Latest Post

Iman, Pengetahuan, dan Keselamatan (STRIC Soteriologi Mei-Juni 2020)

Categories: STRIC

STRIC Soteriologi Mei-Juni 2020

Pdt. Tumpal H. Hutahaean, M.Th.

9 Mei 2020: Iman, Pengetahuan, dan Keselamatan

PENDAHULUAN

            Kita akan membahas tentang iman, pengetahuan, dan keselamatan. Setiap manusia memiliki akal budi dan diberi kemampuan untuk dapat mengetahui sesuatu, baik yang ada di dalam dirinya dan di luar dirinya sendiri (image of God). Demikian pun setiap orang dalam kebebasannya dapat membangun konsep tentang Allah, tetapi masalahnya tidak semua pengetahuan ini mendatangkan keselamatan dan mengandung iman yang benar.

            Alkitab berbicara tentang mengenal Allah dengan berbagai cara. Contoh seseorang dapat mengetahui tentang Tuhan secara kognitif – mind faith (Roma 1:18-21), dan secara perasaan (feeling faith (Roma 10:1-3). Tetapi dengan jelas Alkitab mengatakan dua macam pengetahuan ini tidak mengandung iman, bahkan tidak menyelamatkan. Ada orang-orang yang tahu tentang Tuhan (mind faith) tetapi tidak memuliakan Tuhan. Ada pula orang-orang yang giat dalam ibadah (feeling faith), namun tidak mengetahui kebenaran. Mengapa pengetahuan tentang bisa tidak mengandung iman, bahkan tidak menyelamatkan?

PEMBAHASAN

Allah menanam benih iman dalam diri kita melalui pekerjaan Allah Roh Kudus. Setelah itu kita bisa lahir baru dan bertobat. Itulah yang mendatangkan keselamatan dalam hidup kita. Apakah kalimat ini benar: ‘pengetahuan dahulu baru beriman’? Ataukah ‘pengertian dahulu baru beriman’? Efesus menyatakan bahwa iman mendahului pengetahuan dan pengertian. Kita tidak melihat bukti terlebih dahulu baru kemudian percaya. Yesus berkata: berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya (Yohanes 20:29). Saat itu Thomas meminta bukti dahulu sebelum percaya, sedangkan yang benar adalah iman dahulu kemudian pengetahuan, pengertian, dan bukti. Jadi di sini ada peran iman dalam Yesus Kristus. Iman inilah yang memimpin pengetahuan dan pengertian kita. Kita tidak mungkin mengerti Tuhan yang begitu besar dengan akal budi kita sendiri. Akal budi kita sudah jatuh dalam dosa. Saat Tuhan menebus kita, akal budi kita juga tidak mungkin menampung semua pengertian yang terlalu luas dan dalam tentang Tuhan. Kita harus diberikan iman dari Tuhan terlebih dahulu.

Ketika iman memimpin pengetahuan dan pengertian, keduanya akan menghasilkan kebenaran yang mengandung aspek kekekalan. Kebenaran itu akan memimpin kita bertumbuh ke arah Kristus. Di sini ada konsep from faith to faith. Jika iman tidak memimpin, maka itu bukan true faith. Iman yang benar adalah kita percaya kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat (Yohanes 6:68-69). Kebenaran itu mengandung nilai yang mutlak. Kebenaran itu sempurna. Kebenaran itu bersifat asali dalam Alkitab. Jadi kebenaran itu tidak bisa ditiru, ditambah, atau dikurangi. Kebenaran adalah kebenaran tanpa dibela sekalipun. Roma 1:17a mengatakan bahwa iman kita akan dipimpin kepada iman (from faith to faith). Jadi kebenaran itu membuat iman kita tidak abu-abu. Jika kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, maka kita juga akan mencintai kebenaran yang kembali kepada Alkitab. Kita akan mendengarkan Alkitab, bukan kita orang.

Jadi kita memiliki iman yang mendahului pengetahuan dan pengertian. Ketika kita bisa mengerti, maka itu adalah anugerah. Pengetahuan akan Tuhan itu dimulai dengan hati yang takut akan Tuhan (Amsal 1:7). Ketika kita mau mengerti Alkitab, kita harus memiliki sikap ibadah. Kita diberikan iman sehingga kita bisa hidup dalam iman dan iman itu memimpin kita kepada kebenaran. Jadi iman yang sejati dan kebenaran sejati tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa mengatakan ‘beriman saja tanpa teologi yang benar’. Iman itu bertumbuh dari pendengaran akan Firman Tuhan tentang Yesus Kristus. Jadi iman tidak bisa dikompromikan, ditambah, atau dikurangi. Kebenaran itu memengaruhi muatan iman seseorang.

