izebel ini di lawan oleh nabi Elia (1 Raja 18) dengan cara menantang para nabi-nabi palsu mereka. Dan Elia pada saat itu  membuktikan bahwa Allah Yahweh adalah Allah yang sejati yang layak untuk disembah dan bukan berhala-berhala (Kel 20:2-5). Jadi di PL Allah sangat mengecam dan tidak kompromi dengan kegiatan-kegiatan ibadah dari ilah-ilah asing untuk masuk dalam komunitas umat-Nya (dengan sikap Eksklusif).

 Allah memang mengajarkan umat-Nya agar memiliki sikap yang eksklusif terhadap agama-agama asing yang tidak mempercayai Allah Yahweh atau Allah yang esa (Ul 6:4). Agama-agama asing yang ada pada saat itu sangatlah tidak cukup untuk mengerti wahyu umum karena sifatnya mereka hanya dapat berespon terhadap wahyu umum. Oleh karena itu mereka sangat membutuhkan “penerangan dari kepercayaan bangsa Israel“ dan penerangan itu di dapat hanya melalui pengenalan terhadap Allah Yahweh, sebagai agama resmi bangsa Israel pada saat  itu.[8]

2. Perjanjian Baru

Kemajemukan agama di dalam era Perjanjian Baru sangat nampak  terjadi. Hal ini nyata dengan adanya agama-agama rakyat yang tersebar di berbagai tempat pada era pemerintahan kaisar Romawi (Pantheon Greko Romawi).[9] Mereka pada saat itu menyembah kepada “Realitas Ilahi“ yang tidak berpribadi, namun ada dan diam di alam semesta dan diri manusia (Pantheisme & dualisme), misalnya kepada dewi Diana di Korintus, dewi Isis dan Osiris di Mesir, para Baal di Siria, dewa Mitras di Persia dan dewi Kybele di Asia kecil. Hal ditambah lagi dengan agama rakyat Yunani yang percaya pada Jupiter (Zeus), Juno (Hera), Neptune (Posedon), Marcury (Hermes).

Selain berhadapan dengan kemajemukan agama pada saat itu. Gereja mula-mula juga berhadapan dengan kemajemukan iman yang pada saat itu ada, yaitu: penyembahan kepada Kaisar, Agama Yudaisme dan Filsafat Helenistik.[10] Penyembahan kepada kaisar pada saat itu bersifat mutlak dan tidak dapat di tawar-tawar lagi. Mereka percaya bahwa kaisar merupakan titisan dewa yang memiliki kuasa ilahi karena berasal dari dunia metafisik. Penyembahan kepada kaisar ini juga merupakan ekspresi kesetiaan rakyat kepada kaisar. Oleh karena jika para pengikut Kristus pada saat menolak untuk menyembah Kaisar dan tetap mempertahankan imannya kepada Yesus, mesti resikonya mengalami penganiayaan dan hukuman mati (band. Kol 2:18-19). Mereka tetap setia kepada Kristus dan tetap bersikap Ekslusifitas.

Sikap gereja saat menghadapi kemajemukan agama pada saat itu  tetap eksklusif. Pengikut Kristus pada saat itu disebut sebagai “Kristen”. Kata ini saja sudah menjelaskan sikap yang eksklusif dan special (Kis 11:26, 26:28 & I Pet 4:16). Sebutan kata “Kristen” ini sering dipakai oleh mereka yang tidak percaya kepada Kristus sebagai bentuk kata pengejekan. Walaupun demikian orang-orang Kristen pada saat itu tetap bangga dengan kepercayaannya kepada Kristus dan menolak agama-agama lain di luar Kristus. Walaupun orang-orang Kristen pada saat itu bersikap eksklusif bukan berarti mereka tidak bergaul dengan mereka (Yudaisme dan Helenistik, dll). Sebagai contoh, ketika Barnabas dan Paulus berhadapan dengan agama-agama lain, yang memuja dewa Zeus dan Hermes. Mereka menghadapinya dengan sopan, arif dan menghargai. Maksudnya tidak ada sikap untuk menghakimi kepercayaan mereka itu. (KPR 14). Jemaat di Korintus juga hidup berdampingan dengan agama-agama lain (1 Kor 8-11).

Contoh yang lainnya adalah tentang latar belakang dari penulis Injil Matius yang mengalamatkan Injilnya pada orang-orang Kristen Yahudi, dengan tidak mengambil pengajaran Yudaisme. Demikian juga dengan penulis Injil Lukas dan Injil Yohanes, yang mengalamatkan suratnya kepada orang Kristen Yunani. Baik Lukas dan Yohanes tidak memakai pemikiran Helenistik di dalam tulisannya, kecuali penggunaan istilah. Sikap para penulis Injil menunjukkan kepada kita bahwa sikap eksklusif sangat Alkitabiah.

C.   Di dalam Sejarah

1.      Clement & Origenes (Universalisme)

Clement (150-215) berpendapat bahwa “pengenalan akan Allah bagi orang Yahudi adalah melalui “Torat”, sedangkan bagi orang Yunani adalah melalui filsafat inspirasi “Logos”.

Origenes juga berpendapat bahwa “pada akhirnya, semua mahluk akan diselamatkan, termasuk setan.”[11] Pandangan mereka ini mempunyai dampak sampai abad pertengahan.

2.      Renaisance (abad ke-14 akhir) & Enlightenment (abad ke-18)

Johann Wilhelm Peterson (1649-1717) & Ernest Christoph Hockmann (1670-1721). Ke dua tokoh ini mengajarkan mengenai konsep pemulihan akhir dari jiwa-jiwa kepada Allah. Pengajaran mereka ini sampai membangkitkan “Universalisme” di Amerika.

3.      Friedric Schleiermacher (1768-1834)

Pengaruh konsep universalisme sangat mempengaruhi pemikiran Friedric S dan tokoh ini sering disebut sebagai bapak Teologi Liberal karena konsep-konsep pemikirannya yang radikal. Ia berani mengkritik Alkitab, bahkan menghasilkan suatu konsep yang menyatakan bahwa Alkitab bukanlah Firman Tuhan, tulisan Injil-injil bukanlah laporan tentang Yesus yang histories, melainkan Yesus yang di percayai (diimani). Maksudnya para penulis Injil tidak menulis Yesus yang sesungguhnya, yaitu Yesus yang histories yang sungguh-sungguh pernah ada. Jadi bagi Schleirmacher para penulis Injil hanya menulis Yesus berdasarkan apa yang mereka tangkap dengan iman dan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Bahkan ia percaya ada unsure rekaan dari para penulis Injil. Karena ada jurang pemisah antara waktu Yesus hidup dengan waktu penulisan Injil itu sendiri. Oleh karena itu bagi Schleirmacher setiap para penafsir Alkitab harus menyingkirkan mitos-mitos, khususnya yang berkenaan dengan peristiwa-peristiwa mujijat yang tidak rasional seperti apa yang dilakukan oleh Yesus dan karya-karya-Nya.

Konsep Schleirmacher yang mendukung teologi religionum adalah:

a.       Ia menerima konsep universalisme dengan mutlak. Ia percaya bahwa keselamatan diberikan Allah bagi semua orang, termasuk agama-agama lain.[12]

b.      Ia menolak konsep “Predestinasi”. Ia menolak konsep bahwa keselamatan melalui penebusan Kristus adalah satu-satu jalan. Ia percaya bahwa hal itu hanya salah satu jalan di dalam kekristenan dan agama lain juga mempunyai jalan keselamatan.

c.      Ia hanya menekan konsep “Kasih & Kemurahan Allah“ saja. Bagi konsep Liberal, Allah tidak akan menyediakan dan mengirim seorang pun untuk dihukum dalam hukuman kekal, karena jika hal ini terjadi bertentangan dengan sifat kasih Allah.

Pandangan Schleirmacher ini sangat mendukung untuk berkembangnya teologi religionum di kalangan kekristenan, khususnya yang beraliran teologi Liberal. Yang dari mulanya menolak ke allahan Yesus, yang sungguh-sungguh Allah (100%).

4.      Konsili Vatikan II (1962-1965)

Melalui konsili ini sikap katholik yang tadinya eksklusif berubah menjadi inklusif. Mereka memutuskan bahwa “Kebenaran bukan hanya milik orang Kristen saja.“ Keputusan konsili ini menjadi pijakan baru di dalam menjawab tuntutan dalam hidup bersama dengan agama-agama lain. Konsili melahirkan konsep demikian:

“Mereka (agama-agama lain) juga dapat memperoleh keselamatan yang kekal, yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Injil Kristen atau gerejanya, namun toh dengan tulus ikhlas mencari Allah dan tergerak oleh anugerah, berupaya dengan perbuatan-perbuatan mereka melakukan kehendak-Nya sebagaimana diketahui melalui hati nuraninya.“[13]

Konsep VatiKan II ini telah mempengaruhi para teolog-teolog modern katholik hingga pada saat ini, seperti:

a.      Karl Rahner

Di dalam bukunya “Christianity and Non Christian Religions,“[14]  Ia mengatakan sesungguhnya setiap manusia terbuka terhadap pengaruh rahmat ilahi yang adi-kodrati. Orang-orang dapat diselamatkan karena kasih karunia Kristus, sekalipun tanpa disadari oleh mereka. Ia dulu bersikap eksklusif, tetapi akhirnya berubah oleh karena pengalaman-pengalaman spritualitas dan pengamatannya terhadap perkembangan agama-agama yang ada. Sikap inklusifnya dibangun berdasarkan konsep “Anonymous Christian“ yang artinya bahwa sesungguhnya orang-orang dapat memperoleh keselamatan sekalipun ia tidak memeluk agama Kristen. Mereka-mereka inilah yang disebut Kristen tanpa nama atau tanpa agama Kristen. Yang penting mereka menjalankan agamanya dan bermoral.

b.      Paul F. Knitter

Di dalam bukunya “No Other Name“[15] ia mengatakan bahwa tidak ada klaim yang eksklusif yang menjadi milik inti ajaran Kristen. Ia menekankan sikap inklusif dari gereja katholik di dalam bersikap dengan agama-agama lain. Dengan kata lain Knitter mengatakan bahwa ada juga kebenaran tentang keselamatan di luar iman Kristen. Karena Allah ada juga di dalam agama-agama lain di luar kekristenan. Judul buku yang diberikan oleh Knitter ini bermaksud untuk mengejek kaum eksklusif yang percaya tidak ada nama lain yang menyelamatkan selain nama Kristus. Knitter justru melalui tulisannya memaparkan justru ada nama yang lain (the other) yang dapat menyelamat umat manusia yang ada di agama-agama lain. Konsep Knitter ini telah meracuni juga pemikir teologi religionum di Indonesia yang Emanuel G. Singgih. Singgih mengusulkan untuk membangun sebuah gambaran teologis mengenai “the other”, yang dimaksud “the other” ini adalah agama-agama lain.[16] Walaupun ia menyebut teologis yang dapat dipertangung jawabkan secara Alkitabiah dan kontekstual. Tetap ia lebih mengutamakan konteks dari pada teks Alkitab itu sendiri. Jadi istilah teologis yang dimaksud oleh Kitter dan Singgih adalah teologi kompromi.

c.       Hans Hung

Walaupun Hans Kung tidak menjadi teolog di Vatican lagi, namun ajarannya sudah mempengaruhi pemikir-pemikir Katholik dan juga beberapa dari kalangan Protestan. Di dalam bukunya “Christianity and The World Religions“[17] dan “Theology of Third Millenium”[18] . Khususnya pembahasannya tentang sikap misi gereja yang kontekstual. Ia menyarankan bersikap inklusif. Dengan asumsi dasar pertanya tentang “What is True Religion“ Towards an Ecumenical Criteriology“.[19] Ia mengemukakan ada 4 sikap di observasinya terhadap agama-agama lain.

