MENGERTI MAKNA SABAT YANG SEJATI (Vik.Tommy S.)

Bapak ibu sekalian kita sudah masuk ke dalam minggu pertama di dalam tahun yang baru ini. Saya mengajak kita untuk merenungkan tentang Sabat. Saya berharap dari perenungan kita pada hari ini, kita bisa mengerti dan menghayati Sabat. Jangan sampai kita datang beribadah hanya karena mengikuti tradisi Kristen atau karena ada suatu tuntutan, ada tekanan sosial. Jikalau kita gagal memahami makna Sabat yang sejati maka pada akhirnya kita datang beribadah hanya sekadar untuk menjalankan hukum atau tradisi tanpa mengerti makna yang sesungguhnya. Mari kita membaca Matius 12:1 -15a.

Jikalau kita melihat tentang hari Sabat maka pertama-tama kita bisa melihat dalam Kitab Kejadian pasal mula-mula dimana Allah menciptakan dunia dalam enam hari dan di hari yang ketujuh dikatakan bahwa Allah berhenti. Dalam perjalanan Musa dan bangsa Israel keluar dari Mesir dan menuju gunung Sinai untuk beribadah kepada Tuhan kita mengetahui bahwa bangsa Israel sempat mengeluh dalam hal makanan. Mereka berpikir akan mati kelaparan di tengah padang gurun yang gersang. Tuhan kemudian memberikan roti yang disebut ‘manna.’ Pada saat itu Tuhan sekaligus menyatakan perintah tentang Sabat. Dikatakan bahwa bangsa Israel selama enam hari bisa keluar dari tendanya dan memungut manna dengan jumlah yang cukup untuk seluruh anggota keluarga mereka. Tetapi pada hari keenam mereka harus mengumpulkan sebanyak dua kali lipat dari biasanya karena pada hari ketujuh roti tersebut tidak akan ada di luar perkemahan. Pada hari ketujuh mereka tidak boleh keluar mencari manna. Roti yang didapat pada hari keenam tersebut akan bertahan sampai hari esoknya, tidak seperti hari-hari lainnya dimana manna hanya bisa bertahan dalam satu hari saja. Setelah perintah itu dinyatakan ternyata ada orang-orang Israel yang bandel. Mereka mencari manna pada hari ketujuh. Tuhan menegur bangsa Israel karena tidak menguduskan Sabat.

Di dalam Sepuluh Perintah, Tuhan menyatakan perintah kuduskanlah hari Sabat. Tidak hanya bangsa Israel, para budak dan hewan-hewan pun harus beristirahat pada hari itu. Pelanggaran terhadap perintah ini ternyata hukumannya sangat serius. Hukumannya adalah kematian. Bagian ini mungkin membuat kita bertanya; sebegitu pentingkah perayaan Sabat ini? Jika kamu menghina orang tuamu dan engkau dihukum mati maka hal ini bisa dapat dimengerti karena orang tua adalah wakil Tuhan. Jika ada orang yang melanggar kekudusan bait Allah maka dia harus dihukum mati seperti Nadab dan Abihu yang mempersembahkan api yang asing di hadapan Tuhan. Hal ini saya bisa mengerti. Alkitab menceritakan tentang orang yang melanggar hari Sabat denganmengumpulkan ranting-ranting kayu. Orang ini dihukum mati dan ini membuat saya bingung. Bukankah ini hal yang sepele sekali? Mengapa hukumannya begitu keras? Jika kita tidak mengerti makna Sabat, jika kita hanya melihat hari Sabat sebagai hari perayaan biasa saja, maka kita akan berpikir bahwa hukuman mati itu terlalu berlebihan. Namun jika kita mengerti dengan benar maksud hari Sabat itu dan Sabat itu merujuk ke arah mana, maka barulah kita mengerti bahwa hukuman mati itu tepat. Jika ibadah dan Sabat tidak dimaknai dengan benar maka sebenarnya kita sudah gagal. Seandainya kita pernah melakukan hal itu, itu tidak berarti bahwa ibadah kita sia-sia, tetapi berkat yang kita terima di dalam hari Sabat itu tidak akan maksimal dan kita tidak menyenangkan Tuhan.