Credo ut intelligam (I believe in order to understand – Roma 1:17b). kalimat ini pertama kali diutarakan oleh Anselmus pada abad ke-11 awal. Kalimat ini begitu terkenal. Kita yang percaya akan terus terdorong untuk mengerti kebenaran Firman Tuhan. Jadi kita haus akan kebenaran. Kalimat ini juga merupakan konsep Agustinus, yaitu iman yang mencari pengertian. Jika ada orang yang mengaku beriman tetapi tidak mencari kebenaran, memakai imannya perlu dipertanyakan. Tanpa rasa haus akan kebenaran, iman orang itu perlu dipertanyakan. Konsep credo ut intelligam menyadarkan kita bahwa iman yang sejati itu harus berdasarkan apa kata Alkitab (2 Timotius 3:16-17). Alkitab itu benar adanya dan cukup dalam menjelaskan keselamatan kita. Alkitab itu cukup untuk menyatakan tentang Allah, Gereja, dan doktrin-doktrin penting lainnya. Jadi Alkitab tidak boleh ditambah atau dikurangi. Otoritas Alkitab itu menyatakan bahwa Alkitab itu benar dan sempurna. Alkitab itu juga jelas dan diinspirasikan oleh Allah Roh Kudus. Dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru tidak ada tulisan yang bertentangan. Semuanya saling melengkapi. Penulisan Alkitab mencakup empat zaman yang berbeda namun semuanya harmonis. Maka dari itu Alkitab baik untuk mengajar kita, menyatakan kesalahan kita, membina kita, dan memimpin kita kepada kebenaran. Setelah kita bergaul dengan Alkitab, membaca, mengerti, dan menghidupi Alkitab, semuanya itu akan melengkapi kita untuk melayani Tuhan. Kita tidak boleh bersemangat dengan iman tanpa pengetahuan. Paulus menulis bahwa pelayanan tidak boleh dipercayakan kepada orang yang baru bertobat (1 Timotius 3:6). Ini karena ia bisa dengan mudah dicobai Setan sehingga terjatuh. Hal ini akan menghalangi pekerjaan Tuhan. Orang yang bertobat boleh melayani dalam porsinya. Orang itu harus dimuridkan sampai matang iman.

Iman yang sejati dibangun di atas dasar Firman Tuhan. Yesus berkata: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya (Matius 16:18). Jadi perlu ada fondasi. Gereja memiliki fondasi kebenaran. Jadi orang yang mengerti kebenaran berhak mendirikan Gereja. Iman yang sejati harus berkaitan dengan kebenaran dan pengetahuan tentang hidup kekal. Ini karena iman yang sejati memengaruhi pikiran dan emosi (Roma 12:1-3 dan Filipi 4:8). Iman yang sejati akan membentuk cara berpikir kita. Roma 12:1-3 menjelaskan hal ini. Pikiran kita harus diubahkan. Dahulu mungkin kita berpikir bahwa uang adalah segala-galanya, namun setelah bertobat kita mengerti bahwa Tuhan adalah segala-galanya. Perubahan pikiran itu dimulai dari iman yang sejati. Filipi 4:8 juga mengajarkan tentang apa yang harus kita pikirkan. Jadi Tuhan-lah yang membarui pikiran dan emosi kita. Allah Roh Kudus menggarap pikiran dan emosi kita sehingga menjadi kudus. Di sana kita menjadi haus akan kebenaran dan menjadi cerdas dalam Tuhan. Emosi kita juga dicerdaskan dalam Tuhan. Jadi iman itu sangat penting.

Bagaimana dengan orang yang mengaku Kristen tetapi pikirannya dan emosinya tidak berubah? Banyak orang menjadi Kristen hanya karena ikut-ikutan atau karena emosi. Kalau seseorang memiliki iman yang sejati, maka Allah Roh Kudus akan menggarap pikiran dan emosinya sehingga menjadi selaras dengan pikiran dan emosi Tuhan. Jadi kalau ada orang yang mengaku Kristen tetapi pikiran dan emosinya tidak beres, maka sangat mungkin imannya tidak beres atau sedang bermasalah. Imannya mungkin bermasalah karena ia tidak membaca Alkitab setiap hari. Orang itu mungkin tidak pernah menundukkan dirinya sebagai murid kebenaran. Ia tidak mau mengakui dosa dan kelemahannya. Jadi masih ada kesombongan yang perlu dihancurkan supaya ia kembali kepada Tuhan.