1.      Sikap Ateistik.

Sikap ini berpendapat bahwa semua agama yang ada sama-sama tidak benar. Tokoh dari sikap ini adalah Friedrich Nietzsche, yang berpendapat bahwa tidak ada agama yang benar. Argumen ini diperkuat lagi dengan filsafat agamanya yang mengatakan bahwa “Allah sudah mati”. Ia menyatakan bahwa agama-agama adalah sia-sia dan tidak berguna bagi orang yang bebas dan yang telah maju. Bagi Nietzsche, Allah adalah sesuatu yang keberadaannya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah dan empiris.[20]

 2.      Sikap Katholik Tradisional.

Sikap Katholik Tradisional ini lahir dari Konsili Latheran ke-4 (1215), yang mengatakan bahwa “hanya satu saja agama yang benar yaitu Katholik Roma dan keselamatan hanya ada di dalam gereja dan bukan di dalam Kristus”.

Sikap seperti ini dibangun agar setiap orang yang mau melakukan gerakan untuk mencoba memisahkan diri dari Roma Katholik dan mencoba untuk mengkritik kepausan dari gereja Roma. Diperingatkan akan mendapatkan kutuk dengan cap sebagai bidat dan tidak memperoleh keselamatan.

 3.      Sikap Relativistik.[21]

Sikap ini mengatakan bahwa semua agama adalah sama benar atau benar secara sama. Tidak ada agama yang tidak berasal dari dalamnya. Bagi orang-orang pluralis kontemporer, Allah sebagai Realitas Tertinggi dan mutlak, serta tidak terbagi-bagi adalah dasar bagi keberadaan agama-agama. Baik di dalam kekristenan maupun di dalam agama-agama lain sama sekali tidak ada keunikan di dalamnya. Agama-agama yang ada mempunyai keselamatannya sendiri dari dalam agama itu sendiri.

 4.      Sikap Inklusivistik.

Menurut pengertian Hans Kung “inklusif” adalah hanya ada satu agama yang benar dan semua agama mendapat bagian dari kebenaran agama yang satu itu. Sikap ini diperlukan dalam rangka membangun toleransi beragama, sehingga mengkompromikan juga suatu kebenaran agama. Pendukung pendapat ini adalah Raimundo Panikkar yang mengatakan bahwa agama-agama lain juga mempunyai kebenaran sebagian dan sebagai pendahuluan serta ikut dalam kebenaran yang universal, sehingga orang lain dari agama lain dapat diselamatkan. Dan orang-orang ini disebut sebagai “Orang Kristen Anonim.”

 d.      Raimundo Panikkar (Inclusive)

Di dalam bukunya “Dialog Intra Religios“[22] dan “The Unknown Christ of Hinduism, Asia Trading Corporation“[23] Panikkar percaya bahwa agama-agama lain juga mempunyai kebenaran sebagian dan sebagai pendahuluan serta ikut dalam kebenaran yang universal, mereka disebut sebagai “Anonymous Christian“. Ia percaya seorang dari agama Budha, Hindu, Islam adalah orang Kristen, walaupun mereka belum sempat datang secara aktual ke dalam kekristenan, namun mereka tetap akan diselamatkan karena kebenaran Kristen ada di dalam agama-agama mereka. Panikkar percaya bahwa penyataan Allah ada di dalam semua agama dan Yesus Kristus hanyalah salah satu penyataan Allah yang juga ada di dalam agama-agama lain, dimana menyadari ada realitas ilahi. Oleh karena itu bagi Panikkar Yesus bukan Tuhan dan Juruselamat yang Final dan satu-satunya.[24]

D.   Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja se-Dunia di Uppsala (1968)

Sidang ini berhasil merumuskan sikap teologis dari kalangan protestan terhadap agama-agama lain yang harus terbuka. Misalnya, aspek Perintah Amanat Agung (PI) dihilangkan di dalam tugas gereja dan diarahkan pada dialog lintas agama. Konsep keselamatan, diubah menjadi keselamatan manusia dari penderitaan di dunia, konsep berita Injil diubah menjadi “Social Gospel.“.[25]

Sidang di Uppsala ini menjadi benih awal, terbuka protestan terhadap agama-agama lain dan juga konsep teologis tentang misi dan hakekat gereja. Dan rumusan-rumusan Uppsala menjadi pemicu dan pendorong untuk teologi religionum berkembang di gereja-gereja di dunia dan juga di Indonesia.[26] 

E.   Kalangan Teolog Modern (Kontemporer)

1.      John Hick (Pluralisme-Relativisme)

Hink adalah seorang dosen di “Claremont School of Theology, USA“. Sekolah ini sangat terkenal di Amerika sebagai sekolah yang Liberal. John Hick sangat dipengaruhi oleh pemikiran “Johann Wilhelm Peterson (1649-1717) & Ernest Christoph Hockmann (1670-1721)“ tentang “Universalisme“.

 John Hick di dalam pendekatannya terhadap agama-agama lain lebih menekankan filsafat dan society dari pada pandangan Alkitab sendiri. Ia merupakan seorang pelopor utama pluralism yang merubah konsepnya tentang Allah dan lebih melihat Allah dari sifat kasih-Nya saja. Baginya penderitaan dan kejahatan dari dunia ini dapat dibenarkan jika Allah dapat membawa manusia kepada pemulihan akhir setiap pribadi manusia.[27]

Ia menolak pendekatan “Kristosentris“ terhadap agama-agama lain karena pendekatan ini tidak sesuai lagi dengan konteks pada jaman ini lagi. Ia mengusulkan pendekatan “Teosentris“ dimana Allah yang menjadi pusat dari agama-agama yang lain.[28] Hick dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh konsep Karl Rahner dengan konsepnya “Anonymous Christian“. Oleh karena itu ia menolak peryataan bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:3).[29] Bagi Hick apa yang tercatat di dalam Injil mitos atau lagenda sifatnya termasuk juga tentang pribadi dan karya Yesus.  Hick berani menyerukan agar untuk setiap orang Kristen untuk membuka diri untuk mencari pengertian yang baru tentang Yesus di dalam sejarah dan di dalam konteks sekarang.[30]

2. Choan-Seng Song (Pluralisme)

Ia adalah teolog dari Taiwan yang beraliran Pluralisme. Bagi Song “Semua sejarah adalah sejarah Allah dan sekaligus sejarah keselamatan dan tidak ada sejarah, bahkan sejarah Cina atau Vietnam yang berada di luar sejarah Allah. Sejarah ada di dalam Allah dan kembali kepada Allah.“[31] Song tidak percaya adanya “Wahyu Umum“ dan “Wahyu Khusus“, khususnya ia menolak adanya wahyu khusus di dalam dan melalui Yesus Kristus.

Bagi Song orang Kristen yang menyembah Yesus sebagai Allah yang hidup, mereka ini sedang hidup dalam penyembahan berhala. Bagi Song Yesus sendiri tidak memahami diri-Nya sebagai Allah dan Yesus justru memberitakan tentang Allah Bapa dan bukan diri-Nya sebagai Allah.[32]

Song berusaha juga untuk membuang konsep “Sentrisme“ yang sudah berakar dalam pemahaman doktrin Kristen, bahwa Yesus Tuhan dan Juruselamat.[33] Ia juga tidak  percaya bahwa bahwa Israel, Yesus Kristus dan Gereja-Nya sebagai pusat sejarah keselamatan, yang dimulai dari penciptaan sampai penggenapan akhir.[34]

Song sangat dipengaruhi oleh sidang raya gereja-gereja se-dunia di Upsalla (1968) dan hal ini nyata melalui konsep-konsepnya. Song menekankan bahwa sejarah keselamatan bukan hanya menyangkut aspek keselamatan yang bersifat rohani saja, melainkan juga berkaitan dengan keselamatan manusia dari dehumanisasinya karena masalah sosial, politik dan ekonomi. Bagi Song semua sejarah umat manusia merupakan penyataan Allah.

F.    Perkembangan Teologi Religionum di Indonesia

Keberadaan negara Indonesia yang memiliki keragaman (kemajemukan) budaya, suku, bahasa dan agama. Dan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang memayungi dan mengayomi secara hukum adanya keberagaman agama ini. Sangat mendorong di dalam perkembangan teologi religionum di Indonesia.

Berkembangnya teologi religionum di Indonesia juga sangat didukung oleh para pimpinan-pimpinan gereja yang sangat mendukung gerakan teologi ini. Sebagai contoh adalah surat Gembala “Majelis Sinode Am Gereja Protestan Di Indonesia“, point ke-3, yang mengatakan:

“Operasionalisasi dalam kemajemukan keagamaan berarti mengembangkan dan membudayakan paham pluralism sebagai sikap hidup yang menghormati dan menghargai agama dan keyakinan orang lain. Pluralisme tidak identik dengan Relativisme yang menganggap semua agama sama saja. Namun Pluralisme itu mengakui dan menghargai kebenaran yang terdapat di dalam semua agama. Pilihan terhadap agama manapun adalah bagian fundamental dari Hak Azasi Manusia. Bagi kita umat Kristen, Yesus Kristus adalah mutlak! Tetapi keyakinan ini tidak harus membuat kita menutup diri terhadap Kemahakuasaan TUHAN Allah yang dapat menmpuh berbagai cara untuk menjumpai umat manusia yang diciptakan-Nya segambar dengan Dia. Dengan demikian mengakui dan menghargai kebenaran agama lain tidak berarti merelatifkan kebenaran penyataan Allah di dalam Yesus Kristus.”[35]

 Isi surat gembala Majelis Sinode Am GPI di atas sangat kental nuansa “Pluralisme”. Dan hal ini hanya sedikit contoh yang ada dan nyata, belum lagi yang belum ketahuan tetapi secara diam-diam ajaran dan sikap pluralisme sudah masuk ke dalam gereja secara halus dan mulus.

Agama-agama dan kerukunannya ditengah-tengah kemajemukan dan keunikan agama, memang sangat didukung oleh undang-undang dan kesadaran akan perlunya toleransi. Oleh karena itulah  toleransi antar umat beragama di Indonesia sangat tumbuh subur di Indonesia. Namun tolerasi ini yang pada mulanya dalam bentuk dialog lintas agama. Dalam perkembangannya berubah ke arah saling menerima ajaran-ajaran dan mengakuinya sebagai kebenaran yang dari Tuhan dan membuang semua keunikan, keabsolutan, finalitas dari ajaran agama-agama lain. Dan yang lebih ekstrim lagi mereka (yang bersikap: Inklusivisme Relativisme, Akomodasi, Pluralisme) merindukan adanya gerakan untuk menghadirkan konsep agama yang baru yaitu agama bersama (Together Religions) dengan basic teologi adalah  “Teologi Religionum”.

