Latest Post

Keselamatan dalam Yesus Kristus dan Manfaatnya (STRIC Soteriologi Mei-Juni 2020)

Categories: STRIC

STRIC Soteriologi Mei-Juni 2020

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

23 Mei 2020: Keselamatan dalam Yesus Kristus dan Manfaatnya

            Kita akan membahas tentang keselamatan dalam Yesus Kristus dan manfaatnya. Ayat yang akan kita bahas adalah Hosea 6:6, Yehezkiel 36:27-28 (ini adalah janji pembaruan untuk Israel), Yohanes 14:6 (finalitas keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus), Kisah Para Rasul 4:11-12, dan Yesaya 59:1-2.

PENDAHULUAN

            Apa kebutuhan yang paling hakiki dari manusia? Ada yang berkata makanan, pakaian, tempat tinggal, pekerjaan, jaminan kesejahteraan, dan aktualisasi diri. Mengapa keselamatan di Perjanjian Lama tidak cukup dan butuh penggenapan keselamatan di dalam Yesus Kristus (Mikha 5:2)? Mengapa keselamatan hanya melalui dan di dalam Yesus Kristus? Bagaimana dengan pandangan yang mengatakan ada keselamatan di luar Yesus Kristus?

PEMBAHASAN

1) Apa kita Alkitab tentang keselamatan?

            Dalam Perjanjian Lama ada istilah yasha untuk keselamatan. Ini bisa dilihat dalam dua kategori yaitu umum dan khusus (iman). Dalam Perjanjian Baru ada istilah soteria yang berhubungan dengan keselamatan. Yasha atau keselamatan bisa berarti bebas dari penderitaan, bahaya hidup, dan lainnya. Ini pengertian secara umum. Kedua ini bisa berarti terhindar dari kerusakan moral. Ketiga secara khusus ini bisa berarti pemeliharaan Tuhan (jiwa).

            Contoh dari arti yang pertama (bebas dari penderitaan, bahaya hidup, dan lainnya) adalah 1) bebas dari penjajahan Mesir (Keluaran 14:13, 30; 15:2). Saat itu bangsa Israel dijadikan budak. Kemudian Allah menyelamatkan mereka secara fisik. 2) Keselamatan dari kekalahan (Ulangan 20:4). Allah menyatakan anugerah keselamatan supaya bangsa Israel tidak mengalami kematian. 3) Keselamatan dari penindasan (Hakim-Hakim 3:31). Tuhan bisa melepaskan dari penindasan fisik. 4) Keselamatan dari kesesakan hati dan pergumulan hidup (Mazmur 34:7). 5) Keselamatan dari tangan musuh (Mazmur 106:10). 6) Keselamatan dari pembuangan ke Babel (Yesaya 46:13, 52:10-11). Tuhan bisa memimpin Daniel dan teman-temannya di Babel. Tuhan juga bisa memimpin bangsa Israel kembali ke tanah Israel. Itu adalah anugerah keselamatan Tuhan. Kata yasha dalam bagian ini menekankan kualitas respons iman dan ketaatan iman. Setiap orang bisa mengalami hal-hal di atas, tetapi yang membedakan mereka adalah kasih setia mereka dan kualitas akan pengenalan Tuhan yang benar. Bagaimana kita tahu bahwa mereka diselamatkan? Kita melihat respons iman mereka. Ternyata angkatan pertama Israel yang keluar dari Mesir mati karena sungut-sungut. Akhirnya Yosua, Kaleb, dan angkatan berikutnyalah yang boleh masuk tanah Kanaan. Ini karena mereka memiliki respons iman dan ketaatan iman. Mereka tidak menggerutu dan mempertanyakan Tuhan. Mereka mau terus belajar tentang Tuhan.