Iman yang sejati juga akan menggarap karakter seseorang (Galatia 5:22-23 dan Matius 5-7). karakter bisa terbentuk karena pengaruh orang tua, lingkungan, dan pelajaran. Namun setelah kita ada di dalam Tuhan, maka Tuhan akan menyucikan karakter kita sehingga menjadi serupa dengan karakter Kristus. Kita dituntut untuk memiliki karakter rohani, bukan lahiriah. Karakter lahiriah bisa diadopsi atau ditiru. Karakter rohani didapat ketika kita bergaul dengan Firman Tuhan yang membarui kita. Di sana kita menjadi orang yang kasih, baik, dan lainnya sampai penguasaan diri. Jadi kita harus memiliki disiplin rohani dalam membaca Alkitab. Khotbah di Bukit juga berbicara tentang karakter rohani. Orang yang memiliki karakter rohani itu pasti dekat dengan Tuhan. Yesus membuka khotbah ini dengan kalimat: berbahagialah orang yang miskin dalam roh (Matius 5:3). Orang yang seperti ini merasa bahwa dirinya tidak ada apa-apanya. Yesus menutup ucapan bahagia dengan menyatakan tentang orang yang berbahagia karena menderita bagi Tuhan (ayat 11-12). Jadi karakter rohani itu terbentuk dalam relasi dengan Tuhan dan kebenaran-Nya.

Iman yang sejati juga mengajarkan tentang satu sikap (Roma 3:27-28). Orang yang melihat keselamatan sebagai anugerah dengan orang yang melihat keselamatan sebagai suatu upaya diri itu memiliki sikap yang berbeda. Orang yang melihat keselamatan sebagai anugerah itu tidak memiliki kebanggaan diri. Ia tidak bisa membanggakan apapun dari dalam dirinya. Orang itu sadar bahwa dirinya adalah pendosa besar dan ia perlu diselamatkan oleh Allah. Di dalam Tuhan kita boleh berjalan dalam terang dan kesucian. Kita bisa hidup dalam kesalehan dan kerohanian. Semua itu bukan berasal dari kekuatan diri kita tetapi anugerah Tuhan. Jadi secara sikap kita tidak menjadi orang yang sombong. Kita tidak boleh merasa lebih baik daripada orang lain. Kita memiliki tanggung jawab iman untuk meraih yang terbaik bagi Tuhan. Setelah mengerjakan semua itu, kita harus mengakui bahwa itu adalah anugerah. Saat kita membanggakan diri, kita sudah berdosa. Iman yang sejati akan menghancurkan kesombongan-kesombongan kita. Ketika sikap kita digarap oleh Tuhan, maka kita akan selalu mau mempersaksikan Kristus (2 Korintus 3:2-3). Kita adalah surat terbuka yang bisa dibaca oleh setiap orang melalui apa yang kita lakukan. Jadi kita harus hidup berhati-hati. Orang-orang akan melihat hidup kita dan bisa mempermalukan kita jika kita tidak benar. Sikap kita yang digarap oleh Roh Kudus adalah untuk menjalankan Amanat Agung Tuhan. Ketika kita menginjili, orang-orang harus bisa melihat keteladanan kita. Sikap itu bukan untuk menyatakan kehebatan kita tetapi kehebatan Tuhan. Di sana kita menyatakan siapa Penebus yang sejati. Sikap kita juga adalah untuk menggenapkan kehendak Allah (Matius 7:21). Kehendak Allah selalu berkaitan dengan nilai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu mengandung kebenaran, damai, dan sukacita. Kita membawa sukacita ketika kita membawa Injil. Kita membawa damai di manapun kita berada. Kebenaran akan senantiasa kita nyatakan sebagai anak-anak Tuhan. Kehendak Allah selalu bernilai kekal (kairos). Jadi fokus kita bukanlah hal-hal yang tidak kekal.