Perkembangan gerakan teologi religionum  di Indonesia yang pesat ini bukan begitu saja berkembang. Tetapi sudah melalui proses waktu 15-20 tahun terakhir ini.  Apalagi semakin gencar-gencarnya konflik antara agama yang terjadi di Indonesia, yang menuntut adanya pertemuan-pertemuan antara para pemimpin agama di Indonesia. Membuat para pemikir kristiani untuk mencoba merefleksikan ulang tentang teologi yang tepat pada konteks Indonesia yang majemuk ini.

Adapun tokoh-tokoh nya yang mencoba mempengaruhi teologi Kristen di Indonesia adalah Victor Tanja, Eka Darmaputera, Th. Sumartana, A.A. Yewangoe, Ioanes Rahmat, dll. Dan puncak dari buah pemikiran-pemikiran mereka tentang “Teologi Religionum”  ini tertuang dalam buku “Merentas Jalan Teologi Agama-Agama di Indoensia – Theologia Religionum.” Yang disusun oleh Tim Balitbang PGI. Penulis dari buku ini bersumber dari lintas agama dan bukan hanya dari Kristen & Katholik saja, tetapi ada juga dari kalangan pemikiran Islam. Adapun di antara mereka yang sangat mendukung dan menyonsong teologi ini supaya dapat hadir di Indonesia, khususnya kalangan Kristen dan Katholik adalah Martin L. Sinaga; Th. Sumartana; B.J Banawiratma, SJ; Franz Von Magnis-Suseno, SJ; E.G Singgih; John A. Titaley. Buku ini telah diterbitkan tiga kali, tahun 1999, 2000, dan 2003. Buku ini merupakan hasil-hasil seminar agama-agama selama 15 tahun yang disimpulkan sebagai puncak pergulatan Balitbang PGI tentang toleransi beragama dan sebagai dasar dialog lintas agama.

Salam dan Doa

 Pdt. Tumpal H. Hutahaean.

____________________________________________________________________________________________

[1]. Stevri I. Lumintang, Theologia Abu-abu, ed., (Malang: Gandum Mas, 2004), hlm. 14

[2]. Paul F. Knitter, No Other Name (New York: Orbis Books, 1985), hlm. 37

[3]. Mengapa saya kata bahwa teologi Religionum ini merupakan “Gerakan” karena mereka sudah memiliki teologi  dan sistem hermeneutika sendiri. Di Indonesia mereka memakai kendaraan “Tim Balitbang PGI” secara intitusi dan para pimpinan Gereja melalui seminar-seminar yang mereka adakan. Dan tidak berhenti disitu saja mereka juga giat menyajikan buku-buku yang mendukung seluruh pemikiran mereka. Adapun beberapa buku yang sangat mendukung adanya gerakan ini adalah: 

a. Tim Balitbang PGI, Meretas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia – Theologia Religionum (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003). Tokoh yang perlu kita perhatikan berkaitan dengan pemikiran teologi religionum adalah Martin Sinaga dan Th. Sumartana, dll.

b. Soetarman SP, Weinata Sairin, Ioanes Rakhmat, Fundamentalis, Agama-agama & Teknologi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993).

c. Victor I, Tanja, Spritualitas, Pluralisme & Pembangunan di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993).

d. World Council of Churches, trans. Eka Darmaputera, Iman sesamaku & imanku (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994). Buku ini dipakai untuk memperkaya penghayatan teologi kita melalui  “Dialog antar Agama“.

e. Leslie Newbigin, Injil Dalam Masyrakat Majemuk (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1999). Pemikiran dia sangat jelas “Pluralism-Inklusif“ dalam bab 13 & 14.

f. A.A. Yewangoe, Agama-agama & Kerukunan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001). Penulis sekarang menjabat sebagai ketua PGI dan pemikiran beliau sangat dipengaruhi oleh pemikiran Paul F. Knitter.

g. Paul F. Knitter, Satu Bumi Banyak Agama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), dengan kata pengantar: HansKung

h. Olaf H. Schumann, Menghadapi Tantangan, Memperjuangkan Kerukunan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004), dengan pengantar: Prof. DR. Komaruddin Hidayat (Salah satu pemikir Islam yang modern).

i. Asnath N. Natar, Cahyana E. Purnama, Karmito, Teologi Operatif (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004).

j. John Hick, ed, The Myth of God Incarnate (London: SCM Press, 1977) & John Hick, The Metaphor of God Incarnate: Christology in a Pluralistic Age (Louisville: Wesminster Press, 1993).

k. Dll.

[4] Barclay M. Newman, A Consice Greek-English Dictionary of the New Testament (Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, …), hlm.100.

[5]. D.F. Wright, “Theology,” New Dictionary of Theology, ed. by Sinclair B. Ferguson (Leicester: Inter-Varsity Press, 1994), hlm. 681

[6]. Theology yang benar dibangun dengan prinsip “The Christology from Above” yaitu teologi yang dibangun dari atas ke bawah. Berteologi dengan cara ini sangat mementingkan teks dibandingkan dengan konteks dan bersifat ontological.

[7]. Th. Sumartana, “Theologi Religionum,” dalam Merentas Jalan Teologi Agama-agama di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), hlm. 23

[8]. Richard S. Hess, Pluralisme agama di Israel Kuno “Satu Allah Satu Tuhan” (Jakarta: BPK Gunung Mulai, 1997), hlm. 32.

[9].  Pantheon Greko Romawi artinya pemujaan yang bebas terhadap banyak dewa.

[10]. Tim Dowley (ed), The History of Christianity (Oxford: A Lion Book, 1977), hlm. 21.

[11]. N.T. Wright, Universalism “New Dictionary of Theology”, Sinclair B. Ferguson (ed) , hlm. 702

[12].  J.B. Webster, Friedrich Schleiermacher “ New Dictionary of Theology“, hlm. 619.

[13].  Tony Lane, Runtut Pijar (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996), hlm 275.

[14].  Karl Rahner, Christianity and The Non Christian Religions, hlm 63.

[15]. Paul F. Knitter, No Other Name? (London: SCM 1985), hlm. 120.

[16]. Emanuel Gerrit Singgih, Iman dan Politik dalam Era Reformasi di Inonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), hlm. 25

[17]. Hans Kung, Christianity and The World Religions (Garden City, New York: Dobleday, 1986).

[18]. Hans Kung , Theology of Third Millenium (Garden City, New York: Doubleday, 1987)

[19]. ibid, hlm. 227-256.

[20]. Nietzsche juga mengkritik apa yang diajarkan Alkitab tentang etika moral. Bagi dia etika Kristen ini membuat kemandegan kemanusiaan dan ketidakbebasan manusia (lihat, bukunya Nietzsche, Ecce Homo: Lihatlah Dia, terj., (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998).

[21]. Istilah kata “Relative” ini timbul jika ada sesuatu yang dapat “dihubungkan dan diperbandingkan“ antara satu dengan yang lainnya. Relativisme percaya tidak ada kemutlakan dan keunikan dalam satu kebenaran. Jadi bagi mereka kebenaran itu sifatnya relatif. Kebenaran dapat disebut kebenaran karena tergantung “kebudayaan“, “lingkungan“ dan “orang-orang dalam yang mengiterprestasikan“. Jadi maksudnya sesuatu kebenaran atau ajaran belum tentu benar jika masuk dalam kebudayaan, lingkungan yang sesudah berubah. Iman Kristen sangat menolak pandangan ini.

[22]. Raimundo Panikkar, Dialog Intra Religius (Yogyakarta: Kanisius, 1992)

[23]. Raimundo Panikkar, The unknown Christ of Hinduism, Asia Trading Corporation (Bangelore, 1992)

[24].  Victor I. Tanja, Spritualitas, Pluralitas dan Pembangunan di Indonesia,…hlm. 123-124.

[25]. Roger Hedlund, “Document Seventeen, Section II of the Uppasala Report”, Roots of the Great Debate in Mission (Bangalore: Theological Book Trust, 1997), hlm. 243. 

[26]. Ioanes Rakhmat, Pluralitas Agama, Dialog dan Perspektif, ….hlm. 70. dan juga, Olaf Schumann, Dialog antar Umat Beragama, Di manakah kita berada kini? (Jakarta: LPS-DGI, 1980), hlm. 57.

[27]. Bong Rin Ro, “Salvation In Asia Contexts,” Salvation, Some Asian Perspective, ed by Ken Gnanakan (Bangalore: Asia Theological Association, 1992), hlm. 20.

Ken Gnanakan di dalam bukunya “Pluralist Predicament” (Banglore: Theological Trust Book, 1992). Ia melihat tiga sikap pendekatan gereja di dalam memahami agama-agama lain. Pertama, Eksklusivisme; Kedua, Inklusif-Sinkretisme; Ketiga, Pluralisme-Relativisme.

[28]. John Hick, Christianity and Other Religions (Philadelphia: Fortress, 1980), hlm. 171.

[29]. John Hick, Philosophy of Religion (Englewood Cliffs: Prentice Hall, 1985), hlm. 35.

[30]. John Hick, The Metaphore of God Incarnat: Christology in Pluralistic Age (Philadelphia: Westminster/John Knox, 1993), hlm. 163.

[31]. Choan Seng Song, The Compassionate God, ….. hlm. 57.

[32]. Choan Seng Song, Jesus and the Reign of God (Minneapolis: Fortress Press, 1993), hlm. 31.

[33].  Choan Seng Song, The Compassionate God, ….. hlm. 16.

[34].  Ibid., hlm. 25.

[35]. Surat Gembala “Majelis Sinode Am Gereja Protestan di Indonesia”, yang bersidang di Jemaat GPIB Paulus dari tgl 30 Juli sampai 2 Agustus 2005, sungguh menggumuli dan membahas tentang berbagai persoalan yang menjadi kelemahan serta tantangan Gereja dalam pelayanannya ke masa depan….Persoalan yang krusial adalah menyangkut kinerja dan partisipasi Gereja Prostestan di Indonesia di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia dalam krisis multidimensional.

Problem of Evil menurut Kitab Ayub

oleh Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M. Th.

Pendahuluan

Zaman ini akan semakin jahat (2 Timotius 3:1-5, bandingkan Efesus 5:16) dan terus berkembang jenis kejahatannya. Di dalam bagian ini kita mengerti bahwa kita tidak perlu kaget ketika melihat kejahatan. Alkitab sudah menyatakan tentang hal ini dari sejak lama. Dunia akan semakin jahat. 2 Timotius 3:1-5 Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! Dalam ayat ke-5 dikatakan bahwa ada orang-orang yang kelihatannya beribadah namun hatinya tidak demikian. Ada orang-orang yang bisa tampak pergi ke gereja namun tidak benar-benar bertobat. Orang yang seperti ini bisa menjadi lebih jahat daripada orang-orang non-Kristen. Kita ini sedang hidup dalam dunia yang dipenuhi dengan orang-orang berdosa yang bisa mencobai kita. Paulus mengkritik mereka yang beribadah secara lahiriah namun sudah tidak lagi memiliki hati nurani. Ada orang-orang yang tetap terlihat beribadah namun tidak lagi memiliki rasa malu dalam hal kurangnya integritas hidupnya. Mereka juga beribadah tanpa rasa takut kepada Tuhan. Ini adalah catatan yang mengerikan. Orang-orang seperti ini ada pada zaman akhir. Kita sekarang sedang berada dalam zaman itu. Kapan ini semua berakhir? Kita harus menyerahkannya kepada kedaulatan Tuhan.