            Contoh dari arti yang kedua (terhindar dari kerusakan moral) adalah 1) keselamatan dari kerusakan moral (Hosea 1:7). Saat itu umat Israel berzinah rohani dengan menyembah berhala-berhala. Mereka kompromi dengan bangsa-bangsa yang fasik dan meninggalkan ibadah kepada Allah yang sejati. Namun kemudian ada anugerah Tuhan sehingga mereka tidak terus menerus berada dalam dosa ini. 2) Keselamatan berkaitan dengan kualitas pengenalan akan Tuhan (Hosea 6:6). Mereka takut berbuat dosa karena takut kepada Allah mahakuasa yang menyelamatkan mereka. Iman mereka dinyatakan melalui kasih setia mereka kepada Tuhan. Kita seharusnya takut berbuat dosa bukan karena takut kepada hukuman tetapi karena takut kepada Kristus yang sudah menebus kita. Kita takut berbuat dosa karena kita mengakui bahwa iman kita adalah anugerah Allah. Takut kepada hukuman dan takut kepada Allah itu berbeda kualitasnya. Pertobatan tanpa takut akan Allah bukanlah pertobatan yang sejati. Pertobatan karena iman yang benar adalah pertobatan yang sejati. Yasha dalam bagian ini menekankan kualitas rohani yang berani menolak segala kecemaran hidup dan berani mengutamakan Tuhan yang terekspresi melalui kasih setia dan pengenalan akan Tuhan yang benar. Dengan kualitas rohani seperti ini, orang tersebut akan lebih takut jika Allah membuangnya daripada takut kepada ancaman dan bahaya. Jadi keberanian mereka adalah keberanian yang suci yang menghancurkan para berhala. Dalam kisah para raja, kita melihat ada raja yang setia kepada Allah dan ada raja yang menyembah berhala. Respons raja yang beriman adalah berani menghancurkan semua patung berhala. Para raja yang kompromi dengan berhala bukanlah orang-orang yang beriman. Orang yang memiliki kualitas rohani juga berani mengutamakan Tuhan. Ia berani menunjukkan kasih setianya dan mau terus mengenal Allah dengan benar. Itu indikasi keselamatan.

            Dalam arti yang ketiga (pemeliharaan Tuhan: jiwa), yasha digunakan dalam arti sebagai berkat umum bagi umat Allah (contoh: Tuhan adalah… keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya – Mazmur 28:9). Tuhan tidak pernah gagal untuk mewujudkan anugerah keselamatan. Kita tetap bisa dilukai secara fisik, namun jiwa kita dipelihara oleh Tuhan. Sebagian dari para rasul mati karena dibunuh, namun keselamatan jiwa mereka pasti terjamin. Polikarpus ketika akan dihukum mati tidak menghujat Tuhan. Sebaliknya, ia berdoa dan memuji Tuhan. Yasha dalam bagian ini menekankan kualitas kesaksian hidup (hymne). Kesaksian itu bukan untuk menyatakan kehebatan kita atau orang lain. Kita menyatakan kebesaran Tuhan. Di sana kita mau agar orang-orang melihat kebaikan dan anugerah Tuhan. Kesaksian hidup bukanlah soal berapa banyak materi atau uang yang kita punya. Orang-orang rohani bisa bersaksi dari hal-hal yang kecil untuk menyatakan kebesaran Tuhan. Kita tidak perlu menunggu perkara yang besar terlebih dahulu baru kemudian bersaksi. Orang yang memiliki keselamatan itu selalu memuji Tuhan dan bersyukur. Itulah keindahan jiwa manusia.

Kemenangan iman itu nyata ketika jiwa menyatakan syukur dan memuji Tuhan. Namun tidak semua orang yang bernyanyi itu bernyanyi untuk Tuhan. Ada yang bernyanyi karena iman dan ada yang tidak. Kesaksian hidup seseorang bisa menjelaskan apakah orang itu sungguh menyatakan iman atau tidak. Fanny Crosby mengalami kebutaan dari sejak bayi karena kesalahan dokter. Suaminya juga tuna netra. Namun kekurangan secara fisik dan finansial tidak membuat mereka tidak bersaksi bagi Tuhan. Justru dalam kekurangan mereka bisa mempersaksikan Tuhan dengan luar biasa. Dalam keterbatasan mereka, mereka menyatakan Tuhan yang tidak terbatas. Hidup kita berkualitas karena selalu menjadi berkat bagi orang lain, bukan menjadi batu sandungan. Apakah Saul diselamatkan? Dari kisah hidupnya, kita bisa melihat bahwa Saul tidak memiliki kasih setia dan pengenalan yang benar akan Tuhan. Ia tidak memiliki jiwa yang bisa menerima Daud.