Tuhan mau kita bertumbuh ke arah Kristus berdasarkan Alkitab. Iman akan terus mendorong sikap kita sehingga kita mementingkan penggenapan kehendak Tuhan, bukan diri. Dalam hal ini terkadang adalah peperangan otoritas diri dengan otoritas Tuhan. Pada akhirnya kita harus menundukkan otoritas diri kita di bawah otoritas kehendak Tuhan. Murid kebenaran akan senantiasa menghidupi dan mempersaksikan Firman Tuhan. Ia pasti rindu untuk menggenapkan semua kehendak Tuhan dalam hidupnya. Ia sadar bahwa kehendak Tuhan itu kekal. Orang-orang Kristen teladan yang telah meninggal sebenarnya sudah meninggalkan jejak-jejak kaki rohani yang kekal. Perjuangan hidup kita adalah menggenapkan kehendak Tuhan. 1 Korintus 10:13 mengingatkan kita untuk mengaitkan segala hal dengan kemuliaan Tuhan. Jika sikap kita tidak berkaitan dengan kemuliaan Tuhan, maka sikap itu tidak berasal dari iman. Jadi dari iman yang sejati, ujung akhirnya adalah kemuliaan bagi Tuhan. Iman itu mendorong kita untuk mencari pengertian. Orang yang beriman akan mencintai kebenaran dan membagikan kebenaran itu.

Apakah kalimat ini benar: ‘tidak perlu doktrin atau teologi. Saya hanya perlu nama Yesus’? Orang yang mengatakan ini merasa tidak membutuhkan pengetahuan. Sebagai manusia kita diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang memiliki aspek kebenaran, pengetahuan, dan kesucian. Dengan pikiran kita mau mengerti kebenaran Tuhan. Kita mau bergaul dengan Tuhan dalam kesucian. Sebagai manusia kita juga memerhatikan etika dan keadilan. Hewan tidak memiliki ketiga hal ini. Kalimat di atas itu salah dan berbahaya. Alkitab mengingatkan kita akan bahayanya nabi palsu (Ulangan 13:1-3 dan 18:20-22). Mereka bernubuat palsu untuk membawa orang-orang jauh dari Tuhan. Mereka memakai nama Allah untuk menipu orang-orang. Menurut Perjanjian Lama, orang-orang seperti itu harus dihukum mati. Tuhan tidak pernah bermain-main dengan kesucian-Nya, kemuliaan-Nya, dan kebenaran. Setan akan terus membuat kepalsuan, jadi kita harus berhati-hati. Orang yang berkata ‘teologi tidak penting’ sebenarnya sudah membangun suatu teologi yang menyatakan bahwa teologi itu tidak penting. Matius 7:15-23 dan 24:3-11 juga menyatakan tentang nabi palsu di akhir zaman. Para pendeta dan rasul palsu itu bagaikan domba, namun sebenarnya mereka adalah serigala. Mereka akan melakukan mukjizat untuk menyesatkan banyak orang. Keberadaan rasul palsu sudah disebut dalam Matius 24:4-5. Mereka menjual nama Tuhan untuk menunjukkan kehebatan diri. Peran nabi dan rasul sudah selesai. Sekarang peran yang masih ada adalah gembala dan penginjil. Orang-orang yang mengaku sebagai nabi atau rasul baru perlu dipertanyakan.

Mengapa kalimat di atas tidak benar? Rasul Paulus menegaskan bahwa keseluruhan Firman Tuhan harus diajarkan dalam Gereja (Kisah Para Rasul 20:26-27). Gereja yang tidak dibangun di atas batu karang yang sejati itu bukanlah Gereja. Orang yang tidak mengerti kebenaran tidak berhak mendirikan Gereja. Jika orang yang tidak mengerti kebenaran mau mendirikan Gereja, maka ia akan menyesatkan banyak orang. Para penilik jemaat harus mengajarkan Firman Tuhan secara menyeluruh, bukan sebagian. Ada pendeta-pendeta yang terus menekankan berkat tetapi tidak pernah menegur dosa. Kita harus berhati-hati dengan pendeta yang demikian. Gereja yang sehat pasti ingin mengerti Firman Tuhan secara menyeluruh. Gereja yang sehat pasti mengajarkan Firman Tuhan dalam prinsip-prinsip yang memimpin praktik dalam hidup. Orang yang hanya mau mengerti hal-hal praktis tanpa prinsip tidak akan bertumbuh. Teologi itu penting untuk mengarahkan bangunan iman kita dengan benar kepada Tuhan.