Dalam bagian yang sudah kita baca, pertama-tama dinyatakan bahwa Yesus berjalan di ladang gandum. Pada waktu mereka kelaparan, murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Hal itu dilihat oleh orang Farisi. Mereka dinilai melakukan hal yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat. Jikalau kita melihat kisah Israel dalam Perjanjian Lama maka kita akan menemukan banyak sekali teguran dari para nabi tentang bagaimana mereka tidak mengindahkan hari Sabat. Para nabi seperti Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel menyatakan bahwa mereka merayakan Sabat tetapi tidak dengan cara dan hati yang benar. Dikatakan bahwa perayaan Sabat mereka melelahkan Tuhan. Mereka tidak bosan melakukan dosa itu sampai dikatakan Tuhan itu capek. Tentu saja ini tidak berarti harfiah. Telah dinyatakan di dalam Kitab Yesaya dan Perjanjian Baru satu ayat teguran ‘bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku’ (Matius 15:8). Orang Israel bukan tidak beribadah, bukan tidak melakukan perayaan-perayaan seperti yang diperintahkan di dalam Alkitab. Mereka merayakan tetapi tidak dengan hati yang benar. Tuhan bukan melihat tampilan luar saja di dalam ibadah, tetapi Tuhan melihat dimana hati orang-orang yang beribadah karena ada orang-orang yang beribadah tetapi hatinya ada di tempat lain.

Ketika kita melakukan puasa, apakah kita hanya sekadar menahan lapar dalam kurun waktu tertentu atau ada hal lain yang lebih esensi daripada itu? Apa sebenarnya arti dari puasa? Apakah hanya sekadar melaksanakan hukum tanpa hati? Apakah kita sebagai orang Kristen sudah melakukan perintah-perintah Tuhan dengan hati yang benar? Kemarin di retret hamba Tuhan hal ini juga dibahas. Ini juga sebuah refleksi bagi kami para hamba Tuhan. Apakah hamba Tuhan berkhotbah hanya sekadar melakukan tanggung jawab dan tuntutan karena tidak ada orang lain yang bisa menggantikannya untuk berkhotbah? Apakah hamba Tuhan menjalankan pelayanan itu dengan sepenuh hati? Begitu pula kita tadi berbicara tentang puasa; dimanakah hatimu? Jika kita berpuasa tetapi pikiranmu selama berpuasa berpusat pada menu buka puasa, maka dalam hal ini kita sudah gagal. Puasa itu bukan tentang fisiknya saja tetapi hatimu dimana saat kamu berpuasa.

Bangsa Israel ‘bertobat’ di masa antara Perjanjian Lama dan Baru. Di Perjanjian Lama mereka mendapat banyak sekali teguran tentang hari Sabat, bahkan setelah pulang dari pembuangan pun Nehemia menuliskan bahwa banyak dari orang-orang ini telah melanggar hari Sabat. Setelah ini akhirnya mereka punya komitmen untuk menjaga hukum dengan sebaik mungkin. Di masa antara ini mereka membuat sekte-sekte baru misalnya Zelot, Farisi, Saduki, dan Eseni. Dua yang paling kita ketahui adalah Farisi dan Saduki. Bagaimana mereka menjaga komitmen ini? Orang Farisi membuat sejumlah peraturan tambahan dari hukum Taurat. Peraturan yang sudah ada dibuat lebih detail lagi. Pada hari Sabat dikatakan bahwa Israel tidak boleh membawa ranting, tidak boleh menyalakan api, dan tidak boleh bekerja pada hari itu namun mereka membuat peraturan tambahan yaitu misalnya hanya boleh berjalan beberapa Kilometer dan hanya boleh mengangkat beban beberapa Kilogram. Bangsa Israel begitu ditekan dengan aturan-aturan yang ada lalu orang-orang Farisi mengatakan bahwa inilah Sabat yang harus dijaga baik-baik sampai setiap hukumnya. Benarkah hal ini? Tentu saja tidak karena mereka salah mengerti tentang Sabat.

Di dalam Kitab Kolose dijelaskan bahwa kita sudah ditebus oleh Yesus Kristus dan bahwa Sabat itu pada akhirnya menunjuk kepada Kristus. Semua yang di belakang itu hanyalah bayang-bayang yang menunjuk kepada Kristus. Kristus-lah penggenapan dari semua itu. Jadi jikalau ibadahmu terlepas dari Kristus maka ibadah itu telah kehilangan maknanya. Orang Farisi salah mengerti Sabat dan berfokus pada seperangkat hukum yang mereka buat ini. Saat orang Farisi memprotes Yesus dan para murid ternyata Yesus membalas dengan kisah Daud “tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka pengikutnya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imamimam? Atau tidakkah kamu baca dalam Kitab taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imamimam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?” (Matius 12:3-5). Ketika saya membaca bagian ini, saya agak bingung. Mengapa Tuhan membenarkan orang yang melanggar? Kemudian kita melihat selanjutnya Yesus menyatakan identitas-Nya “Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah” (ay. 6). Lalu di ayat ke-7 kita baru mengerti maksudnya “Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.