Keselamatan dalam Perjanjian Lama mencakup jiwa dan hidup yang kekal. Keselamatan di Perjanjian Lama tampak pada sikap iman yaitu ketaatan dan memprioritaskan Tuhan. Namun keselamatan dalam Perjanjian Lama tidak cukup karena fungsi Taurat menyatakan standar kesucian Tuhan dan memberikan kesadaran manusia akan dirinya sebagai orang berdosa (seperti fungsi foto Rontgen), tetapi tidak bisa memberikan solusi untuk menyelesaikan dosa dan akibat dosa yaitu kematian (baca Kejadian 3:15). Foto Rontgen tidak menyelesaikan masalah. Itu hanya memberitahu di mana titik penyakit kita. Seperti itulah hukum Taurat. Nubuat pertama tentang keselamatan dituliskan dalam Kejadian 3:15. Ayat ini menyatakan peperangan zaman sampai Kristus datang dan menggenapkan keselamatan di kayu salib. Setan mau mengagalkan itu tetapi tidak bisa. Jadi kehadiran Kristus bukanlah hal yang mendadak tetapi sudah dinubuatkan dari awal. Alkitab menyatakan keselamatan itu secara progresif.

2) Why God became man? (cur Deus homo?)

Dapatkah proses keselamatan manusia tanpa harus Allah menjadi manusia? Mengapa Allah bisa menjadi manusia? Jadi apa arti keselamatan dalam Yesus Kristus? Kita harus bisa melihat keindahan karya Yesus Kristus yang menjadi manusia untuk menebus kita. Orang-orang yang keberatan terhadap konsep ini menyatakan bahwa 1) hal ini tidak mungkin karena bertentangan dengan kemuliaan Allah karena Kristus sama dengan manusia yang hina. Kristus lahir di tempat yang hina dan dalam keluarga yang tidak kaya. Ia harus bekerja sebagai tukang kayu. Bagi orang-orang tertentu, ini tidak sesuai dengan kemuliaan Tuhan. 2) Bagaimana mungkin Allah yang kudus dan mahatinggi dapat menjadi manusia yang terbatas (lemah, haus, lapar, dan lainnya)? Bagi mereka ini adalah hal yang tidak mungkin. 3) Penjelmaan Allah menjadi manusia merupakan penghinaan dan pencemaran esensi Allah yang adalah Roh adanya. Bagi mereka Allah yang adalah Roh tidak mungkin menjadi manusia. Yesus dianggap sebagai hasil dari perkawinan secara biologis antara Yusuf dan Maria. Padahal Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Yesus lahir karena Maria mengandung dari Roh Kudus (Matius 1:20). Jadi kelahiran Yesus adalah karya Allah Tritunggal.

Jawaban kita bagi keberatan di atas adalah penjelmaan Allah menjadi manusia justru sesuai dengan kemuliaan Allah, bahkan sebagai satu-satunya jalan bagi manusia untuk kembali kepada Tuhan (Yohanes 1:14, 14:6; Kisah Para Rasul 4:12). Mengapa demikian? 1) Karena kemuliaan Allah tidak terbatas/dapat dibatasi oleh ciptaan-Nya dan kondisi dunia yang sudah tercemar karena dosa. Kemuliaan Allah ada pada diri-Nya sendiri. Dunia yang sudah berdosa pun masih berada dalam topangan Allah. Ketika Allah menjadi manusia, itu tidak mengurangi kemuliaan Tuhan. Allah tidak menjadi tercemar karena mengambil natur manusia. Kemuliaan Tuhan nyata dalam pribadi Yesus Kristus. Kemuliaan itu tidak berkaitan dengan harta atau kepopuleran tetapi berkaitan dengan kasih karunia dan kebenaran Yesus Kristus. 2) Kemuliaan Allah ada pada diri-Nya dan nyata di dalam manusia Yesus Kristus sebagai ‘gambar Allah yang sejati’ (Yohanes 1:14, Filipi 2:6-7). Kemuliaan Allah tidak bisa dihancurkan oleh kuasa manusia manapun. Allah Pribadi kedua menjadi manusia dan mengosongkan diri (kenosis) untuk mengerjakan keselamatan bagi kita. Jadi Allah yang mahakuasa, mahahadir, dan mahatahu masuk ke dalam dunia yang sementara dan Ia tidak berbuat dosa. Natur manusia yang diambil Kristus itu semua seperti kita dalam arti bisa bertumbuh secara fisik dan memiliki keterbatasan. Namun kualitasnya berbeda. Ia sudah suci dari sejak berada dalam kandungan Maria. Ia memiliki potensi untuk jatuh ke dalam dosa tetapi tidak mungkin berbuat dosa.