Mengapa rasul Paulus menegaskan hal itu? Supaya jemaat memiliki iman yang matang dan dewasa (Ibrani 5:14 dan Efesus 4:11-16). Mengapa kita harus mengerti kristologi dengan dalam dan benar? Alkitab menuntut demikian. Jika kita tidak mengerti ajaran-ajaran yang benar, maka kita akan mudah guncang ketika ajaran palsu datang. Tuhan mau kita memiliki iman yang matang dan dewasa. Orang yang matang dan dewasa iman akan siap menerima ajaran yang keras. Ia mau mempelajari semua doktrin. Doktrin itu melengkapi kita agar kita tidak berdosa dalam hal pengajaran. Makanan keras melatih panca indra kita sehingga kita tahu mana yang baik dan yang jahat. Orang yang tidak matang atau dewasa iman berarti tidak memiliki iman yang menyelamatkan. Orang itu bisa memiliki pengetahuan tetapi tidak memiliki iman. Pengetahuannya tidak memimpinnya kepada pengertian yang lebih dalam lagi. Orang yang matang dan dewasa iman tidak akan mudah jatuh ke dalam dosa. Ia tidak akan dengan mudah menerima pengajaran palsu. Pengalaman rohani harus diuji berdasarkan Alkitab. Seluruh pekerjaan, baik yang berhasil maupun tidak, jadi harus diuji. Efesus 4:13 mengajarkan kita untuk mencapai pengetahuan yang benar tentang Allah Anak dan kedewasaan yang penuh sehingga kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh pengajaran palsu. Tuhan mau kita memiliki kedewasaan dan kematangan iman. Dalam hal itu kita memiliki kecerdasan iman. Orang yang haus akan kebenaran pasti akan memiliki kecerdasan iman. Orang yang cerdas iman bisa membedakan mana ajaran yang benar dan yang palsu. Jemaat Efesus dalam kitab Wahyu itu cerdas iman, namun mereka tidak melakukan penginjilan.

Hati-hati dengan kepalsuan iman yang selalu dikerjakan oleh Iblis dengan cara menanamkan pengetahuan dan pengertian yang salah tentang kebenaran Alkitab mulai dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Jadi ada peperangan iman untuk mengerti kebenaran. Setan tidak akan tinggal diam tetapi terus bekerja untuk menyesatkan manusia. Jadi kita harus mengerti doktrin. Kalimat ‘doktrin tidak penting’ itu tidak benar karena yang pertama: bahaya karena ada Kristus palsu (2 Tesalonika 2:8-10). Dalam zaman akhir ini ada Kristus palsu. Kalimat di atas tidak benar karena hal yang kedua yaitu bahaya karena Injil palsu (Galatia 1:8). Paulus sedih karena jemaat Galatia begitu mudah tertipu oleh Injil palsu. Injil palsu bisa menghasilkan feeling faith (Injil yang ditambah). Injil itu sendiri sudah cukup untuk menyelamatkan orang percaya. Jadi tidak perlu ada penambahan. Injil palsu juga bisa menghasilkan mind faith (Injil yang dikurangi). Ada orang-orang yang menyatakan bahwa ada kalimat-kalimat tertentu dari Alkitab yang harus dikurangi karena tidak dianggap sebagai Firman Tuhan. Alasan ketiga adalah bahaya karena ada Gereja palsu (Wahyu 2:9). Tuhan mengingatkan jemaat di Smirna bahwa akan ada bahaya aniaya, namun mereka diminta setia sampai mati. Orang-orang yang menganiaya itu disebut sebagai Gereja palsu. Alasan keempat adalah bahaya karena ada kebenaran palsu (Roma 10:3). Dalam zaman ini ada banyak kepalsuan. Alasan kelima adalah bahaya karena ada saudara-saudara palsu atau Kristen palsu (2 Korintus 11:26). Pelayanan penginjilan rasul Paulus dihalangi dan dihambat oleh saudara seiman yang palsu. Banyak orang dengan mudah mengatakan: kita semua bersaudara. Kita sebenarnya bersaudara jika iman kita beres. Ada orang-orang yang memakai nama Tuhan dalam pelayanan namun sebenarnya mengincar kekayaan dan ketenaran. Mereka adalah saudara-saudara palsu. Alasan keenam adalah bahaya karena ada tanda-tanda dan mukjizat palsu (Matius 24:24). Pada zaman akhir ini ada banyak tanda palsu yang memakai nama Tuhan. Dalam masa pandemi ada orang-orang yang mau menunjukkan kehebatannya dengan bernubuat palsu. Menurut kitab Ulangan, orang-orang seperti ini seharusnya dihukum mati.

