Latest Post

                Kematangan Mental, Karakter, dan Iman

                              Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E

2 Korintus 10:1-4

Bagaimana kita tahu kalau kita sudah memiliki kematangan mental yang kuat? Bagaimana kita tahu kalau kita sudah memiliki satu kematangan karakter? Dan bagaimana kita tahu kalau iman kita sudah berkuasa menguasai seluruh pikiran kita perasaan kita pada waktu kita hidup di dunia ini? Tiga pertanyaan ini menjadi satu hal yang perlu kita renungkan. Di sini kita akan perhatikan ketika Rasul Paulus menulis 2 Korintus 10 secara khusus dia ingin jemaat Korintus mengerti posisi Paulus di dalam Tuhan. Jemaat Korintus harus mengerti bahwa seluruh fitnahan, praduga, perkataan dari guru-guru palsu yang menyerang paulus dengan tim itu tidak benar adanya. Di sini menariknya adalah Rasul Paulus tidak emosi, tidak berkata kasar untuk mencaci maki atau membela diri berdasarkan. Kita belajar: (1) Rasul Paulus dituduh sebagai orang yang tidak berani bertemu muka dengan muka dengan guru-guru palsu. (2) Rasul Paulus dituduh sebagai rasul yang hidup secara duniawi. (3) Rasul Paulus kerasulannya perlu diragukan. Jika kita pernah seperti Rasul Paulus, dituduh sebagai orang yang hidup secara duniawi, tidak takut akan Tuhan, tidak mementingkan Tuhan dan selalu mengikuti hawa nafsu. Dan kita dituduh lagi tidak berani menyelesaikan tuduhan itu dan diragukan jati diri kita. Kalau kita berhadapan dengan orang-orang yang seperti, minimal kita doakan orang itu dan dengan lemah lembut datang untuk menyatakan kebenaran. Mengapa demikian? Karena Alkitab mengatakan kita dipanggil oleh Tuhan bukan untuk membangun pembelaan diri, tapi pembelaan untuk kebenaran itu boleh. Pembelaan untuk menyatakan supaya orang-orang bertobat kembali kepada Tuhan itu boleh. Tetapi untuk membela diri itu bukan panggilan kita. Dan ada dalam sejarah gereja yang sangat terkenal sekali yaitu Jonathan Edwards. Jonathan Edwards adalah tokoh kebangunan rohani di Amerika. Dia adalah seorang Puritan. Ketika dia menjadi hamba Tuhan yang sangat top di Amerika maka fitnahan datang kepada dia. Fitnahan yang menyatakan bahwa dia hidup tidak jujur dan hanya memanfaatkan kepopuleran untuk memperkaya diri tetapi pada saat itu fitnahan sudah meluas ke semua kota-kota dimana dia akan melayani. Maka Tim mengusulkan kepada Jonathan Edwards untuk membuat suatu perlawanan melalui surat kabar atau melalui radio dan juga melalui tulisan. Apa yang dikatakan oleh Jonathan Edwards kepada timnya? “Biarlah Tuhan yang bekerja, biarlah kita tidak memakai satu cara berdasarkan kekuatan kita, biarlah orang itu yang nanti akan bertobat. Tugas kita adalah terus memberitakan Injil.” Dan singkat cerita hampir kurang lebih satu tahun akhirnya tiba-tiba di dalam satu KKR yang sedang dia pimpin datanglah seseorang menghadap dia. Orang itu datang dengan satu kesedihan yang memiliki bentuk penyesalan dan ternyata dia mengaku seluruh dosa-dosanya bahwa dia yang sudah memfitnah Jonathan Edwards dengan satu isu-isu yang tidak benar dan dia pun mengakui Jonathan Edwards adalah hamba Tuhan yang sejati. Dalam KKR itu, dia bertobat. Seandainya Jonathan Edwards memakai serangan balik melalui kata-kata dan akhirnya orang itu pun melawan dengan kata-kata, mungkin saja hal itu membuat orang itu semakin jahat. Di dalam buku dari Paul David Tripp yang berjudul “Perang kata-kata”, dia menyaksikan satu peristiwa yang indah. Ada seorang ayah yang menghukum anaknya dengan keras karena anaknya baru diketahui bermain dengan hal-hal yang bersifat pornografi. Tetapi ibunya mengingatkan kepada suaminya supaya didekati melalui komunikasi terlebih dahulu. Dan pada waktu pagi, orang itu mulai berbicara dengan suasana yang berbeda setelah makan. Dan anaknya begitu kaget ketika ada bukti yang menunjukkan anaknya bermain dengan hal-hal yang bersifat pornografi. Di dalam permbicaraan itu, dia harus mengalahkan emosi dan niat dia untuk menghukum anaknya. Orangtuanya mencoba untuk mengajak berbicara dan ternyata pendekatan yang seperti itu adalah satu pendekatan yang efektif yang akhirnya anaknya menyadari bahwa dia belum lahir baru. Maka akhirnya sang ayah yang menceritakan siapa Yesus dan membimbing anaknya memiliki kuasa dalam Yesus untuk mengalahkan seluruh keinginan jahatnya. Peristiwa itu menjadi indah karena akhirnya anak itu menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Kalau kita perhatikan saudara, betapa Indahnya ketika kita mendahulukan waktu Tuhan, cara Tuhan, dan mendahulukan bijaksana Tuhan pada waktu kita ingin menyelesaikan segala sesuatu. Sesuatu yang bisa kita anggap masalah tidak mungkin melampaui daripada kedaulatan Tuhan yang memelihara kita. Maka prinsip ini harus dibangun jiakalau suatu serangan dari orang lain ingin menjatuhkan citra kita sebagai anak Tuhan dalam nilai kerja kita, keluarga kita, dan dalam banyak hal lainnya. Mengapa demkian? karena kita percaya setiap kita anak-anak Tuhan dijaga untuk tidak mempermalukan nama Tuhan bahkan sewaktu kita bisa jatuh dalam dosa, Tuhan pun akan menopang kita melalui pekerjaan Allah Roh Kudus supaya kita tidak tenggelam dalam dosa yang mempermalukan nama Tuhan.