3) Karena kejatuhan manusia dalam dosa tidak menghilangkan status manusia sebagai milik Allah (Roma 3:10-12, 23). Maka penebusan manusia hanya bisa dikerjakan melalui jalan Allah menjadi manusia (Kejadian 3:15, Yohanes 1:1-2, Filipi 2:5-11). Manusia jatuh di dalam waktu, sedangkan malaikat jatuh di dalam kekekalan. Satu-satunya jalan keselamatan adalah Allah menjadi manusia. Allah masuk di dalam waktu untuk menyatakan misi keselamatan. Jadi keberatan-keberatan di atas sudah dijawab oleh Alkitab. 4) Hanya melalui Kristus menjadi manusia, penebusan dosa manusia dan pelunasan dosa-dosa manusia dapat diselesaikan (Galatia 3:13 – redemption by substitution). Karena Dia adalah manusia, Dia bisa mati untuk membayar harga untuk penebusan kita karena Dia adalah Allah yang kekal. Kematian adalah nilai yang cukup untuk menebus dosa-dosa manusia. Kristus rela menanggung semuanya sebagai pengganti. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Jadi manusia membutuhkan Tuhan Yesus Kristus. Jadi Allah menjadi manusia karena misi penebusan. Yesus Kristus mengerjakan tiga jabatan (raja, imam, dan nabi) dengan sempurna dan dalam nilai kesucian. Hidup Kristus menggenapkan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama. Penulis Ibrani dengan begitu indah menjelaskan kristologi dari kacamata Perjanjian Baru kepada orang-orang Yahudi. Kristus adalah nabi di atas segala nabi, imam di atas segala imam, dan raja di atas segala raja. Semuanya dikerjakan dengan sempurna. Ini membuktikan bahwa Ia adalah Allah. kematian-Nya cukup untuk menebus dosa-dosa manusia. Upah dosa ialah maut dan Kristus mengalami itu.

5) Karena Kristus adalah Anak Allah, hidup-Nya tidak pernah memiliki awal dan akhir. Jauh sebelum Ia datang ke dunia sebagai manusia (inkarnasi), Anak Allah sudah ada sebagai Allah (Yohanes 1:1-2 dan Matius 1:23). Ia menerobos dunia dalam kronos untuk mendapatkan kairos. Penebusan-Nya memiliki nilai kekal, maka dari itulah penebusan-Nya bersifat sejati. Allah Tritunggal sudah ada sebelum penciptaan. Ini berarti Anak Allah juga sudah ada dalam kekekalan. Ia bukanlah manusia yang dijadikan Allah. 6) Ada hal-hal yang menunjukkan bahwa Ia adalah Allah Pencipta. Hal ini tampak ketika Ia menghardik badai, dapat menjawab apa yang dipikirkan manusia, menundukkan kuasa Setan, dan selama Ia menjadi manusia Ia kudus, tidak berbuat dosa dan kematian dikalahkan dengan kebangkitan-Nya. Meskipun Allah Anak menjadi manusia, Ia tetap adalah Allah Pencipta. Ia tetap mahakuasa dan berkuasa atas alam. Ia tidak seperti nabi palsu yang mengklaim bahwa dirinya bisa meredakan badai namun sesungguhnya tidak dapat. Kitab Injil menyatakan bahwa Ia mahatahu. Ia tahu apa yang dipikirkan manusia. Para pemimpin agama ingin menguji dan menjebak Yesus, namun Yesus tahu benar apa yang mereka mau lakukan. Ia juga punya kuasa untuk mengusir Setan. Ketika orang-orang kerasukan melihat-Nya, setan-setan menjadi ketakutan. Semua ini menjelaskan bahwa Yesus bukanlah manusia biasa. Selama Ia hidup di dunia, Ia hidup kudus. Ia mengalami kematian namun kematian tidak dapat menguasai-Nya. Kesempurnaan-Nya menyatakan bahwa Ia layak menebus kita.

