Dengar Malaikat Nyanyi

Lagu ini dalam bahasa inggrisnya berjudul “Angels We Have Heard on High” merupakan suatu lagu carol natal. Yang pastinya bertemakan kelahiran Tuhan Yesus berdasarkan injil Lukas 2:8-20. Lagu ini menggambarkan suatu sukacita sorgawi oleh para malaikat ketika Sang Juruselamat itu hadir di dunia ini melalui seorang dara Maria.

Lirik aslinya berdasarkan suatu teks lagu natal perancis yang kemudian pada tahun 1862 diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh James Chadwick. Musik refrainnya sangat dikenal itu dibuat oleh Edward Shippen Barnes. Edward Shippen Barnes (September 14, 1887 in Seabright, New Jersey – February 14, 1958) adalah seorang pemain alat musik organ asal Amerika. Ia lulusan dari Yale University. Ia terlibat dalam pelayanan di gereja Presbyterian. Karena kecintaannya terhadap musik-musik gereja, ia pernah menuliskan suatu buku mengenai musik-musik agama kristen. Melodinya dibuat melismatic artinya menggunakan banyak nada dalam satu kata. Ayatnya adalah kutipan dari nyanyian malaikat:

Lukas 2:14 

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Salah satu ekspresi iman kristen dan sukacita sejati mengenai kelahiran Kristus diungkapkan melalui nyanyian. Karena ini pula yang dinyatakan dalam alkitab. Bahwa Kelahiran Kristus disambut oleh nyanyian Para Malaikat. Nyanyian yang begitu indah, yang mungkin belum pernah di dengar oleh dunia. Pasti merupakan suatu kabar yang begitu luar biasa sehingga membuat Para Malaikat menyanyikan pujian di hadapan para gembala. Berita itu adalah kedatangan Sang Juruselamat di dunia ini.

DI MALAM SUNYI BETLEHEM

Teks: Philips Brooks (1835-1893), 1868

Musik: Lewis H. Redner (1831-1908), 1868

Lukas 2:4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, —karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud.

Carol Natal yang terkasih ini berasal dari tulisan salah seorang pengkotbah Amerika terkemuka di abad yang lalu, Philips Brooks. Pada masanya ia sering dikenal sebagai “Pangeran Mimbar.” Buku-buku berisi kotbah-kotbahnya yang diterbitkan telah menjadi karya klasik dalam literatur Amerika. Dikatakan bahwa ia telah memenangkan hati banyak orang dengan kotbah dan tulisannya seperti yang sedikit pengkotbah lain lakukan.

“O Little Town of Bethlehem” ditulis pada tahun 1868, beberapa tahun setelah Brooks kembali dari perjalanan ke Yerusalem. Pengalamannya melalui Malam Natal di Bethlehem dan menyembah di dalam Church of Nativity, yang diperkirakan sebagai tempat kelahiran Kristus, meninggalkan suatu kesan yang tak dapat dihilangkan bagi pengkotbah muda ini. Tiga tahun kemudian, ketika menjadi pendeta di Gereja Holy Trinity, Philadelphia, Pennsylvania, ia mencari sebuah carol baru untuk anak-anaknya nyanyikan pada acara Natal Sekolah Minggu mereka. Kenangan yang masih melekat itulah yang menginspirasi Brooks untuk menulis teks ini.

Meskipun ia belum menikah, Brooks sangat menyukai anak-anak. Konon dia selalu menyediakan mainan, boneka dan barang-barang lainnya yang menarik anak-anak dalam ruang belajarnya sehingga anak-anak muda terdorong untuk berhenti dan bercakap-cakap dengannya. Pemandangan yang biasa terlihat dari laki-laki penting ini adalah ia duduk di lantai ruang belajarnya bergembira bersama sekelompok anak muda. Kematiannya yang mendadak sangat mendukakan setiap orang yang mengenalnya. Suatu kali ada seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang sangat kesal karena tidak bertemu dengan Pdt. Brooks selama beberapa hari. Ketika diberitahu oleh ibunya bahwa Pdt. Brooks telah pergi ke surga, anak itu berseru, “Oh, Mama, betapa gembiranya para malaikat!”