Maka pertama, kita harus percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang berkuasa yang melampaui kekuatan manusia. Dan Tuhan akan berkarya secara ajaib dibandingkan dengan orang-orang yang ingin menista kita. Kedua, kita harus percaya bahwa itu bentuk ujian Tuhan. Kita tahu Yesus pun sebagai Tuhan difitnah dan juga diragukan bahkan ketuhanannya diragukan, apalagi kita? Pada saat kita mengerti apa yang dikatakan oleh Yakobus: Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan (Yakobus 1:2). Mengapa kita bahagia? karena jikalau engkau lolos dari pencobaan maka itu menyatakan bahwa iman kita hidup, karakter dan mental kita semakin matang. Maka di sini kita bisa simpulkan ketika Tuhan memakai bentuk-bentuk seperti ini, itu adalah bentuk ujian iman. Ujian iman yang di dalamnya ingin mengajar kepada kita. Iman harus bercahaya melihat kesulitan, tantangan dan ancaman, maka pada saat itulah karakter dan cara pandang kita menjadi dewasa. Pemeliharaan Tuhan lebih berkuasa daripada setiap ancaman orang maka itu serahkanlah semua masalah itu kepada Tuhan. Biarlah setiap orang melihat setiap hidup kita tahu bahwa kita adalah orang-orang yang takut akan Tuhan.