 

Efesus 5:16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Kejahatan itu ada di setiap waktu di dalam dunia ini. Walaupun kita sudah ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus dan kuasa dosa sudah dihancurkan, dosa masih hadir di sekitar kita. Ketika Allah hadir, dosa itu menyingkir, namun pengaruh dan daya tarik dosa itu serta Iblis dikatakan seperti singa yang mengaum-aum (1 Petrus 5:8). Kita setuju bahwa dunia akan semakin jahat karena Tuhan menetapkan demikian, namun kita akan bersedih jika kejahatan itu juga dilakukan oleh orang-orang yang dulu kita kenal. Mereka mungkin dulu adalah orang Kristen namun tidak sungguh-sungguh di dalam hatinya. Dosa itu akan terus berkembang dan bahkan pada hari ini kejahatan terus berkembang melalui media sosial. Ada banyak hal yang tampak baik dan menyenangkan namun sebenarnya menyimpan bahaya yang sangat besar. Mengapa ini terjadi? Karena dunia dimiliki dan dikuasai oleh Setan (1 Yohanes 5:19). Kita tidak perlu kaget akan hal ini karena Setan memang memiliki otoritas untuk menguasai dunia. Apakah kejahatan yang semakin merajarela menunjukkan bahwa Allah tidak berkuasa lagi atas dunia dan umat-Nya? Pasti tidak demikian. Mengapa kejahatan dibiarkan Allah berkuasa atas kebaikan manusia? Ada orang baik yang menjadi korban kejahatan ketika berbuat kebaikan dan ada orang jahat yang dianggap baik ketika memberikan sedekah. Di dalam sejarah kita sering mendengar bahwa kejahatan itu jarang sekali diadili. Koruptor yang seharusnya dihukum secara berat tidak mendapatkan hukuman yang berat. Jika orang-orang di atas di dalam suatu bangsa sudah kotor, maka orang-orang di bawah pun akan kotor juga, begitu pula sebaliknya. Ada begitu banyak orang yang sering mempermainkan hukum untuk keuntungan dirinya atau kelompoknya.

 

Jika Allah itu baik, mengapa Allah mengizinkan adanya kejahatan terjadi pada anak-anak-Nya? Kita mungkin pernah menjadi korban kejahatan. Mungkin kita juga pernah bertanya kepada Tuhan mengapa kejahatan itu terjadi pada diri kita. Ayub tidak melihat dirinya sebagai korban dan ini adalah hal yang menarik. Itulah mengapa ia tidak bertanya dan tidak protes. Jika kita kecewa kepada Tuhan karena kita menjadi korban kejahatan, maka sebenarnya kita belum mengerti. Kita bukanlah korban tetapi kita ini anak-anak yang dikasihi Tuhan. Jika semua ini diizinkan Allah, sampai sejauh mana Allah dapat mengontrol dan menguasai kejahatan itu? anak-anak Allah diizinkan mengalami penderitaan, bahkan Ayub menderita dengan sangat, namun Allah tetap memberikan pemeliharaan yang terbesar yaitu pemeliharaan iman. Mungkinkah kejahatan dapat mengalahkan iman orang Kristen? Jemaat Smirna diperintahkan Tuhan untuk setia sampai mati (Wahyu 2:10). Tuhan mengetahui penderitaan mereka namun Tuhan memuji kekayaan iman mereka (Wahyu 2:8-9). Iman yang sejati tidak dapat dikalahkan penderitaan dan kematian. Di Tiongkok, pemerintah pernah menelanjangi orang-orang Kristen agar menyangkal Yesus. Pada akhirnya mereka tidak menyangkal Yesus namun membunuh diri sendiri. Mereka mungkin saja memohon ampun kepada Tuhan sebelum mereka menggantung diri. Ini memang merupakan situasi yang sangat sulit. Polikarpus menyerahkan dirinya untuk dibakar hidup-hidup karena percaya kepada Yesus. Ketika ia dibakar, dari mulutnya tidak muncul satupun kata-kata yang melawan atau menista Tuhan. sebaliknya, ia bernyanyi dan berdoa. Iman yang sejati akan kuat menghadapi seluruh kejahatan manusia. Contoh yang terbesar adalah ketika Yesus dipaku di atas kayu salib. Iman kita diuji melalui kesulitan. Jadi di dalam kesulitan itulah kita akan mengetahui seberapa kuat iman kita.

 

Ada orang yang berstatus Kristen, namun setelah mendapatkan penderitaan karena perbuatan jahat seseorang, imannya menjadi mundur dan hidupnya menjadi rusak. Apakah hal ini juga terjadi dengan izin Tuhan? Mungkin kita pernah melihat orang-orang seperti ini di sekitar kita. Tuhan selalu memberikan ujian iman bagi anak-anak-Nya agar naik kelas secara iman. Tidak semuanya bisa naik kelas iman dengan cepat. Pencobaan dari Setan adalah untuk menghasilkan kegagalan iman dan kegagalan hidup. Jadi ketika Tuhan menguji Ayub, maka Ia juga akan memberikan topangan iman. Orang yang tidak beriman pasti akan jatuh ketika dicobai Setan dan mungkin sebelum itu ia sudah mencobai dirinya sendiri. Kita harus menginjili ulang orang-orang seperti ini. Tuhan tidak memberikan program kehancuran iman bagi anak-anak-Nya. Ada orang yang baru bertobat karena penyakit yang dideritanya. Di sini kita bisa mengucap syukur. Namun bisakah kita mengucap syukur jika orang tua kita menjadi sakit karena kesalahan orang lain, namun penyakit itu membuat mereka bertobat? Kita mengucap syukur bukan dengan kasih yang murahan. Kita bersyukur kepada Tuhan dan bukan kepada manusia. Kita boleh mengadili orang yang bersalah secara hukum namun kita harus mengampuni orang itu. Kita tidak perlu membawa dendam karena Tuhan bisa membawa orang yang kita sayangi menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Ini memang tidak mudah, namun kita tidak boleh menggunakan emosi yang tidak suci dalam menghadapi kejahatan. Ketika kita berdosa, kita bisa tidak mendapatkan berkat Tuhan. Kita akan membahas tentang masalah kejahatan dari sudut pandang kitab Ayub. Mengapa dari sudut pandang kitab Ayub? Karena masalah kejahatan itu luas dan kita mau lebih fokus melalui pembahasan kitab Ayub.

 

Pembahasan

Apa itu Kejahatan?

Kejahatan adalah buah dari dosa (Galatia 5:19-21, bandingkan 1 Korintus 3:3, Efesus 5:3, Kolose 3:5, Yakobus 3:14-15, Matius 15:18-20, dan 1 Korintus 11:19, 6:9). Jadi kejahatan itu tidak berdiri sendiri. Kejahatan adalah ekspresi orang berdosa. Dalam Galatia 5:19-21 ada perbandingan antara buah Roh dan buah dosa. Apakah orang Kristen yang sudah ditebus masih bisa mengekspresikan buah dosa yang kekal atau tidak terlepas dari dirinya? Orang Syeba dan orang Kasdim adalah kompetitor Ayub. Ayub adalah seorang yang sangat kaya (Ayub 1:3). Para pesaing Ayub mengetahui kekayaan dan kesalehan Ayub, namun mereka menyerang Ayub dan senang karena hal itu. pasal 1 dan 2 kitab Ayub menceritakan tentang diri Ayub dan bagaimana ia menderita. Pasal 3 sampai 31 menceritakan tentang perdebatan Ayub dengan teman-temannya. Pasal 32 sampai 37 memuat pembicaraan Elihu tentang kesabaran dan mengerti kehendak Tuhan. pasal 38 sampai 41 memuat jawaban Tuhan kepada Ayub. Pada pasal ke-42 Ayub bertobat dan dipulihkan. Di dalam perdebatan itu ada yang berdosa yaitu Ayub sendiri. Ia merasa lebih benar daripada Tuhan dan ia bersalah di dalam perdebatan itu. Elifas, Bildad, dan Zofar juga bersalah dan mereka bertobat setelah ditegur oleh Tuhan. Jadi orang Kristen tidak bisa lagi terikat dengan buah dosa. Ini karena ada kuasa Kristus di dalam diri kita. Yohanes 1:12 menyatakan bahwa kita diberi kuasa sebagai anak-anak Allah. Kita memiliki kuasa sebagai terang dan garam serta kita memiliki kuasa untuk berjalan dalam kebenaran, kesucian, dan terang Tuhan. Kuasa Kristus itu lebih besar dari kuasa manapun. Tidak ada satu kuasapun yang bisa merebut kita dari tangan Yesus. Ini berarti kita penting di mata Tuhan dan kita pasti mendapatkan pemeliharaan-Nya.

 

Kejahatan adalah kehendak manusia yang tidak singkron dengan kehendak Allah. Sebagai contoh: bersikap yang tidak baik (Kejadian 4:7, bandingkan Pengkhotbah 8:12, Yesaya 3:10-11, Roma 2:6-11, 3:16). Standar kebaikan manusia adalah baik secara normatif, namun ada standar yang kedua yaitu baik menurut Tuhan. Mereka yang baik sampai mencapai standar Tuhan adalah orang benar. Karakter yang saleh itu memuat kebaikan dalam standar Tuhan dan kebenaran di dalam Tuhan. Apakah Ayub bisa disebut memiliki karakter yang saleh? Bisa. Ia jujur, takut akan Tuhan, dan saleh (Ayub 1:1). Ia jujur dan ia rajin mempersembahkan korban karena ia takut anak-anaknya telah berbuat dosa. Ia tidak mendidik anak-anaknya secara benar dan ia terlalu memanjakan anak-anaknya. Saleh berarti terus menjalankan sikap ibadah di dalam kesehariannya. Tuhan sendiri menyatakan bahwa Ayub adalah orang saleh (Ayub 1:8). Pengakuan Tuhan tidak mungkin salah. Orang yang paling sering menilai kita secara terbuka dan jujur adalah pasangan dan sahabat kita. Di antara semua teman Ayub, Elihu-lah yang menilai secara jujur. Ia menilai dari kacamata Tuhan. Kita harus mencapai standar baik dan benar dari kacamata Tuhan. Contoh berikutnya adalah berpikir yang najis, cabul, zinah, dan lainnya (Markus 7:21, bandingkan Roma 3:11, 2 Petrus 2:15, 2 Korintus 3:14). Markus 7:21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, pikirannya selalu memikirkan hal-hal yang jahat. Maka dari itu dikatakan bahwa tidak ada yang berakal budi (Roma 3:11). Contoh lainnya adalah berbuat kebohongan, dusta, dan lainnya (Roma 3:12-18, bandingkan Mazmur 109:2, Yohanes 8:44).

 

Dari mana Sumber Kejahatan itu?