7) Kristus adalah pengantara untuk manusia yang menjadi seteru Tuhan. Jadi Kristus adalah pengantara antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa, karena Dia adalah Allah sekaligus manusia. Hanya Kristus yang dapat menjadi pengantara kita dan hanya Kristus yang satu-satunya dapat membersihkan dosa-dosa kita untuk dapat diterima Allah. Hanya Kristus yang dapat menanggung murka Allah sehingga Allah tidak lagi murka kepada kita (baca 1 Timotius 2:5-6). Tidak ada usaha agama yang dapat mendekatkan kita kepada Allah. Hanya Kristus yang bisa menjadi pengantara kita. Dalam zaman Perjanjian Lama, pengampunan dosa diberikan melalui persembahan korban hewan. Namun dalam Perjanjian Baru kita mengetahui bahwa Kristus adalah Domba Paskah itu. Kasih yang ajaib, keagungan, dan kemuliaan Tuhan nyata di kayu salib. Ia rela dan taat sampai akhir. Tujuh perkataan salib itu menunjukkan bahwa Ia adalah pribadi yang berbeda. Banyak orang bertanya bagaimana mungkin Allah menderita dan mati. Itu karena mereka tidak mengerti bahwa justru di kayu salib itulah Kristus menyatakan kemuliaan-Nya. Menyatakan kemuliaan dalam kekayaan dan kemakmuran itu biasa, namun tidak ada yang bisa seperti Yesus yang menyatakan kemuliaan-Nya di kayu salib. Segala penderitaan yang Kristus alami seharusnya dialami oleh kita manusia berdosa, namun Kristus menanggung itu semua demi kita. Keadilan dan kasih Allah bertemu di kayu salib. Ada aspek vertikal dan horizontal di sana. Murka Allah dipuaskan di atas kayu salib. Rahasia inkarnasi menunjukkan waktu dan kedaulatan Tuhan.

3) Apa kita Alkitab tentang keselamatan?

            Kata soteria dipakai dalam Perjanjian Baru. Ini merujuk kepada keselamatan jiwa kita, juga setelah kematian. Kita yang percaya bisa mati namun mati di dalam Yesus Kristus yang sudah mengalahkan kematian. Jadi kita tidak perlu takut kepada kematian. Ini bukan berarti kita tidak perlu menjaga diri. Kita tetap harus waspada karena itu perintah Tuhan kepada kita. Kata soteria bisa merujuk kepada tiga arti: 1) terbebas dari murka Allah: penghakiman Allah karena dosa, 2) terbebas dari konsekuensi dosa: hukuman dosa, dan 3) melalui jalur penebusan dosa dan pembenaran. Semua ini adalah agar kita bisa masuk Kerajaan Allah (Matius 19:24-25) dalam kebenaran, damai, dan sukacita. Kita dijadikan anak-anak Allah dan diutus untuk memberitakan Injil. Kita diberikan kuasa yang melebihi kuasa dunia ini. Orang yang sudah diselamatkan harus melakukan Amanat Agung Tuhan. Orang yang sudah diselamatkan akan bisa menghargai penebusan Kristus dan menikmati kerajaan Tuhan dalam nilai ketaatan secara penuh. Ia akan memakai hartanya untuk kemuliaan Tuhan. Kita harus menikmati kerajaan Tuhan itu dan menyatakan kerajaan Tuhan di manapun kita berada.

            Arti pertama dari kita soteria adalah terbebas dari murka Allah: penghakiman Allah karena dosa. Segala murka Tuhan hanya bisa dipuaskan melalui penderitaan Kristus di kayu salib sebagai manusia yang suci dan tak bercacat cela (Yesaya 53:4 dan 1 Tesalonika 5:9-10). Banyak orang tidak mengerti keindahan salib Kristus. Manusia bisa salah mengerti penderitaan Yesus Kristus di atas kayu salib. Penebusan Kristus adalah redemption by substitution. Kitadipersatukan dengan Kristus. Jadi Allah tidak akan pernah meninggalkan kita atau membiarkan kita. Ia selalu hadir bersama dengan kita. Dalam aspek yang kedua, soteria berarti terbebas dari konsekuensi dosa: hukuman dosa yaitu maut (Roma 6:23). Hukuman dosa yaitu maut hanya bisa digantikan dengan kematian dan dikalahkan dengan kebangkitan Kristus (Roma 5:10 dan 1 Tesalonika 5:9-10). Agama dan usaha agama tidak dapat menyelesaikan ini. Hanya Kristus yang dapat menyelesaikan ini semua. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa Ia adalah Allah. Jadi segala ajaran yang menyatakan bahwa Kristus bukan Allah itu pasti salah. Kristus adalah Allah yang layak untuk disembah. Aspek yang ketiga adalah melalui jalur penebusan dosa dan pembenaran. Melalui darah Yesus Kristus yang dicurahkan di bukit Golgota manusia dapat dibenarkan dan didamaikan dengan Allah (Roma 5:9, Ibrani 9:12-14, 22, 28, dan Kolose 1:13-14). Tuhan Yesus Kristus adalah korban yang sempurna. Ia mencurahkan darah-Nya sekali untuk selamanya, tidak perlu diulang-ulang. Setiap ajaran yang merendahkan Kristus (melihat Kristus hanya sebagai manusia dan bukan Allah) adalah ajaran antikristus.

