Latest Post

                           Kerendahan Hati Rasul Paulus (1)

                                       Pdt. Tumpal Hutahaean

2 Korintus 11:7-15

Bagaimana gereja bisa dirusak? Bagaimana iman jemaat bisa menjadi rusak? Dalam Perjanjian Lama Tuhan mengijinkan kuasa setan untuk bisa menyesatkan banyak pengikut-pengikut Tuhan dengan mengutus hamba-hamba yang palsu untuk masuk ke dalam sinagoge-sinagoge bahkan sampai dengan Perjanjian Baru masuk dalam gereja Tuhan untuk mengacaukan konsep iman yang benar. Yang akhirnya mengacaukan karakteristik dan tujuan hidup orang Kristen yang sejati. Jikalau gereja dihancurkan melalui orang-orang dalam, sampai sejauh mana Tuhan mengijinkan gereja seolah-olah diobok-obok dan mengalami kegoncangan iman? Sampai sejauh mana Tuhan mengijinkan gereja-Nya disusupi oleh guru, nabi, rasul dan mesias palsu? Kita percaya bahwa gereja adalah milik Kristus yang adalah Kepala gereja. Maka pada waktu gereja diijinkan Tuhan disisipi oleh pengajar-pengajar palsu, seperti di Pergamus (Wahyu 2:12-17) dan Sardis (Wahyu 3:1-13), Tuhan tidak membiarkan iman orang Kristen yang sejati akhirnya terjatuh dan menghujat nama Yesus. Artinya adalah waktu Tuhan mengijinkan penyesat-penyesat itu datang kemudian Tuhan akan tunggu waktu yang tepat untuk membangkitkan kesadaran umat Tuhan akan ajaran palsu seperti ajaran Nikolaus (yang mencampurkan antara Injil dengan Taurat – Wahyu 2:15) dan ajaran Bileam (dosa seksualitas dan terjebak dengan makanan penyembahan berhala – Wahyu 2:14). Kita melihat Tuhan tetap memberi kepada kita satu kebebasan untuk mendemonstrasikan iman kita melawan dan mewaspadai setiap kesesatan itu. Ketika ternyata kita secara pribadi tersesat, sadarkah kita kalau sudah tersesat? Alkitab mengatakan pengingat kita yang sejati adalah Allah Roh Kudus yang mengingatkan kualitas hati nurani kita. Tetapi permasalahannya adalah apakah kita membuka hati untuk diperingati oleh Allah Roh Kudus? Kalau kita tidak ditegur oleh Allah Roh Kudus maka kita akan dibiarkan untuk jatuh dalam dosa. Peringatan untuk kualitas iman kita benar dan sejati adalah karya dari Allah Roh Kudus. Tetapi jikalau hati kita sudah tumpul dan mengeras maka Roh Kudus menegur dengan keras entah dipukul atau dihajar. Inilah yang dikatakan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 11:1-6. Allah adalah Allah yang cemburu yang ditekankan juga dalam Ulangan 20:3-4. Di dalam sejarah gereja, gereja bisa tersesatkan. Kalau gereja itu masih ada satu cikal bakal untuk kembali kepada Tuhan maka Tuhan akan menegur melalui orang-orangNya untuk suatu pertobatan total. Tetapi jikalau gereja itu dianggap satu gereja yang memang akan terhilang untuk selama-lamanya Tuhan akan biarkan.