            Dari mulanya Allah tidak menghendaki adanya dosa atau kejahatan (Kejadian 2:16-17, bandingkan Yakobus 1:17-18). Kita juga tidak bisa terlalu cepat menyalahkan Setan ketika melihat ada kejahatan yang terjadi. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan dengan akal budi manusia dapat mengerti kebenaran Allah dan mengakui anugerah Allah. Di dalam ibadah kita mengasihi Allah dengan segenap hati dan segenap akal budi. Dengan pikiran kita, kita mengakui Tuhan sebagai Penguasa kita dan mengakui bahwa diri kita ini rendah dan terbatas. Jadi di dalam ibadah, akal budi yang tidak terlepas dari pengakuan harus selalu ada. Ajaran yang mengatakan bahwa kita harus mengosongkan pikiran dan harus melepaskan akal budi kita dalam ibadah adalah ajaran yang salah. Alkitab menyatakan bahwa kita harus menyembah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23). Kita harus mengasihi Tuhan juga dengan akal budi kita. Akal budi mula-mula diciptakan untuk mengerti kebenaran dan menyembah Tuhan. Di dalam akal budi ada pengakuan. Jadi mereka yang beribadah tanpa pikiran itu salah, namun mereka yang beribadah hanya dengan pikiran dan tanpa emosi itu juga bersalah. Jika terlalu banyak memakai emosi maka akan cenderung mistis, namun jika terlalu banyak memakai pikiran maka akan cenderung kaku. Kita memiliki pikiran dan emosi dan keduanya harus dipakai dalam penyembahan kepada Tuhan. Seluruh kekuatan kita dipakai untuk memuliakan Tuhan. Tuhan menghendaki totalitas. Setelah kejatuhan dalam dosa, semua dosa dimulai dari berpikir. Maka berpikir menjadi titik kelemahan sekaligus titik kekuatan manusia. Setan menggoda Hawa dengan mengubah pikirannya. Salah satu anugerah Allah untuk manusia adalah kebebasan. Mengapa Allah memberikan kebebasan kepada manusia? Yaitu supaya manusia dapat berespons terhadap cinta kasih Allah dan menyatakan ketaatannya kepada Allah dengan rela. Manusia diberikan kebebasan yang terbatas dan di dalam kebebasan itu seharusnya manusia menyatakan ketaatannya kepada Allah dengan rela. Dalam kebebasan kehendak manusia inilah, akhirnya manusia jatuh dalam dosa (Kejadian 3) dan Setan-lah sebagai sumber masalahnya (bandingkan Yakobus 1:13-14). Di sini kita tidak diajarkan untuk cepat-cepat menyalahkan Setan untuk segala kejahatan yang terjadi. Ada gereja yang percaya bahwa semua kejahatan bersumber dari Setan dan ini adalah ajaran yang tidak benar.

 

  1. Mengapa Manusia Bisa menjadi Semakin Jahat?

            Agustinus adalah teolog dan filsuf Kristen pertama yang membahas masalah kejahatan. Ia menulis buku The City of God dan di sana ia membahas tentang problem of evil. Sebelumnya dari kacamata filsafat ada yang pernah membahas tema ini yaitu Epikuros. Pembahasannya dikembangkan oleh banyak orang dan melalui perkembangan yang ada, banyak orang menjadi ateis. Ini karena mereka hanya melihat dari sisi filsafat. Mereka menyebutkan beberapa kemungkinan, misalnya yang pertama Allah mau menghapus kejahatan manusia di dunia ini, tetapi Allah tidak mampu. Di sini Allah dianggap tidak maha kuasa. Kedua, Allah mampu menghapus kejahatan manusia tetapi Allah tidak mau. Jadi di sini Allah dianggap kejam. Allah dianggap sudah pergi jauh dan tidak peduli lagi dengan manusia. Ketiga, Allah tidak mau menghapus kejahatan manusia karena Allah tidak mampu. Keempat, Allah mau menghapus kejahatan manusia dan Allah mampu. Di dalam kemungkinan ini, mereka tidak melihat hasilnya di dalam realitas. Immanuel Kant menyatakan bahwa kejahatan hanya bersifat eksistensialis. Kejahatan itu nyata dan berakibat pada setiap manusia. Maka dari itu menurutnya kita juga harus menghadapi kejahatan secara eksistensialis. Ini berarti kita tidak boleh dipengaruhi kejahatan dan tidak boleh berbuat kejahatan. Namun kejahatan itu sungguh kuat dan jikalau kita bersikap pasif maka kita pasti akan dihancurkan kejahatan itu. jadi bagi John Hick, agama harus memiliki kekuatan untuk mengalahkan kejahatan dan kita tidak bisa bersikap pasif. Jadi baginya kita harus menyuarakan disiplin dan penegakkan hukum terhadap kejahatan. Di dalam pandangan ini gereja bisa berkecimpung dalam politik praktis untuk memengaruhi penegakkan hukum dalam negara.

           

            Agustinus menyatakan bahwa kejahatan adalah keindahan. Dari kejahatan kita melihat warna kehidupan dan keindahannya. Kejahatan yang parah di luar sana membuat diri kita terlihat lebih indah daripada yang kita pikirkan. Agustinus menjelaskan bahwa di dalam satu lukisan, warna yang gelap itu diperlukan untuk memunculkan warna-warna terang. Lukisan yang semuanya berwarna putih pasti tidak indah. Lukisan hidup kita akan lebih indah ketika ada beragam warna. Jadi kita tidak perlu marah terhadap kejahatan. Kita tidak berdoa agar kejahatan itu hilang. Di dalam doa Bapa kami, kita berdoa ‘lepaskanlah kami dari pada yang jahat’ (Matius 6:13). Kita tidak meminta agar Tuhan mencabut kejahatan dari dunia ini. Inilah ayat yang dikutip Agustinus. Tugas kita, menurut Agustinus, adalah bukan sekadar meredam kejahatan tetapi mematikan kejahatan dengan perbuatan baik dan kasih. Agustinus mengutip ayat-ayat pengampunan untuk mendukung ajaran ini. Jadi kita melihat ada 3 pendekatan yaitu pendekatan Kant yang pasif, Hick yang aktif dalam politik, dan Agustinus yang aktif melalui perbuatan baik dan kasih. Dari kacamata Alkitab, Allah membiarkan adanya kejahatan sebagai pembeda dari karakter anak-anak Tuhan (Wahyu 22:11). Ini diambil dari konsep Agustinus. Kejahatan itu menunjukkan karakter kita yang berbeda. Jati diri kita menjadi lebih tampak karena kejahatan. Namun kejahatan yang dibungkus kebaikan itu membuat kita kesulitan. Di dalam hal itu karakter kita harus menonjol. Kebahagian orang Kristen yang sejati yaitu teruji kualitas imannya (Matius 5:11) melalui adanya penderitaan dan kejahatan. Matius 5:11 menyatakan bahwa kita yang dianiaya harus tetap berbahagia. Kejahatan juga menandakan akhir zaman akan tiba (2 Timotius 3:1-9). Ini merupakan pemikiran Agustinus.

 

Problem Kejahatan dari Sudut Pandang Kitab Ayub.

            Apakah Ayub korban kejahatan (Ayub 1:13-15) atau korban hukum alam yang normal (Ayub 1:16-19)? Orang Syeba dan Kasdim yang membenci Ayub menyerang bersama-sama dan menghabiskan banyak harta Ayub. Apakah Ayub merupakan korban kejahatan? Dari sudut pandang sosiologi, ia merupakan korban kejahatan, namun dari kacamata teologi, Ayub bukanlah korban. Allah sendiri yang mengizinkan penderitaan Ayub (Ayub 1:12) untuk pertumbuhan imannya. Ayub sudah menjadi milik Tuhan sehingga tidak ada yang bisa membuat Ayub menjadi korban. Semua peristiwa itu ada di dalam kendali Tuhan. Tuhan mengizinkan Setan memberikan penyakit pada tubuhnya namun Tuhan menjaga jiwanya (Ayub 2:6). Dikatakan bahwa Ayub juga mendapatkan bencana alam yaitu api dan angin (Ayub 1:16, 19) namun ia bukanlah korban dari alam. Iblis yang melakukan hal ini namun di dalam izin Tuhan. kacamata yang salah itu dimulai dari Setan. Kita mengingat bahwa Iblis ingin Yesus menyembahnya (Matius 4:9). Mengapa Allah mengizinkan Iblis mencobai Ayub melalui kejahatan dan penderitaan? Jawabannya ada di dalam Ayub 42. Mengapa Allah yang suci memakai kejahatan dan penderitaan dalam menguji iman Ayub? Allah memakai kejahatan dan penderitaan yang dimunculkan oleh Iblis. Jadi problemnya apa? Ada yang berpikir bahwa Allah itu kejam dalam menghukum Ayub dan anak-anaknya. Ada yang melihat bahwa Allah kejam di dalam bagian ini dan kita bisa melihat bahwa Ayub merasakan kesedihan yang bertubi-tubi. Dia kehilangan semua yang dimiliknya dan tubuhnya menderita sakit penyakit. Istrinya pun tidak mendukungnya. Dapatkah Allah mencegah usulan Iblis untuk Ayub? Allah bisa mencegah, namun mengapa Ia tidak mencegah? 1 Korintus 10:13 menyatakan bahwa Allah akan memberikan solusi bagi setiap pencobaan yang umat-Nya alami. Allah itu maha tahu dan Ia tahu bagaimana Ayub dan teman-temannya akan menanggapi pergumulan ini. Tuhan bisa saja mencegah Iblis, namun seandainya Ia mencegah Iblis, apa yang kira-kira akan dikatakan Iblis? Iblis sebelumnya berkata bahwa Ayub itu takut akan Tuhan karena telah diberikan harta yang begitu banyak (Ayub 1:9). Setelah Iblis menjamahnya, Allah kelihatan berdiam namun sebenarnya Ia aktif menjaga jiwa Ayub. Ketika Yesus ditangkap dan dipermalukan Ia berdiam. Mengapa Allah berdiam diri dan membiarkan kejahatan itu terjadi? Karena ada misi. Di balik Tuhan yang berdiam ada kekuatan penguasaan diri. Ketika Allah tampak berdiam dalam pergumulan Ayub, sebenarnya Allah tidak berdiam. Allah tetap terus menopang dan terus mengontrol.