Di dalam Teologi Reformed kita punya satu pengertian bahwa hukum-hukum yang Tuhan berikan ini bukanlah hukum yang kaku atau statis, semua harus dijalankan secara tepat, dan tidak ada yang boleh bertentangan. Namun ternyata ada kondisi-kondisi dimana suatu hukum itu lebih diprioritaskan daripada yang lain. Ini dijelaskan oleh Norman Geisler, seorang pakar etika Kristen. Ada hukum tertentu yang melebihi yang lain. Daud melanggar dengan makan roti sajian di Rumah Allah. Seharusnya hanya imam yang boleh, tetapi dia memakannya. Bukankah ini pelanggaran? Tetapi ini tidak melanggar. Di ayat ke-7 dinyatakan bahwa belas kasihanlah yang menjadi prioritas. Jika kita ada di posisi imam pada waktu itu, apakah kita akan berkata “Daud tidak boleh memakan roti ini, silahkan mati kelaparan di luar”? Imam Ahimelekh, tanpa berpikir banyak, mengatakan bahwa Daud dan para pengikutnya boleh memakan roti sajian itu asal mereka menjaga diri terhadap perempuan. Imam ini mengerti bahwa belas kasihan itu penting dan bukan sekedar menaati hukum-hukum tanpa mengerti esensinya.

Perkataan Yesus pada ayat ke-7 bukan berarti kita tidak perlu memberikan persembahan karena bukan itu intinya. Kita juga harus memberikan persembahan dengan hati yang benar. Apakah benar-benar ada hati untuk Tuhan? Atau kita memberikan persembahan karena tidak enak dilihat orang-orang, karena opini massa? Sekali lagi masalah ada di hati; memaknai atau tidak. Setelah itu Setelah pergi dari sana, Yesus masuk ke rumah ibadat mereka. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka bertanya kepada-Nya: “Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?” Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia” (Matius 12:9-10). Orang-orang Farisi mencari kesalahan Yesus. Mereka bukan mencari keadilan tetapi mencari kesalahan-Nya. Yesus malah bertanya balik (ay. 11) Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya?” Di dalam Injil Matius juga Yesus menegur orang Farisi dalam hal menjalankan hukum. Mereka membuat hukum-hukum baru lalu membebani jemaat dengan itu, padahal mereka sendiri tidak bisa menjalankannya. Ini pemimpin agama macam apa? Yesus menyatakan bahwa mereka munafik.

Kemudian Yesus berkata Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat. Kita mengerti bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah. Menumpahkan darah manusia itu berarti membunuh gambar dan rupa Allah. Tuhan keras sekali dalam hal menumpahkan darah gambar dan rupa Allah “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia” (Kejadian 9:6). Maka Reformed melihat bahwa hukuman mati itu boleh. Mengapa? Justru karena dia sudah menumpahkan darah gambar dan rupa Allah maka ada hukuman yang begitu serius terhadap orang itu. Nyawa manusia jauh lebih berharga daripada hewan. Tentu saja orang ateis tidak bisa berkata demikian karena orang ateis menganggap bahwa manusia sama seperti hewan. Bedanya hanyalah manusia jauh lebih pintar. Namun jika ada anak yang keterbelakangan mental maka mereka akan menyatakan bahwa hewan lebih berharga daripada anak itu. Tetapi kita mengucap syukur karena di dalam Alkitab dinyatakan bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah. Manusia mempunyai tempat yang khusus di dalam tatanan penciptaan. Maka dari itu Tuhan menekankan pentingnya belas kasihan kepada sesama manusia. Tuhan menekankan bahwa boleh berbuat baik di hari Sabat. Kasih menggenapi hukum (Roma 13:8). Yesus kemudian menyembuhkan tangan orang itu. Tetapi setelah sembuh, orang Farisi bukannya bertobat dan memuji Allah karena mukjizat itu melainkan (Matius 12:14) “Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia. Ini adalah reaksi orang-orang yang tidak mau bertobat. Mereka salah mengerti Sabat, mengajarkan secara salah, dan kemudian Tuhan datang untuk memberitahu yang benar malah mereka tidak bisa menerima. Mereka lebih memilih apa yang sudah mereka diskusikan bersama dan tidak mau melihat Anak Allah yang datang.

Mari kita melihat Kolose 2:6-23. Dalam Surat Kolose ini Paulus menyatakan keutamaan Kristus. Paulus dalam bagian ini menyatakan tentang kepenuhan hidup di dalam Kristus. Paulus menjelaskan bahwa Yesus Kristus adalah Kepala dari semua perintah dan penguasa, di dalam Dia jemaat disunat oleh sunat Kristus, jemaat dikuburkan di dalam Dia melalui baptisan, di dalam Dia jemaat turut dibangkitkan di dalam kuasa Allah, Dia yang mengampuni kita, dan hal-hal penting lainnya. Paulus menampilkan kembali gambaran Kristus yang utama di dalam seluruh dunia ini dan bukan hanya dalam hidup individu saja. Lalu Paulus masuk ke dalam ayat 16 dan 17. Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.