Dalam 2 Korintus 11:7-15, Rasul Paulus menyatakan kerendahan hatinya, “Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma?” Artinya Rasul Paulus tidak pernah mengambil uang dari jemaat. Hal ini sangat berbeda sekali dengan guru-guru palsu pada saat itu yang ada di jemaat Korintus. Mereka memanipulasi khotbah dan pelayanan untuk mengerok uang jemaat bagi kekayaan diri sendiri. Rasul Paulus tidak pernah memanipulasi kebenaran untuk mendapatkan uang. Ia mengupayakan supaya uang jemaat itu akhirnya dipakai dengan kerelaan untuk pekerjaan Tuhan saja. Maka pada waktu Rasul Paulus sudah mendapatkan dana yang cukup dari jemaat Filipi dan Tesalonika sehingga ketika dia melayani di Korintus, dia tidak perlu lagi minta uang karena uang yang sudah diberikan oleh jamaat Filipi dan Tesalonika masih cukup. Di sini kita berarti belajar Rasul Paulus adalah Rasul yang benar dan memiliki satu konsep tentang penguasaan diri. Walaupun jemaat Korintus sendiri pada saat itu mau mencari keuntungan sendiri, tidak peduli dan mereka tidak tahu apa-apa akan apa yang dikerjakan dan digumulkan Rasul Paulus. Dikemudian hari baru mereka tahu ternyata selama ini Rasul Paulus melayani tidak pernah meminta uang. Di dalam bagian inilah Rasul Paulus akhirnya mempertegas dia di dalam satu aspek kerendahan hati dimana justru meninggikan jemaat Tuhan melalui pemberitaan injil yang dia kerjakan. Dalam Yudas 1:3-4, kita melihat ternyata setan pun punya perjuangan yang tidak pernah lelah untuk selalu menjatuhkan dan menyesatkan iman orang Kristen. Mungkinkah pada zaman ini masih hadir guru-guru palsu, mesias palsu, pendeta palsu, dan penginjil palsu? Masih ada. Bagaimana kita membedakannya? Beberapa ciri-cirinya adalah memanipulasi uang untuk memperkaya diri dan menunjukkan dirinya adalah hamba Tuhan yang sukses. Di Amerika, ada hamba-hamba Tuhan yang setiap minggu bisa berkhotbah kepada 2,5 juta pemirsa televise. Diketahui kemudian bahwa mereka melayani untuk memperkaya diri. Ada yang memberitakan bahwa keran di rumahnya dibuat dari emas, anjingnya tidur menggunakan AC (Air Conditioner) dan moral mereka begitu hancur. Kemudian mereka di penjara dan akhirnya di sana mereka bertobat. Mereka sudah menyadari bahwa semua teologia kesuksesan adalah salah. Puji Tuhan masih dikasihi Tuhan dan bertobat. Tidak semua gereja sama, kita harus melihat dari buah dan karakternya.

Berikutnya 2 Korintus 11:8, “Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu!” Ini bahasa dari guru-guru palsu yang mengisukan Rasul Paulus adalah perampok rohani. Pengajar-pengajar palsu selalu memfitnah. Padahal Rasul Paulus mendapatkan tunjangan uang dari Filipi dan Tesalonika yang masih ada maka dia memakai uang itu untuk melayani jemaat Korintus. Maka jikalau kita melihat apa yang dikatakan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 9:16, “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” Maka pada waktu Rasul Paulus melayani Korintus dengan berita Injil yang benar, apakah itu untuk kekayaan diri Paulus secara materi? Guru-guru palsu tidak rela melihat Rasul Paulus diberkati oleh Tuhan bahkan selalu iri. Di sini kita melihat orang yang mudah iri dan tidak menerima diri apa adanya mungkin tidak ada iman, inilah yang terjadi pada guru palsu.

2 Korintus 11:9, “Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorangpun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian.” Hamba Tuhan yang benar harus dilihat bukan saja dia tidak memanipulasi kebenaran untuk memperkaya diri, dia pun tidak memanipulasi kesusahan dirinya untuk mendapatkan perhatian lebih dari seluruh jemaat. Rasul Paulus tidak punya mental menyusahkan jemaat. Pekerjaan yang tidak baik yaitu menuntut hak lebih banyak daripada kewajiban namun orang yang lebih bijaksana hak dan kewajiban seimbang. Tetapi sebagai orang Kristen kita bekerja tidak pernah hitung-hitungan. Karena kita melayani Tuhan. Demikian Rasul Paulus melayani untuk Tuhan karena itu ia tidak hitung-hitungan dan tidak mau menyusahkan jemaat. Rasul Paulus tidak mau hidup menjadi batu sandungan untuk jemaat Korintus dalam soal makan, kebutuhan rumah, dan lain-lain. Di sini kita belajar karakteristik Rasul / hamba Tuhan yang benar selalu berpikir untuk punya penguasaan diri dalam sagala hal. Supaya jangan menjadi beban dan batu sandungan bagi jemaat. Berbeda dengan guru-guru palsu yang tidak punya penguasaan diri dan terus memanipulasi jemaat.