4) Finalitas Kristus sebagai penebus dosa manusia melalui pengorbanan – pembenaran – pendamaian.

            Keberatan terhadap konsep ini menyatakan: 1) perbuatan ini tentunya menjadi tindakan yang tidak seharusnya dan mencoreng ketetapan Allah sendiri, karena bagaimana boleh orang yang jelas-jelas berdosa dinyatakan bebas dari hukuman karena ia benar adanya karena sudah memenuhi tuntutan hukum Allah melalui pengorbanan Kristus sebagai pengganti? 2) Bukankah tindakan itu dengan sendirinya menunjukkan Allah tidak bertindak dengan benar, karena Allah seperti Allah yang kejam dan pilih kasih? 3) Namun begitu bagaimana mungkin Alkitab masih menyatakan Allah benar adanya di dalam Ia membenarkan orang berdosa (Roma 3:26)? Ada orang-orang yang menyatakan bahwa Alkitab mengandung kesalahan dalam bagian ini. Namun bagi kita Alkitab itu 100% dari Allah dan tidak mungkin salah. Allah berdaulat penuh dalam proses penulisan Alkitab. Semuanya sempurna tanpa cacat cela. 4) Pembenaran berdasarkan jasa kematian penebusan Kristus mustahil adanya. Bagaimana mungkin kebenaran orang lain bisa dipertalikan pada orang berdosa (aspek hukum)? 5) Mengapa Allah harus mengorbankan anak-Nya mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia? Hal ini menunjukkan Allah telah kehilangan ke-mahakuasaan-Nya? Bukankah Allah mampu menyelamatkan umat-Nya tanpa perlu menjadi manusia atau mengorbankan Kristus di kayu salib?

            Apa jawaban terhadap semua keberatan di atas? Menimbang bahwa pembenaran soteriologis adalah pembenaran dalam fokus peradilan, pembenaran secara hukum, maka kita membutuhkan pengertian yang lebih lengkap untuk dapat mengerti bagian-bagian Alkitab yang menyatakan Allah membenarkan orang berdosa (misalnya Roma 4:25, 5:18) hanya melalui Kristus. Jadi tidak ada pendamaian dan pembenaran melalui jalur yang lain. Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan.

1) Manusia berdosa tidak bisa dan tidak mampu menyelamatkan diri sendiri dengan memenuhi tuntutan hukum Allah. Oleh karena itu manusia perlu penebusan yang bernilai kekal dan penggantian dengan pribadi yang sempurna untuk menyelesaikan dosa manusia. Adam mewakili seluruh umat manusia berbuat dosa dan Kristus mewakili semua umat Allah dalam menjalankan ketaatan sempurna kepada Allah untuk menggantikan kita (Roma 5:19). Jadi karya Kristus itu mutlak diperlukan dalam keselamatan.

2) Allah memiliki sifat keadilan dan kasih. Pelanggaran dosa manusia harus mendapat keadilan dari Allah. Oleh karena itu keadilan dan kasih Tuhan harus dilaksanakan secara utuh. Semua itu hanya mungkin dikerjakan oleh Kristus sebagai manusia, sama seperti kita, supaya dapat mewakili kita. Bedanya kemanusiaan Kristus dengan kita adalah kemanusiaan Kristus tidak berbuat dosa untuk menanggung penghukuman atas dosa-dosa umat manusia (Ibrani 4:14-15, 2 Korintus 5:21).

3) Manusia dapat memperoleh status benar bukan karena usahanya dan kesalehannya melainkan karena Kristus yang benar membenarkan manusia – Roma 3:26, Efesus 4:23-24 (justification by faith). Alkitab mengatakan melalui iman seseorang diperhitungkan benar, itu adalah karena ia pada kenyataannya benar dan bukan orang lain benar dan mewakilinya. Haruslah dicamkan bahwa pembenaran adalah perkara rohaniah. Orang berdosa bisa bersandar pada jasa kematian penebusan Kristus karena ia dan Kristus tidak berdiri terpisah satu dengan lainnya (union with Christ – Efesus 2:11-22).

4) Semua itu dimungkinkan karena jasa Kristus di dalam penyediaan keselamatan. Orang berdosa bisa diterima dan dibenarkan karena Kristus sudah menerima hukum Allah menggantikan hukuman untuk orang berdosa. Dengan demikian kita bisa mendefinisikan dengan lebih lengkap pembenaran soteriologis ini sebagai tindakan deklaratif Allah yang melaluinya orang percaya, berdasarkan kecukupan kematian penebusan Kristus, dinyatakan telah memenuhi seluruh tuntutan hukum yang dikenakan pada mereka. Pembenaran adalah tindakan hukum mempertalikan kebenaran Kristus pada orang percaya secara iman.