Apa kata Alkitab tentang kepalsuan iman yaitu feeling faith dan mind faith? Mengapa iman perasaan (feeling faith) yang menuntut fenomena rohani disertai dengan semangat dan sukacita dalam beribadah dan juga giat dalam Tuhan (melayani) tidak menyelamatkan? Kita bisa melihat dari Roma 10:1-3. Roma 10:2 berbicara tentang orang yang giat melayani Tuhan tanpa pengertian yang benar tentang Tuhan. Orangseperti itu tidak diselamatkan. Semua pelayanannya berfokus kepada manusia. Ia memuaskan hati sendiri, bukan hati Tuhan. Kebenaran tidak menjadi pokok dalam pelayanannya. Roma 10:3 berbicara tentang orang yang beriman dan beribadah tanpa mengenal kebenaran Allah. Mengapa ada orang-orang yang seperti ini? Kebenaran mereka dibangun berdasarkan pengalaman, bukan kata Alkitab. Kebenaran tidak boleh dikompromikan. Mereka tidak mau diajar (back to Bible) dan suka memaksa iman. Mereka juga suka memaksa Tuhan untuk melakukan apa yang mereka minta. Jadi mereka memaksakan kehendak diri dan menjual nama Tuhan. Gerakan ini biasanya anti-rasional. Bagi orang-orang penganut iman perasaan, rasio dianggap sebagai musuh iman. Mereka mengandalkan pengalaman karena iman dianggap tidak cukup. Alkitab menyatakan bahwa karunia Roh Kudus diberikan agar kita menggenapkan kehendak Allah, bukan untuk memamerkan fenomena-fenomena rohani. Kita tetap melibatkan perasaan dalam ibadah, namun perasaan tidak boleh memimpin. Iman harus memimpin pikiran dan perasaan serta sikap kita.

Mengapa iman pikiran (mind faith) yang menuntut pengetahuan tentang Tuhan secara faktual dan rasio juga tidak menyelamatkan? Yakobus 2:19 menyatakan bahwa Setan pun memiliki pengetahuan. Setan-setan yang bertemu dengan Yesus pun memiliki pengetahuan. Kita tidak menolak rasio, bahkan kita harus memakai rasio. Rasio kita harus ditundukkan di bawah kebenaran Tuhan. Kita bisa melihat dari Roma 1:18-21. Jadi iman pikiran tidak selalu mengandung iman karena tidak mengandung hal-hal yang kekal dan pembentukan karakter. Iman pikiran tidak menyelamatkan karena orang itu bisa mengetahui siapa Kristus namun hanya secara fragmen dan menolak secara komprehensif tentang siapa Kristus seperti yang dinyatakan Alkitab. Alasan kedua adalah orang itu memakai standar rasio untuk menerima kebenaran. Ini berarti hal-hal yang tidak masuk akal dari catatan Alkitab akan ditolak. Gerakan ini biasanya anti-supranatural karena apriori memperbudak rasio. Sebelum mempelajari Alkitab, mereka sudah membuat benteng sehingga mereka tidak mengerti Alkitab. Matius 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Orang Yahudi hebat pengetahuannya namun mereka tidak selamat. Mereka saleh secara lahiriah, namun hati mereka tidak takut akan Tuhan. Maka dari itu kita tidak boleh seperti mereka untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Pengetahuan yang benar akan menggarap sikap dan kesalehan kita sehingga kita menjadi orang-orang yang sungguh takut akan Tuhan.

Jadi pengetahuan tentang Allah yang sejati atau yang sempurna itu seperti apa? Seperti yang dikatakan dalam Yohanes 17:3. Kita harus mengenal satu-satunya Allah yang benar yaitu Allah Tritunggal di dalam Yesus Kristus. Jadi doktrin Allah Tritunggal tidak boleh salah.