Di dalam bagian inilah Rasul Paulus mengutarakan satu bentuk gaya tulisan yang sangat berbeda antara 2 Korintus 1-9 dengan 2 Korintus 10. Yang berbeda adalah Rasul Paulus jarang sekali menggunakan sesuatu yang bersifat umum dan sesuatu yang bersifat plural memakai bentuk kata singular. Biasanya waktu menyatakan dirinya pun selalu memakai kata “kami.” Tetapi di dalam 2 Korintus 10:1 memakai kata: “Aku Paulus.” Kalau kita mempelajari bahasa Yunani yang ada 64 tensis, jikalau kata yang merujuk pada orang pertama, orang kedua dan orang ketiga digunakan serta dituliskan namanya, itu menunjukkan sangat kasar. Mengapa Paulus yang biasanya menyatakan kata “kami” tiba-tiba menggunakan kata “Aku?” Pasal 10-13 adalah untuk mengkirtik dan menyadarkan guru-guru palsu untuk kembali kepada Tuhan. Kalau mereka dibiarkan, mereka akan semakin mempengaruhi jemaat-jemaat di Korintus untuk tidak mempercayai karya dan pengajaran dari Rasul Paulus. Maka di akhir-akhir surat inilah baru Paulus melakukan satu nilai pembelaan yang mana tidak dia tuliskan dalam surat-suratnya yang lain. Rasul Paulus melakukan pembelaan diri dengan tujuan supaya jemaat Korintus tidak semakin tersesat dan guru-guru palsu itu bertobat. Walaupun gaya tulisannya sangat keras tetapi setiap kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang ramah dan lembut. Motivasi menggunakan setiap kata harus dengan content yang benar. Setiap kita diberikan manajemen kata dan kemampuan untuk berkata-kata. Dan ingat bahwa seluruh nilai kata kita mengandung damai, berfaedah, dan ada nilai penebusan (redemption). Maka kita tidak boleh sembarangan berkata-kata karena kita sudah di dalam Kristus.

Rasul Paulus dalam 2 Korintus 10:1 mengatakan “Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.” Rasul Paulus membicarakan satu nilai tuduhan tetapi diikat dengna satu nilai peringatan. “Aku memperingatkan kamu”, jadi kalau kita sedang memperingatkan orang maka wajarlah menggunakan satu kata yang keras tetapi isi kata-katanya tetap benar. “Aku memperingkatkan kamu demi Kristus yang lembut dan ramah”, artinya Rasul Paulus menggunakan peringatan tetapi diikat dengan satu pengenalan akan Kristus yang lemah lembut dan ramah. Di sini Rasul Paulus gayanya keras tetapi menunjukkan kata-kata yang sopan. Rasul Paulus meminta supaya guru-guru palsu sadar bahwa Paulus ini adalah orang yang berani. Dan mereka juga harus sadar bahwa Tuhan pun penuh dengan kasih dan kelembutan untuk mereka bertobat. Paulus tidak mau kalau dia pergi ke Korintus terjadi konflik besar, peperangan kata-kata yang tidak berarti. Allah yang sabar membiarkan mereka untuk kembali kepada Tuhan. Tuduhan mereka kepada Paulus sebenarnya tidak masuk akal karena kita yakin dan percaya: (1) Paulus lebih berani daripada mereka karena Paulus terbukti beberapa kali dia rela menderita karena kebenaran. (2) Rasul Paulus masuk penjara dihujat dan disakiti dan pernah dicambuk tetapi tetap tidak mundur dan terus memberitakan Injil. Bahkan dikatakan sampai dia rela mati demi Tuhan. Maka semua ini menunjukkan kepada kita Rasul Paulus bukan orang penakut. Mereka menuduh Rasul Paulus seperti orang penakut hanya karena Rasul Paulus belum pergi ke Korintus. Kita bukan pelayan emosi kita yang tidak suci. Orang yang berkata tidak benar dan menggunakan emosi yang tidak suci makin banyak bicara makin banyak menguras tenaga dan pikiran. Maka ketika kita membiarkan orang seperti ini, itu seperti penyiksaan. Ada pepatah mengatakan: anjing mengonggong, kafilah berlalu. Artinya biarlah orang lain itu berbicara sesuatu yang tidak benar dan lelah sendiri. Dalam bagian ini Rasul Paulus kembali mengingatkan kepada mereka bahwa dia bukan pelayan emosi-emosi yang bersifat sesaat dan tidak suci. Maka dia tidak pernah mau datang ke Korintus hanya untuk menyelesaikan masalah itu. Tetapi dia mau tetap mengikuti emosi Tuhan mementingkan pelayanan dalam pemberitaan Injil. Kapan Rasul Paulus tahu kalau dia dituduh dan ditipu? Sebelum surat ini ditulis dia sudah tahu, tetapi mengapa dia tidak menghadapinya segera? Ternyata Rasul Paulus tahu tetapi dia pun melihat bagaimana masalah itu dikemas dalam waktu dan kehendak Tuhan sehingga dia tidak terjebak dengan masalah ini menjadi lebih besar daripada tugasnya untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan yang lebih besar.