5) Misi penyelamatan umat manusia melalui Kristus sudah dinubuatkan setelah Adam jatuh di dalam dosa. (Kejadian 3:15, Yesaya 53, Mikha 5:3). Kemahakuasaan Allah tidak menjadikan manusia robot ketika dicipta dan setelah manusia jatuh dalam dosa. Artinya manusia diberikan kebebasan dan tanggung jawab sebagai seorang pribadi. Dengan menggenapkan Yohanes 3:16, justru menyatakan kemahakuasaan dan kasih Allah yang ajaib. Allah tidak kejam ketika memenuhi hukuman Allah pada Kristus di kayu salib sebagai pengganti manusia berdosa.

5) Manfaat keselamatan di dalam Yesus Kristus

Dari sini kita bisa banyak mengerti tentang manfaat penebusan Kristus. Hidup dalam Kristus itu tidak sia-sia. Kita bisa melihat manfaatnya sebagai berikut: 1) perubahan kondisi orang berdosa menjadi orang kudus (1 Korintus 1:2, 6:9-11). Ini adalah perubahan yang paling ajaib dalam sejarah. 2) Ia bukan lagi budak dosa, Setan, dan dunia, tetapi hamba Yesus Kristus dan kebenaran (Roma 6:12-14, 16-18). 3) Ia tidak lagi mati rohani terhadap Allah, tetapi hidup. Ia sekarang menjadi anggota rumah tangga Allah dan warga kerajaan-Nya (Efesus 2:1-5, Yakobus 1:22, Yohanes 1:12, Roma 6:23, Kolose 1:13). 4) Ia tidak lagi terhilang dari hadapan Allah karena ia adalah ciptaan baru dalam Kristus (2 Korintus 5:17, Efesus 2:10, Efesus 4:24). Kita dijadikan anak-anak Allah. 5) Ia tidak lagi hidup dengan perbuatan-perbuatan dosa, melainkan menjadi penggenap kehendak Tuhan – berbuat baik (Efesus 2:10, Roma 12:2, 1 Yohanes 3:9). Kita mengalami perbuatan kehendak. Kita disanggupkan untuk menjalankan kehendak Allah. 6) Ia tidak lagi berhutang kepada Allah untuk dosa-dosanya karena ia telah menerima pengampunan (Efesus 1:7, Kolose 2:13). Hutangnya sudah terlunasi untuk selamanya. Orang yang mendapat pengampunan itu akan merasa damai sejahtera dan nyaman. 7) Ia tidak lagi ada di bawah kutuk dan hukuman Allah, tetapi telah dibenarkan (Roma 5:1, 9, 18). Ia dibebaskan dari hukuman dan dinyatakan benar oleh Allah (Roma 8:1, 2 Korintus 5:21). 8) Ia tidak lagi tidak berdaya, tetapi mempunyai Roh Kudus yang memberinya kekuatan untuk menjadi dan melakukan semua yang Allah tuntut darinya (Yohanes 14:16-17, Filipi 4:13, 2 Petrus 1:3).

6) Hukuman Tuhan

            Orang-orang yang belum atau tidak percaya kepada Kristus memiliki status pendosa, budak dosa, budak Setan, budak dunia, mati rohani, terhilang, berhutang, dan tidak berdaya. Perbuatan mereka adalah berbohong, menipu, membunuh, berzinah, berpikir kotor, membenci, memfitnah, dan lainnya. Ini karena mereka tidak memiliki kuasa perubahan dalam diri mereka. Di dalam hatinya tidak ada Allah.

7) Perubahan hidup dalam Kristus

            Keberadaan orang percaya memiliki status orang kudus, hamba Kristus, hamba kebenaran, hidup rohani, ciptaan baru, lunas, dan berdaya. Di dalam hati orang percaya ada Allah Roh Kudus. Perbuatan orang percaya adalah melakukan pekerjaan baik (Efesus 2:10). Ia mengutamakan pekerjaan Allah. Keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus membuat kita menjadi pribadi yang berbeda. Kita diberikan hati yang mau melayani Tuhan dan mengenal Tuhan. Keberadaan kita akan konsisten dengan tindakan kita.