STUDI KASUS: Ayub 42:5-6

            Ayub sendiri sudah saleh dan rohani. Ia adalah pengusaha yang hebat. Namun ketika Tuhan mengujinya, semua konsep teologinya terbongkar. Ia menyalahkan Tuhan. Dari semua temannya, hanya Elihu yang bisa memimpinnya kepada kebenaran. Pada akhirnya Ayub bertobat dan tidak menyalahkan Tuhan. Ia tidak berani menganggap dirinya benar. Melalui penderitaan dan kesulitan ia mengenal Tuhan. Pergumulannya membarui teologinya. Orang Kristen tanpa pengetahuan dan pengertian yang benar tentang Allah Tritunggal adalah orang Kristen tanpa kandungan iman. Pengetahuan dan pengertian tentang Allah Tritunggal harus selaras dengan kehidupan sehari-hari – menghidupi Firman Tuhan (Matius 7:24). Firman Tuhan harus menjadi fondasi hidup kita. Iman, pengetahuan, dan keselamatan tidak bisa dipisahkan.ks

KARAKTERISTIK PENGETAHUAN DAN PENGERTIAN YANG BENAR

1) Pengetahuan yang menuntun orang tersebut untuk mengenal dirinya sendiri di dalam Tuhan (image of God). Dan ketika seseorang semakin mengenal Allah dan mengenal dirinya maka ia akan semakin menyadari dirinya adalah orang yang tidak berharga dan terus merendahkan dirinya di hadapan hadirat Tuhan (lihat Yesaya 6:5 dan Lukas 5:8).

2) Kemudian ia akan menaati Firman Tuhan dan semakin mengasihi Kristus (lihat Yohanes 14:15, 21 dan 1 Yohanes 5:3). Menaati Allah berarti memperoleh pengetahuan yang lebih dalam tentang Dia (lihat Yohanes 7:17 dan Amsal 1:7; 9:10).

3) Pengetahuan yang sejati akan Allah akan mengakui ketuhanan Kristus di atas segalanya (lihat Yeremia 9:23-24 dan Roma 10:9-10).

4) Pengetahuan seperti ini akan menghasilkan kesucian hidup yang semakin meningkat di dalam dirinya (lihat Ibrani 12:14, Efesus 4:24, Kolose 3:10, dan Roma 8:29).

5) Pengetahuan seperti ini juga akan mendorong dia untuk menaklukkan setiap pikiran dunia di bawah pikiran Yesus Kristus (lihat 2 Korintus 10:5) dan menggenapkan mandat memerintah yaitu mandat budaya dan mandat Injil (Kejadian 1:26-28 dan Matius 28:18-20).

            Jadi pengetahuan tentang Allah ini sangat penting dalam kehidupan orang percaya. tanpa unsur-unsur tentang pengetahuan yang menyelamatkan dan pengetahuan dasar-dasar tentang iman Kristen yang mendasar, maka kehidupan kekristenan sering menjadi tidak produktif, bahkan menjadi semu atau tidak berharga.

KESIMPULAN

1) Pengetahuan yang benar dan menyelamatkan tidak cukup jika hanya tahu tentang siapa Kristus tetapi tidak mau mengerti secara komprehensif tentang fakta-fakta dan informasi tentang Kristus dalam karya-karya-Nya secara menyeluruh.

2) Pengetahuan yang bersifat fragmen tetapi tidak mengakui atau setuju terhadap kebenaran dari Alkitab secara keseluruhan adalah pengetahuan yang tidak menyelamatkan. Ini adalah iman pikiran atau Injil yang dikurangi.

3) Pengetahuan yang menyelamatkan bukan hanya setuju, mengakui kebenaran Alkitab saja dan memercayakan dirinya pada Kristus. Tetapi ia harus rela untuk menghidupi (menaati) seluruh perintah dan pengajaran Yesus, maka ia pasti diselamatkan.

4) Pengetahuan dan pengertian tentang Allah yang benar akan menuntun pada pertumbuhan iman berkaitan dengan mengasihi Allah, sesama manusia, dan kebenaran Alkitab – from faith to faith (Yohanes 17:3).

Jadi kita harus mengejar pengertian yang benar dari Alkitab. Itu akan memimpin hidup kita menjadi benar di hadapan Allah. Di sana keselamatan kita bisa dikaitkan dengan penggenapan kehendak Allah. Ajaran palsu akan mengarahkan hidup kita kepada kepalsuan karakter rohani dan kesalehan. Pengajaran yang benar bisa membawa kepada iman yang benar. Namun pengajaran yang salah bisa menyesatkan.

Q & A

Q. Apakah kesalahan dalam mengenal Allah Tritunggal (misalnya Sabelianisme, wrong christology, wrong pneumatology) menyatakan bahwa memang orang tersebut dan pengajarnya akan menerima hukuman kekal?

