Latest Post

Renungan Harian

28 Desember 2020

Katekismus Heidelberg P4 (Tuntutan Hukum Allah)

 

Pert. Apa yang dituntut hukum Taurat Allah dari kita?
Jaw. Itu diajarkan Kristus kepada kita secara ringkas dalam Mat. 22:37-40, ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal-budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.’

 

Hukum Allah tidak hanya berbicara mengenai ‘apa yang jangan dilanggar’ tetapi juga ‘apa yang harus dilakukan’. Perintah seperti ‘jangan mencuri’, ‘jangan membunuh’, dan ‘jangan berzinah’ memberikan kesan bahwa hukum Allah lebih banyak berbicara mengenai ‘apa yang jangan dilanggar’. Namun inti hukum Allah dalam Perjanjian Lama, yang dikutip oleh Tuhan Yesus, dengan jelas menyatakan bahwa hukum Allah berbicara mengenai ‘apa yang harus dilakukan’.

Kita diminta untuk mengasihi Allah dan manusia. Mungkinkah manusia bisa diperintahkan untuk mengasihi? Bukankah kasih itu seharusnya muncul secara alamiah dari hati dan bukan dipaksakan atau diperintahkan? Kita tidak bisa mempertanyakan hal ini karena dengan jelas Allah memerintahkan kita untuk mengasihi.

Kita mungkin tidak selalu bisa ‘merasa’ mengasihi Allah karena perasaan kita bisa berubah-ubah. Kasih kepada Allah kita nyatakan pertama-tama bukan melalui perasaan tetapi melalui komitmen untuk mengikut Tuhan setiap hari. Kita menyatakan kasih juga melalui penyangkalan diri. Ketika Musa diutus ke Mesir, ia belum menjalankannya dengan sepenuh hati. Akan tetapi, ia tetap memutuskan untuk pergi sesuai arahan Tuhan. Petrus tetap menebarkan jalanya karena Tuhan memberikan perintah meskipun ia tidak yakin penuh atau tidak semangat menjalankannya (Lukas 5:5).