KESIMPULAN

1) Kebutuhan manusia yang paling hakiki setelah Adam jatuh ke dalam dosa adalah keselamatan. Covid-19 mengajarkan kepada kita bahwa semua orang butuh keselamatan. Banyak orang memerhatikan kebersihan dan kesehatan karena mereka mau selamat secara fisik. Namun keselamatan yang paling hakiki adalah keselamatan jiwa kita yang kekal dalam Yesus Kristus.

2) Keselamatan berdasarkan Taurat tidak cukup karena tidak memberikan pembaruan yang total untuk dosa-dosa manusia. Hanya Tuhan Yesus Kristus yang bisa memberikan pembaruan yang total.

3) Manusia tidak dapat menyelamatkan diri sendiri dan juga agama. Jalan satu-satunya keselamatan Allah mengutus anak-Nya yang tunggal untuk mati menebus dosa-dosa umat manusia (redemption by substitution).

4) Banyak ajaran tentang keselamatan menjadi ujian iman setiap orang, khususnya anak Tuhan yang sejati. Namun jaminan keselamatan yang paling sejati hanya ada dalam Yesus Kristus.

            Konsep surga dalam setiap ajaran agama berbeda-beda. Jadi kesimpulannya surga menurut ajaran Alkitab berbeda jalannya, kebenarannya, dan hidupnya. Surga berdasarkan ajaran Alkitab jelas jaminannya karena Allah yang menyediakan dan Kristus sendiri yang menjaminnya. Jaminan yang kekal itu diberikan kepada kita yang percaya. Tidak ada kuasa dunia apapun yang bisa mengambil kita dari tangan Kristus. Allah akan menjaga umat-Nya dalam hal kesucian.

Q & A

Q. Apakah pendeta yang menghardik Covid-19 sampai saat ini dan seterusnya disebut nabi palsu setelah mengaku diperintah oleh Tuhan? Bila pendeta itu adalah nabi palsu, bagaimana sikap kita tentang khotbahnya selama ini (sebelum dia mengaku diperintah oleh Tuhan), apakah kebenaran khotbahnya itu menjadi gugur dan sesat?

A. Peran nabi tidak ada lagi setelah Alkitab sudah dituliskan. Peran rasul juga sudah tidak ada lagi. Jadi kalau ada orang yang mengaku sebagai nabi maka dia adalah nabi palsu. Orang seperti itu harus kembali kepada kebenaran Alkitab agar ia bisa membedakan mana suara Tuhan, suara Setan, dan suara manusia. Kita harus kembali kepada suara Tuhan yang sudah tertulis dalam Alkitab. Kita harus membaca, merenungkan, dan menghidupi Alkitab. Kita harus mendengar suara hati nurani yang sudah dipimpin oleh Tuhan. Suara yang menyeleweng harus kita lawan. Kesesatan akan selalu ada, namun peran kita adalah membawa jiwa-jiwa itu kembali kepada Alkitab. Kebangkitan rohani yang sejati bukan berbicara soal mukjizat atau kekayaan. Kebangkitan rohani yang sejati adalah ketika jiwa-jiwa kembali kepada Tuhan, mau mencintai Firman Tuhan, dan mengalami perubahan hidup ke arah Kristus. Ketika membicarakan tentang pertumbuhan rohani, Alkitab memberikan gambaran tanaman anggur. Tanaman ini tidak bisa menjadi besar atau tinggi tetapi ia merambat. Buah yang dihasilkannya manis. Pohon ini bisa bertahan sampai 10-20 tahun. Ia bisa mengalami pembaruan ketika daun atau rantingnya dipotong. Kita mengikut Tuhan untuk memuaskan hati Tuhan. Teologi yang kita anut adalah teologi salib. Jika Gereja membuang ini, memakai Gereja akan kehilangan kemurnian dan kemuliaan. Jika Amanat Agung disingkirkan, maka Gereja akan menjalankan amanat dunia. Gereja itu akan menjadi Gereja yang mati. Gereja yang hidup harus mementingkan perintah Allah seperti penginjilan, mandat budaya, dan lainnya. Kita harus berhati-hati terhadap ajaran-ajaran yang sesat. Ada ajaran sesat yang mengajarkan tentang doa yang salah. Mereka mengajarkan doa yang memaksa kehendak Tuhan. Seharusnya melalui doa kita belajar kehendak Tuhan agar kita genapkan dalam hidup kita.

(Transkrip ini belum diperiksa oleh pengajar – TS)

Author: Tommy Suryadi