Di dalam teologi Reformed, Kristus kita sebut sebagai Sabat yang sejati. Dia-lah yang sedang ditunjuk oleh Sabat itu. Sabat sebenarnya sedang berbicara tentang Pribadi yang sangat besar yaitu Kristus, makanya bangsa Israel tidak boleh gagal dalam hal ini. Persembahan korban dan Anak Domba Paskah pun juga sama pentingnya karena ini menunjuk kepada satu Pribadi yang ada di depan. Penggenapannya adalah Yesus Kristus. Ada orang-orang yang sangat taat hukum tetapi dia tidak melihat hukum ini sebenarnya untuk apa dan esensinya apa. Begitu pula orang-orang Farisi ini merayakan Sabat dengan segala peraturan yang mereka buat sendiri yang dikatakan di sini ada peraturan-peraturan manusia. Mereka gagal untuk melihat Pribadi yang sedang ditunjuk oleh Sabat itu. Dalam Matius 12 kita melihat hal yang sangat ironis yaitu Sabat yang sejati itu sudah ada di depan mata mereka tetapi mereka merasa lebih pintar soal Sabat dan menolak Sabat yang sejati itu.

Sudahkah kita mengerti makna ibadah kita? Apakah tahun-tahun yang lalu kita menjalankan ibadah kita hanya untuk memenuhi kewajiban dan lain-lainnya yang tidak esensi? Kita mengerti bahwa Sabat itu artinya perhentian. Ini berarti bahwa Kristus itu adalah perhentian kita yang sejati. Di dalam Perjanjian Lama, pada hari Sabat bangsa Israel berhenti secara fisik. Namun jangan sampai kita berpikir bahwa yang fisik dengan yang spiritual itu terpisah. Perhentian secara fisik itu mendorong kita untuk bisa menghayati dan memaknai arti yang lebih dalam tentang perhentian yang sesungguhnya secara spiritual. Kita harus bisa menghayati perhentian itu dan merenungkan bahwa perhentian yang sejati, peristirahatan yang sejati bagi jiwa saya hanya ada di dalam Kristus. Agustinus mengatakan (parafrase) ‘hatiku gelisah, tidak mendapatkan ketenangan, tidak mendapatkan istirahat, sampai aku menemukan Kristus.’ Kristus itu terlalu besar bagi kita dan kita tidak mungkin bisa mengerti sepenuhnya, tetapi kita mengucap syukur bahwa ada Allah yang maha besar yang memberikan kita peristirahatan. Di dalam dunia ini kita terus mengalami peperangan rohani, kita terus mengalami kesulitan, kesengsaraan, dan penderitaan tetapi Firman Tuhan berkata “Marilah kepada-Ku , semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Yesus memberikan kelegaan di tengah segala beban itu. Di dalam agama-agama lain para pengikutnya harus melakukan banyak ini dan itu baru bisa selamat. Mereka tidak bisa beristirahat sebelum melakukan semuanya. Mereka berakhir dengan kelelahan dan tanpa pengharapan. Kita sudah pernah melihat kisah Luther. Dia berkomitmen untuk menjadi biarawan karena takut akan hukuman Tuhan. Saat itu Luther belum mengerti tentang Kristus Pada waktu itu dia mencari tengkorak Yohanes Pembaptis karena dipercaya dapat menambah kerohaniannya. Dia mencari surat indulgensia, berdoa di setiap anak tangga depan gereja, semuanya dilakukan agar dosanya dapat dihapuskan dan dirinya disucikan. Luther mencoba segala cara tetapi dia belum menemukan solusi. Setelah dia membaca Perjanjian Baru barulah dia menemukan apa yang dia cari selama ini yaitu Yesus Kristus yang memberikan kedamaian dan ketenangan hati baginya.

Agustinus juga mengalami hal yang mirip. Ia begitu banyak melakukan dosa dan dia mencari keselamatan. Dia mencoba semua filsafat tetapi tidak menemukan solusi. Akhirnya dia mencoba filsafat Manikeisme yang menyatakan bahwa ada terang, ada gelap, ada baik, dan ada yang jahat, dan mereka terus beradu tetapi semuanya seimbang. Tetapi dia melihat tidak ada solusi dari semua ini. Suatu hari seorang anak kecil memberinya Alkitab “ambilah dan bacalah.” Setelah dia membuka dan membaca Perjanjian Baru barulah dia bertemu dengan Kristus. Hatinya baru menemukan kedamaian, peristirahatan, dan perhentian yang sesungguhnya pada waktu berjumpa dengan Kristus. Kiranya bagian ini bisa membuat kita semakin menghayati Sabat. Jangan sampai Sabat itu hanya kita anggap sebagai seperangkat kegiatan tanpa makna. Di tahun yang baru ini marilah kita mencoba untuk lebih menghayati lagi Kristus yang sudah mati bagi kita.