Untuk music dari lagu ini, Brooks memberikannya kepada organis dan pimpinan Sekolah Minggunya, Lewis H. Redner, untuk mengkomposisikan sebuah melodi sederhana yang dapat dinyanyikan oleh anak-anak dengan mudah. Render dikenal di seluruh wilayah Philadelphia sebagai seorang pemimpin Kristen dalam bidang Sekolah Minggu dan juga sebagai seorang yang sangat tertarik akan musik gereja. Ia bergumul selama beberapa waktu untuk membuat melodi yang tepat bagi teks karya pendetanya itu. Pada sore hari sebelum acara itu dilaksanakan, mendadak ia terbangun dari tidurnya dan dengan cepat mengkomposisi melodi seperti yang kita ketahui sekarang ini. Carol tersebut segera menjadi favorit anak-anak saat itu, seperti halnya juga menjadi favorit anak-anak dan orang-orang dewasa di seluruh dunia pada masa kini. Carol ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1874. Meskipun Brooks menulis banyak carol Natal dan Paskah lainnya, khususnya untuk anak-anak, carol inilah satu-satunya yang bertahan melampaui ujian waktu.

Dunia Gemar dan Soraklah

Teks  : Isaac Watts, 1719

Musik : George F. Handel, 1742

Lukas 2:10

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa.

Sukacita adalah kata kunci bagi seluruh masa Adven, khususnya bagi umat Kristen yang menyadari makna spiritualnya – Allah sendiri datang ke dalam dunia dan menyediakan cara agar manusia yang berdosa dapat hidup kekal selamanya. Teks ini pada umumnya dianggap sebagai salah satu himne Natal yang paling sukacita yang ada, bukan dalam arti membuat gembira, tetapi memiliki kesadaran yang dalam dan sungguh-sungguh akan apa arti dari kelahiran Kristus bagi umat manusia.

Himne adven ini adalah salah satu himne karya Isaac Watts yang terdapat dalam himnalnya yang terkenal Psalms of David Imitated in the Language of the New Testament (1719). Isaac Watts sangat ingin memberi Mazmur sebuah arti dan gaya dalam musik ibadah kristen. Hal ini ia lakukan, dalam kumpulan di tahun 1719 tersebut, dengan terlebih dahulu menafsirkan seluruh ayat dari 150 Mazmur. “Joy to the World” adalah parafrase dari ayat-ayat yang diambil dari bagian akhir kedua dari Mazmur 98:4, 7-9 yang berbunyi:

Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran.

Mazmur 98 adalah sebuah lagu sukacita mengenai cara-cara Tuhan yang menakjubkan untuk melindungi dan memulihkan umat pilihan-Nya. Mazmur tersebut mengharapkan saat dimana Yehova akan menjadi Tuhan bagi seluruh bumi dan hukum Israel akan diterima oleh segala bangsa. Akan tetapi, Watts telah memberikan bait ini sebuah parafrase yang menyegarkan: pujian tentang keselamatan yang dimulai ketika Tuhan berinkarnasi sebagai seorang bayi di Betlehem untuk mengenyahkan kutuk karena kejatuhan Adam. Isaac Watts awalnya memberi judul teksnya ini “The Messiah’s Coming and Kingdom” – “Kedatangan Mesias dan Kerajaan-Nya.”

Melodinya digubah oleh Lowell Mason yang terinspirasi dari 2 lagu dari oratorio Messiah oleh G. F. Handel: “Comfort Ye” dan “Lift Up Your Heads,” untuk dicocokkan dengan kata-kata karya Watts “Joy to the World.” Tune adaptasi ini dikenal dengan nama “Antioch” dan pertama kali muncul dalam terbitan Lowell Mason, Modern Psalmist, di tahun 1839. Meskipun beberapa tune lain pernah digunakan dengan teks Isaac Watts, “Antioch” terbukti merupakan tune yang paling terkenal dan abadi. Melalui kombinasi talenta dari seorang jenius literatur Inggris di abad ke delapanbelas, seorang kelahiran Jerman, raksasa musik dari periode yang sama, dan seorang Amerika dari abad ke sembilanbelas, pemimpin paduan suara dan pengajar, himne besar lainnya lahir dan sejak saat itu menemukan tempat yang tetap dalam halaman-halaman himnal gereja kita untuk digunakan sepanjang masa Adven ini.