2 Korintus 10:2, “Aku meminta kepada kamu: jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi.” Di dalam Filipi 4:5 Rasul Paulus mengatakan: “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.” (1) Prinsip ini mengajarkan kepada kita bahwa pada waktu kita menghadapi serangan-serangan dan tuduhan biarlah orang tetap tahu nilai kebaikan kita di dalam Tuhan. (2) Rasul Paulus percaya ada satu nilai keseimbangan antara menegakkan kebenaran dan kasih. Prinsip yang diajarkan Rasul Paulus dalam Filipi juga prinsip yang sama diambil dan diterapkan ketika dia menghadapi orang-orang yang selalu menyerang dia di Korintus. Maka dalam ayat yang ke-2, Rasul Paulus memperingati: “Hai engkau guru-guru palsu yang suka memfitnah aku, jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi.” Kalau kita perhatikan kata “kosmos” artinya dunia. Kata “soma” menunjukkan satu nilai keinginan daging. Maka ketika kita menggabungkan konsep ini dalam pengertian Yunani mengenai hidup secara duniawi artinya Paulus dituduh hidupnya selalu berdasarkan keinginan nafsunya, egois, dan tidak pernah peduli dengan orang lain. Apakah benar Paulus itu hidup berdasarkan keinginannya sendiri, nafsu, egonya, dan mengikuti seluruh ambisinya sendiri tanpa peduli dengan orang lain? Ternyata semua itu tidak terbukti. Lalu mengapa mereka mengatakan seperti itu? Itulah mulut keberdosaan yang dipakai oleh setan untuk menghalangi Injil lebih berkembang lagi. Yang lebih celakanya status mereka guru Injil dan orang yang mengaku orang Kristen tetapi belum sungguh-sungguh dalam Tuhan.

2 Korintus 10:3-4, “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi.” Dalam bagian ini Rasul Paulus ingin memberikan pengertian kepada mereka bahwa ia tidak mengandalkan segala cara demi ambisinya untuk menunjukkan hebatnya. Dan bahwa ia tidak memanfaatkan orang lain. Karena perjungannya bukan untuk kepopuleran, nama baik, dan memperkaya diri. Tetapi suatu perjuangan demi pekerjaan Tuhan atau Kerajaan Allah. Sebagaimana dicatat dalam 2 Korintus 5:17, “Jadi siapa yang ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru, yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang.” Bagian Firman ini mengingatkan kepada kita agar sebagai ciptaan baru seharusnya kita tidak lagi akan berjuang berdasarkan manusia lama kita. Kita tidak akan berjuang terikat dengan seluruh keinginan dan keberdosaan kita. Rasul Paulus mengatakan memang aku masih hidup dalam dunia tetapi aku tidak pernah berjuang secara duniawi, berarti dia berjuang dalam nilai ciptaan yang baru untuk Kerajaan Allah. Maka jangan berjuang demi ambisi yang tidak suci. Ada 5 macam perjuangan:

