Bermegah di dalam Tuhan

“Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” (2 Korintus 10:17)

 

Manusia berdosa cenderung untuk memegahkan diri sendiri. Ada yang bermegah karena kekuatan tubuhnya, jabatannya, atau hartanya. Ada pula yang memegahkan diri karena pencapaian-pencapaian di dalam hidupnya. Namun Rasul Paulus telah memberikan pesan bagi orang-orang ini: bermegahlah di dalam Tuhan dan bukan diri sendiri. Ada beberapa poin kebenaran yang kita dapat renungkan bersama.

 

Continue reading “Bermegah di dalam Tuhan”

Pergaulan dan Kebiasaan

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. (1 Korintus 15:33)

Charles Darwin berkata “A man’s friendships are one of the best measures of his worth” (pergaulan seseorang adalah salah satu tolak ukur terbaik untuk menilai orang tersebut). Pernyataan ini benar adanya. Paulus menyatakan bahwa pergaulan yang buruk akan merusakkan kebiasaan yang baik. Ada yang dengan percaya diri mengatakan “saya tidak akan dipengaruhi orang lain, justru saya akan mempengaruhi orang lain” namun kemudian jatuh ke dalam dosa temannya. Ada yang bertanya “bagaimana saya dapat menginjili orang berdosa jika saya tidak bergaul dengannya?” Ada pula yang bertanya “jika saya memilih teman, bukankah itu berarti saya pilih kasih?” Bagaimana kita memahami ayat ini?

 

Continue reading “Pergaulan dan Kebiasaan”

Kebersamaan di dalam Tuhan

Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati. (Yohanes 21:14)

 

Tuhan Yesus sudah sebanyak tiga kali menyatakan kepada para murid-Nya bahwa Ia akan mati namun akan bangkit pula. Meskipun sudah dinyatakan sebanyak tiga kali, para murid hanya dapat menangkap sebagian kebenaran yaitu “Yesus akan mati” dan berhenti pada kalimat tersebut. Mereka pada saat itu belum dapat mengerti apa arti kebangkitan yang disebutkan oleh Yesus. Kalimat Yesus mendatangkan kesedihan bagi mereka, bukan karena Tuhan tetapi karena mereka tidak mengerti ucapan tersebut. Pembaca Alkitab yang belum mengerti arti kebangkitan, jika membaca bagian ini, dapat mengalami kesedihan yang sama. Dalam Yohanes 21, Tuhan Yesus menampakkan diri kepada para murid yang pada saat itu berpikir bahwa Yesus sudah mati dan tidak mungkin bangkit. Apa yang tertulis dalam pasal ini dapat mengajarkan kepada para pembaca tentang perbandingan antara kebersamaan tanpa kesadaran akan Tuhan yang hidup dan kebersamaan dengan kesadaran akan Tuhan yang hidup.

 

Continue reading “Kebersamaan di dalam Tuhan”

Merenungkan Awal dan Akhir Hidup Manusia

Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.

1 Timotius 6:7

 

Ayat ini sejalan dengan perkataan Ayub “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Kedua ayat ini menyinggung tentang awal dan akhir kehidupan manusia. Dalam 1 Timotius 6:6-10 ayat ini disebutkan dalam konteks yang bertemakan ‘kecukupan’. Dalam Kitab Ayub pasal pertama ayat ini merupakan pengakuan Ayub akan kedaulatan Allah yang tidak wajib memberi dan berhak mengambil apapun juga dari hidupnya. Meskipun ditempatkan dalam dua konteks yang berbeda, kedua ayat ini bersama-sama mengundang para pembaca untuk merenungkan awal dan akhir kehidupan manusia.

 

Continue reading “Merenungkan Awal dan Akhir Hidup Manusia”

Meraih Keuntungan Besar yang Kekal

Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. (1 Timotius 6:6)

 

Dua kata dalam ayat ini yang menarik perhatian pembaca adalah: keuntungan besar. Manusia waras manakah yang tidak mau menerima keuntungan besar? Manusia pasti mau menerima bahkan mencari secara aktif keuntungan yang besar. Pertanyaan yang sangat populer, yang mungkin kita sendiri pernah tanyakan, adalah ‘bagaimana saya dapat meraih keuntungan besar, dan jika mungkin, dalam waktu yang singkat?’ Dunia menawarkan berbagai macam cara, namun pada intinya dunia mengajarkan bahwa demi mendapatkan keuntungan yang besar, seseorang harus menjadi sangat oportunis, mengambil apapun yang bisa diambil dari orang lain, meminimalisir pengeluaran meskipun itu akan merugikan pihak lain, dan menjadi pribadi yang self-centered. Namun Alkitab memberikan jawaban yang berbeda secara radikal. Ayat ini menyatakan bahwa keuntungan besar diraih melalui ‘ibadah yang disertai rasa cukup’.

 

Continue reading “Meraih Keuntungan Besar yang Kekal”