 

Apakah layak jika Ayub yang hidupnya takut Allah, jujur, dan saleh mendapatkan kejahatan dan penderitaan seperti itu? Layak. Kita semua adalah orang-orang yang berdosa yang layak dihukum. Kita tidak bisa mengatakan bahwa penderitaan seseorang itu selalu disebabkan oleh dosanya secara pribadi. Tuhan selalu memiliki program untuk anak-anak-Nya. Apakah tindakan Allah ini tidak berlebihan? Menurut kita mungkin berlebihan, namun tidak demikian bagi Tuhan. di saat itu Tuhan sedang menunjukkan kualitas iman Ayub yang benar dalam menghadapi segala upaya dan cara Setan. Benarkah Allah mengasihi Ayub? Benar. Dapatkan iman Ayub diuji tanpa melalui penderitaan karena Allah sangat mengasihi Ayub? Kita yang mengasihi anak dan cucu kita pasti tidak mau mereka mengalami penderitaan. Ini adalah pemikiran manusia secara umum. Jika dimasukkan ke dalam teologi, maka teologi itu menjadi teologi yang antroposentris. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan memakai penderitaan untuk menguji dan menguatkan iman kita. Kita sebagai orang tua tidak boleh terlalu cepat menolong anak yang sedang menderita agar mereka tidak menjadi manja. Di dalam kasih Allah ada ujian iman. Di dalam penderitaan yang Tuhan izinkan itu ada nilai kemuliaan. Bagaimana jika Ayub gagal dalam melewati penderitaan ini atau akibat penderitaan ini berdampak negatif terus menerus untuk Ayub, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya? Ia memiliki banyak pegawai dan saudara sehingga ketika ia mengalami penderitaan ini, banyak orang merasakan dampaknya. Seandainya jika Ayub gagal melewati penderitaan ini, apa yang kira-kira Tuhan akan lakukan? Kierkegaard pernah berbicara mengenai lompatan iman (leap of faith), namun ini konsep yang terlalu eksistensialis. Tuhan memakai proses untuk membentuk iman, jadi kita harus menghargai proses. Di dalam proses, Tuhan tidak membuat kita secara tiba-tiba memiliki iman yang luar biasa. Paulus berpesan agar orang yang baru bertobat tidak boleh langsung dipercayakan jabatan dalam gereja (1 Timotius 3:6). Tuhan tidak mungkin membiarkan Ayub gagal karena Ia adalah Tuhan dalam proses itu. Ibrani 13:5b Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Tuhan menjadi Tuan di dalam proses pergumulan kita ketika kita terus menuhankan Tuhan di dalam proses itu. Iman dan mental kita harus terus dilatih dan diuji agar kuat.

 

Jika Ayub terus gagal sampai kematiannya, apakah ia bisa tetap masuk surga? Tuhanlah yang menjaga hidup Ayub dan menjaga keselamatan Ayub. Dapatkah Ayub hidup bahagia tanpa ada penderitaan? Tidak bisa. Kita menyadari bahwa kita adalah orang-orang yang lemah dan kita bisa berdoa sesuai doa Bapa kami, namun ketika penderitaan itu datang kita harus siap. Tidak ada orang yang berbahagia di dalam Tuhan jika tidak mengalami penderitaan. Matius 5:11 menyebutkan tentang kebahagiaan karena penganiayaan. Jika Allah maha kuasa, mengapa Allah mengizinkan kejahatan dan penderitaan untuk membuat Ayub dan keluarganya lebih baik lagi? Allah bisa saja membuat 10 anaknya bertobat namun Tuhan tidak melakukan itu. Mengapa Allah membiarkankan orang-orang jahat itu (Syeba, Kasdim, dan lainnya) berbahagia di balik penderitaan Ayub? Dunia ini dikuasai oleh Setan, jadi jiwa orang-orang yang belum bertobat itu dimiliki Setan. Mereka masih bisa mati di dalam dosa. Tuhan tidak bersalah dalam hal ini karena Setan-lah yang mengambil. Orang yang berbuat jahat tidak tahu bahwa yang diperbuatnya adalah jahat di dalam hati nuraninya. Ia hanya tahu tentang kejahatan di dalam pikirannya. Orang yang belum tersentuh hati nuraninya akan terus berbuat jahat. Mereka berbahagia karena penderitaan Ayub karena mereka adalah orang jahat. Bisakah Allah tidak memakai kejahatan manusia atau penderitaan untuk membuat hidup kita lebih baik lagi atau lebih berbahagia atau tanpa perlu ada yang dikorbankan? Bisa, namun dari surat Petrus dan surat kepada Timotius kita harus mengucap syukur bila pernah menjadi korban kejahatan. Penderitaan itu melatih iman kita. Roma 8:28 menyatakan bahwa Allah selalu bekerja dan mendatangkan kebaikan. 1 Korintus 10:13 menyatakan bahwa kita akan selalu dipimpin oleh Tuhan dalam melalui pencobaan. Mazmur 22 menyatakan tentang penderitaan Daud yang sudah hidup begitu saleh di hadapan Tuhan. Mazmur 37 mengajarkan tentang sikap yang harus kita bawa ketika menghadapi penderitaan. Ayat 1-2: Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Tugas kita adalah menjadi berkat bagi orang lain dan membuktikan bahwa kita ini benar di mata Tuhan.

 

Penutup

Ayub 42:1-17. Penderitaan itu melatih kita agar semakin mengenal Tuhan. Di dalam setiap pergumulan kita, kita harus mencoba untuk mengenal Tuhan terlebih dahulu dan bukan mengenal masalah itu. Kita harus mengenal Tuhan yang mengizinkan masalah itu terjadi terlebih dahulu, setelah itu baru kita mengenal masalah itu. Ini agar kita menjadi penyelesai masalah dari kacamata Tuhan. Kita harus bergumul dulu dengan Tuhan. Jika kita langsung berpikir tentang masalah itu, maka pendekatan kita ini bersifat antroposentris. Elihu menasihati Ayub agar ia bergumul dengan Tuhan dan berfokus pada Tuhan terlebih dahulu. Ayub 42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Inilah kunci sebelum Ayub merasakan pemulihan. Pada akhirnya Ayub mendapatkan 10 anak lagi tetapi tetap bersama dengan istri yang sama. Matius 5:11 mengingatkan kita bahwa penganiayaan itu mendatangkan kebahagiaan untuk kita. Roma 12:21 mengingatkan bahwa kitalah yang akan mengalahkan kejahatan dengan kebaikan dan cinta kasih. Ini ayat yang dikutip Agustinus. Keaktifan kita bukanlah keaktifan yang frontal dalam menghadapi kejahatan tetapi keaktifan yang anggun dalam sikap rohani.

 

(Ringkasan khotbah ini belum dikoreksi oleh pengkhotbah – LS)

 

Baptisan Roh Kudus dan Bahasa Roh

oleh Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th

PENDAHULUAN

Kita akan membahas tentang baptisan Roh Kudus dan bahasa Roh. Perdebatan tentang doktrin ini sudah muncul dari tahun 1972 dimana saat itu ada holiness movement dari Metodis yang berkumpul dan berdoa serta diiringi bahasa Roh. Mereka menyebut itu sebagai second blessing. Sejak saat itu sampai sekarang, perdebatan tentang topik ini selalu terjadi. Inilah yang menyebabkan perdebatan dalam doktrin Roh Kudus (Pneumatologi) yaitu baptisan Roh Kudus, kepenuhan Roh Kudus, dan bahasa Roh. Kita akan membahas beberapa doktrin Roh Kudus: siapakah Roh Kudus? apakah peran Roh Kudus? Apa arti baptisan Roh Kudus? Bagaimana dengan karya Roh Kudus dalam keselamatan seseorang? Apa itu bahasa Roh?

MENGENAL ROH KUDUS

Roh Kudus memiliki atribut, yaitu Ia adalah Roh Kudus itu sendiri. Ia adalah Roh Kebenaran dan Ia juga adalah Roh Penolong. Roh Kudus memimpin kita masuk ke dalam kekudusan. Status kita diubahkan dari berdosa menjadi benar karena pekerjaan Allah Roh Kudus saat kita lahir baru. Ia adalah Roh Kebenaran yang memimpin kita untuk senantiasa mengerti kebenaran dan berjalan dalam kebenaran untuk pertumbuhan iman kita. Ia juga adalah Roh Penolong yang menolong kita dalam berdoa. Ia menyanggupkan kita mengerti kehendak Tuhan dan melayani Tuhan. Roh Kudus memimpin kita untuk hidup suci demi Allah. Teologi Reformed melihat konsistensi dari pekerjaan Roh Kudus dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Dalam 1 Samuel 16:14 dikatakan bahwa Roh Tuhan mundur dari Saul. Apakah Saul mengenal Allah? Apakah ia sungguh hidup menurut Firman di dalam kesucian di hadapan Allah? Roh Kudus memimpin kita ke dalam kekudusan, kebenaran, dan menolong kita dalam hidup kita sebagai anak Tuhan. Ketika dikatakan bahwa Roh Tuhan mundur dari Saul, apakah itu berarti Saul dipilih Tuhan menjadi raja Israel atau Saul dipilih rakyat untuk menjadi raja? Rakyat yang memilih dia menjadi raja. Jadi dia bukanlah raja pilihan Tuhan. Raja pilihan Tuhan adalah Daud. Bagaimana kita tahu bahwa Saul bukanlah pilihan Tuhan? Saat pujian diutarakan bagi Daud, dikatakan bahwa Daud mengalahkan berlaksa-laksa sedangkan Saul hanya mengalahkan beribu-ribu. Apakah ia tersinggung, marah, dan dendam? Saul merasa sakit hati dan marah. Saul mengekspresikan kemarahan yang tidak suci. Ia memiliki kehausan menjadi penguasa yang haus akan pujian. Sejak ia dipenuhi dengan emosi yang tidak suci, ia berencana untuk membunuh Daud. Roh Kudus memimpin kita untuk hidup suci dan hidup dalam kebenaran, bukan untuk melayani diri. Saul dipenuhi dengan kemarahan, bahkan sampai mendekati kematiannya pun ia menjalin relasi dengan roh jahat. Ia meminta agar roh Samuel dipanggil (1 Samuel 28:11). Ia berelasi dengan roh tenung. Kitab Ulangan menyatakan bahwa hal ini dibenci oleh Tuhan. Saul mati dalam penderitaan dan bukan pertobatan.

Ada kelompok yang menyatakan bahwa Roh Kudus dalam Perjanjian Lama bisa datang dan pergi dari diri seseorang. Namun kita harus berhati-hati pada ajaran ini. Yehezkiel 36:26-27 Tuhan mengkonfirmasi bahwa Roh Kudus akan bekerja menetap dalam hati kita. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. Alkitab di dalam teologi perjanjian yang disampaikan lewat Yehezkiel itu menyatakan bahwa Roh Kudus akan dikirimkan ke dalam hati kita secara permanen. Roh Kudus tidak keluar-masuk. Bagaimana dengan Ibrani 6:1-2 Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah. yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. Dalam ayat ini dinyatakan bahwa kita tidak perlu lagi memperdebatkan masalah pembaptisan karena baptisan tidak menyelamatkan. Iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus itu yang menyelamatkan kita yang berdosa. Juga dikatakan bahwa kita tidak perlu lagi berdebat dalam hal penumpangan tangan. Ada ajaran yang menyatakan bahwa kita bisa mendoakan apa yang kita lihat lalu Tuhan akan memberikan itu kepada kita. Jadi di dalam ajaran itu iman adalah karena melihat. Tetapi Alkitab menyatakan bahwa iman itu bukan karena melihat (Ibrani 11:1). Lalu juga dikatakan mengenai kebangkitan orang mati.