GOD IS OUR REFUGE AND OUR STRENGTH

Samuel Ward lahir pada 28 Desember 1848 di Newark, New Jersey. Ia sudah mulai bermain accordion ketika berumur 6 tahun dan saat berumur 16 tahun, ia menjadi pemain organ di salah satu Gereja di New York. Kemudian ia juga mulai membuat lagu-lagu Kristen khususnya untuk bagian melodinya.  Ia menulis melodi ‘Materna’ dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Melodi it uterus berputar di kepalanya ketika ia mengendarai kapalnya. Tapi ia tidak pernah mendengar melodi yang dibuatnya ini dinyanyikan dengan lirik atau teks lagu karena ia meninggal pada 28 September 1903. Sedangkan melodinya mulai digunakan pada November 1904.

Lirik lagu ini ditulis berdasarkan pada Mazmur 46. Tema besarnya adalah “Perlindungan dari Allah”. Mazmur ini menyatakan bahwa Allah adalah perlindungan kita sejati. Kenapa? (1) Karena Allah bertahta atas ciptaan. Jelas sekali bahwa Allah adalah pencipta segala yang ada. Ia berkuasa atas segala yang ada. Maka Ia adalah perlindungan yang tepat bagi kita karena Ia berkuasa atas segala yang ada. (2) Karena Allah bertahta atas sejarah. Ia juga Allah yang mengendalikan sejarah. Ia yang membangkitkan bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan. Ia juga yang menghapuskan bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan dari sejarah.

Kalimat “Pergilah, pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi, yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!” Merupakan penegasan bahwa kita bisa melihat dengan jelas betapa kemahakuasaan Allah atas alam dan sejarah. Ini menyadarkan kita betapa Besar Allah Pelindung kita.

Hai Mari Berhimpun (O Come All Ye Faithful)

Pertama lagu ini dari bahasa latin yaitu “Adeste Fideles” yang kemudian diterjemahkan oleh Frederick Oakeley, seorang hamba Tuhan dari Anglican, ke dalam bahasa inggris “O Come All ye Faithful” (Hai Mari Berhimpun). Musik dari “O Come All ye Faithful” dibuat oleh John Francis Wade yang dipublikasikan pertama kali pada 1751 di Inggris. Ia adalah seorang Katolik yang hidup pada abad ke-18. Liriknya tidak terlalu jelas siapa yang menulisnya. Mungkin berasal dari tulisan John of Reading pada abad ke-13. Ada juga yang mengatakan dari Handel bahkan Gluck. Namun ada juga yang akhirnya menyimpulkan bahwa John Francis Wade adalah penulis liriknya. Aslinya terdiri dari 4 bait kemudian ditambahkan menjadi 8 bait. Liriknya diterjemahkan dalam banyak bahasa dari waktu ke waktu.

Lagu ini menyampaikan iman Kristen yang begitu dalam. Dalam teks latin ada 4 bait. Bait pertama menyatakan inkarnasi Yesus ke dalam dunia. Ia lahir di Betlehem. Bait ke-2 menyatakan keilahian Yesus Kristus. Yesus adalah Terang sejati dan Allah sejati bukan dicipta. Bait ke-3 menggambarkan nyanyian malaikat yang memuji Dia seperti dalam Lukas 2:13-14. Bait ke-4 merupakan suatu pujian karena peristiwa luar biasa terjadi dalam sejarah bahwa Yesus Kristus telah lahir. Sebagai respon dari semua ini, penulis mengajak kita untuk datang kepada Yesus dan meninggikan Dia. Di tengah-tengah kesibukan acara natal, jangan sampai lupa bahwa kita harus datang kepada Yesus dan meninggikan Dia.