A. Alkitab menyatakan contoh-contoh ajaran palsu. Dalam jemaat Galatia ada pergumulan tentang Injil yang palsu. Surat Yudas menyatakan tentang iman yang dipalsukan oleh orang-orang tertentu. Surat Wahyu juga menyatakan tentang ajaran-ajaran palsu. Para pengajar palsu ini pasti dihukum. Yesus berkata: Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut (Matius 18:6). Hukuman diberikan kepada penyesat dan orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran. Pikirannya akan diserahkan kepada kecemaran (Roma 1). Jadi ada hukuman dalam hati dan pikiran. Semua itu terjadi dalam kedaulatan Tuhan. Kita tidak perlu menghakimi orang-orang seperti itu. Tugas kita adalah membawa jiwa mereka kembali kepada Tuhan. Kita harus memerhatikan teguran Tuhan Yesus kepada jemaat Efesus yang kehilangan kasih mula-mula. Jadi kita harus berfokus untuk memenangkan jiwa-jiwa. Kita membenci dosa namun mengasihi jiwa-jiwa. Jadi orang-orang yang sesat seharusnya tidak kita hakimi tetapi kita bimbing secara perlahan sampai mereka mendapatkan ajaran yang benar.

Q. Kristen bukan agama (bawah ke atas) tetapi dari atas ke bawah. Lalu bagaimana dengan konsep ‘agama Kristen’? Apakah ada signifikansinya?

A. Istilah ‘Kristen’ dalam Kisah Para Rasul sebenarnya merupakan suatu ejekan. Kita adalah pengikut Kristus, bukan pengikut agama. Kekristenan lahir dari atas ke bawah. Kita harus mengerti rahasia inkarnasi Kristus yaitu mengapa Allah rela menjadi manusia. Di dalam kekristenan kita percaya bahwa orang yang dipilih itu memiliki iman dalam Yesus Kristus. Pusat kekristenan dan Gereja adalah Kristus. Organisasi, administrasi, dan pelayanan sosial bukanlah pusatnya, walau itu semua penting. Kekristenan bukan berasal dari bawah ke atas. Itu adalah kekristenan berdasarkan kata manusia. Kekristenan yang sesungguhnya adalah dari atas ke bawah untuk membawa kita yang hina menjadi mulia karena Kristus. Kristus mencari kita yang mati dalam dosa untuk diselamatkan. Ia mati dan bangkit agar kita mendapatkan hidup yang kekal bersama dengan Kristus. Kita dimampukan untuk melakukan pekerjaan Tuhan yang mulia. Perubahan hidup kita adalah karena belas kasihan Tuhan dari atas ke bawah yaitu pekerjaan Allah Roh Kudus yang menggarap kita. Kekristenan harus melalui kelahiran baru dan pertobatan sejati, bukan warisan orang tua. Kekristenan karena warisan itu tidak menyelamatkan. Kekristenan itu adalah Kristus yang mengubah hati kita melalui pekerjaan Allah Roh Kudus. Kemuliaan Tuhan itu nyata tanpa kita harus bela.

Q. Dalam beberapa kondisi, orang Kristen yang sudah bertobat akan mengalami kelesuan rohani. Bagaimana memandang tanggung jawab orang Kristen terhadap iman yang harus dipelihara?

A. Tuhan mengizikan kita mengalami jatuh-bangun. Namun kita harus mengingat pentingnya pemuridan. Jika kita tidak memiliki kelompok pemuridan, maka setidaknya kita harus menggarap diri sendiri. Kita harus belajar disiplin rohani dalam pembacaan Alkitab, doa, dan ibadah. Saat sedang jatuh, kita harus memohon ampun dan memohon agar kita bangkit. Daud mengalami kejatuhan saat ia menjadi raja, namun ia bertobat setelah menerima teguran. Sampai tua ia tidak lagi jatuh ke dalam dosa yang sama. Kita harus mengutamakan Tuhan setiap saat karena hidup kita sudah menjadi milik Kristus. Kita bisa jatuh, namun kita tidak boleh tertidur dalam dosa. Di sana kita harus berdoa agar Allah Roh Kudus memukul kita. Jika kita tidak mau taat, maka kita harus bersiap menerima pukulan dari Tuhan agar kita kembali. Masa pandemi ini bisa menyadarkan kita untuk kembali kepada Tuhan. Kesombongan manusia bisa dihancurkan melalui masa pandemi ini. Melalui masa pandemi ini Tuhan juga menguji dan memurnikan iman dan hidup kita.

(Transkrip ini belum diperiksa oleh pengajar – TS)

Author: Tommy Suryadi