Dalam 2 Korintus 11:10 dikatakan, “Demi kebenaran Kristus di dalam diriku, aku tegaskan, bahwa kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh siapapun di daerah-daerah Akhaya.” Di sini Rasul Paulus mengatakan bahwa pertobatannya adalah anugerah. Injil yang dia terima bersifat cuma-cuma sehingga semua yang Rasul Paulus lakukan itu hanya berdasarkan nilai kasih. Maka ayat 11 “Mengapa tidak? Apakah karena aku tidak mengasihi kamu? Allah mengetahuinya.” Dalam bagian ini Rasul Paulus ingin mengatakan bahwa dia selalu bebas untuk memberitakan Injil di Korintus sampai dengan di Akhay berdasarkan kasih. Guru-guru palsu tidak punya kasih dan melayani tidak berdasarkan kasih. Kasih yang paling esensi adalah kasih yang tertuju kepada keindahan jiwa dari pada jemaat yang dilayani untuk hidup benar di hadapan Tuhan. Maka pada waktu guru palsu tidak mengasihi jemaat Korintus kelihatan mereka tidak berusaha membangun iman dengan benar. Kasih berkaitan dengan keselamatan, kualitas iman, dan karakter kita untuk hidup bagi Tuhan. Bagaimana melihat kasih yang sejati? Dari sikap doa, kehausan akan Firman dan karakter yang bertumbuh.

2 Korintus 11:12, “Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan.” Artinya guru-guru palsu merayu melalui beberapa orang supaya Paulus mengikuti cara mereka menerima uang. Dalam bagian ini Rasul Paulus mengatakan: “harusnya mereka yang mengikuti kami bukan seolah-olah kami yang mengikuti mereka.” Jikalau kita membaca 2 Korintus 11:13-15 baru kita mengerti akhirnya Rasul Paulus terus terang: Guru-guru palsu itu adalah pekerja-pekerja curang yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Kepekaan Rasul Paulus adalah kepekaan dari Tuhan dalam melihat kebenaran, buah dan karakter jemaat Tuhan. Waktu dibukakan mereka adalah guru palsu maka mereka terkejut. Demikian juga dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 7:15-23 untuk selalu waspada: “”Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Jangan pikir orang yang mengusir setan, bernubuat dan melakukan banyak mijizat pasti adalah hamba Tuhan yang sejati. Karena Setan pun bisa melakukan mujizat dan bisa saling bersandiwara mengusir setan. Di sinilah yang paling kita takuti, kalau kita disamarkan oleh setan. Dalam Yesaya 14:12-15 dikatakan bahwa setan selalu memanfaatkan kita untuk kesombongan dirinya. Dalam Yehezkiel 28:13;17 kelihatan dari buahnya selalu punya kesombongan. Jadi ciri-ciri pekerjaan setan untuk hidup kita, kita punya kesombongan. Sombong secara fisik, sombong secara kesuksesan, sombong secara materi, dan sombong secara aspek kerohanian apapun juga. Dalam Ulangan 13:1-3 Musa sudah mengingatkan aka nada penyesat-penyesat yang berusaha menyesatkan umat Tuhan. Allah mengijinkan adanya guru-guru palsu dan nabi-nabi palsu yang sanggup melakukan mujizat. Tujuan supaya Allah tahu sejauh mana kita mengasihi Dia. Yesus mengatakan dalam Matius 24:24, “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga.” Tetapi upah mereka adalah hukuman kekal sebagaimana iblis juga diperkenankan untuk mengalahkan orang-orang kudus dalam Wahyu 13:7 “Dan ia diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa.”

Di sinilah maka Rasul Paulus dengan berani menunjukkan karakteristisk umat Tuhan yang sejati adalah memiliki kerendahan hati. Dia tidak pernah memanipulasi Firman untuk memperkaya diri. Dia tidak pernah menjual kesusahannya menjual penderitaannya, dan dia tidak pernah mau berupaya menyusahkan jemaat. Dia ingin membuktikan kualitas Injil yang murni dan tidak mencari pujian dari jemaat tetapi satu kemegahan dalam Kristus yang telah mati bagi dia. Reformed tidak pernah membangun iman atas dasar mujizat, keajaiban, janji muluk, kesembuhan dan apapun juga selain daripada Firman Tuhan yang sejati dan murni. Iman yang benar dibangun atas dasar Firman. Maka mari kita membangun gereja dengan mementingkan Kristus dalam nilai kemuliaan. Mari kita membangun gereja menekankan kebenaran dalam nilai supremasi Kristus. Mari kita membangun iman kita dengan kualitas kebenaran yang sebenarnya. Karena itu rajinlah baca Alkitab dan terus hidup bagi Tuhan supaya hidup kita bisa terus waspada dan tidak mudah tergoncang.

 

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – LG.

Kerendahan Hati Paulus (1)

Categories: Transkrip

Pdt. Tumpal Hutahaean

Author: Gracelia Cristanti