Ibrani 6:3-4 Dan itulah yang akan kita perbuat, jika Allah mengizinkannya. Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus. Hati itu diterangi oleh Roh Kudus. Tugas Roh Kudus adalah menginsafkan dunia akan dosa. Roh Kudus bisa menyentuh hati manusia dan menyadarkannya. Dituliskan juga: yang pernah mengecap karunia surgawi. Apakah ini yang disebut sebagai 9 manifestasi Roh dari 1 Korintus 12? Dituliskan juga: dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus. Orang ini mungkin saja sudah melayani namun belum benar-benar bertobat. Ayat 5 dan 6: dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum. Istilah ‘murtad lagi’ tidak ada dalam bahasa Yunani. Jadi sebenarnya orang ini memang murtad. Ayat 9 Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. Kekristenan itu berdasarkan iman yang menyelamatkan. Ada yang mendasari dengan iman yang dibangun di atas dasar perasaan. Orang yang seperti ini hanya merasa beriman. Ada juga yang mendasari dengan iman yang sifatnya hanya rasio. Orang yang seperti ini bisa lahir dari keluarga Kristen dan merasa dirinya sudah cocok menjadi orang Kristen namun tidak benar-benar menganut iman yang sejati. Pada saat kesulitan itu datang, imannya bisa hancur. Imannya tidak mengandung keselamatan. Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Roh Kudus tetap konsisten dalam cara bekerja-Nya karena Allah tidak pernah berubah. Kita sebagai manusialah yang sering berubah. Allah tidak pernah berubah, juga perubahan itu sendiri.

Roh Kudus adalah Allah. Roh Kudus merupakan pribadi ketiga dari Allah Tritunggal (Bapa, Putra, Roh Kudus Yohanes 16:13). Roh Kudus mempunyai kuasa yang sama dengan Bapa dan Anak. Baik di dalam penciptaan (Kejadian 1:1-2), kemahatahuan (1 Korintus 2:10-11), dan kemahahadiran (Mazmur 139:7), kemahakuasaan (Lukas 1:35), dan kekekalan (Ibrani 9:14). Namun di dalam pelaksanaan tugas-Nya, Ia tunduk kepada Kristus, sama seperti Kristus tunduk kepada Bapa (Yohanes 16:13-15). Roh Kudus juga ikut berbagian dalam penciptaan. Maka dari itu dikatakan ‘Baiklah Kita…’ (Kejadian 1:26). Ada istilah jamak di sini. Kata baptis itu dalam bahasa aslinya berasal dari kata baptizo. Di dalam 1 Korintus 12:13 dipakai kata ebaptisthemen. Kata ini merupakan kata kerja, aorist indicative passive, orang pertama jamak. Ini berarti kita ini pasif dan dibaptis oleh Allah Tritunggal. Kata ini berarti kita dibaptis sekali untuk selama-lamanya. Jadi orang yang sudah dibaptis oleh Roh Kudus tidak boleh lagi meminta dan mempermainkan baptisan itu. jadi Roh Kudus juga tidak keluar-masuk. Roh Kudus bekerja tanpa bergantung pada kita. Ia tidak datang-pergi sesuai kondisi kerohanian kita.

Apa peran atau tugas Roh Kudus?

Pertama, Roh Kudus mewahyukan Firman Tuhan (2 Petrus 1:21).

Kedua, melahirbarukan dan mengubah orang berdosa (Yohanes 3:8; Titus 3:5b). Kelahiran baru itu datang dari atas ke bawah. Kita sudah dipersatukan dengan Roh Kudus seperti dalam kata ebaptisthemen. Roh Kudus mengubah manusia sehingga membenci dosa. Mereka yang sudah mengalami kelahiran baru dan dipenuhi Roh Kudus akan membenci dosa. Orang itu tidak mengalami dualisme.

Ketiga, mempertumbuhkan iman melalui pendengaran akan Firman yang telah diwahyukan-Nya itu (Roma 10:17). Iman bertumbuh dari pendengaran akan Firman Tuhan. Ada kelompok yang menyatakan bahwa bahasa Roh itu boleh dinyatakan beramai-ramai karena dianggap menyatakan Firman dan tidak perlu diterjemahkan. Kita akan mempelajari bagian ini. Mereka juga menyatakan bahwa jika penyembahan dilakukan dengan bahasa Roh maka itu adalah penyembahan yang tertinggi dan Allah berkenan akan hal itu. Namun mereka tidak memiliki dasar ayat untuk hal ini. Tuhan Yesus menyatakan kepada perempuan Samaria itu bahwa umat Allah akan menyembah dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:23) dan bukan bahasa Roh. 1 Korintus 14:19 Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh. Ayat 14 Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Ayat 3 Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. Paulus lebih suka untuk mengucapkan kata-kata yang dapat dimengerti daripada bahasa Roh. Menurut ayat-ayat ini, benarkah bahasa Roh itu yang tertinggi? Menyembah dalam roh dan kebenaran berarti kita sudah bersatu dengan Kristus (union with Christ). Kita menyembah dalam kebenaran karena kita mengenal Dia yang kita sembah.

Keempat, membangun atau menghidupkan hati yang selama ini telah membeku (Yehezkiel 36:26-27). Roh Kudus memiliki pikiran, perasaan, dan kehendak. Jadi Roh Kudus adalah pribadi dan bukan kuasa. Ada kelompok yang menyatakan bahwa Roh Kudus adalah kuasa saja. Roh Kudus adalah pribadi yang juga harus disembah dan dihormati. Ia tidak boleh dipaksa untuk bekerja dan memberikan mukjizat di luar kehendak-Nya, termasuk melalui doa dan pujian yang diulang-ulang. Setan bisa meniru banyak mukjizat kecuali kelahiran baru. Ketika Roh Kudus dianggap sebagai kuasa saja, Ia bisa dikendalikan manusia. Ini berarti otoritas-Nya dianggap ada di bawah manusia. Mereka menganggap pekerjaan utama Roh Kudus adalah memberikan karunia. Dalam lagu ‘Suci, Suci, Suci’ kita mengucapkan 3 kali karena mengakui 3 Pribadi Allah. Jadi sebagai satu Pribadi, Ia berkuasa dengan pemikiran, perasaan dan kehendak-Nya untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan karakter dan fungsi-Nya (Roma 8:26). Roh Kudus bukan sekedar satu kuasa yang bisa dipermainkan, diperintah, dan diatur menurut kehendak manusia di dalam doa dan penyembahan. Dan sebaliknya, Ia yang akan memimpin manusia masuk ke seluruh kebenaran (Yohanes 16:15) dan memimpin umat pilihan untuk taat dalam menjalankan kebenaran Tuhan dalam kehidupan sehari-harinya (Roma 1:17, band. Yohanes 15:16a)

PENGERTIAN PERAN ROH KUDUS DALAM KEHIDUPAN ORANG PERCAYA

Peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya adalah memunculkan buah Roh (Galatia 5:16-23). Di sini dikatakan buah Roh dan bukan buah-buah Roh. Kita bisa membandingkan ini dengan 9 manifestasi yang dituliskan dalam 1 Korintus 12. Dalam ayat ke-10 Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. menurut mereka ini adalah manifestasi dari baptisan Roh Kudus. Di dalam bahasa Yunani dari ayat ini ada frasa hetero gene glosson. Bagian ini berbicara tentang bahasa-bahasa yang berbeda dan bukan berbicara tentang bahasa Roh. Jadi jika kita pandai dalam banyak bahasa seperti Inggris, Mandarin, dan lainnya, maka kita sebenarnya memiliki karunia ini. Ini berbicara tentang ahli bahasa. Jadi 1 Korintus 12 ini tidak berbicara tentang bahasa Roh. Bagian akhir buah Roh berbicara tentang penguasaan diri. Roh Kudus bekerja dan memberikan keteraturan, jadi di dalam ibadah jemaat tidak bisa berbuat sembarangan. Dalam Kisah Para Rasul 2:4-11 dikatakan bahwa para Rasul berbicara dalam bahasa-bahasa lain yang bisa dimengerti oleh para pendengarnya sehingga mereka bertobat. Hal yang terpenting untuk diekspresikan setelah kita menerima baptisan Roh Kudus adalah hidup kita harus diubahkan menjadi seperti Kristus. Semua aspek dalam diri kita seperti rasio, kebenaran, kesucian, dan karakter kita pasti mengalami perubahan. Ketika suatu pengajaran menekankan hal yang tidak penting menjadi penting, maka bisa terjadi kesalahan. Kita harus mementingkan apa yang Alkitab katakan sebagai penting. Ketika kita mendapatkan baptisan Roh Kudus, yang terpenting adalah perubahan cara berpikir tentang segala hal. Kita menjadi orang yang mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, dan karakter yang baik. Jadi orang yang mengaku sudah dibaptis Roh Kudus namun hidupnya belum berubah sebenarnya hanya berbicara kosong. Seperti pohon yang sehat memunculkan buah yang sehat, dan pohon akan memunculkan buah yang sejenis dengan pohonnya, demikian pula orang percaya dimana Roh Kudus tinggal di dalam hatinya, harus memunculkan buah Roh Kudus (bandingkan Matius 7:15-23). Ada orang-orang yang mengaku sudah melayani Tuhan bahkan sampai membuat mukjizat. Namun ternyata mukjizat bisa dipalsukan. Setan bisa memalsukan banyak hal. Setiap pengalaman yang terlihat spektakuler bisa datang dari Setan.

Roh Kudus memberikan karunia Roh Kudus secara unik dan berbeda, kepada masing-masing umat percaya menurut kehendak Roh (1 Korintus 12:1-11). Untuk apa karunia Roh Kudus diberikan? Ini bagian yang sangat penting untuk kita ketahui. Karunia itu bukanlah untuk dipamerkan. Karunia ini diberikan pertama untuk kepentingan pelayanan demi keutuhan tubuh Kristus (1 Korintus 12:12-31; Efesus 4:11-16). Jadi ketika kita memaksakan karunia itu pada diri kita dan mengaku bahwa kita memilikinya sampai kita berkonflik dengan seluruh jemaat, sebenarnya itu merupakan karunia yang bukan dari Roh Kudus. Roh Kudus bekerja membawa damai dan bukan membawa ketakutan kepada orang lain. Roh Kudus membawa persatuan untuk penginjilan. Itulah pekerjaan mulia yang dikerjakan Roh Kudus. Penyalahgunaan karunia Roh Kudus berakibat orang menyombongkan diri dan memisahkan diri, sehingga menimbulkan masalah dalam jemaat dan tidak bisa menjadi kesaksian yang baik (1 Korintus 14:23). Ada orang-orang yang lebih mementingkan bahasa Roh dan Paulus menjawab mereka demikian: Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? (1 Korintus 14:23). Kita tidak boleh menjadi batu sandungan di dalam komunitas. Menjadi batu sandungan itu tidak hanya ketika kita berkata-kata kasar atau bersikap arogan. Ayat ini menyatakan bahwa jika seluruh jemaat memaksakan untuk berbahasa Roh maka orang luar akan berpikir bahwa jemaat itu gila. Di sini mereka menjadi batu sandungan.