  1. Rasul Paulus tidak berjuang secara duniwai tetapi berjuang dari kekuatan dan maksud Tuhan. Pertama, dia berjuang membangun iman dalam dirinya sendiri. Kedua, dia berjuang membangun iman dari orang-orang di luar. Maka di sini kita melihat setiap kita bertanggung jawab untuk mempertumbuhkan iman kita. Iman kita akan bertumbuh jikalau kita taat akan Firman Tuhan yang kemudian juga membangun iman orang lain.
  2. Berjuang untuk memenangkan iman-iman yang belum percaya. Jadi dia berjuang untuk menumbuhkan kasih maka dampaknya dia memenangkan orang-orang di luar Tuhan.
  3. Berjuang mengalahkan dosa dalam dirinya, mengalahkan segala macam jerat dan tipu muslihat setan. Artinya di sini dia membenci dosa dan segala hal yang bertentangan dengan kehendak Allha.
  4. Berjuang melawan penguasa-penguasa di udara yaitu setan. Maka dampaknya yang keluar adalah kita selalu hidup dalam aspek peperangan rohani dan tidak mau diperdaya oleh keinginan-keingan setan.
  5. Perjuangan Rasul Paulus adalah perjuangan dalam menegakkan kebenaran karena dia cinta kebenaran.

Ketika kita melihat 5 macam perjuangan Rasul Paulus ini dan masih menuduh Rasul Paulus hidup secara duniawi, hal itu sangat tidak masuk akal. Sudahkah kita berjuang untuk 5 hal ini? Rasul Paulus sadar bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena pertolongan Allah Roh Kudus.

Dalam 2 Korintus 10:4 dikatakan “karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.” Pada jaman itu, orang-orang yang pergi berperang minimal membawa tombak dan panah tetapi di sini Rasul Paulus katakan kami tidak membawa senjata yang kelihatan dan menakutkan tetapi senjata yang mereka bawa itu berkuasa. Dalam Roma 1:16 dikatakan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan manusia dan kita tidak malu untuk memberitakannya. Kekuatan kita berperang bukan dari diri kita sendiri tetapi karena iman kita kepada Tuhan. Rasul Paulus sadar sekali pada waktu berperang bukan mengandalkan kekuatan apapun juga kecuali mengandalkan Firman Tuhan yang bisa meruntuhkan benteng-benteng lawan dan musuh. Di sini harus kita perhatikan ada 4 macam musuh yang perlu kita hadapi:

  1. Musuh dalam diri yaitu keinginan-keinginan daging.
  2. Penguasa di udara dan angkasa yaitu setan.
  3. Orang-orang yang selalu mencela dan menista kebenaran Firman Tuhan. Hal ini tercatat juga dalam Roma 1:20, di mana orang-orang mengaku mengenal kebenaran tetapi justru hidup tidak di dalam kebenaran.
  4. Orang-orang yang terus mengembangkan dosa melalui mulut dan karakternya.

Alkitab mencatat satu-satunya senjata kita adalah Firman Tuhan. Di dalam Efesus 6:14-19 Rasul Paulus mengajarkan 7 macam senjata peperangan untuk mengalahkan musuh yaitu: (1) Senjata kebenaran, (2) Senjata iman, (3) Senjata pemberitaan Injil, (4) Senjata nilai keselamatan, (5) Senjata Firman Tuhan, (6) Senjata doa, (7) Senjata kekuatan Roh Kudus. Mengapa ada 7 senjata yang diajarkan oleh Rasul Paulus? Tujuh hal ini adalah senjata yang paling tidak disukai oleh setan. Seperti ketika Daud bermain kecapi dan roh jahat di dalam Saul pun pergi. Roh Tuhan sudah meninggalkan Saul karena dia sudah berdosa. Ketika kita bermain musik menghadirkan suasana Tuhan maka setan akan pergi. Ada kuasa yang tidak kelihatan yaitu kebenaran, iman, pemberitaan Injil, keselamatan, Firman Tuhan, doa, dan kuasa Roh Kudus. Biarlah kita boleh sadar dan mau terus dipakai Tuhan menjadi Kristen yang menang.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Kematangan Mental, Karakter, dan Iman

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean, M.A.E

Author: Gracelia Cristanti