Roh Kudus memberikan karunia untuk saling melengkapi sebagai anggota tubuh Kristus untuk pertumbuhan iman, dan bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk kepentingan Allah atau Kerajaan Allah (1 Korintus 14:26-40). Yang terpenting bukanlah tentang bahasa Roh dan Paulus telah menyatakan bahwa jika ada yang ingin berbahasa Roh maka haruslah 2 sampai 3 orang saja secara bergantian dan itupun harus ada penafsir (1 Korintus 14:27). Jika syarat itu tidak dipenuhi maka mereka harus berdiam diri (ayat 28). Di sini mereka harus memiliki pengendalian diri, aspek terakhir dari buah Roh. Ketiga, Roh Kudus memberikan karunia untuk memimpin umat Allah untuk terus bertumbuh imannya, karena disinilah peranan Roh Kudus yang mengarahkan setiap orang percaya memandang terus kepada Kristus, sebagai pusat imannya (Yohanes 16:14-15, bandingkan 16:8-11). Jadi mereka yang mengaku dipimpin Roh Kudus harus selalu memandang Yesus. Paulus menulis aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul (1 Korintus 9:26). Paulus berlari sampai garis akhir dan mencapai kemenangan iman (2 Timotius 4:7). Ia mau melayani Tuhan dengan sepenuh hati sebab semuanya dianggap sampah karena Kristus (Filipi 3:7-8). Di dalam teologi Reformed hal ini dikenal sebagai proses penyucian (progressive sanctification), dimana setiap anak Tuhan semakin hari semakin menjadi kudus, karena Roh Kudus yang bekerja di dalam hatinya dan menumbuhkan imannya dengan spirit hidup serupa dengan Tuhan Kristus. Dengan kata lain menyukai apa yang Tuhan Yesus sukai dan membenci apa yang dibenci oleh Tuhan Yesus yaitu dosa. Banyak dari orang-orang yang terjebak dalam teologi sukses itu sebenarnya adalah orang-orang yang tulis mengikut Tuhan. Mereka merasakan sakit hati karena ditipu sudah kehilangan uang sangat banyak. Ibadah yang hanya bersifat emosional itu tidak sesuai dengan Alkitab karena Paulus sudah menulis bahwa ia mau beribadah dengan akal budinya (1 Korintus 14:15).

PENGERTIAN BAPTISAN ROH KUDUS

Baptisan Roh Kudus adalah karya Roh Kudus yang melahirbarukan seseorang dan menyatukan orang percaya dengan Kristus (union with Christ), bersama dengan orang percaya lainnya (1 Korintus 12:12-13 dan Roma 6:1-4). Ini jelas merupakan konsep dari Alkitab. Mengapa baptisan Roh Kudus ini penting? Supaya kita sama Kristus dalam kematian (di dalam bagian ini kita menolak ajaran baptisan di peti mati. Kita sudah mati terhadap dosa) dan kebangkitan-Nya (kita bangkit dan menang atas dosa), melalui baptisan Roh Kudus kita dipisahkan dari kuasa dosa, supaya kita berjalan dalam terang, kebenaran, kesucian sebagai umat pilihan Tuhan (Efesus 4: 17-32; Roma 6:1-10, Kolose 2:12). Mengapa ada konsep baptisan Roh Kudus berkali-kali, ada yang pertama dan kedua, dan lainnya? Kita sudah mendapatkan baptisan Roh Kudus sekali pada saat lahir baru dan tidak perlu mendapatkannya lagi berkali-kali. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, kita dibaptis sekali untuk selama-lamanya (aorist). Mereka mengaku bahwa ada baptisan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Mereka percaya ada first blessing, second blessing, dan third blessing dari Roh Kudus. Setiap baptisan ada manifestasinya tersendiri. Pada baptisan yang ketiga, orang itu mengalami bahasa Roh termasuk holy laughter. Kelompok ini percaya bahwa baptisan pertama adalah peristiwa kelahiran baru, dimana “Tuhan Yesus yang membaptis dalam Roh Kudus”. Ajaran yang benar adalah bahwa kita mendapatkan baptisan Roh Kudus saat lahir baru. Mereka percaya bahwa baptisan kedua adalah baptisan untuk orang-orang yang sudah lahir baru atau disucikan hatinya. Baptisan ini Roh Kudus yang langsung membaptis ke dalam Yesus Kristus. Di dalam bagian ini ada yang terbalik. Seharusnya Yesus yang membaptis kita dalam Roh Kudus. Kita dibaptis dalam tubuh Kristus.

Kelompok ini percaya bahwa murid-murid Yesus juga mengalami demikian “terimalah Roh Kudus” (Yohanes 20:21). Peristiwa dalam ayat ini terjadi saat Yesus bangkit, berarti di dalam masa 40 hari itu. Yesus mengatakan kalimat ini sebagai konfirmasi bahwa Roh Kudus itu diutus oleh Allah Bapa dan Allah Anak. Jika ada hamba Tuhan yang mengatakan hal yang sama, maka sebenarnya itu bukan dari Roh Kudus. Hamba Tuhan itu mau menjadi sama dengan Tuhan karena mau mengutus Roh Kudus. Ada hamba Tuhan yang sangat terkenal pernah melakukan ini lalu banyak orang yang duduk di depan itu terjatuh dan berbahasa roh. Setelah diteliti ternyata hamba Tuhan ini berselingkuh dan melakukan banyak dosa. Mungkinkah Roh Kudus diutus oleh orang seperti ini? Kita harus menguji segala hal dalam roh dan kebenaran.

Ingatlah bahwa peristiwa ini ada saat kebangkitan Tuhan Yesus. Jadi sebagai konfirmasi janji Tuhan Yesus tentang Roh Kudus (bandingkan Kisah Para Rasul 9:17: Ananias… menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: … engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus). Apakah ini yang disebut sebagai second blessing? Dalam bahasa Yunani, bagian ini bukan berbicara mengenai baptisan Roh Kudus tetapi kepenuhan Roh Kudus. Dalam teologi Reformed, baptisan Roh Kudus itu sekali untuk selamanya saat lahir baru, sedangkan kepenuhan Roh Kudus itu diberikan Tuhan agar kita dapat menjalankan perintah yang mulia dari Tuhan. Kepenuhan Roh Kudus itu selalu diberikan kepada mereka yang diutus sebagai pembawa pesan Injil. Kelompok ini percaya baptisan Roh Kudus harus diminta dalam doa dan iman (Yohanes 7:37-39). Kita mengingat apa yang sudah dijelaskan di atas yaitu bahwa baptisan Roh Kudus adalah keaktifan dari Allah Tritunggal dan bukan kita sebagai jemaat. Inilah mengapa penting sekali untuk mempelajari bahasa Yunani Alkitab. Kita mengetahui bahwa keselamatan itu 100% datang dari Allah dan bukan hasil dari doa kita. Sebagai tanda menerima baptisan Roh Kudus adalah berbahasa Roh.

APA KATA ALKITAB TENTANG BAHASA ROH

Bahasa roh adalah karunia dari Roh Kudus untuk setiap orang percaya untuk membangun dirinya sendiri (1 Korintus 14:4a Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri) dan bersama dengan tujuan untuk membangun iman (1 Korintus 14:26-27 Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya). Adakah bahasa Roh yang sesuai dengan Alkitab (1 Korintus 14)? Jikalau sesuai dengan kaidah-kaidah yang tercantum dalam 1 Korintus 14, yaitu ada yang menafsir sesuai dengan Firman Tuhan (1 Korintus 14:4, 9, 13), dan bisa dimengerti sesuai dengan Firman Tuhan (1 Korintus 14:19, 22-23), teratur, serta tertib (1 Korintus 14:26-28). Jadi ini adalah bahasa rahasia yang sesuai dengan Firman Tuhan. Jika ada orang yang mengaku berberbahasa Roh namun tidak sesuai dengan Alkitab, maka itu sebenarnya bukan bahasa Roh. Itulah mengapa bahasa roh yang palsu terdengar mirip. Ini karena bahasa roh yang diucapkan itu tertanam dan diulang oleh pendengarnya. Kita diajarkan untuk mengajarkan Firman secara berulang-ulang agar tertanam di dalam diri kita (Ulangan 6:7). Jika tidak ada yang bisa menafsir bahasa Roh, maka orang itu harus diam. Semua harus berjalan dengan tertib dan teratur. Jadi bahasa Roh itu diucapakan satu persatu dan bukan bersama-sama dalam komunitas. Iman itu bertumbuh dari pendengaran akan Firman dan bukan emosi.

Bagaimana membedakan bahasa Roh glossolalia dalam dorongan Roh Kudus (1 Korintus 14:2) dengan bahasa Roh dalam kebiasaan pribadi atau bahasa asing xenolalia (Kisah Para Rasul 2:1-13)? Jika Roh Kudus mendorong kita, kira-kira Dia akan mendorong kita untuk memakai bahasa yang mudah dimengerti atau sulit dimengerti? Pasti bahasa yang bisa dimengerti. Ada orang-orang dari agama lain yang di acara kedukaannya menggunakan bahasa yang mirip dengan bahasa roh. Hal yang terpenting adalah berbahasa yang jelas dimengerti oleh orang lain agar mereka dapat dengan jelas mendengarkan Firman. Glossolalia itu adalah atas kedaulatan Tuhan dan bukan manusia. Itu bukanlah bahasa yang boleh diulang-ulang. Itu adalah pekerjaan Roh Kudus dan bukan pemaksaan manusia. Mukjizat yang terpenting adalah ketika orang berdosa kembali kepada Tuhan. Mengapa Rasul Paulus menyebut bahasa Roh sebagai tanda untuk orang yang tidak beriman (1 Korintus 12:22)? Sedangkan bernubuat sebagai tanda orang beriman (1 Korintus 14:22)? Semakin kita beriman, kita tidak lagi berkata-kata seperti anak-anak. Orang yang semakin dewasa itu akan menggunakan akal budi. Maka dari itu Paulus bernubuat dari Firman Tuhan sehingga seluruh jemaat bisa mendengar. Mereka yang masih berbahasa Roh sebenarnya masih kanak-kanak, jadi kita jangan membenci mereka. Kita harus membimbing mereka perlahan-lahan. Mengapa ada bahasa roh yang bersama-sama terjadinya dan tergantung worship leader-nya? Bukankah Paulus sudah mengatakannya bahwa hanya 2-3 orang saja yang berbahasa Roh (1 Korintus 14:27)? Kembali lagi, mereka melihat Roh Kudus sebagai kuasa saja. Di dalam ibadah tidak boleh semua orang berbahasa Roh.

KESIMPULAN

Seluruh karya Roh Kudus diberikan kepada kita untuk membangun Kerajaan Tuhan baik dalam sekarang maupun di masa depan. Karunia Roh Kudus diberikan untuk membangun tubuh Kristus. Ini berarti karunia kita juga dipakai di dalam penginjilan. Karunia itu adalah untuk membuat orang percaya semakin teguh dan kuat. Karunia Roh itu adalah supaya orang-orang melihat Tuhan dan bukan orang yang melaksanakan karunia itu. Setiap karunia dari Tuhan itu pasti bersinergi untuk kepentingan Kerajaan Allah sehingga jiwa-jiwa bisa dilayani dan kembali kepada Tuhan. Hanya diri kita sendiri yang tahu apakah kita sudah menerima baptisan Roh Kudus atau belum. Kita bisa melihat apakah hidup kita sudah sungguh berubah sesuai Firman Tuhan atau belum. Kepenuhan Roh Kudus itu selalu berkaitan dengan pengutusan seperti Paulus yang memberitakan Injil kepada banyak orang. Karunia Roh Kudus adalah untuk kita yang lemah supaya diperlengkapi. Bahasa Roh bukanlah karunia yang paling penting sedangkan yang paling utama adalah karunia bernubuat yaitu bisa berbicara mengenai Firman Tuhan.

(diringkas dan diedit oleh Vik. Tommy Suryadi dan Vik. Lukman Sabtiyadi)